fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


27 Ramadhan 1442  |  Minggu 09 Mei 2021

Baytul Hikma, Perpustakaan Terbesar Umat Muslim

Baytul Hikma, Perpustakaan Terbesar Umat MuslimFiqhislam.com - Perpustakaan Baytul Hikma yang dikenal dengan nama Rumah Kebijaksanaan adalah salah satu perpustakaan terbesar umat Islam pada masanya. Perpustakaan yang berdiri di Baghdad, Irak ini menjadi tempat para cendekiawan Muslim dan cendekiawan agama lain berkumpul.

Rumah Kebijaksanaan didirikan oleh Khalifah Harun al-Rashid yang memerintah sekitar tahun 786-809 M. Perpustakaan ini mencapai masa kejayaannya saat putra Khalifah Harun al-Rashid, yakni Khalifah al-Mamun memerintah pada 813-833 M. Khalifah al-Mamun membawa banyak cendekiawan terkenal untuk berbagi informasi, gagasan, dan budaya di Rumah Kebijaksanaan.

Dilansir di Muslim Heritage, Libraries of the Muslim World, Ahad (17/2), rumah Kebijaksanaan berdiri pada abad ke-9 hingga ke-13 di Baghdad, Irak. Perpustakaan ini memperbolehkan cendekiawan Muslim, Hindu, Yahudi, dan Kristen belajar di sana. Mereka menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab dan melestarikannya. Para sarjana di Rumah Kebijaksanaan membuat banyak karya hebat dan berjasa di berbagai bidang.



Bangunan Rumah Kebijaksanaan terdiri dari perpustakaan, biro terjemahan, observatorium, ruang baca, tempat tinggal para ilmuwan, dan gedung administrasi. Salah satu ulama yang pernah dipekerjakan di sana adalah Elan al-Sha'oobi. Di bawah pengawasannya, banyak naskah kuno disalin. Sementara, Abu Sahal dan Abu al-Fazal bin Naubakht mengemban tugas memperluas dan memperkaya perpustakaan.
 
Menteri Yahya bin Khalid Barmaki pernah mengundang para cendekiawan Hindu untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Sansekerta ke dalam bahasa Arab di Rumah Kebijaksanaan. Karena Yahya Barmaki adalah orang Iran, dia juga memiliki banyak buku Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Abu Sahal dan Abu al-Fazal.

Ketika Khalifah Harun al-Rashid mendapat buku-buku dari petualangannya di Roma dan Amudiyya, dia memerintahkan Dokter Yohanna ma-Sawiyya untuk menerjemahkan karya-karya Yunani ini ke dalam bahasa Arab.  Khalifah Harun juga mengirim utusan ke berbagai negara untuk membeli buku-buku. Dia memperoleh manuskrip langka dalam bahasa Arab, Sansekerta, Zend-Avista, Persia, Suryani, dan Koptik yang dibeli dengan harga tinggi untuk setiap bukunya.

Para cendekiawan dan penerjemah terkenal di biro terjemahan Rumah Kebijaksanaan juga dibayar dengan gaji yang besar. Di antara mereka ada pemuka agama Hindu, Kristen, Yahudi, dan Persia.

Setelah Khalifah Harun wafat, Khalifah al-Mamun membeli manuskrip langka untuk koleksi Rumah Kebijaksanaan. Dia membeli puisi dari era pra-Islam, eulogi, dokumen pemerintah, surat dan perjanjian antarnegara.

Diceritakan, Khalifah al-Mamun pernah meminta penguasa Sisilia untuk mengirim semua buku yang ada di rumah kosong di sebuah pulau yang tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun. Setelah menerima buku-buku itu, Khalifah Mamun memberikannya kepada Direktur Perpustakaan Rumah Kebijaksanaan, Sahal bin Harun untuk diterjemahkan

Ketika Khalifah al-Mamun menang dalam perang melawan Byzantium, dalam perjanjian damai dia menetapkan manuskrip Yunani tertentu dikirim ke Baghdad. Untuk mencapai tujuan ini, ahli matematika dan penerjemah al-Hajjaj, Ibnu Yusuf bin Matar dipilih untuk membawa harta tersebut ke Rumah Kebijaksanaan.

Orang-orang yang berasal dari agama yang berbeda seperti Islam, Parsi, Kristen, Yahudi, dan Hindu dipekerjakan di Rumah Kebijaksanaan. Mereka adalah sutradara, penulis, penerjemah, astronom, ilmuwan, dan pengikat buku. Ada juga ahli teologi, aljabar, geometri, fisika, biologi, kedokteran, dan logika. Umat Islam pada masa itu menaruh perhatian besar pada buku, literasi, sains, dan ilmu pengetahuan umum. [yy/republika]