23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Gereja-gereja Di Eropa Yang Beralih Fungsi Menjadi Masjid

Fiqhislam.com - Seiring meningkatnya jumlah Muslim di Eropa dan Amerika akibat dari arus Urbanisasi, angka kelahiran muslim dan bertambahnya jumlah mu’alaf di negara-negara tersebut serta meningkatnya kebutuhan akan sarana Ibadah Muslim, hal ini telah menimbulkan fenomena baru dengan berubah fungsinya Gereja-gereja menjadi Masjid dan tempat ibadah dari agama lain. Berikut ini beberapa cuplikan artikel yang berhasil kami himpun akan fenomena ini.

MASJID AN NASHR, MASJID TERBESAR DI BELANDA

Kaum muslimin di Belanda berusaha keras untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Routerdam dalam penampilan barunya setelah diumumkan adanya  sebuah proyek besar untuk renovasi bangunan yang asalnya adalah sebuah gereja yang berhasil dibeli oleh minoritas muslim dari pengurus gereja.

Panitia pembaharuan masjid berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, serta ingin menambahkan bangunan-bangunan lain untuk  penyempurnaan fungsi masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai tempat peribadatan.

Ali at-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid an-Nashr menjelaskan bahwa masjid akan mengalami pembaharuan dalam penampilan dan pelebarannya setelah beberapa pihak tertentu pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid karena rapuh dan hampir runtuh.At-Tasyi menambahkan: “25 tahun yang lalu kami mampu membeli bangunan tersebut seharga setengah juta Euro, dan bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah gereja, lalu kaum muslimin membelinya pada tahun 1982.”

Demikianlah telah diumumkan bahwa sejumlah LSM mengunjungi masjid tersebut tentang persiapannya untuk saling membantu dan bekerja sama dengan yayasan masjid dalam renovasi dan perluasan yang keduanya akan memakan biaya lebih dari sepuluh juta Euro.

Sebuah Gereja di Belanda Berubah Menjadi Salah Satu Masjid  Terbesar di Eropa

Foto Masjid dari dalam

Pemusatan kaum muslimin Belanda terhadap urgensi fungsi masjid dalam kehidupan minoritas muslim, serta sebagai penopang hubungan dengan komunitas lain, datang  setelah keputusan pemerintah Belanda untuk mewajibkan pelarangan pemakaian cadar secara merata di seluruh tempat umum. Yang demikian menjadikan Belanda adalah Negara Eropa pertama kali yang mengambil keputusan seperti ini, dengan klaim bahwa penutup wajah membentuk sebuah ancaman teroris, atau dengan kata lain identik dengan teroris.

Perlu disebutkan bahwa sebuah harian nasional milik umat Kristiani menyebutkan dengan terang-terangan bahwa Eropa baru telah muncul, dan seolah-olah ia mencampakkan orang-orang Nasrani. Gereja-gereja kosong dan roboh mengubur dirinya. Gedung-gedung yang bersejarah dijual dengan harga yang sangat murah untuk dirubah menjadi apartemen tempat tinggal, restoran, dan fungsi ibadah agama selain Nasrani. (AR)*

CATEDRAL MOSQUE, MASJID AGUNG DI MARSEILLE – PRANCIS

Hampir selama 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghiasi pemandangan Kota Marseille, Prancis. Gereja ini terletak di titik tertinggi kota tersebut yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi pemandangan itu akan berubah. Di sana akan berdiri sebuah masjid agung.

Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque’. Arsitek yang merancang bangunan masjid itu mengatakan, bahwa mereka meminjam inspirasi Taj Mahal. Kelak, masjid ini akan dilengkapi dengan kubah emas besar. Menaranya akan menjulang mencapai 24 meter.

Ruangan salat dirancang cukup luas dan diperkirakan mampu menampung sekitar 7.000 jamaah dan akan menjadi masjid terbesar di Prancis.

“Ini merupakan proyek yang lama tertunda,” kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP kepada kantor berita BBC.

Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun tempat ibadah yang terlihat banyak orang. Daripada memaksa Muslim menjadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar akan membantu mencegah ekstremisme.

Moraine menyatakan, masjid yang mudah diakses juga akan mencegah munculnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan-pandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.

Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis karena terlalu padat. Namun, Makhete Cisse dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. “Ini posisi sempurna dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar,” katanya.

Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini mempunyai luas lebih dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan restoran. “Kami memang membutuhkan tempat yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh dari pusat bisnis.”

Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini memicu sejumlah kontroversi sebab sebagian besar dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh dari luar negeri. Di antaranya, berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.


Sejumlah politisi lokal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini sama saja dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. “Kami tak mengundang Islam di sini,” kata Stephane Ravier dari National Front.

Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille menjadi bukti upaya asimilasi Muslim ke dalam masyarakat di Marseille. “Kami membutuhkan tempat untuk bertemu dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya.”

Oleh karena itu, Rahal sangat mensyukuri akan adanya sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Prancis untuk menggambarkan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

MASJID JAMI’ MILIK MUSLIM NEW YORK, AS.

Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik ‘Queen of Peace’ berikut biara dan sekolahnya,  di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.

Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami’, yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.

Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan  masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.

Masjid Jami’ nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.

“Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak  bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.

“Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,”tambah Hamad.”Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo.”

Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.

Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.

Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.

Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.

Masjid-Masjid Lain di Eropa dan Amerika Yang Dulunya Gereja

Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjid Didsbury

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

Masjid New Peckham

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

cahyaiman.wordpress.com

Daftar Pustaka :

- Hidayatullah

- Bufallow News

- Antara News

- Majalah Kiblati

- youtube

perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (Q.S. An Nuur 24:35).

OSAMA BIN LADEN

Agustus 31, 2010

oleh cahyaiman

Dalam beberapa menit setelah serangan itu, sebuah parade politisi dan “ahli terorisme” muncul di setiap saluran TV semua mengklaim bahwa serangan itu karya Osama Bin Laden. Pemerintahan Bush mengklaim bahwa itu bukti yang mengaitkan Bin Laden untuk serangan yang akan rilis ke publik dalam hitungan hari.Mereka tidak pernah melakukannya.Sama seperti mereka tidak pernah memberikan bukti bahwa dia meledakkan kedutaan Amerika di Afrika pada tahun 1997.Seluruh kasus terhadap Osama Bin Laden didasarkan pada apa-apa kecuali klaim ulang bahwa dia adalah pelakunya atas pengeboman kedutaan dan 9-11.Ditempatkan pada tuntutan pemerintah Afghanistan Taliban giliran Bin Laden ke Amerika Serikat atau menghadapi serangan (kami mendirikan sebelumnya bahwa tindakan militer AS telah direncanakan sejak bulan Juni). Taliban ditawarkan untuk mengubah Bin Laden ke netral pihak jika AS memberikan bukti kepada mereka bahwa dia ada hubungannya dengan pemboman kedutaan Afrika 1997 AS atau serangan 9-11.Bukti yang tidak pernah disampaikan kepada Taliban karena dua alasan:

1.Tidak pernah ada bukti, bahkan tidak mendalam 2.Perang untuk menggantikan Taliban dengan pemerintahan boneka AS sudah bergerak.Serangan 9-11 menjabat sebagai alasan yang sempurna, insiden “” untuk memenangkan dukungan rakyat Amerika dan memulai perang.

Tiga bulan setelah serangan, dan dengan pengeboman petani Afghani dalam ayunan penuh, AS masih belum memberikan satu secuilpun bukti untuk menghubungkan Bin Laden dan Al Qaeda-nya “jaringan” ke 9-11.Orang-orang di negara-negara asing mulai mengajukan pertanyaan.Kemudian suatu hari, Pentagon mengklaim bahwa beberapa sumber yang tak disebutkan namanya menemukan sebuah rekaman video di Afghanistan.Geng Bush mulai menjatuhkan petunjuk di media bahwa video ini menunjukkan Osama Bin Laden membual dan mengakui perannya dalam serangan.Bagaimana nyaman!Dan bagaimana mungkin.Dalang “” dari 9-11, yang begitu cemerlang bahwa ia mencopot 9-11 tanpa terdeteksi, cukup ceroboh untuk meninggalkan video “pengakuan” peletakan di sekitar untuk ditemukan oleh AS!

Video ini ditampilkan pada berita dengan sub judul bahasa Inggris.Suara Bin Laden begitu nyaris tak terdengar bahwa pemirsa bahkan di negara-negara Arab harus bergantung pada sub judul Pentagon diterjemahkan!Sebuah media patuh Amerika (Zionis) menerima cerita Pentagon dan terjemahan tanpa pertanyaan.Seorang Arab beberapa media pelacur bahkan berlari keluar untuk menjamin keaslian rekaman itu.Ini adalah “merokok pistol” mereka meyakinkan kami.Tapi ini juga merupakan kebohongan setan.

Pada tanggal 20 Desember 2001, acara TV Jerman Monitor (the “60 Minutes Jerman”) menemukan terjemahan dari pengakuan “” video untuk tidak hanya “tidak akurat”, tetapi bahkan “manipulasi DrAbdel El M. Husseini dan Profesor Gernot Rotter membuat terjemahan independen dan menuduh penerjemah Putih Rumah “menulis banyak hal yang mereka ingin mendengar tetapi tidak dapat didengar dalam rekaman tidak peduli berapa kali Anda mendengarkannya”.

Bahkan lebih menarik daripada ayat-ayat pers Eropa adalah gambar sebenarnya dari video pengakuan “”.Setiap foto yang telah diambil dari Osama Bin laden sarat menunjukkan wajah kurus dan hidung tipis panjang.Pentagon video Bin Laden jelas menunjukkan seorang pria dengan wajah penuh dan hidung lebar.

Apakah kepemimpinan Pentagon mampu penipuan seperti itu?Mengapa tidak?!Mereka mampu memungkinkan 9-11 terjadi bukan?Pentagon sendiri bahkan mengakui adanya departemen khusus yang dibentuk untuk tujuan penanaman cerita palsu di media dalam rangka untuk melaksanakan tujuan strategis.Sangat Zionis dan sangat pro-perang New York Times pecah cerita di bulan Februari 2002 yang mengungkapkan bahwa Pentagon memiliki rencana untuk sengaja memberikan cerita palsu kepada pers sebagai bagian dari upaya untuk mempengaruhi kebijakan.Pentagon mendirikan Kantor Pengaruh Strategis (OSI) untuk tujuan ini.Seorang Jenderal Angkatan Udara Zionis bernama Simon P. Worden dipilih untuk memimpin upaya pidana. ‘s bos Worden adalah Douglass Feith, Zionis lain berdedikasi yang menjabat sebagai Wakil Pertahanan untuk Kebijakan.Bagaimana berdedikasi dari Zionis adalah Feith?Organisasi Zionis Amerika (ZOA) Feith dihormati dan ayahnya pada malam penghargaan pada tahun 1999.Jadi saya akan membiarkan 1997 ZOA rilis pers tentang Feith:

“Tahun honorees ini akan Dalck Feith dan Douglas J. Feith, dermawan Yahudi dicatat dan-Israel aktivis pro Feith. Dalck akan menerima ZOA yang khusus Centennial Award pada malam itu, untuk seumur hidup pelayanan kepada Israel dan orang-orang Yahudi. Nya putra Douglas J. Feith, mantan Deputi Asisten Menteri Pertahanan, akan menerima Louis D. Brandeis prestisius Award pada malam itu “. (usues Google masukkan: penghargaan organisasi Zionis Feith)

Itu diaZionis Angkatan Udara Umum yang menjalankan departemen media disinformasi Pentagon, laporan langsung ke bos Pentagon Zionis yang merupakan penerima “bergengsi Brandeis” Louis Award.</span> <span>Brandeis, seorang hakim Mahkamah Agung mantan, adalah salah satu powerbrokers Zionis kunci yang membantu mempengaruhi Woodrow Wilson untuk ikut Perang Dunia I sebagai bagian dari perjanjian Balfour Zionis-Inggris kita pelajari tentang sebelumnya.

Satu tahun telah berlalu sejak serangan 9-11 dan FBI tidak menemukan apapun sel Al Qaeda di Amerika Serikat juga tak ditemukan ada jejak kertas.The London Times melaporkan:

“Ribuan agen FBI telah mengumpulkan lebih dari 1.300 tersangka di seluruh Amerika sejak 11 September, tapi mereka telah gagal untuk menemukan operasi Al-Qaeda sel tunggal di Amerika Serikat … Tom Ridge, Director of Homeland Security tidak bisa menjelaskan mengapa tidak ada telah ditangkap “.

Pada bulan April 2002, Direktur FBI Robert Mueller – Robert Mueller yang sama mengakui bahwa beberapa pembajak identitas ragu-ragu karena pencurian identitas buatan pengumuman ini menakjubkan:

“Dalam investigasi kami, kami tidak menemukan satu bagian dari kertas – baik di sini atau di harta karun informasi yang muncul di Afghanistan dan di tempat lain – yang menyebutkan aspek apapun dalam plot 11 September”.

Bisa ditebak, Direksi Ridge dan Mueller atribut ini total kekurangan bukti keahlian dari Al – Qaeda “jaringan teroris”.Jika Anda telah membaca sejauh ini Anda harus tahu lebih baik.Alasan bahwa Amerika Serikat telah mampu menemukan sedikit pun bukti untuk menghubungkan Al Qaeda untuk 9-11 adalah karena …. Al-Qaeda tidak melakukannya!

Penulis : Al Fakir sumber dari blog. as-sunnah

GEREJA-GEREJA DI EROPA YANG BERALIH FUNGSI MENJADI MASJID

Agustus 30, 2010

oleh cahyaiman

Seiring meningkatnya jumlah Muslim di Eropa dan Amerika akibat dari arus Urbanisasi, angka kelahiran muslim dan bertambahnya jumlah mu’alaf di negara-negara tersebut serta meningkatnya kebutuhan akan sarana Ibadah Muslim, hal ini telah menimbulkan fenomena baru dengan berubah fungsinya Gereja-gereja menjadi Masjid dan tempat ibadah dari agama lain. Berikut ini beberapa cuplikan artikel yang berhasil kami himpun akan fenomena ini.

MASJID AN NASHR, MASJID TERBESAR DI BELANDA

Kaum muslimin di Belanda berusaha keras untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Routerdam dalam penampilan barunya setelah diumumkan adanya  sebuah proyek besar untuk renovasi bangunan yang asalnya adalah sebuah gereja yang berhasil dibeli oleh minoritas muslim dari pengurus gereja.

Panitia pembaharuan masjid berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, serta ingin menambahkan bangunan-bangunan lain untuk  penyempurnaan fungsi masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai tempat peribadatan.

Ali at-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid an-Nashr menjelaskan bahwa masjid akan mengalami pembaharuan dalam penampilan dan pelebarannya setelah beberapa pihak tertentu pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid karena rapuh dan hampir runtuh.At-Tasyi menambahkan: “25 tahun yang lalu kami mampu membeli bangunan tersebut seharga setengah juta Euro, dan bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah gereja, lalu kaum muslimin membelinya pada tahun 1982.”

Demikianlah telah diumumkan bahwa sejumlah LSM mengunjungi masjid tersebut tentang persiapannya untuk saling membantu dan bekerja sama dengan yayasan masjid dalam renovasi dan perluasan yang keduanya akan memakan biaya lebih dari sepuluh juta Euro.

Sebuah Gereja di Belanda Berubah Menjadi Salah Satu Masjid  Terbesar di Eropa

Foto Masjid dari dalam

Pemusatan kaum muslimin Belanda terhadap urgensi fungsi masjid dalam kehidupan minoritas muslim, serta sebagai penopang hubungan dengan komunitas lain, datang  setelah keputusan pemerintah Belanda untuk mewajibkan pelarangan pemakaian cadar secara merata di seluruh tempat umum. Yang demikian menjadikan Belanda adalah Negara Eropa pertama kali yang mengambil keputusan seperti ini, dengan klaim bahwa penutup wajah membentuk sebuah ancaman teroris, atau dengan kata lain identik dengan teroris.

Perlu disebutkan bahwa sebuah harian nasional milik umat Kristiani menyebutkan dengan terang-terangan bahwa Eropa baru telah muncul, dan seolah-olah ia mencampakkan orang-orang Nasrani. Gereja-gereja kosong dan roboh mengubur dirinya. Gedung-gedung yang bersejarah dijual dengan harga yang sangat murah untuk dirubah menjadi apartemen tempat tinggal, restoran, dan fungsi ibadah agama selain Nasrani. (AR)*

CATEDRAL MOSQUE, MASJID AGUNG DI MARSEILLE – PRANCIS

Hampir selama 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghiasi pemandangan Kota Marseille, Prancis. Gereja ini terletak di titik tertinggi kota tersebut yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi pemandangan itu akan berubah. Di sana akan berdiri sebuah masjid agung.

Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque’. Arsitek yang merancang bangunan masjid itu mengatakan, bahwa mereka meminjam inspirasi Taj Mahal. Kelak, masjid ini akan dilengkapi dengan kubah emas besar. Menaranya akan menjulang mencapai 24 meter.

Ruangan salat dirancang cukup luas dan diperkirakan mampu menampung sekitar 7.000 jamaah dan akan menjadi masjid terbesar di Prancis.

“Ini merupakan proyek yang lama tertunda,” kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP kepada kantor berita BBC.

Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun tempat ibadah yang terlihat banyak orang. Daripada memaksa Muslim menjadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar akan membantu mencegah ekstremisme.

Moraine menyatakan, masjid yang mudah diakses juga akan mencegah munculnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan-pandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.

Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis karena terlalu padat. Namun, Makhete Cisse dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. “Ini posisi sempurna dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar,” katanya.

Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini mempunyai luas lebih dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan restoran. “Kami memang membutuhkan tempat yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh dari pusat bisnis.”

Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini memicu sejumlah kontroversi sebab sebagian besar dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh dari luar negeri. Di antaranya, berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.


Sejumlah politisi lokal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini sama saja dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. “Kami tak mengundang Islam di sini,” kata Stephane Ravier dari National Front.
Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille menjadi bukti upaya asimilasi Muslim ke dalam masyarakat di Marseille. “Kami membutuhkan tempat untuk bertemu dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya.”
Oleh karena itu, Rahal sangat mensyukuri akan adanya sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Prancis untuk menggambarkan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

MASJID JAMI’ MILIK MUSLIM NEW YORK, AS.

Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik ‘Queen of Peace’ berikut biara dan sekolahnya,  di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.

Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami’, yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.

Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan  masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.

Masjid Jami’ nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.

“Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak  bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.

“Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,”tambah Hamad.”Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo.”

Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.

Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.

Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.

Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.

Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.

Masjid-Masjid Lain di Eropa dan Amerika

Yang Dulunya Gereja

 

Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjid Didsbury

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

Masjid New Peckham

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

CHURCH CONVERT TO MOSQUE VIDEO :

Daftar Pustaka :

- Hidayatullah

- Bufallow News

- Antara News

- Majalah Kiblati

-youtube