22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Kisah 'Wong Jawa' Sebarkan Islam di Belanda

Kisah 'Wong Jawa' Sebarkan Islam di BelandaFiqhislam.com - Akhir abad ke-19 silam, perbudakan bangsa Afrika dihapuskan. Untuk mengisi pekerja di perkebunan yang kosong, Belanda yang saat itu menjajah Nusantara membawa orang-orang Jawa ke tanah jauh, Suriname. Mereka dipekerjakan sebagai kuli kontrak.

Ada yang datang sukarela, ada juga yang dipaksa dengan cara diculik dari desa-desa. Orang keturunan Jawa lantas menyebar di Suriname, beranak pinak. Tanpa menanggalkan budaya aslinya: Jawa.  Maka tak heran ada desa bernama Tamanredjo dan Tamansari. Menurut catatan, ada 65.000 orang di Suriname dan 30.000 di Belanda yang menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.

Selain budaya, wong Jawa di Suriname juga masih memeluk agama asal mereka, Islam. Salah satu orang Jawa Suriname bahkan mendedikasikan diri untuk menyebarkan Islam. Namanya Soedirman Moentari. Kini ia tinggal di Belanda.

Perjuangan dakwahnya dimulai dari aktif di SIS, sebuah organisasi Islam di Suriname. "Saya membantu pendidikan Islam dengan membuat buklet. Waktu itu tidak ada komputer, internet dan semua inovasi seperti saat ini," kata Soedirman dalam situs pribadinya, www.uriponodunyo.mysites.nl.

Dalam website tersebut, Soedirman sengaja menggunakan Bahasa Indonesia yang sempat ia pelajari di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paramaribo. "Dengan menulis kabar ini saya bermaksud meningkatkan kemampuan saya berbahasa Indonesia, dan selanjutnya saya berharap dikoreksi kalau dalam penggunaan Bahasa Indonesia saya, ada yang salah. Karena saya berasal dari Suriname, yang dalam keseharian di rumah, saya memakai Bahasa Jawa dan Bahasa Belanda untuk di sekolah atau di rumah," tulis dia.

Alkisah, pada tahun 1999 Soedirman ke Belanda. dengan maksud menunaikan rukun Islam kelima, menunaikan ibadah haji. Sebab, banyak kesulitan ditemui jika ia berangkat haji dari Suriname.

Setelah pulang dari Mekkah, ia memutuskan menetap di negeri kincir angin. "Rencananya dua tahun, tapi sampai sekarang saya masih di sini (Belanda), " kata dia  seperti dimuat situs Radio Nederland.

Berkat doa, tambah Soedirman, ia akhirnya bisa bekerja sebagai dosen biologi di sebuah sekolah menengah Islam di Rotterdam. Sekolah ini bernama Islamitische Schoolgemeenschap Ibn Chaldoun.

Untuk bisa mengajar biologi di sekolah itu, insinyur peternakan jebolan Universitas Wageningen ini harus melanjutkan studinya.  "Pada 2002 saya akhirnya meraih ijazah Master of Sciense di bidang biologi di Universitas Leiden, " tandas Soedirman.

Mantan dosen University Suriname kini juga aktif menulis mata pelajaran Islam dalam bahasa Belanda. Bahan-bahannya banyak ia ambil dari Indonesia. "Karena anak-anak kami di Suriname dan di Belanda nggak bisa lagi bahasa Jawa," kata dia.

Selain itu, ia juga aktif berdakwah di internet, dalam Bahasa Jawa dan Belanda. Soedirman juga membuat CD untuk menghafalkan surat-surat Al Quran. "Di negara Suriname dan di Holland (Belanda) banyak orang yang mengaku muslim dan ingin tetap jadi muslim. Mereka ingin salat," kata dia.

Tentu saja, mereka harus belajar mengaji dan membaca Al Quran. "Tetapi mereka sudah tua dan waktu mereka sedikit. Oleh karena itu, pertama saya memberi pelajaran salat dengan CD dan buku," lanjut Soedirman.

Buku tersebut ia tulis dalam Bahasa Arab, kemudian ada terjemahannya dalam Bahasa Belanda dan Jawa. Tak hanya tentang salat. "Saya juga membuat buku dan CD tentang tahlilan, menghafalkan surat-surat, pernikahan, jenazah dan lain-lainnya." Juga tentang doa apa saja yang harus dilafalkan saat ziarah kubur.

Jika ditanya status kebangsaannya, Soedirman dengan tegas menjawab, "Saya asli dari Suriname dan kakek saya dari Kediri."

Meski fasih berbahasa Indonesia, dan tentu saja Jawa, Soedirman belum pernah menginjakkan kaki ke bumi nenek moyangnya yang kini telah menjadi Indonesia. "Allah belum mengizinkan saya untuk ke sana. Insya Allah dua tahun lagi ketika saya sudah pensiun saya akan pergi ke Indonesia melihat tanah kakek saya dan masjid-masjid Wali Songo dan lainnya," kata dia.

Elin Yunita Kristanti | VIVAnews

Kisah Dakwah Soedirman Moentari, Cara terbaru mengajar Islam di Suriname dan Belanda

Soedirman Moentari adalah seorang yang sangat berambisi. Setelah membuka website tentang Islam dalam bahasa Jawa dan Belanda, ia juga mengembangkan metode pengajaran membaca Al Qur’an digital.

“Saya mengajar Al Qur’an menggunakan power point,” katanya kepada Radio Nederland.

“Banyak orang Jawa Suriname, terutama yang usianya sudah lanjut, yang mau belajar sholat,” Soedirman mengawali ceritanya. “Soalnya mereka merasa dirinya muslim,” lanjut warga Jawa Suriname yang mengajar di Sekolah Ibn Chaldoun di Rotterdam ini.

Namun ia menambahkan, belajar membaca Al Quran itu merupakan proses yang panjang dan makan waktu lama. Sementara orang sudah mau melakukan sholat. Makanya ia pun membuat suatu cara menarik untuk mengajari orang mengucapkan bacaan-bacaan sholat dengan betul.

Kaset perekam
Mula-mula ia menggunakan OHP dan kaset perekam untuk mengajar membaca Al Quran. Setelah itu cassete recorder ia ganti dengan CD. Selain itu tentu saja ada buku.  “Bukunya bertulisan Arab dan saya latinkan,” katanya.

Bacaan-bacaan itu dibubuhi terjemahan dalam bahasa Jawa dan Bahasa Belanda. “Supaya dipahami artinya,” jelasnya.

Nah sekarang cara pengajaran Al Qur’an yang dilakukan Soedirman bertambah canggih. Ia membuat program belajar membaca Al Qur’an digital atau katakanlah dengan menggunakan computer.  Penjelasannya ditunjang dengan power point. Setiap ayat Al Qur’an tidak hanya dibubuhi penjelasan tajwid, tapi juga ada suaranya di ujung.

Ilustrasi warna
Selain ilustrasi audio tapi juga ada ilustrasi warna. Misalnya kata yang perlu diperdengung diberi warna hitam,  jelas Soedirman. Pelajaran ini bisa diikuti klasikal atau individual. “Orang bisa belajar sendiri di rumahnya.”

Sekarang masa ujicoba metode ini sudah berakhir. Sebelumnya Soedirman melakukan  ujicoba metoda ini di kalangan jemaah muslim Jawa Suriname di Sint Michiegestel dan Den Haag.  “Alhamdulillah experimental period (masa ujicoba,red) sudah berjalan baik. Saya kira sekarang sudah oke,” katanya.

Soedirman ingin tahu apakah metode seperti ini sudah ada di Indonesia. Namun ia menduga belum ada yang menggunakan power point.

Seperti di Suriname dulu yang diajarkan sekarang terutama bacaan-bacaan sholat. Soedirman berharap orang yang sudah bisa sholat dan sudah kuat imannya akan berminat belajar mengaji atau membaca Al Qur’an.

“Kalau iman sudah ada di dalam hati mereka, mereka Insya Allah mau belajar mengaji.” (cahyaiman.wordpress.com)

KH. Soedirman Moentari, Ulama Jawa Penyebar Islam di Belanda dan Suriname

Tidak banyak orang yang mengenal nama Kiyai Hadji Soedirman Moentari. Sekilas, orang akan menyangka jika sosok tersebut adalah orang Indonesia. Namun, Soedirman Moentari adalah seorang warga asal Suriname keturunan Jawa, yang kini menjadi dosen sekaligus ulama terkemuka di Belanda dan negara asalnya, Suriname.

Kini, Soedirman juga sudah mendirikan dan mengelola pesantren Al-Qur'an dan agama Islam baik di Belanda (Den Haag dan Rotterdam) atau pun di Suriname. Walau pun banyak kendala dan keterbatasan yang dihadapinya, namun Soedirman tetap semangat dan optimis untuk menyebarkan syiar Islam di kedua negara berpenduduk mayoritas non-Muslim itu.

Perkenalkan: Soedirman Moentari merupakan pengecualian dari orang Jawa Suriname. Ia sangat pandai berbahasa Indonesia. Dan ia juga religius. Sebelum bertolak ke Belanda, generasi ketiga buruh kontrak Jawa ini sempat belajar Bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paramaribo.

Ketika masih tinggal di Suriname, Soedirman yang sekarang bermukim di Belanda, aktif di sebuah yayasan Islam di negara Amerika Latin itu. Pada tahun 1999 ia ke Belanda untuk naik haji, karena unruk berangkat langsung dari Suriname ke Arab Saudi banyak kesulitan.

Pulang dari Mekkah, Soedirman tidak langsung ke Suriname dan malah menetap di negeri kincir angin ini. "Rencananya dua tahun, tapi sampai sekarang saya masih di sini, " katanya sambil ketawa.

Berkat doa, tambah Soedirman, ia akhirnya bisa bekerja sebagai dosen biologi di sebuah sekolah menengah Islam di Rotterdam. Sekolah ini bernama Islamitische Schoolgemeenschap Ibn Chaldoun.

Untuk bisa mengajar bilogi di sekolah itu, insinyur peternakan jebolan Universitas Wageningen ini, harus melanjutkan studinya. "Pada 2002 saya akhirnya meraih ijazah Master of Sciense biologi di Universitas Leiden, " kata Soedirman.

Sejak di Suriname Soedirman Moentari aktif menulis mata pelajaran agama Islam dalam bahasa Belanda. Bahan-bahannya banyak ia ambil dari Indonesia. "Karena anak-anak kami di Suriname dan di Nederland (Belanda, red) nggak bisa lagi bahasa Jawa, " katanya.

Menariknya Ustaz Soedirman ini memberi khotbah di masjid Suriname dalam dua bahasa yaitu Belanda dan Jawa. Bahasa Jawa untuk generasi tua dan bahasa Belanda untuk generasi muda. Tapi meski pintar berbahasa Indonesia, Soedirman belum sempat ke Indonesia.

Tentu saja, kita sebagai umat Muslim di Indonesia, khususnya NU, diharapkan bisa ikut mendorong dan membantu perjuangan yang selama ini dilakukan oleh Soedirman. (
cahcilik95.blogspot.com)