5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Jadi Muslim, Penguasa Djenne Ubah Istana Jadi Masjid

Jadi Muslim, Penguasa Djenne Ubah Istana Jadi Masjid

Fiqhislam.com - Sebagian orang sudah mengenal dengan baik negara Mali. Yaitu, negara yang terletak di kawasan Afrika bagian Barat. Di negara ini, umat Islam tumbuh subur. Umat Islam di negara ini cukup lumayan, kendati tak sebesar negara lainnya. Kendati demikian, komunitas Muslim di negara ini memiliki keunikan. Dan karena keunikan itulah, banyak orang menjadi kenal dengan negara ini.

Djenne, itu nama sebuah kota kecil di pusat Mali, Afrika Barat. Kota Djenne merupakan kota tertua di negara sub-Sahara Afrika itu. Terletak di kawasan lahan banjir yang dilintasi dua sungai, yakni Niger dan Bani.

Bagi yang belum pernah bertandang ke kota berjarak 354 kilometer di barat daya Timbuktu ini, memang tak mengira, kalau di kota ini jumlah Muslim cukup banyak. Dan karena komunitas Muslim itulah, mereka pun mendirikan masjid sebagai tempat ibadah.

Di sinilah letak keunikannya. Bila tempat ibadah umat Islam yakni masjid, identik dengan bahan bangunan yang mewah, lalu ada kubah, menara, dan berbagai bahan-bahan mahal lainnya, jangan pernah berharap bisa menemukan itu semua di masjid milik warga Djenne ini. Mengapa? Karena masjid ini dibangun dengan bahan dasar lumpur, yang diambil dari dua buah sungai yang melintasi Kota Djenne.


 

Jadi Muslim, Penguasa Djenne Ubah Istana Jadi Masjid
Secara kasat mata, orang tentu tidak akan membayangkan bahwa bangunan persegi empat layaknya ‘penjara’ itu sebuah tempat ibadah. Karena memang tidak ada yang secara spesifik dari bangunan itu. Bahkan, tampak beberapa potong kayu yang menjulur ke luar bangunan, layaknya permukiman orang-orang Eskimo. Karena itulah, bangunan tak lazim yang dinamakan dengan Masjid Agung Djenne itu sebagai tempat ibadah.

Mengapa tak lazim? Bentuknya tak seperti masjid-masjid lain yang cenderung mengacu ke bentuk masjid atau bangunan di Timur Tengah yang dibangun pada masa keemasan Islam. Masjid Agung Djenne justru terkesan polos dan minim ornamen. Namun, justru karya ini menunjukkan jika sang arsitek paham benar bagaimana menghadirkan masjid dengan identitas lokal, rendah hati, tapi tidak mengurangi aura sakral dan monumental dari sebuah masjid agung.

Karena keunikan inilah yang menjadikan bangunan Masjid Agung Djenne sebagai salah satu landmark yang terpenting dan terkenal dari Kota Djenne. Bahkan, karena ketaklaziman itu tadi, maka masjid ini diakui sebagai salah satu dari 10 masjid terunik di dunia.

Djenne, selain dikenal sebagai kota perdagangan, juga dikenal sebagai kota peziarah dan pusat studi Islam. Masjid Agung itu sendiri dari awal dibangun hingga kini mendominasi alun-alun pasar utama di kota tersebut.

Menurut sejumlah literatur, penduduk Djenne memiliki masjid pertama kali pada 1240, yang dibangun oleh Sultan Koi. Penguasa Djenne ini setelah memeluk Islam lantas mengubah istananya menjadi masjid.

Sangat sedikit yang tahu dan berhasil melacak bentuk serta tampilan masjid pertama itu. Namun Syekh Amadou, pemimpin Kota Djene di awal abad ke-19, menganggap masjid itu terlalu mewah dan berlebihan. Syekh pun membangun masjid kedua pada 1830, dan memerintahkan merobohkan masjid pertama, saat masjid kedua rampung. Sementara Masjid Agung Djenne yang tak lazim itu dibangun pada 1906.

Saat berada di bawah kendali Pemerintah Prancis, mereka menawarkan kepada Pemerintah Mali, sejumlah bantuan finansial dan politik untuk pembangunan masjid. Dari dari bantuan itu, akhirnya proses pembangunan masjid bisa diselesaikan dalam tempo satu tahun, tepatnya 1907.

Tiga Menara Lumpur Tandai Sisi Kiblat Masjid Agung Djenne

Sebagaimana dilaporkan laman situs Sacred Sites, masjid yang dikonstruksi di bawah pengawasan ahli bangunan bernama Ismaila Traore ini, terbuat dari batu bata lumpur yang dikeringkan dengan sinar matahari (ferey) dan berbahan dasar semen. Sementara lapisan luar menggunakan plester juga berbahan dasar lumpur sehingga memberi tampilan halus berkelok, layaknya patung.

Dinding memiliki ketebalan antara 40-60 cm. Ketebalan ini sangat bergantung pada tinggi tembok. Dinding lebih tinggi akan dibuat lebih tebal karena harus menopang struktur lebih berat. Selama pagi hingga sore, dinding-dinding itu secara perlahan menghangat dari luar ke dalam. Di malam hari mereka mendingin lagi. Namun radiasi panas yang dihantarkan dinding membuat suhu udara dalam masjid tetap hangat dan sejuk meski udara di luar mendingin drastis.

Ruang utama masjid dengan sembilan puluh pilar kayu menopang langit-langit dapat menampung hingga 3.000 orang. Sifat dingin kayu ikut membantu interior masjid tetap sejuk di waktu siang hingga sore. Masjid agung itu juga memiliki ventilasi udara dengan penutup keramik. Penutup yang dibuat oleh perajin wanita setempat itu dapat dipindahkan di malam hari untuk ventilasi udara dalam masjid.

Saat membangun dan merencanakan konstruksi, kerusakan akibat air bah menjadi perhatian utama Traore. Apalagi banjir akibat Sungai Bani meluap terjadi rutin tiap tahun. Untuk mengatasi itu, Traore pun mendesain pulau buatan, yakni landasan yang ditinggikan dengan permukaan seluas 5.635 meter persegi sebagai tempat berdirinya masjid. Landasan tersebut sejauh ini mampu melindungi masjid bahkan dari banjir mengerikan sekalipun.

Selain bahan alam lumpur yang bersahaja, terdapat pula struktur rangka kayu dari batang palm. Kayu-kayu itu tidak berfungsi sebagai balok, melainkan pendukung dan penguat. Struktur ini dibutuhkan untuk mengikat tanah liat dan mengurangi pecahan lumpur yang diakibatkan perubahan suhu dan kelembaban yang sangat tajam di area itu.

Selain sebagai penguat, kayu-kayu itu berfungsi sebagai penopang otomatis yang berguna saat perbaikan tahunan. Kayu-kayu itu memang memiliki alasan fungsi kuat, namun batangnya yang mencuat dari dinding-dinding lumpur polos membuat kesan kontras sekaligus memberi aksen estetika  bangunan.

Tak lupa pada bagian bangunan di sisi kiblat, Traore menandai dengan tiga menara lumpur yang dominan. Setiap menara itu memiliki tangga spiral menuju atap, dan di setiap atap berbentuk kerucut spiral, diletakkan telur burung unta yang diyakini masyarakat setempat sebagai perlambang kesuburan dan kemurnian.

Tradisi Memplester Masjid Agung Djenne Terancam Punah

Karena bahan dasarnya terbuat dari lumpur, maka bisa dipastikan bangunannya tidak akan bertahan lama. Untuk mengatasinya, maka pada saat musim panas, masjid tersebut dirawat atau diperbaiki ulang setiap tahunnya dengan pengawasan yang melibatkan 80 ahli bangunan senior.

Saat renovasi dan perbaikan berlangsung, kegiatan itu menjadi festival menarik bagi warga Djenne. Apa pasal? Sebab, banyak warga yang terlibat dalam pekerjaan mempersiapkan banco (campuran lumpur dengan gabah) untuk acara itu.

Menurut para pengunjung yang menyaksikan di tahun 1987, acara itu bisa dikatakan upacara masyarakat dengan banyak pengunjung. Karena keunikan dan banyaknya orang ‘bermandi lumpur’ itu, maka banyak orang tertawa dan akhirnya menjadi semacam festival setiap tahun.

Berikut adalah penuturan seorang turis tahun 1987 yang dikutip di situs Sacred Sites. "Setiap musim panas masjid agung diplester ulang. Itu menjadi festival yang menarik, riuh, kacau, menyenangkan, namun juga penuh kehati-hatian. Selama beberapa minggu lumpur dituangkan. Ember-ember penuh dengan larutan kental diaduk dan diratakan dengan kaki telanjang anak-anak lelaki.

Lalu malam sebelum memplester, muncul pertunjukan jalanan penuh nyanyian, tetabuhan drum, siulan flute. Tak lama tiupan pluit keras terdengar tiga kali berturut. Masuk tiupan keempat, ratusan suara bergema dan bergalon-galon lumpur dituangkan.

Saat fajar proses pemlesteran sesungguhnya telah berjalan. Kerumunan wanita dengan ember berisi air di atas kepala mendekati masjid. Tim  yang lain membawa lumpur. Orang-orang berkomunikasi dengan yang lain sambil berteriak di area persegi raksasa itu sambil mengoles dan bekerja.

Kerja dan bermain menjadi satu, anak-anak muda di mana-mana, membuat kue dari lumpur dari kepala hingga ibu jari."

Tradisi hampir punah

Hanya saja festival tahunan itu terancam punah. Para ahli bangunan kini sulit mencari dukungan anak-anak muda dalam festival memoles ulang. Banyak pemuda memilih mencari uang sebagai pemandu turis meninggalkan Djenne menuju Kota Bamako yang lebih menjajikan. Pada 1988, kota tua Djenne dan masjid agungnya diresmikan menjadi situs bersejarah oleh UNESCO

Umat Muslim dan turis dari seluruh dunia datang mengagumi struktur bangunan masjid. Selain sebagai tempat ibadah bagi umat Islam, ada pula yang hanya sekadar menyaksikan kekagumannya dan mempelajari teknik pembuatannya.

Ada yang berdoa, belajar, dan juga berguru. Masyarakat kurang mampu dari sekitar Kota Djenne pun mengirim anak-anak mereka setiap bulan atau setiap tahun, untuk belajar menulis dan membaca di sana.

Kini bangunan tersebut masih menjulang dan menampung para jamaah Muslim Kota Djenne saat waktu shalat tiba. Fasad atau tampang bangunan, menara, serta simbol telur burung unta itu sebenarnya adalah elemen sama yang bisa ditemukan di bentuk rumah-rumah penduduk Djenne.

Desain yang membuat masjid agung  terlihat rendah hati dan menyatu dengan lingkungan lokal. Jauh sebelum gagasan arsitektur ramah lingkungan yang tanggap iklim setempat, menjadi salah satu isu, terutama terkait pemanasan global,  Masjid Agung Djenne telah menerapkannya dengan bersahaja.
[yy/republika]