27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Jasa Tentara Muslim yang Terlupakan

Jasa Tentara Muslim yang Terlupakan

Fiqhislam.com - Sebanyak 400 ribu Muslim bertempur di sisi Sekutu selama Perang Dunia. Tapi, menurut survei British Future, hanya 22 persen responden yang sadar akan keberadaan pasukan mereka di tengah pasukan Inggris.

Selama beberapa dekade, kontribusi ribuan pasukan Muslim belum sepenuhnya diakui. Mereka adalah orang-orang pemberani yang terlupakan dari buku-buku sejarah.

Ratusan ribu orang Afrika Utara telah mendedikasikan hidup dalam Perang Eropa 1944-1945. Pasukan Muslim dari Asia Selatan jauh lebih besar. Setidaknya, setengah juta Muslim India terdaftar di militer Inggris selama konflik. Sepertiga atau mungkin lebih dari Angkatan Darat India di Inggris adalah Muslim. 

Ini belum menghitung tambahan tentara yang dari negara-negara Arab lain. Sangat sedikit yang bergabung dengan tentara Axis. Sebanyak 9.000 warga Palestina, misalnya, juga bergabung dengan tentara Inggris selama perang. Pasalnya, waktu itu Palestina memang di bawah kekuasaan Inggris.

Dalam tulisan di The National, Hussein Ibish, peneliti senior di American Task Force on Palestine, mengevaluasi kembali peran Arab dan Muslim yang sering diabaikan atau disalahpahami. Suara-suara Islamofobik di Barat sering menyalahartikan keterlibatan Arab dan Muslim sebagai bagian dari sikap pro-Nazi. Cara pandang ini sangat ahistoris apabila melihat kiprah tentara Muslim di tengah pasukan Sekutu yang anti-Nazi.



Edward Said pernah mengatakan, negara pascakolonial kadang-kadang sensitif atau malu mengakui jasa jutaan rakyat jajahan yang telah mendedikasikan hidup untuk melayani negara mereka. Keterlibatan tentara Muslim Asia dan Afrika dalam Perang Dunia adalah salah satu contohnya.

Keterlibatan para tentara ini memang sangat kompleks dan multiinterpretasi. Bagaimana mendudukkan pasukan Muslim yang berjuang di sisi tentara Sekutu saat sebagian besar negara Muslim berjuang melepaskan diri dari kolonialisme Sekutu? Tapi, satu hal yang pasti, keterlibatan tentara Muslim memiliki peran penting mendukung perjuangan Sekutu. Adalah penting untuk mengingat dan mengakui keberadaan Arab dan Muslim dalam perang bersama Sekutu.

Kepentingan ini tidak hanya untuk komunitas Muslim, tetapi juga masa depan masyarakat Eropa. Pengakuan masyarakat terhadap masa lalu berpotensi mengubah masa depan. "Jika lebih banyak yang tahu tentang kontribusi tentara Muslim dalam angkatan perang Inggris, ini mungkin dapat membantu mengembalikan kebangggaan dan menguatkan ikatan sosial dari komunitas berbeda dalam masyarakat Inggris," kata sejarawan Jahan Mahmoud.

 

Jasa Tentara Muslim yang Terlupakan

Fiqhislam.com - Sebanyak 400 ribu Muslim bertempur di sisi Sekutu selama Perang Dunia. Tapi, menurut survei British Future, hanya 22 persen responden yang sadar akan keberadaan pasukan mereka di tengah pasukan Inggris.

Selama beberapa dekade, kontribusi ribuan pasukan Muslim belum sepenuhnya diakui. Mereka adalah orang-orang pemberani yang terlupakan dari buku-buku sejarah.

Ratusan ribu orang Afrika Utara telah mendedikasikan hidup dalam Perang Eropa 1944-1945. Pasukan Muslim dari Asia Selatan jauh lebih besar. Setidaknya, setengah juta Muslim India terdaftar di militer Inggris selama konflik. Sepertiga atau mungkin lebih dari Angkatan Darat India di Inggris adalah Muslim. 

Ini belum menghitung tambahan tentara yang dari negara-negara Arab lain. Sangat sedikit yang bergabung dengan tentara Axis. Sebanyak 9.000 warga Palestina, misalnya, juga bergabung dengan tentara Inggris selama perang. Pasalnya, waktu itu Palestina memang di bawah kekuasaan Inggris.

Dalam tulisan di The National, Hussein Ibish, peneliti senior di American Task Force on Palestine, mengevaluasi kembali peran Arab dan Muslim yang sering diabaikan atau disalahpahami. Suara-suara Islamofobik di Barat sering menyalahartikan keterlibatan Arab dan Muslim sebagai bagian dari sikap pro-Nazi. Cara pandang ini sangat ahistoris apabila melihat kiprah tentara Muslim di tengah pasukan Sekutu yang anti-Nazi.



Edward Said pernah mengatakan, negara pascakolonial kadang-kadang sensitif atau malu mengakui jasa jutaan rakyat jajahan yang telah mendedikasikan hidup untuk melayani negara mereka. Keterlibatan tentara Muslim Asia dan Afrika dalam Perang Dunia adalah salah satu contohnya.

Keterlibatan para tentara ini memang sangat kompleks dan multiinterpretasi. Bagaimana mendudukkan pasukan Muslim yang berjuang di sisi tentara Sekutu saat sebagian besar negara Muslim berjuang melepaskan diri dari kolonialisme Sekutu? Tapi, satu hal yang pasti, keterlibatan tentara Muslim memiliki peran penting mendukung perjuangan Sekutu. Adalah penting untuk mengingat dan mengakui keberadaan Arab dan Muslim dalam perang bersama Sekutu.

Kepentingan ini tidak hanya untuk komunitas Muslim, tetapi juga masa depan masyarakat Eropa. Pengakuan masyarakat terhadap masa lalu berpotensi mengubah masa depan. "Jika lebih banyak yang tahu tentang kontribusi tentara Muslim dalam angkatan perang Inggris, ini mungkin dapat membantu mengembalikan kebangggaan dan menguatkan ikatan sosial dari komunitas berbeda dalam masyarakat Inggris," kata sejarawan Jahan Mahmoud.

 

Kisah Tentara Muslim dan Terkejutnya Masyarakat Eropa

Kisah Tentara Muslim dan Terkejutnya Masyarakat Eropa


Fiqhislam.com - Hadirnya tentara Muslim dari belahan dunia pada Perang Dunia memiliki dampak. Sejarawan Barat mengungkap ketika penempatan itu tentara Muslim berinteraksi dengan budaya Eropa.

Major Corrigan mendeskripsikan bagaimana kedatangan orang-orang ini di Brighton diamati oleh penduduk setempat, yang sebagian besar belum pernah melihat laki-laki nonkulit putih. Dikisahkan oleh Avaes Mohammad dari British Future, adaptasi menjadi salah satu persoalan yang menggelikan. 

Tentara India datang dengan seragam militer daerah tropis, yang sama sekali tidak cocok untuk iklim di Eropa. Sebagian bahkan baru pertama kali melihat pesawat atau menggunakan senapan mesin. "Bagi banyak orang, itu menjadi interaksi pertama mereka dengan Inggris," kata Avaes.

Sebaliknya, perwira Inggris yang memimpin resimen India dituntut belajar budaya India, bahasa Urdu, dan makan makanan yang sama. Corrigan mengatakan, "Tidak seperti Prancis yang akan merekrut tentara untuk belajar bahasa mereka, pejabat Inggris diharapkan belajar bahasa anak buahnya. Urdu adalah bahasa resmi Angkatan Darat Inggris saat itu, tetapi mereka juga harus belajar dialek regional dan memiliki pengetahuan khusus tentang kebutuhan agama tentara mereka."

Menurut Christian Koller dalam "The Recruitment of Colonial Troops in Africa and Asia and their Deployment in Europe during the First World War", Journal of Immigrants & Minorities 2008, penyebaran setengah juta tentara Afrika dan Asia di Eropa memiliki dampak budaya yang kuat. 

Untuk kali pertama, Eropa berhadapan dengan begitu banyak orang Afrika dan Asia sebagai kawan perjuangan. Fenomena ini tak pelak menghasilkan wacana eksotisme, rasialisme, dan paternalisme tentang tentara kolonial. Mereka digambarkan sebagai gerombolan, kaum negro, atau orang tak berbudaya.

Di sisi lain, untuk kali pertama pula, begitu banyak orang dari negara koloni dihadapkan secara langsung pada realitas budaya Eropa dan masyarakatnya. Pengalaman ini berdampak pada persepsi koloni terhadap penguasa dan hubungan penjajah-terjajah. Dijelaskan oleh Koller, ada beberapa pandangan tentara kolonial terhadap Eropa.

Kelompok pertama, mereka mampu mengintegrasikan pengalaman di Eropa dengan latar belakang sosio-kultural negara terjajah. Kelompok kedua, melihat adanya kesenjangan antara kehidupan tanah jajahan dengan pengalaman di Eropa. Membandingkan dua dunia ini, mereka mengalami jet lag atau kekaguman tanpa syarat kepada Eropa. Kelompok ketiga, diwakili oleh tentara India yang mencoba mempertahankan identitas budaya mereka.

 

Jasa Tentara Muslim India di Militer Inggris

Jasa Tentara Muslim India di Militer Inggris


Fiqhislam.com - Kunjungilah Menin Gate di Ypres, Belgia, Anda akan melihat nama-nama Muslim terpampang di plakat monumen. Peringatan itu didedikasikan bagi puluhan ribu tentara yang tewas dalam Perang Ypres selama Perang Dunia I.

Sejarawan militer Mayor Gordon Corrigan mengakui, peran tentara India Muslim sangat penting dalam Perang Dunia. Tanpa bantuan mereka yang memperkuat garis depan selama Perang Dunia I, Jerman mungkin telah menembus dan berhasil mencaplok pelabuhan di Selat Inggris. Sekitar 1,5 juta tentara India bertempur untuk Inggris selama Perang Dunia I-II. Mereka dikirim ke Italia, Prancis, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Tentara India memberi kontribusi penting bagi Eropa selama Perang Dunia I-II. Lebih dari 1,5 juta pasukan India bertempur di bawah komando Inggris. Sebanyak 40 persen Muslim sedangkan lainnya berasal dari komunitas Hindu, Sikh, dan Buddha. Harus diingat, term India pada 1914-1918 merujuk pada negara 'India dan Pakistan modern'. Pasalnya, Pakistan baru terbentuk tahun 1947. Muslim Punjab dan Baluch--yang kini disebut Pakistan--yang paling menonjol di antara mereka.

Pada Agustus 1914, British Expeditionary Force mengalami kekalahan. Inggris pun menyerukan tentara India untuk mengisi kekosongan di barisan pertahanan. Sebanyak  28.500 tentara Angkatan Darat India pertama kali tiba di Marseilles pada 26 September. Mereka terdiri atas dua divisi tentara dan satu brigade kavaleri. Tentara India dikerahkan secara luas dalam pertempuran Ypres, Neuve Chapelle, Somme, Passchendaele, dan Mesopotamia.

Tentara India berjuang di semua medan, baik darat, laut, maupun udara. Dilansir dari situs resmi British Library, 24 orang Asia menyatakan kesediaan ketika Royal Air Force (RAF) membutuhkan pilot. Sebanyak 18 berhasil melewati pelatihan dan terbang pada misi pemboman Spitfires, Hurricanes, dan Lancaster.  Salah satunya, pilot pesawat tempur Mahinder Singh Pujji, yang melayani RAF dan Indian Air Force. Dia membawa misi melintasi Selat Inggris dengan skuadron 43 dan 258 pada 1940-1941, selain di Afrika Utara dan Burma. 

Peran lain yang tidak bisa dilupakan dijalankan oleh Noor Inayat Khan. Noor adalah putri seorang musikus dan guru sufi, keturunan langsung dari Sultan Tipu, penguasa Muslim abad ke-18 dari Mysore. Ia bergabung dengan Women's Auxiliary Air Force, kemudian dilatih sebagai operator nirkabel. Juni 1943, Noor ditugaskan di Paris sebagai agen rahasia untuk melanjutkan transmisi antara London dan Paris. 

Di sana, ia dikhianati dan tertangkap. Meski berulang kali disiksa, ia menolak mengungkapkan perincian tugasnya. Pada September 1944, Noor ditembak mati pada usia 30 tahun. Secara anumerta, dia dianugerahi George Cross oleh Inggris tahun 1949.

Dalam Perang Dunia II, Angkatan Darat India kembali dipanggil untuk mendukung Inggris berperang melawan Jerman. Indian Comforts Fund didirikan pada Desember 1939 di Aldwych. Mereka menawarkan bantuan kemanusiaan dan menjaga tentara India yang ditempatkan di Inggris. Dana yang disediakan mencapai 1,7 juta paket makanan antara 1939-1945. Lembaga ini juga berkontribusi menyediakan pakaian hangat dan pendanaan untuk perbaikan fasilitas di rumah-rumah penginapan.

Keberanian dan dedikasi para tentara ini mendapat pengakuan Pemerintah Inggris. Delapan warga negara India dianugerahi gelar kehormatan militer tertinggi, Victoria Cross. Khudada Khan dari 129th Duke of Connaught's Own Baluchis adalah tentara India pertama yang meraih gelar itu. Khan seorang diri menahan serangan Jerman selama  pertempuran pertama Ypress pada 31 Oktober 1914.

Pertanyaannya, apa yang memotivasi para tentara ini? Uang, salah satunya. Tak dimungkiri, mereka juga berperang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Penghasilan 11 rupee per bulan, akan berguna bagi keluarga petani yang kesulitan. Namun, tidak sedikit pula tentara yang menjalankan tugas sebagai sebentuk kehormatan. Gagasan izzah (kehormatan) adalah salah satu pertimbangan penting untuk merekrut tentara Muslim. Ucapan penerima Victoria Cross pertama asal India, Khudadad Khan, "Mati di medan perang adalah suatu kemuliaan", banyak dipegang oleh tentara Muslim India.

Sebagian pasukan India juga ada yang dikirim ke Jawa pada masa kolonialisme Inggris. Peter Carey dalam 'The Sepoy Conspiracy of 1815 in Java', Bijdragen tot de Taal-,Land-en Volvenkunde 133, ia menuturkan adanya pasukan The Bengal Light Infantry Volunteer Battalion atau pasukan Sepoy di Jawa. Mereka bertugas di Jawa Tengah-selatan sejak November 1811.

Di Jawa, catat Carey, banyak serdadu ini melakukan desersi, lari ke istana, atau kawin dengan pribumi. Salah satu dari mereka bernama Nurngali, yang dilukiskan sebagai seorang 'dukun Bengali' dalam Babad Diponegoro. Ia bertugas sebagai dokter pribadi pangeran selama Perang Jawa. Lebih dari seabad kemudian, ketika pecah perang kemerdekaan pada 1945-1946, Inggris sadar bahwa menggunakan tentara Inggris-India untuk melawan kekuatan nasionalis Indonesia justru dapat berbuah malapetaka.

 

Peran Tentara Muslim Afrika di Pembebasan Paris

Peran Tentara Muslim Afrika di Pembebasan Paris


Fiqhislam.com - Pembebasan Paris 24 Agustus 1944 adalah cerita yang paling banyak ditulis dalam sejarah Prancis modern. Tapi, pembebasan ini sering kali dipandang hanya sebagai kemenangan kulit putih. Padahal, ada dua pertiga tentara kolonial dari Afrika di tengah pasukan Prancis.

Mike Thomson dalam "Paris Liberation Made 'Whites Only'" di BBC, mengkaji ada kesan peran tentara kulit hitam itu dihilangkan. Hal serupa dijelaskan Olivier Wieviorka dalam Histoire du débarquement en Normandie: des origines à la libération de Paris (1941-1944). 

Ia mengungkapkan, bila komandan Amerika dan Inggris memutuskan hanya pasukan kulit putih yang akan ambil bagian dalam operasi pembebasan Prancis. Motif ini, kata Wieviorka, lebih bersifat politis daripada rasial. Pembebasan Paris adalah peristiwa yang akan menarik publisitas besar dari rakyat Prancis dan internasional.

Ada 550 ribu tentara Afrika-Prancis pada 1944. Banyak di antara mereka direkrut, baik terpaksa maupun sukarela, dari koloni-koloni Prancis. Dari jumlah itu, sebanyak 134 ribu dari Aljazair, 73 ribu dari Maroko, 26 ribu asal Tunisia, dan 92 dari koloni lain di Afrika. Tentara multiras itu pertama kali diterjunkan dalam pertempuran di Italia pada 1943 untuk mengusir Jerman dari Monte Cassino.

Christian Koller dalam "Colonial Military Participation in Europe (Africa)", 1914-1918-online. International Encyclopedia of the First World War mengatakan, Prancis adalah negara yang paling banyak memanfaatkan tentara Afrika di kancah perang Eropa. Tentara Afrika Utara telah bertugas di Perang Krimea (1854-1856), Perang Italia 1859, dan Perang Prancis-Jerman 1870-1971. Hampir 1,5 juta tentara Afrika dikirim ke berbagai perang di Eropa. Tidak ada angka pasti mengenai jumlah korban pasukan Afrika-Prancis.

Lain dengan Prancis, Inggris tidak banyak menggunakan pasukan Afrika di Eropa. Prasangka rasis ditambah oposisi dari rakyat koloni di Afrika membuat Inggris enggan menggunakan pasukan Afrika. Mereka lebih memilih tentara India. Italia, di sisi lain, mencoba menggunakan pasukan kolonial di Eropa, tapi justru berakibat bencana. Agustus 1915, sekitar 2700 tentara dari Libya dikirim ke Sisilia. Mereka tidak pernah sampai ke garis depan karena banyak yang meninggal terkena pneumonia.

Belgia beberapa kali membahas pengiriman beberapa ribu tentara Kongo, tapi tidak terwujud. Hanya sejumlah kecil tentara Kongo yang bertugas di antara pasukan Belgia. Sementara, Portugis memilih tidak memanfaatkan tentara dari tanah koloni.

Mayoritas tentara Muslim bertempur di pihak Sekutu, tapi ada juga yang memihak Soviet. Di Asia Tengah dan wilayah Kaukasus Utara, banyak Muslim menyokong perjuangan Soviet. Hal itu dibahas oleh Thomas S Szayna dalam RAND Publication Series: The Ethnic Factor in the Soviet Armed Forces The Muslim Dimension. Dukungan ini lebih disebabkan kedekatan geografis atau kekuasaan Soviet atas negara yang bersangkutan.

Terkait pemihakan pada Nazi, hal ini kebanyakan didorong oleh sentimen antikolonial. Hampir semua negara Muslim jatuh ke tangan Inggris, Prancis, dan Italia. Bruno De Cordier dalam "The Fedayeen of the Reich: Muslims, Islam and Collaborationism During World War II," Journal of China and Eurasia Forum Quarterly (2010), menulis tak kurang dari 372 ribu-445 ribu tentara Muslim bergabung sebagai tentara Hitler pada 1941-1945. 

Mereka kebanyakan berasal dari Soviet, Eurasia, dan Balkan. Sosok paling dikenal akan dukungan dengan Hitler adalah mantan mufti Yerusalem, Amin al-Husseini, yang ikut andil dalam pembentukan divisi Muslim Bosnia SS Handschar.

 

Sejarawan Dokumentasikan Praktik Agama Tentara Muslim

Sejarawan Dokumentasikan Praktik Agama Tentara Muslim


Fiqhislam.com - Agama menjadi bagian sentral dalam kehidupan para tentara Muslim. Meski situasi di garis depan bukan ruang yang kondusif untuk menjalankan agama, sejumlah dokumen menggambarkan praktik agama tentara Muslim di medan perang.

Tidak sedikit dari saksi sejarah itu yang menulis atau mendokumentasikan korespondensi. Sebuah foto yang diambil 1941 memperlihatkan Muslim berdoa di sebuah tenda besar yang dipancangkan di luar Masjid Shah Jahan dalam rangka perayaan Idul Fitri.

Ditempatkan di Prancis pada Idul Fitri, Juli 1917, tentara Muslim India, Abdul Ali Khan, mencatat, "Semua Muslim dari divisi sholat kami bersama-sama. Kami sebisa mungkin mengeluarkan makanan dan teh. Sekitar 1.500 orang berkumpul dan sholat untuk kemenangan Kerajaan (Inggris)."

Sebuah badan amal, Indian Soldiers' Fund, berdiri di Inggris untuk memasok benda-benda keagamaan, menawarkan bantuan medis, atau kenyamanan bagi pasukan. Upacara pemakaman dilakukan menurut cara Islam. Tentara Muslim yang meninggal dikuburkan di pemakaman khusus Muslim. Lokasinya kurang lebih setengah mil dari Masjid Shah Jahan, Woking. Sebuah catatan menyebut, pada 1915, berlangsung upacara penguburan seorang perwira Muslim Inggris yang dihadiri sekitar 50 tentara.

Dilansir dari BBC, agama kian menjadi faktor penting setelah Turki masuk ke pusaran konflik. Karena, itu berarti Kerajaan Inggris sekarang berperang melawan kekuatan Muslim. Mereka mengalami dilema ketika harus berhadapan dengan tentara Muslim Turki pada November 1915. Sebagian tentara Muslim masih menganggap perjuangan mereka sah, tapi beberapa kelompok di Fron Barat menolak. Sekurangnya tercatat tiga peristiwa perlawanan pasukan Muslim terhadap Inggris karena persoalan ini.

Apalagi, sebagaimana dilaporkan Muslim Council of Britain dalam edisi khusus bertajuk "Remembering the Brave: The Muslim Contribution to Britain Armed Forces", pada 14 November 1914, syekh Islam di Istanbul baru saja menyatakan jihad atas nama pemerintah Ottoman. Shaikhul Islam mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk mengangkat senjata melawan Inggris, Prancis, dan Rusia. Alhasil, kebanyakan tentara Muslim meminta dipindahkan ke medan lain.

Prancis memiliki strategi lebih cerdas mengatasi hal ini. Para tentara Afrika--yang juga kebanyakan Muslim--tidak lagi berjuang sebagai unit independen, tetapi digabungkan dengan pasukan Eropa. Setiap resimen gabungan terdiri atas tentara Eropa dan batalion Afrika. Strategi ini bertujuan untuk mencegah pembelotan tentara Muslim ke Jerman yang beraliansi dengan Kekaisaran Ottoman. [yy/republika]