pustaka.png
basmalah.png.orig


10 Dzulqa'dah 1442  |  Minggu 20 Juni 2021

Sejarah Muslim Afrika di Saudi Arabia

Sejarah Muslim Afrika di Saudi ArabiaFiqhislam.com - Sekitar 10 persen penduduk Arab Saudi masa kini adalah keturunan Afrika. Umumnya, komunitas mereka tinggal di wilayah Barat dan khususnya di Makkah. Akar keturunan mereka berasal pada abad ke-19, dari jamaah haji yang datang dari Afrika dan kolonisasi Inggris di Afrika.

Tapi sebenarya, keberadaan orang Afrika di kawasan Arabia sudah terjejak sejak zaman  Rasullah SAW hidup. Contoh paling nyatanya adalah adanya kisah legendaris muadzin Billal  yang berasal dari Rabah (sebuah wilayah yang berada di barat laut Nigeria pada masa sekarang ini).

Saat itu pun wilayah Afrika bagi penduduk Arabia pun sudah akrab atau dikenal. Ini mengacu pada kisah adanya hubungan Muslim dengan kerajaan di  Najran (Ethopia).

Seperti di tulis Saudigazette semenjak abad 19, kedatangan orang Afrika ke Makkah makin intens. Lazimnya mereka datang bersama romongan jamaah haji ke Makkah sekalian melepaskan adanya tertindas yang mereka alami selama tinggal di benua tersebut. Mereka kemudian pergi ke Makkah dan Madinah, dan memilih untuk menjadikan kota-kota tersebut sebagai rumah mereka.

Para penduduk Afrika itu yang merantau ke kawasan Arab, khusnya Makkah dan Madinahm terutama berasal dari Chad, Burkina Faso, Gambia, Mali, Senegal, dan khususnya Nigeria. Mereka pergi dari tanah kelahirannya selain adanya konflik internal juga karena adanya penjajahan dari bangsa Eropa.



Dr. Mohammed Faheem (70), profesor perbandingan pendidikan di Universitas Umm Al-Qura di Makkah, mengatakan bahwa keluarganya tiba di Hijaz pada 1993 dari Nigeria. Alasan utama emigrasi mereka adalah kolonisasi Inggris. Inggris menjajah Afrika untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya, membawa pendidikan Barat, bahasa Inggris dan agama Kristen ke Afrika. Terdapat perlawanan, terutama di kalangan umat Islam di utara. Namun tanpa tentara terorganisir atau senjata modern, mereka tidak bisa menyesuaikan dengan kekuatan Kerajaan Inggris.

"Banyak yang memilih untuk melakukan perjalanan ke timur, di mana mereka tahu mereka bisa merasa aman di tanah yang akan selamanya menjadi Muslim. Mereka melewati Chad dan Sudan, dan kemudian tujuan akhir adalah tanah Hijazi di semenanjung Arab," kata Faheem, dilansir dari Arab News.

Apakah pendatang Afrika itu orang biasa saja atau banyak diantaranya adalah pejabat dan orang terdidik? Menjawab ini Mohammed Faheem mengatakan para imigran itu  sudah memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab dan pelajaran Islam. Umumnya, mereka bekerja sebagai hakim, ilmuwan dan guru di masjidi. Jadi tidak semuanya orang pekerja kasar.

"Kakek saya adalah salah satu dari mereka. Yang lainnya adalah buruh," lanjutnya.

Ia menuturkan, pendidikan Barat atau pendidikan modern memang tiba di Nigeria dengan adanya kolonisasi Inggris. Oleh karena itu, orang Nigeria percaya bahwa pendidikan modern harus dilarang dari perspektif agama. Menurutnya, ide itu tetap ada di antara mereka, bahkan saat mereka tiba di Hijaz.

Karenanya, ia mengatakan sangat sedikit orang yang mau mengirim anak mereka ke sekolah modern, bahkan saat di Arab Saudi. Mereka hanya akan mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam tradisional. Ada warisan ketidakpercayaan di Nigeria hingga hari ini. Arti harfiah dari Boko Haram misalnya, milisi ekstremis Nigeria, adalah "pendidikan Barat dilarang."

Keluarga Saudi dari keturunan Afrika yang paling dikenal adalah Fallatah, Hausawi dan Barnawi. Mereka semua dulu tinggal di satu daerah yang dekat satu sama lain di Makkah.

"Setiap suku memiliki bahasa sendiri yang dinamai sesuai namanya. Ada bahasa Hausa, Fallata, dan Borno, dan mereka diucapkan di daerah Makkah," ujarnya.

"Saya sendiri yang berbicara bahasa Fallatah, dan ketika saya pergi ke AS untuk belajar, saya ingin memperbaiki bahasa Afrika saya dan saya memilihnya sebagai bahasa mandatori kedua untuk mempertahankan pendidikan tinggi saya." lanjutnya.

Faheem mengatakan, ketika ia masih muda, mereka biasa berbicara bahasa mereka sendiri di rumah dan beralih ke bahasa Arab saat pergi keluar. Namun, generasi yang lebih muda tidak lagi memiliki ikatan dengan asal-usul mereka.

"Mereka tidak memiliki kehidupan yang kita miliki, kita tinggal dekat dengan akar kita karena kita tinggal di antara mereka yang pindah dari Afrika Barat untuk tinggal di sini."

Bagaimanapun, tidak semua orang Saudi berkulit hitam melacak jejak asli mereka ke Afrika Barat. Meskipun belum ada survei resmi mengenai keragaman etnis di negara itu, banyak orang Saudi adalah orang Afro-Arab yang berasal dari tempat-tempat seperti Sudan dan Djibouti. Namun apa pun asal usul mereka, Faheem mengatakan bahwa penghormatan terhadap akarnya tidak bertentangan dengan kesetiaan mereka terhadap negara dan bangsanya.

*******

Pada masa kini misalnya, para imigran asal Afrika dan keturunannya terlihat jelas di Makkah. Mereka adalah kaum pekerja keras. Mereka kebanyakan bekerja di sektor informal dari penjaga kios, pekerja bangunan, dan lainnya. Kekuatan tubuhnya sebaga anugerah alamu yang mereka punyai, misalnya bisa tahan berjam-jam bekerja di bawah terik matahari, membuat mereka punya nila yang khusus. Mereka pun sama sekali tidak manja.

Contohnya adalah para pengelola yang berada di tempat pemotongan hewan yang beraxda di pasar Qaqiyah.Terlihat tempat itu dikuasi oleh orang-orang berasal atau keturunan Afrika. Ini terlihat dari ciiri khasnya, yakni tubuh dan warna kulitnya. Para tukang jagal hewan asal Afrika ini bekerja dan menguliti hewan qurban dengan sangat trampil. Dan di Pasar Qaqiyah itulah penulis baru tahu ternyata hewan qurban selama musim haji dan kebutuhan daging untuk masyarakat Saudi Arabia, sebagian di antaranya didatangkan dari Afrika, misalnya Mesir. Kambing dan onta ternyata dari sana.

Profil mereka berbeda misalnya dengan pendatang Makkah yang berasal dari Indonesia. Mereka tak ada yang terlihat bekerja sebagai pemotong hewan di Pasar Qaqiyah. Mengapa?  Ini karena mukimin asal Indonesia lebih banyak bekerja pada sektor informal lain misalnya sopir, penjaga kios, pekerja rumah tangga. Hampir hampir tak terlihat ada orang Indonesia yang bekerja di Makkah yang menjadi pekerja bangunan meski gajinya lumayan. Alasannya, menurut warga Makkah, mereka tak tahan bekerja di bawah sengatan sinar terik matahari. [yy/ihram]

Oleh Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika