5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Menelusuri Jejak Juwatsa: Situs Suci Ketiga

Fiqhislam.com - Juwatsa adalah nama sebuah desa yang pada zaman Rasulullah terletak di Hijar, Bahrain. Desa itu merupakan salah satu wilayah yang penting dalam sejarah Islam. Kini, wilayah Hijar dikenal dengan nama Al-Ahsa dan sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Arab Saudi.

Pada masa Rasulullah SAW, Bahrain terbagi menjadi tiga provinsi. Pertama, Provinsi Hijar (kini  bernama Al-Hasa terletak di Arab Saudi). Kedua, Provinsi Al-Katt (kini bernama Al-Qatif juga terletak di Arab Saudi). Ketiga, Provinsi Awal (kini daerah inilah yang bernama Bahrain).

Di desa itu terdapat sebuah masjid yang tercatat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Abu Daud.  Masjid yang dibangun oleh kabilah Abdul Qais itu bernama Masjid Juwatsa.  Masjid Juwatsa, sekarang berada di kampung Al-Kilabiyah, sekitar 12 kilometer dari Hofuf, Al-Ahsa, Arab Saudi.

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya  shalat Jumat yang  pertama kali dilakukan sesudah di masjid Rasulullah SAW ialah di masjid milik kabilah Abdul Qais di desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain.”  Di masjid inilah, shalat Jumat digelar di luar masjid Nabi SAW.

Masjid Juwatsa merupakan tempat ibadah umat Islam yang pertama kali dibangun di kawasan Timur Arab. Masjid yang dibangun pada tahun tujuh Hijriah itu, kini hanya berupa puing dan reruntuhan. Menurut legenda, ketika Hajar Aswad dicuri oleh Karmatian dari Makkah, batu tersebut disembunyikan di Masjit Juwatsa selama 22 tahun.

Itulah mengapa  Masjid Juwatsa mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam. Universitas King Fahd menempatkan Masjid Juwatsa sebagai situs paling suci ketiga di dunia Islam. Imam Ahmad dalam Fadail al-Sahabah (1510) dan Abd al-Razzaq dalam  Musannaf menulis:

‘’Setelah Rasulullah SAW wafat, orang-orang Arab menjadi murtad, kecuali tiga masjid: Masjidil  al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Bahrain (Masjid Juwatsa).’’ Maksudnya, ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, banyak orang Arab yang murtad, kecuali masyarakat Muslim di Makkah, Madinah, dan Bahrain.

Bahkan, ketika penguasa Bahrain bernama al-Mundhir bin Sawaya al-Abdi meninggal, banyak pula yang kembali menyembah berhala. Namun, masyarakat Muslim yang tinggal di dekat Masjid Juwatsa tetap berpegang pada agama yang paling benar, yakni Islam. Mereka yang murtad dan kembali menyembah berhala mencoba mengembargo umat Islam yang berada di sekitar Masjid Juwatsa. Dalam kondisi lapar dan haus,  mereka tetap memegang teguh ajaran agama Allah SWT

Ibnu Katsir  dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah menulis perbincangan antara al-Jarud bin al-Mualla, seorang yang saleh dengan umat Islam yang ada di Masjid Juwatsa:

‘’Wahai rakyat  Abdul al-Qais, aku akan mengajukan pertanyaan. Jawablah jika kau tahu, dan diamlah jika kalian tak tahu,’’ ujar al-Mualla. ‘’Silakan, bertanyalah,’’ tutur mereka. ‘’Apakah kalian tahu bahwa Allah telah mengutus nabi sebelum Muhammad?’’ tanya al-Mualla. Serentak mereka menjawab, ‘’Ya.’’

‘’Kalian tahu ataukah kalian melihat ini,’’ tanya al-Mualla lagi. ‘’Kami tahu hal ini,’’ jawab mereka. ‘’Apa yang terjadi pada mereka (para nabi sebelumnya)?’’ tanyanya lagi. ‘’Mereka meninggal dunia,’’ jawab mereka. 

Al-Mualla lalu berkata, ‘’Sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.’’  Mereka pun berkata, ‘’Kami juga bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW utusan Allah.’’
 
Janji Bani Abdul Qais

Sejatinya, penduduk Bahrain termasuk di antara orang-orang pertama yang memeluk Islam. Orang Bahrain memeluk Islam pada 629 M. Rasulullah SAW memerintah Bahrain melalui perwakilannya, Al-Ala’a Al-Hadhrami.

Tak lama setelah umat Muslim meraih kemenangan atas kota Makkah (Futuh Makkah), ratusan utusan datang menemui Rasulullah SAW. Salah satunya, wakil dari Bahrain bernama Abdul Qais. Lalu Rasulullah mengundang para pemimpin para utusan itu untuk datang ke Makkah.

Lalu menghadaplah Al-Ashajj, pemimpin Bani Abdul Qais. Nabi SAW banyak mengajukan pertanyataan  tentang penduduk berbagai kota dan urusan-urusan mereka. Secara khusus Nabi juga menyebutkan nama-nama Sofa, Musyaqqar, Hijar dan beberapa kota lainnya.

Al-Ashajj, sangat terkesan dengan pengetahuan Rasulullah SAW yang begitu luas dan mendalam tentang negerinya. ‘’Ayah dan ibuku akan berkorban  untuk demi Anda, karena Anda tahu banyak tentang negeriku dibanding aku sendiri dan mengetahui nama-nama lebih banyak kota di negeri kami daripada yang kami ketahui,’’ ujar Al-Ashajj.

Tak hanya itu, Nabi  SAW pun sampai mengetahui kebiasaan orang-orang Bahrain, termasuk gaya hidup, cara minum dan makan mereka.  Rasulullah SAW memang telah  berkali-kali berkunjung ke Bahrain. Sejak berusia 18 hingga 25 tahun, Muhammad SAW kerap singgah ke wilayah itu, saat masih berdagang. Sebelum diangkat mejadi rasul, Nabi SAW merupakan pedagang yang ulung dan jujur.

Dalam kisah lainnya,  Rasulullah SAW sempat berbincang dengan Abdul Qais. Nabi SAW berkata kepada Abdul Qais, ‘’Sesungguhnya pada engkau ada dua sifat yang Allah SWT dan Rasul-Nya menyukai keduanya, yaitu kelembutan dan kesabaran.

Kemudia Abdul Qais bertanya, ‘’Saya akan berakhlak dengan keduanya, apakah Allah SWT telah menciptakan keduanya kepadaku?’’  Rasulullah SAW bersabda, ‘’Bahkan kedua-duanya diciptakan kepada engkau.’’ Abdul Qais berkata, ‘’Alhamdulillah Allah SWT telah menciptakan kedua sifat kepadaku yang Allah dan Rasul-Nya menyukai keduanya.''

Al-Ahsa  – yang awalnya dikenal sebagai Provinsi Hijar, Bahrain – merupakan oasis terbesar di dunia. Wilayah itu telah menjadi bagian dari Kerajaan Arab Saudi.  Al-Ahsa telah dihuni manusia sejak zaman prasejarah. Manusia menghuni wilayah itu, karena kaya akan sumber air.

Sejak zaman prasejarah, penduduk Al-Ahsa telah hidup bertani. Rasulullah SAW, sejak masih muda, sering berkunjung ke Bahrain untuk tujuan berniaga. Tak heran, ketika bertemu dengan pemimpin Bani Abdul Qais, Nabi SAW sudah mengetahui nama-nama tempat, temasuk gaya hidup masyarakat Bahrain.

Penduduk Hijar (Al-Ahsa) sudah beriman kepada ajaran Islam sejak peristiwa Futuh Makkah. Di wilayah itupula, masjid di luar Arab pertama kali dibangun, yakni Masjid Juwatsa. Masjid itu termasuk salah satu  masjid yang bersejarah bagi umat Islam.

Pada 899 M, wilayah Al-Ahsa sempat dikuasai oleh pemimpin Karmatian, bernama al-Jannabi.  Menurut Cyril Glasse dalam  The New Encyclopedia of Islam, Karmatian merupakan kelompok Syiah Ismaili yang berpusat di Timur Arab.

Tahun itu pula, gerakan ini memproklamirkan berdirinya sebuah negara yang merdeka dari Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Gerakan Karmatian mendirikan negara merdeka di wilayah Al-Ahsa  dengan ibu kota al-Mu’miniya, dekat Hafuf modern.

Kekuasaan Karmatian di Al-Ahsa pada 1077 M digulingkan oleh Dinasti Uyuniyyah. Al-Ahsa kemudian jatuh di bawah kekuasaan dinasti Badui dari Usfuriyyah. Lalu, wilayah itu dikuasai oleh Dinasti Jabrid. Penguasa Jabrid berhasil merebut pulau Bahrain dari para pangeran Hormuz. Penguasa Jabrid  Bahrain yang terakhir adalah Muqrin ibnu Zamil.

Kekaisaran Portugis menaklukkan Kepulauan Akhir (pulau-pulau yang terdiri dari Bahrain hari ini) dari penguasa Jabrid Migrin ibnu Zamil, yang  kalah jatuh dalam sebuah pertempuran pada 1521. Dinasti Jabrid berjuang untuk mempertahankan posisi mereka.

Namun, pada 1550,  wilayah Al-Ahsa dan Qatif berada dalam kekuasaan Kesultanan Turki Usmani pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman I. Dinasti Turki Usmani diusir dari tanah Al-Ahsa pada 1670, dan wilayah itu berada di bawah kekuasaan kepala suku Bani Khalid.

Al-Ahsa, bersama dengan Qatif, pada 1795 tak lagi masuk dalam wilayah Bahrain. Kedua wilayah itu menjadi bagian dari Negara Wahabi Saudi Pertama. Namun, pada 1818 wilayah itu kembali dikuasai oleh Dinasti Turki Usmani. Bani Khalid sempat kembali berkuasa.

Pada 1830, Saudi Arabia kembali menguasai wilayah Al-Ahsa. Berdasarkan Uqair Protokol pada 1922, penguasa Kuwait menyerahkan wilayah Al-Ahsa kepada Ibnu Saud – penguasa Arab Saudi. Sejak itulah,  Al-Ahsa tak lagi menjadi bagian dari Bahrain.

republika.co.id