27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Surat Colombus dan Misi Menaklukkan Yerusalem

Surat Colombus dan Misi Menaklukkan Yerusalem

Fiqhislam.com - Karibia, 26 Desember 1492. Dalam ekspedisi perdananya, Cristophorus Columbus menuliskan dalam jurnal yang dikenal sebagai Diario.

Bahwa dia ingin mencari sebanyak mungkin emas dan rempah-rempah di Dunia Baru, “Dalam jumlah yang sangat besar, sehingga penguasa akan mempersiapkan penaklukan Makam Kudus (Holy Sepulchre). Sehingga, saya meminta kepada Yang Mulia agar membelanjakan semua hasil keuntungan dari ekspedisi saya ini untuk penaklukan Yerusalem.”

Penguasa yang disebut Columbus dalam jurnal ekspedisinya ke Benua Amerika itu tentu saja adalah Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, pemimpin Spanyol yang telah mendanai ekspedisinya, pasangan pemimpin Kristen yang berhasil mengakhiri dominasi kaum Muslim dan Yahudi dari Spanyol. Kalimat dalam jurnal itu juga menunjukkan bahwa bukan kali itu saja Columbus menyebutkan niat utamanya mencari peruntungan dari penjelajahan ke Dunia Baru adalah demi penaklukan Yerusalem dan itu bukanlah ekspedisi terakhir. 

Ketika bertemu dengan warga asli Benua Amerika, Columbus ingin mereka diperlakukan dengan baik agar mau memeluk agama Kristen. Tapi, walau mereka sudah mendatangi berbagai tempat yang belum pernah dikunjungi orang Eropa, Columbus terus berlayar untuk menemukan daratan utama agar bisa menemukan komoditas berharga, seperti rempah-rempah dan emas. Banyak sejarawan akhirnya menilai Columbus memang terobsesi untuk mengejar harta dalam ekspedisinya ke Amerika. 

Emas memang menjadi salah satu tujuan utama. Tapi, motif sesungguhnya yang mampu menggerakkan Columbus menempuh pelayaran yang mahaberat itu kembali terkuak dalam suratnya pada 4 Maret 1493 yang ditujukan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, sebelum Columbus pulang dari pelayaran pertamanya. “Dalam tujuh tahun dari hari ini, saya akan sanggup membayar Yang Mulia untuk menyediakan lima ribu kavaleri dan 50 ribu tentara berjalan kaki untuk perang menaklukkan Yerusalem. Untuk tujuan inilah penjelajahan ini dilakukan.”

Hampir sepuluh tahun kemudian, Columbus masih saja terpaku pada tema penaklukan Yerusalem. Sebuah surat yang ditulis pada Februari 1502 kepada Paus Aleksander VI menyebutkan, “Perjalanan ini dilakukan dengan tujuan untuk membelanjakan dana yang telah diinvestasikan untuk membantu kuil suci dan Gereja Suci,” sambil kembali menyebut jumlah kuda dan pasukan yang diharapkan tersedia. Kemungkinan, surat itu tak pernah dikirimkan.

Dalam surat lain yang disebut sebagai Lettera Rarissima bertanggal 7 Juli 1503 di Hispaniola dan ditujukan kepada penguasa Spanyol, Columbus menceritakan mengenai kejadian pada pelayarannya yang keempat. Pada akhir surat, tema penaklukan Yerusalem lagi-lagi muncul. “Yerusalem dan Gununf Sion akan dibangun kembali oleh tangan-tangan umat Kristen, sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan lewat mulut Nabinya di Kitab Mazmur Pasal 14.”

Lalu, pada 19 Mei 1506, satu hari sebelum kematiannya, Columbus mengesahkan Majorat atau surat wasiat yang aslinya sudah ditulis sejak 22 Februari 1498 dan ditambahkan isinya pada 25 Agustus 1505. Wasiatnya menyebut tentang pendirian pundi dana untuk pembebasan Yerusalem. 

Sejak awal, Columbus memang terobsesi terhadap Yerusalem sebagai tujuan utama dari empat ekspedisinya ke Benua Amerika yang berlangsung empat kali itu. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Wisconsin-Madison John Phelan mengungkapkan, harapan mengenai penaklukan Yerusalem dengan memanfaatkan emas yang ditemukan di Dunia Baru mungkin telah diucapkan Columbus kepada Ferdinand dan Isabela sebelum dia berangkat berlayar dari Palos, 3 Agustus 1492. 

Namun, mungkin saja ide ini telah dicetuskan lebih dini, yaitu selama pengepungan Granada pada 1489, benteng terakhir kekuasaan Muslim di Spanyol. Saat itu, duta besar Sultan Mesir (Dinasti Mamluk) datang meminta pasukan Spanyol menghentikan peperangan atau Muslim akan menghancurkan Holy Sepulchre, sebutan lain untuk Yerusalem.

 

Surat Colombus dan Misi Menaklukkan Yerusalem

Fiqhislam.com - Karibia, 26 Desember 1492. Dalam ekspedisi perdananya, Cristophorus Columbus menuliskan dalam jurnal yang dikenal sebagai Diario.

Bahwa dia ingin mencari sebanyak mungkin emas dan rempah-rempah di Dunia Baru, “Dalam jumlah yang sangat besar, sehingga penguasa akan mempersiapkan penaklukan Makam Kudus (Holy Sepulchre). Sehingga, saya meminta kepada Yang Mulia agar membelanjakan semua hasil keuntungan dari ekspedisi saya ini untuk penaklukan Yerusalem.”

Penguasa yang disebut Columbus dalam jurnal ekspedisinya ke Benua Amerika itu tentu saja adalah Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, pemimpin Spanyol yang telah mendanai ekspedisinya, pasangan pemimpin Kristen yang berhasil mengakhiri dominasi kaum Muslim dan Yahudi dari Spanyol. Kalimat dalam jurnal itu juga menunjukkan bahwa bukan kali itu saja Columbus menyebutkan niat utamanya mencari peruntungan dari penjelajahan ke Dunia Baru adalah demi penaklukan Yerusalem dan itu bukanlah ekspedisi terakhir. 

Ketika bertemu dengan warga asli Benua Amerika, Columbus ingin mereka diperlakukan dengan baik agar mau memeluk agama Kristen. Tapi, walau mereka sudah mendatangi berbagai tempat yang belum pernah dikunjungi orang Eropa, Columbus terus berlayar untuk menemukan daratan utama agar bisa menemukan komoditas berharga, seperti rempah-rempah dan emas. Banyak sejarawan akhirnya menilai Columbus memang terobsesi untuk mengejar harta dalam ekspedisinya ke Amerika. 

Emas memang menjadi salah satu tujuan utama. Tapi, motif sesungguhnya yang mampu menggerakkan Columbus menempuh pelayaran yang mahaberat itu kembali terkuak dalam suratnya pada 4 Maret 1493 yang ditujukan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabela, sebelum Columbus pulang dari pelayaran pertamanya. “Dalam tujuh tahun dari hari ini, saya akan sanggup membayar Yang Mulia untuk menyediakan lima ribu kavaleri dan 50 ribu tentara berjalan kaki untuk perang menaklukkan Yerusalem. Untuk tujuan inilah penjelajahan ini dilakukan.”

Hampir sepuluh tahun kemudian, Columbus masih saja terpaku pada tema penaklukan Yerusalem. Sebuah surat yang ditulis pada Februari 1502 kepada Paus Aleksander VI menyebutkan, “Perjalanan ini dilakukan dengan tujuan untuk membelanjakan dana yang telah diinvestasikan untuk membantu kuil suci dan Gereja Suci,” sambil kembali menyebut jumlah kuda dan pasukan yang diharapkan tersedia. Kemungkinan, surat itu tak pernah dikirimkan.

Dalam surat lain yang disebut sebagai Lettera Rarissima bertanggal 7 Juli 1503 di Hispaniola dan ditujukan kepada penguasa Spanyol, Columbus menceritakan mengenai kejadian pada pelayarannya yang keempat. Pada akhir surat, tema penaklukan Yerusalem lagi-lagi muncul. “Yerusalem dan Gununf Sion akan dibangun kembali oleh tangan-tangan umat Kristen, sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan lewat mulut Nabinya di Kitab Mazmur Pasal 14.”

Lalu, pada 19 Mei 1506, satu hari sebelum kematiannya, Columbus mengesahkan Majorat atau surat wasiat yang aslinya sudah ditulis sejak 22 Februari 1498 dan ditambahkan isinya pada 25 Agustus 1505. Wasiatnya menyebut tentang pendirian pundi dana untuk pembebasan Yerusalem. 

Sejak awal, Columbus memang terobsesi terhadap Yerusalem sebagai tujuan utama dari empat ekspedisinya ke Benua Amerika yang berlangsung empat kali itu. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Wisconsin-Madison John Phelan mengungkapkan, harapan mengenai penaklukan Yerusalem dengan memanfaatkan emas yang ditemukan di Dunia Baru mungkin telah diucapkan Columbus kepada Ferdinand dan Isabela sebelum dia berangkat berlayar dari Palos, 3 Agustus 1492. 

Namun, mungkin saja ide ini telah dicetuskan lebih dini, yaitu selama pengepungan Granada pada 1489, benteng terakhir kekuasaan Muslim di Spanyol. Saat itu, duta besar Sultan Mesir (Dinasti Mamluk) datang meminta pasukan Spanyol menghentikan peperangan atau Muslim akan menghancurkan Holy Sepulchre, sebutan lain untuk Yerusalem.

 

Jatuhnya Konstantinopel dan Semangat Eksplorasi Eropa

Jatuhnya Konstantinopel dan Semangat Eksplorasi Eropa


Fiqhislam.com - Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Dinasti Ottoman telah membakar semangat eksplorasi Eropa mengelilingi dunia, menemukan jalan lain menuju Asia Timur. Bila Bangsa Spanyol setelah berhasil merebut kembali wilayah Andalusia dari tangan kaum Muslim memlih untuk melanjutkan “Perang Salib” dengan cara menjelajahi Dunia Baru, Portugis sejak kemunculannya bertekad menggeser dominasi Muslim atas jalur perdagangan rempah-rempah dari India dan Asia Timur. 

Penguasa Portugis Don Joao II mengirimkan ekspedisi ke wilayah Dinasti Mamluk yang berpusat di Mesir. Pasukan yang dipimpin Pero de Covilha dan Affonso de Paiva ini ditugaskan untuk mengontak penguasa Ethiopia dan untuk menemukan sumber rempah-rempah dari Timur. Pada waktu yang sama, Bartholomeu Diaz berhasil berlayar sampai Tanjung Harapan di ujung selatan Benua Afrika. Laporan Diaz pada 1488 dan laporan Covilha pada 1492 menyakinkan Dom Joao tentang laiknya ekspedisi menuju India dan Asia Timur dengan melayari Tanjung Harapan.

Kabar keberhasilan ekspedisi Columbus menunda rencana Joao. Tapi, ketika disadari bahwa Columbus ternyata tak menemukan India seperti tujuannya semula, Portugis melanjutkan ekspedisi ke selatan. Vasco da Gama melintasi Tanjung Harapan pada 1497 lalu menyusuri pantai timur Afrika sampai ke Malindi, dekat Zanzibar. Di sana, Vasco da Gama menemui Ahmad Ibnu Majid, navigator Arab yang juga pengarang kitab navigasi. Ibnu Majid membantu armada Portugis mengarungi Samudra Hindia dan mencapai Calicut di pantai barat India, pusat perdagangan rempah-rempah dari Timur. Rempah-rempah dimuat ke kapal bergabung bersama emas, gading gajah, dan budak dari Afrika. 

Armada Portugis juga mendirikan koloni di sepanjang rute mereka menuju India. Di sepanjang pelayaran, mereka selalu memerangi kota-kota Arab atau Muslim yang sebelumnya merajai jalur pelayaran itu. Pada 1501, Raja Portugis mengeluarkan dekrit bahwa kapal Muslim tak diperbolehkan berdagang rempah-rempah di India. pada 1502, Portugis mendapat bantuan dari Raja Hindu Channor dan Cochin mengobarkan perang terhadap Raja Samuri di Calicut yang menjadi pelindung pedagang Muslim.

Portugis berhasil menyekat pintu masuk selatan Laut Merah, sehingga hanya sedikit rempah-rempah yang mencapai Mesir. Armada Mamluk berkali-kali berhasil dihancurkan. Alfonso de Albuquerque berhasil memantapkan kekuasaan Portugis dengan merebut Goa dari Sultan Bijapur, Diu, dan Daman di India, Malaka, bahkan Pulau Hormuz di pintu masuk selatan Teluk Persia. Albuquerque gagal merebut Aden (Yaman). Tapi, sebagai gantinya menguasai pelabuhan Socotra di pantai timur Afrika sehingga menjadikan mereka penguasa tunggal jalur pelayaran Samudra Hindia dan menyingkirkan kapal-kapal Muslim.

“Jika kita berhasil merebut perdagangan Malaka dari tangan Mamluk, Kairo dan Makkah akan hancur dan tak ada rempah-rempah yang dikirim ke Venesia kecuali mereka membelinya dari Portugis,” kata Albuquerque. Lalu, dalam suratnya kepada Paus Leo X, Albuquerque akhirnya membuka motif utama penguasan jalur rempah-rempah itu seperti dikutip dari The Commentaries of the Great Afonso D'Albuquerque. “Telah dibukakan kepada kami penaklukan kerajaan Ormuz. Maka, jalan menuju ke Rumah Suci Yerusalem (negeri tempat sang penebus dosa dilahirkan) sekali lagi dapat direbut dari tangan kaum kafir yang secara jahat dan tak sah menguasainya.”

Ambisi Albuquerque untuk maju ke Laut Merah sampai ke Makkah, lalu menguasai kota suci umat Islam itu untuk ditukar dengan Yerusalem, tak pernah terwujud. Meski demikian, Albuquerque telah menjalin aliansi dengan raja Kristen penguasa Ethiopia yang disebut sebagai Prester John. Dia bahkan punya rencana besar untuk membuat Mesir kelaparan dengan mengalihkan aliran Sungai Nil melewati Ethiopia menuju ke Laut Merah.

 

Jatuhnya Dinasti Islam di Spanyol dan Ditemukannya Amerika

Jatuhnya Dinasti Islam di Spanyol dan Ditemukannya Amerika


Fiqhislam.com - Sejarawan Universitas Wisconsin-Milwaukee Abbas Hamdani menyebut, 1492 merupakan tahun yang sangat krusial dalam sejarah Eropa, Muslim, dan Amerika. Pada 2 Januari, Granada jatuh mengakhiri kekuasaan Muslim di Spanyol selama-lamanya. Lalu, pada 12 Oktober, Columbus “menemukan” Amerika. Columbus telah membuka jalan bagi era penjelajahan, ekspansi, dan kolonisasi oleh bangsa Eropa yang menjadi pengantar munculnya era Renaisans. 

Namun, motif utama penjelajahan dalam suasana abad pertengahan itu sering diabaikan, yaitu keinginan Columbus melancarkan kembali Perang Salib baru untuk merebut Tanah Suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim. Keinginan itu tak hanya sebatas menguasai kembali tanah tempat Yesus lahir dan mendakwahkan ajarannya, tapi demi memenuhi sebuah nubuat yang sangat diimani oleh Columbus.

Ramalan itu disebutkan dalam Injil Kitab Wahyu yang menyebutkan bahwa dipeluknya ajaran Kristen oleh seluruh penduduk Bumi serta penaklukan kembali Yerusalem merupakan prasyarat untuk kembalinya Yesus Kristus ke dunia sebelum akhir zaman. Dan, Columbus merasa dirinya bakal punya peranan penting dalam peristiwa itu.

Religiusitas Columbus memang tak pernah tampak dalam publikasi sejarah populer. Padahal, bukti-bukti tertulis dari Diario dan kesaksian anggota keluarga dan koleganya memberi bukti tak terbantahkan. Diario menceritakan bahwa sepanjang pelayaran pertama menuju Dunia Baru itu Columbus kerap sekali melantunkan doa dan menjaga jam-jam sembahyang (jam kanonikal) di kapal, terutama waktu doa Prime, Terce, Vesper, dan Compline. “Saat waktu Vesper, semua awak kapal dikumpulkan. Doa singkat dibacakan. Salve Regina dinyanyikan.” 

Setiap menjelang misa Ahad, Columbus selalu mempersiapkannya dengan sangat detail dan sungguh-sungguh. Columbus pun sangat meyakini berkat dari perjalanan ziarah ke tempat suci, terutama Yerusalem. Dalam beberapa catatan Diario, Columbus dan para awak kapalnya sering kali mengucapkan janji bahwa mereka akan melakukan ziarah ke tempat-tempat suci jika selamat mengarungi lautan ganas dan badai.

Apresiasi keagamaannya juga tampak pada cara Columbus menamai pulau dan tempat yang mereka temui, seperti Pulau Adam, San Salvador (penebusan), Trinidad (trinitas), Santa Maria (Perawan Maria), serta Isla de la Ascuncion merujuk pada hari ketika Tuhan memasukkan (assumption) Perawan Maria ke surga.

Pendeta Andres Bernaldez menceritakan bahwa saat kepulangan dari pelayaran kedua ke Dunia baru, setibanya di Castile, Juni 1496, dia melihat sahabatnya Columbus berpakaian seperti biarawan Ordo St Francis. Beberapa sejarawan meyakini, Columbus memang mengikuti ajaran Fransiscan dan dikubur dalam jubah ordo itu.

Bukti lain adalah simbol yang dipakai Columbus untuk menutup surat laporan dalam pelayaran pertama dengan “Xpo-ferens” atau “Pembawa Kristus”. Artinya, Columbus meyakini bahwa dirinya membawa misi kekristenan sepanjang pelayaran, senada dengan namanya St Cristopher. Membawa Kristus mengarungi air. [yy/republika]