fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Masjid Alamgir, Identitas Islam di Sungai Gangga

Masjid Alamgir, Identitas Islam di Sungai Gangga

Fiqhislam.com - Sebuah masjid Dinasti Mughal berdiri kokoh di sekitar pinggiran Varanasi, Sungai Gangga, kawasan suci bagi umat Hindu di India. Terletak di tepi Sungai Gangga, Provinsi Uttar Pradesh, provinsi paling utara India, Varanasi adalah salah satu kota tertua dan tersuci bagi umat Hindu di India.

Masjid Alamgir yang juga dikenal sebagai Beni Madhav Ka Darera ini didirikan pada era Aurangzeb (1658-1707) atau sultan keenam Dinasti Mughal India. Nama masjid ini diambil langsung dari nama Aurangzeb yang juga bergelar Abul Muzaffar Muhi u'd-Din Muhammad Aurangzeb Alamgir.

Bangunan masjid ini merupakan kombinasi yang sangat baik dari perpaduan era arsitektur Islam Mughal dan Kerajaan Hindu. Selain itu, sebagian lain menyebut masjid ini sebagai Masjid Gyanvapi.

Pada masa lalu di tempat berdirinya masjid ini terdapat sebuah situs Kuil Hindu Wisnu Madhava dari abad ke-11. Kuil tersebut sempat hancur pada 1583. Pada 1673, ketika Aurangzeb menguasai wilayah ini, ia berencana membangun masjid di salah satu area pinggiran Varanasi. Aurangzeb pun dituduh telah menghan curkan Kuil Hindu Wisnu Madhava. Sebab, ia membangun sebuah masjid di lokasi puing Kuil Hindu Madhava yang sempat hancur tersebut.

Tuduhan itu membuat Aurangzeb menjaga beberapa bagian sisa fondasi kuil. Ia kemudian membangun masjid tanpa merusak fondasi dasar dan sisa reruntuhan kuil Hindu agar tetap terjaga. Alhasil, Masjid Alamgir berdiri kokoh hingga kini dikepung kumpulan kuil Hindu.

Meski begitu, langkah yang dilakukan Aurangzeb ini memunculkan protes keras bagi masyarakat Hindu. Khususnya masyarakat di sekitar Varanasi dan tepian Sungai Gangga yang dianggap area suci bagi umat Hindu di India. Namun, ia meredam pertentangan di komunitas Hindu itu dengan tetap membolehkan ziarah pada sisa bangunan kuil yang masih dipertahankan. Konflik di tengah komunitas Hindu berhasil diredam.

Hingga kini sisa bangunan kuil tersebut masih berada di bawah fondasi bangunan masjid. Aurangzeb pun masih mempertahankan pendeta pendiri Kuil Wisnu tersebut, Beni Madhav Ka Darera, sebagai nama lain dari Masjid Alamgir.

Dari sisi arsitektur, gaya arsitektur masjid ini sangat khas dengan corak Hindu, Mughal, serta Persia. Struktur bangunan terbuat dari bata merah, khas gaya bangunan abad pertengahan di anak benua India. Corak Hindu pada masjid ini terlihat pada fasad atau eksterior masjid, terutama pada bagian dinding bawah sebelah barat masjid ini. Hal ini karena sebagian dinding bangunan masjid merupakan sisa dari bagian Kuil Hindu Wisnu Madhava.

Sedangkan, corak Islam dan Persia terlihat dari model kubah, dekorasi eksterior, pilar-pilar, dan menara. Kubah masjid ini memperlihatkan karakteristik khas Mughal. Masjid ini juga memiliki menara khas Mughal. Jumlah awalnya enam menara, namun kini hanya tinggal empat bagian karena dua menara bagian depan telah runtuh dan rusak.

Model corak Persia Mughal terlihat pada bagian depan masjid yang terdapat tiga buah pintu dengan masing-masing lengkungan muqarnas. Pada bagian dalam, masjid ini memiliki tiga baris pilar batu mulia. Berturut-turut ada delapan pilar, sebagian pilar dihiasi dengan ukiran yang rumit. Dinding bagian dalam masjid terbuat dari batu alam, terdapat beberapa tanda ukiran pada bagian dalam masjid. Semua ukiran dan simbol-simbol ini membuktikan peninggalan kuno masjid.

Beberapa bagian masjid memang dianggap kelompok masyarakat Hindu memiliki tempat kesucian karena berisi fondasi kuil. Tak heran bila beberapa bagian masih banyak dikunjungi peziarah Hindu.

Untuk menjaga perselisihan antara umat Islam dan Hindu, pada bagian luar dinding utara masjid terdapat jalan ke bagian dalam yang kini ditutup untuk umum. Bagian selatan masjid difungsikan sebagai pintu masuk. Di area sisi timur masjid terdapat halaman luas dengan tangga tersusun panjang hingga ke sebuah kuil Hindu di bawahnya.

Di bagian halaman ini juga terdapat air mancur. Halaman ini juga menjadi bagian dari kegiatan doa bagi umat Hindu yang ingin menghampiri tepian Sungai Gangga. [yy/republika]