18 Muharram 1444  |  Selasa 16 Agustus 2022

basmalah.png

Muslim Tartar bukan Bangsa Barbar

Muslim Tartar bukan Bangsa Barbar

Fiqhislam.com - Lebih dari 450 tahun yang silam, Tatarstan merupakan sebuah negara yang berdiri sendiri di bawah bendera Kekhanan Kazan (Khanate of Kazan). Namun, ketika Tsar Ivan IV menaklukkan wilayah tersebut pada Oktober 1522, Tatarstan akhirnya dianeksasi oleh Rusia sepenuhnya.

Banyak orang-orang Tatar yang diusir dari kampung halamannya. Sebagian dari mereka ada pula yang dipindahkan ke kawasan khusus dan membentuk permukiman masyarakat Tatar yang baru. Orang Rusia mulai menjadi kelompok etnis yang mendominasi Kota Kazan sejak saat itu.

Orang-orang Tatar pada zaman dulu acap kali digambarkan sebagai bangsa pengembara yang memiliki watak keras, mahir mengendarai kuda, dan hidup berpindah-pindah dari satu padang rumput ke padang rumput lainnya. Faktanya, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya benar.

Orang-orang Tatar adalah bangsa berbudaya yang memiliki kehalusan budi. Yang lebih penting lagi, mereka telah menghuni tanah Tatarstan selama berabad-abad.

Muslim Tartar bukan Bangsa BarbarBeberapa masakan khas Tatar seperti sup ayam lapsha dan beragam kue mereka yang luar biasa lezat, menjadi bukti bahwa masyarakat Tatar telah mewarisi kebudayaan yang luhur dari nenek moyang mereka sejak dulu.  Tradisi kuliner tersebut sekaligus membantah pandangan orang-orang Barat kebanyakan yang menganggap mereka sebagai bangsa yang nomaden.

"Pasalnya, orang-orang nomaden lebih suka mengonsumsi atau mengolah daging sehingga mereka tidak memiliki tradisi membuat kue," tutur Wartawan Rusia, Oleg Pavlov

Kehidupan beragama di Tatarstan, negara bagian Rusia, sejak lama telah menerapkan toleransi beragama. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi telah hidup berdampingan dengan harmonis selama berabad-abad.

Seperti dilansir Saudi Gazette, Senin (8/3), setengah dari penduduk republik ini terdiri dari etnis Tatar yang hampir semuanya beragama Islam. Sementara, sisanya diisi oleh etnis Rusia (40 persen) dan kelompok-kelompok kecil etnis lainnya.

Kebanyakan dari mereka adalah pemeluk Kristen Ortodoks. Ibu kota Tatarstan, Kazan, merupakan salah satu kota terbesar dan paling makmur di Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan minyak bumi yang dimiliki alam Tatarstan telah mengubah kota ini menjadi sebuah kota multikultural yang benar-benar hidup.

Wartawan Rusia, Oleg Pavlov menyebutkan, hubungan harmonis antarumat beragama di Kazan sudah dikenal sejak dulu. Bahkan, di era Soviet sekalipun, Kazan dianggap sebagai kota yang unik lantaran menjadi tempat bertemunya dua kebudayaan berbeda, yakni Tatar dan Rusia.

"Kedua unsur budaya ini berbaur di setiap sendi kehidupan masyarakat di kota ini. Sesaat setelah suara azan menggema dari menara masjid, Anda akan mendengar gemuruh lonceng- lonceng gereja. Hal semacam ini bu?
kan lah hal yang aneh di Kazan," tulis Pavlov dalam artikel Friends and neighbours: religious harmony in Tatarstan.


 

Muslim Tartar bukan Bangsa Barbar
Di Tatarstan, orang-orang dapat menjumpai bangunan masjid dan gereja berdiri berdampingan di pinggir jalan yang sama. Pada 1990, ada sekitar 100 masjid di seluruh negeri ini. Sekarang, terdapat lebih dari seribu masjid dan 272 gereja di Tatarstan.

Bukti keharmonisan hubungan antarumat beragama di Tatarstan juga bisa dilihat dari kunjungan rutin Uskup Agung Kazan ke kediaman tokoh Muslim setempat, Hazrat Imam, pada setiap perayaan Idul Fitri. Di samping itu, banyak pula kegiatan yang diadakan bersama-sama oleh warga Muslim, Kristen, dan Yahudi untuk merajut semangat perdamaian antarkomunitas agama tersebut.

"Kadang-kadang, umat Islam dan Kristen di negeri ini saling membantu memperbaiki tempat ibadah yang ada, baik masjid maupun gereja," ungkapnya. [yy/republika]