14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Adat Istiadat Kaum Muslimin China

Adat Istiadat Kaum Muslimin ChinaFiqhislam.com - Dibandingkan etnis lainnya yang mendiami dataran Tiongkok, seperti orang Han, Mancu, Mongol atau Tibet, kaum muslimin Cina memiliki banyak kebiasaan berbeda. Setidaknya dari segi penataan interior rumah, mode pakaian, makan-minum, cara bepergian, bahasa komunikasi serta kegemaran olahraga, kaum muslimin Cina memiliki cara dan ciri tersendiri.
 
Penataan Interior Rumah
 
Rumah kaum muslimin Cina sangat mudah dibedakan dari rumah-rumah etnis lain, khususnya etnis Han yang dikenal sebagai mayoritas. Baik di perkampungan muslim ataupun bukan, rumah-rumah kaum muslimin Cina tetap bisa dibedakan dari rumah-rumah orang Han. Walaupun secara arsitektural, rumah orang muslim tak berbeda dengan rumah etnis lainnya, jika orang melihatnya dari luar.
 
Saat tahun baru Cina, ketika orang Han menerakan poster dan hiasan bergambar dewa pada kusen dan pintu rumah, pintu rumah orang muslim tetap bersih tanpa hehiasan apapun. Pun ketika perayaan empat musim. Orang-orang muslim tidak menggantungkan daun-daunan tertentu, sebagaimana orang-orang Han melakukannya. Kebiasaan sehari-hari dalam rumah orang Han juga berbeda jauh dengan kebiasaan dalam rumah orang-orang muslim. Jika orang Han menempelkan poster dewa langit dan bumi, lukisan nenek moyang serta membakar dupa sepanjang tahun, orang-orang muslim tidak melakukannya.
 
Dulu, berbeda dari orang Han, pada umumnya orang-orang muslim membuat toilet di dalam rumah. Kemungkinan untuk melancarkan mereka ketika akan berwudlu, sebelum menjalankan berbagai peribadatan seperti : shalat, dzikir atau membaca kitab suci. Rumah-rumah orang Han sedikit sekali yang memiliki kamar kecil. Orang Han biasa memanfaatkan tong-tong kayu untuk mandi. Seiring dengan perkembang jaman, orang-orang Hanpun mengikuti cara-cara penataan yang biasa diterapkan oleh orang-orang muslim. Mereka mulai membuat toilet atau kamar kecil di dalam rumah.
 
http://2.bp.blogspot.com/_qURZ_pQy-ew/TS2JJWY5OeI/AAAAAAAABLs/RiIEzLRxb_M/s1600/wong%2Bcina%2Blagi%2Bngaji.jpg
 
Cara Berpakaian
 
Kabilah Uighur dari Xinjiang dan orang-orang Kazakh dari daerah barat laut Cina mempunyai ciri khas berpakaian, yang membedakan mereka dari kalangan non-muslim. Kaum muslimah asal barat laut mengenakan cadar bahkan sorban ketika hendak bepergian, sementara kaum lelaki mengenakan penutup kepala warna putih berukuran lebar.
 
Diluar kabilah Uighur dan orang-orang Kazakh, lelaki muslim pada umumnya mengenakan kopiah putih dan baju berwarna putih, terutama saat melakukan shalat Jum'at maupun shalat fardhu berjamaah. Kopiah-kopiah mereka biasanya dihiasi dengan pintalan kaligrafi dua kalimat syahadat, dan tak ada yang terbuat dari bahan dasar sutera. Itu karena Rasulullah SAW melarang pemakaian sutera bagi kaum lelaki muslim, demi menjaga diri dari kebiasaan bermewah-mewah atau karakter kelelakian mereka.
 
Kaum lelaki muslim Cina tidak memanjangkan rambut sebagaimana kalangan pria saat Dinasti Manchu berkuasa. Kaum muslimahnyapun tidak mengenakan sepatu kecil, yang biasanya dikenakan gadis-gadis Han atau Manchu. Selain itu, anak-anak Cina muslim tidak mengenakan kalung "seratus keluarga", sebagaimana bocah-bocah Han biasa mengenakannya. Hal tersebut disebabkan karena kalung itu memiliki fungsi asli sebagai jimat. Dalam Islam sendiri penggunaan jimat termasuk kedalam perbuatan musyrik. Satu dosa besar yang tidak akan diampuni atau ditolerir oleh Allah SWT.
 
Makanan Minuman Muslim Cina
 
Sama dengan penganut Islam di negara-negara lain, kaum muslimin Cina tidak mengonsumsi daging babi, hewan yang mati sendiri, hewan yang tidak disembelih oleh orang Islam, minum darah, makanan sesaji dewa, hewan bertaring, juga binatang laut yang bukan berbentuk ikan. Bahkan umat muslimin Cinapun menabukan rokok, minuman keras, serta mengisap candu atau opium. Guna mengakomodir keperluan mereka, pemerintah RRC biasanya mendistribusikan hewan-hewan potong untuk kalangan muslim. Pengelolaan hewan potong itu diserahkan oleh badan logistik pemerintah kepada jagal-jagal beragama Islam. Selain melayani jasa pemotongan dan penyediaan daging sapi atau domba potong, para jagal muslim tersebut melayani penyembelihan ayam, bebek, itik atau unggas-unggas lain peliharaan orang yang membawanya. Terkadang untuk memotong sekadar ayam atau bebek, kaum muslimin Cina mau susah-payah membawa hewan-hewan itu ke masjid terdekat. Dengan harapan semoga ada ta'mir yang sedia dan bisa memotongkan.
 
Restoran muslim di Cina tidak hanya sekadar melayani saudara seagamanya. Orang-orang selain Islam kerap mengunjungi restoran muslim, kendati panggang dan lemak babi kegemaran orang-orang Han atau Manchu, tidak tersedia di restoran atau kedai-kedai orang muslim. Menurut para pelanggan yang bukan muslim, masakan buatan koki muslim meruapkan aroma khas yang betul-betul mengundang selera. Resepnya adalah minyak-minyak tumbuhan dan aneka rempah-rempah yang diolah khusus, untuk pelezat sayuran, daging bumbu, roti panggang atau kue-kue pencuci mulut. Jenis kue buatan orang muslim yang sangat digemari adalah Kue Bundar. Terbuat dari adonan terigu, gula dan garam, yang digoreng dengan minyak zaitun. Selain dinikmati seusai makan berat, Kue Bundar ini disuguhkan kepada tamu dalam acara takziyah, pengajian atau ta'lim, serta kesempatan santai bersama handai-taulan.
 
http://4.bp.blogspot.com/_Cuwm-qVH57g/TUuhlvEN4tI/AAAAAAAAALs/rhiXfDAhMaE/s1600/s_chinese-children.jpg
 
Kebiasaan Dagang Dan Bepergian
 
Pedagang-pedagang muslim selalu berkelompok, membentuk kabilah-kabilah, saat melakukan perjalanan ke barat laut Cina dan propinsi Yunan. Sesampainya mereka di tempat tujuan mereka segera menuju masjid. Masjid bagi kabilah-kabilah dagang tersebut digunakan sebagai tempat bermalam, demi memudahkan mereka untuk ber-thaharah, juga melaksanakan ibadah shalat atau ta'lim dalam halaqah.
 
Sebelum melakukan perjalanan, kabilah dagang Cina tidak melakukan nujuman atau memilih hari baik, sebagaimana kebiasaan pedagang-pedagang etnis lain. Para pedagang yang berkelompok dalam kabilah itu merasa cukup dan percaya akan pertolongan Allah. Mereka yakin bahwa perjalanan dagang mereka semata-mata upaya dari 'menjemput rejeki', bukan 'mencari rejeki'. Sebab mereka yakin bahwa rejeki sudah digariskan dalam ketentuan Allah, tinggal bagaimana upaya manusia yang menjemputnya.
 
Disamping percaya kepada pertolongan Allah, kabilah-kabilah dibentuk untuk mempermudah satu sama lain, dalam memenuhi kebutuhan dagang atau hajat sehari-hari. Hajat sehari-hari yang dimaksud adalah memasak makanan, menjaga milik satu sama lain dan kebiasaan shalat berjamaah. Dengan kebersamaan itu mereka bisa memecahkan masalah-masalah rumit yang mungkin timbul. Sehingga spirit ikhtiar mereka tak pernah menjadi pudar ataupun padam sama sekali.
 
Bahasa Komunikasi
 
Muslim Han yang berasal dari dataran Cina asli berbicara dalam bahasa mandarin. Sedangkan Muslim asal Xinjiang berbicara dalam bahasa Turki dengan dialek Kansu. Saat keduanya bertemu, disela-sela pembicaraan biasanya terselip istilah-istilah Arab atau Iran. Itu dilakukan semata-mata untuk memperjelas literatur-literatur keagamaan. Sebab terbatasnya risalah-risalah yang ditulis dalam huruf mandarin, baik Muslim Han maupun Xinjiang mempelajari Islam melalui literatur-literatur Arab atau Iran.
 
Kaum muslimin yang mampu berbicara mandarin, tapi terbatas kemampuan dalam hal tulis-menulis huruf Cina, mempergunakan huruf-huruf Arab untuk mengeja kata-kata Cina.
 
Olahraga Kegemaran
 
Olahraga berkuda sangat digemari oleh Muslim Cina yang berasal dari daerah barat laut. Muslim Cina di daerah tersebut juga sangat menggemari olahraga panahan, selain gandrung mempelajari olahraga berenang. Banyak joki, pemanah, serta perenang-perenang tangguh asal daerah itu, yang disegani oleh kalangan olahragawan Cina.
 
Namun sebetulnya, olahraga seperti berkuda, memanah dan berenang ini diminati demi bekal ketrampilan dalam ketentaraan. Itu diindikasikan oleh banyaknya pendaftar muslim asal Cina barat laut yang mengikuti tes penerimaan tentara atau dinas kepolisian Cina. Disinyalir pula, kegemaran kaum muslimin Cina dan ketangguhan mereka dalam cabang olahraga tersebut, adalah pengamalan dari salah satu hadits Rasulullah SAW. "Ajarlah anak-anakmu menunggang kuda, memanah dan berenang." demikian sabda Rasulullah SAW dalam Hadits Riwayat Bukhari-Muslim.
 
Penutup
 
Umat Islam berjumlah sepuluh persen dari persentase penduduk Cina. Meski sebagai minoritas, tak ada kecanggungan dalam diri kaum muslimin Cina untuk menjalankan peribadatan bahkan mengungkapkan identitas simbolis-fisik-nya. Dibandingkan dengan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam, muslim Cina tidak kalah kaffah-nya dalam menjalankan syari'at agama. Dari adat-istiadat mereka yang telah penulis paparkan tersirat, betapa mereka konsisten menafikan khurafat, perjudian, minuman keras dan makanan yang diharamkan. Secara sosial merekapun bisa membaur dengan masyarakat non-muslim, selain menjalin silaturrahmi yang kukuh, antar saudara seakidah.
 
abatasa.com