17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
SEJARAH ISLAM DUNIA

Hulagu Khan, Pembantai Ribuan Muslim yang Menghapus Dinasti Abbasiyah

Hulagu Khan, Pembantai Ribuan Muslim yang Menghapus Dinasti Abbasiyah

Fiqhislam.com - Kisah kekejaman tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan takkan bisa dihapus bagi ingatan kaum muslimin. Hulagu Khan membunuh ribuan warga muslim Baghdad dan mengakhiri kekhalifahan Abbasiyah . Dia juga membunuh Khalifah Abbasiyah Al-Musta'shim Billah secara keji.

Eamon Gearond dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History menulis penaklukan kota Baghdad oleh tentara Mongol terjadi pada tahun 1258. Peristiwa ini dikenal sebagai titik balik kejadian yang mengubah wajah peradaban Islam hingga hari ini.

Ironisnya, durasi penaklukan ini hanya berlangsung selama 13 hari, dari tanggal 29 Januari sampai 10 Februari 1258 M. Selama berhari-hari pasukan Mongol menyiksa, memperkosa, dan menganiaya penduduk Baghdad tanpa henti.

Para ahli memperkirakan, paling tidak sejuta rakyat Baghdad meregang nyawa. Aroma cendana dari furniture berkualitas tinggi dan naskah-naskah akademik yang terbakar menyeruak seantero Baghdad selama berhari-hari.

Khalifah yang Lemah

Sebelum terjadinya invasi ke Baghdad, Dinasti Abbasiyah sejatinya sudah terbiasa membayar upeti tahunan kepada Mongol. Bahkan pada tahun 1251, pada saat Mongke Khan dilantik menjadi Khan Agung, Abbasiyah mengirimkan delegasinya untuk memberi penghormatan.

Kala itu, khalifah yang memimpin Dinasti Abbasiyah adalah Al-Musta'shim Billah. Ia dilantik menjadi khalifah pada tahun 1242 M. Di bawah pemerintahnya, negara tidak terkelola dengan baik.

Ia berkemauan lemah, senang bergaul dengan musisi dan minum anggur daripada mengasah kecakapannya dalam mengelola negara. Di bawah pemerintahannya, Abbasiyah sudah mulai meninggalkan masa-masa kejayaannya.

Monke Khan tak puas dengan hanya menerima upeti dari Dinasti Abbasiyah. Upeti dianggap tidak memadai. Ia ingin al-Mustasim datang secara pribadi ke Karakorum, ibu kota kekaisaran Mongol abad ke-13, untuk tunduk sepenuhnya pada peraturan Mongol.

Al-Musta'shim Billah menolak permintaan itu. Monke Khan pun menyusun rencana invasi ke Baghdad.

Monke Khan mengirim adiknya, Hulagu Khan, bersama 150.000 pasukan menuju Baghdad, sebuah kekuatan yang belum pernah digelar dalam sejarah Mongol.

Menurut Eamon Gearond, mayoritas tentara Hulagu Khan adalah pejuang Mongolia, namun dalam pasukan tersebut juga terdapat orang-orang Kristen, termasuk tentara yang dipimpin oleh raja Armenia, Tentara Salib Frank dari Kerajaan Antiokhia, dan orang-orang Georgia.

"Selain itu, ada tentara muslim dari berbagai suku Turki dan Persia, dan 1.000 insinyur China yang memiliki spesialisasi artileri," tulisnya.

Sebelum menyentuh Baghdad, pasukan raksasa ini sudah terlebih dahulu menaklukkan Iran selatan. Selanjutnya, mereka menghancurkan sekte Nizari-Ismai’li-Syiah dan menaklukkan benteng-benteng sekte al-Ḥashāshīn di Alamut di Iran barat laut.

Adapun Baghdad adalah perhentian berikutnya dalam daftar ekspedisinya. Melihat besarnya pasukan Mongol, Al-Mustasim sebenarnya sempat mengubah keputusannya. Namun semua sudah terlambat. Pasukan Mongol sudah mengepung kota Baghdad.

Pengepungan kota Baghdad terjadi pada tanggal 29 Januari 1258 M. Tidak banyak halangan berarti dalam perjalanan pasukan Hulagu menuju Baghdad.

Dan begitu tiba, tentara Mongol langsung membangun jejaring pertahanan dan selokan di sekeliling kota Baghdad. Mereka membawa mesin pengepungan, seperti balok pemukul, dan ketapel untuk menyerang tembok kota.

Pada tahap ini, al-Mustasim melakukan upaya terakhir untuk bernegosiasi dengan Hulagu, namun tawaran ini kembali ditolak. Sebagaimana kebiasaannya, bangsa Mongol hanya memberlakukan sekali penawaran pada musuhnya, dan setelah itu, tidak ada lagi peluang untuk bernegosiasi.

Al-Mustasim Menyerah

Akhirnya, pada 10 Februari 1258 M, Al-Mustasim menyerahkan Baghdad ke Hulagu Khan nyaris tanpa perlawanan.

Keputusan ini sangat mengecewakan masyarakat Baghdad, dan bencana pun sudah membayang di depan mata mereka setelah terjadi penyerahan tersebut.

Namun, Hulagu dan gerombolannya tidak berusaha memasuki kota selama tiga hari setelah penyerahan tersebut. Sepertinya ia mengobservasi dan memetakan dengan seksama dinamika di Baghdad. Dan setelah tiga hari, ia memasuki Baghdad bersama pasukannya.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyingkirkan komunitas Kristen Nestorian Baghdad ke tempat aman. Hulagu menyuruh mereka untuk mengunci diri di gereja mereka, dan memerintahkan tentaranya untuk tidak menyentuh mereka.

Keputusan ini dibuat karena mengingat ibu Hulagu dan istri kesayangannya adalah orang Kristen Nestorian.

Dan setelah memastikan komunitas Kristen Nestorian ini selamat, maka Hulagu memberi keputusan yang paling biadab dan paling mengerikan yang dikenal sejarah.

Ia mengizinkan pasukannya melakukan pemerkosaan, penjarahan, dan pembunuhan sepuas-puasnya untuk merayakan kemenangan mereka. Maka tak pelak, Baghdad berubah menjadi arena pembantaian paling brutal.

Selama berhari-hari, baik pria, wanita, maupun anak-anak, masyarakat sipil ataupun tentara dikejar dan dibunuh oleh pasukan Hulagu. Jumlah korban tewas dalam peristiwa ini tidak terhitung dengan pasti.

Para ahli menyebut jumlah 1 juta. Tapi dalam suratnya yang ditujukan kepada Raja Perancis, Louis IX, Hulagu mengklaim membunuh 200.000 orang Baghdad dalam invasi ini.

Hukum Mati 3000 Pejabat

Di level para ningrat, sekitar 3.000 tokoh terkemuka Baghdad – termasuk pejabat, anggota keluarga Abbasiyah, dan khalifah sendiri – memohon grasi. Tapi semua 3.000 orang tersebut dihukum mati, kecuali khalifah, yang ditahan untuk waktu yang tidak terlalu lama.

Ia dibiarkan hidup sementara, sambil menyaksikan kebrutalan ini. Melihat orang-orang nomaden itu menjarah dan membakar khasanah peradaban dinasti Abbasiyah, serta menikmati detik-detik kehancuran kekhalifahan yang sudah disusun oleh nenek moyangnya selama lebih dari 500 tahun.

Konon, Hulagu dinasihati oleh para peramal, bahwa darah khalifah Abbasiyah tidak boleh tumpah ke bumi. Bila itu terjadi, maka bumi akan menolaknya, dan bencana alam pun akan terjadi.

Mensiasati nasihat ini, maka Hulagu mengeluarkan perintah mengeksekusi khalifah dengan cara menggulungnya dengan karpet tebal, lalu kemudian secara bersama-sama diinjak oleh barisan pasukan kuda Hulagu sampai mati.

Fungsi karpet itu tidak lain untuk menghindari darah sang khalifah jatuh ke bumi. Dan demikianlah kisah hidup sang Khalifah Abbasiyah terakhir.

Sungai Tigris Menghitam

Eamon Gearond memaparkan setelah seminggu bersukaria di Baghdad, Hulagu dan pasukannya meninggalkan kota yang pernah pencapai peradaban paling tinggi itu dalam keadaan hancur berantakan, dan nyaris tanpa penghuni. Asap membubung tinggi dan menyebar sejauh hampir 50 Km.

Perpustakaan Besar Baghdad, yang berisi banyak dokumen sejarah berharga dan buku tentang topik mulai dari kedokteran hingga astronomi, dihancurkan.

Korban selamat mengatakan bahwa air sungai Tigris menghitam karena tinta dari sejumlah besar buku yang dilempar ke sungai, dan bercampur warna merah yang berasal dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh.

Hulagu dan pasukannya meninggalkan kota sambil melawan arah hembusan angin, untuk menghindari aroma busuk mayat manusia yang demikian menyengat. Bahkan jaringan kanal yang berfungsi untuk mengairi tanah subur pun tak luput dari penghancuran pasukan Hulagu.

Bencana kelaparan dan wabah menyerang sisa-sisa penduduk Baghdad yang jumlahnya kurang dari seperempat. Diperkirakan lebih dari satu dekade Baghdad terjerembab dalam kondisi ini, hingga mereka mampu bangkit perlahan dan mulai kembali menunaikan ibadah haji.

Setelah menaklukkan Baghdad, pasukan Mongol bertolak ke Barat, menuju pusat-pusat peradaban Islam lainnya di Mediterania timur, atau Levant, dan seterusnya ke Mesir.

Hanya berselang 2 tahun dari jatuhnya Baghdad, atau pada bulan Maret 1260, dinasti Ayyubiyah di Damaskus juga jatuh ke tangan bangsa Mongol. Tak lama setelah itu, orang Mongol merebut kota-kota di Palestina, yaitu Nablus (dekat situs kuno Syikhem) dan Gaza. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]