14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Malaka Pusat Penyebaran Islam di Asia Tenggara

Malaka Pusat Penyebaran Islam di Asia Tenggara

Fiqhislam.com - Posisi Kesultanan Malaka yang strategis membuat banyak orang mendatanginya. Sama halnya ketika dalam masa kejayaannya Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Buddha, Malaka pun punya posisi sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Pengamat sejarah kebudayaan Islam dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Prof Dien Madjid mengatakan, Malaka merupakan pelabuhan transito perdagangan di mana orang-orang menunggu arus angin yang disesuaikan tujuannya.

Dulu, orang berlayar menggunakan kapal layar yang sangat bergantung pada arah angin. Ketika ia ingin ke arah timur, misalnya, ia harus menunggu angin yang tepat agar bisa mengantarkannya ke arah timur. Selama angin yang tepat ini musimnya belum datang, mereka singgah terlebih dahulu di bandar pelabuhan terdekat. Mereka tinggal kemudian berbaur dengan penduduk setempat, bahkan ada yang menikah.

Selama singgah ini merupakan masa di mana mereka bisa mengenalkan budaya dan agama yang mereka anut. Bagi para pedagang Muslim, yang kebanyakan berasal dari Arab, mereka juga melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di tempat-tempat yang mereka singgahi seperti ini.

Para pedagang Muslim ini mau singgah ketika sang raja telah mendeklarasikan ia masuk Islam dan Kerajaan Malaka yang dipimpinnya adalah kerajaan Islam. Keputusan sang raja masuk Islam ini membuat Malaka menjadi semakin ramai karena para saudagar yang Muslim berkenan singgah. Malaka menjadi semakin besar dan menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Malaka menjadi sebuah tempat transit yang bisa menyebarkan dan mengembangkan Islam dengan cepatnya. Selain para pedagang dari Arab, para ulama dari Demak dan Aceh juga bertemu dan menjadi satu di Malaka ini.

Islam disebarkan dengan berbagai media. Tak ada satu pun yang melalui jalur kekerasan. Kebanyakan adalah melalui dakwah dan menggunakan media majalah dan buku-buku yang berasal dari Arab langsung.

Pada masa itu, para ulama juga menggunakan budaya sebagai media dakwah. Salah satunya adalah melalui wayang, sama dengan yang dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa. Inilah mengapa di Malaysia ada wayang dan mereka ngotot mengakui wayang adalah budaya miliknya.

Islam mudah diterima oleh orang Melayu yang kala itu menghuni daerah Malaka ini karena nilai-nilai keislaman yang diajarkan oleh para pedagang ini, mirip dengan budaya asli mereka. “Misalnya, sopan dalam perilaku, santun berbahasa, menghormati orang tua, saling silaturahim, gotong royong, dan nilai baik lainnya,” ujarnya. [yy/republika]

Malaka Pusat Penyebaran Islam di Asia Tenggara

Fiqhislam.com - Posisi Kesultanan Malaka yang strategis membuat banyak orang mendatanginya. Sama halnya ketika dalam masa kejayaannya Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Buddha, Malaka pun punya posisi sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Pengamat sejarah kebudayaan Islam dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Prof Dien Madjid mengatakan, Malaka merupakan pelabuhan transito perdagangan di mana orang-orang menunggu arus angin yang disesuaikan tujuannya.

Dulu, orang berlayar menggunakan kapal layar yang sangat bergantung pada arah angin. Ketika ia ingin ke arah timur, misalnya, ia harus menunggu angin yang tepat agar bisa mengantarkannya ke arah timur. Selama angin yang tepat ini musimnya belum datang, mereka singgah terlebih dahulu di bandar pelabuhan terdekat. Mereka tinggal kemudian berbaur dengan penduduk setempat, bahkan ada yang menikah.

Selama singgah ini merupakan masa di mana mereka bisa mengenalkan budaya dan agama yang mereka anut. Bagi para pedagang Muslim, yang kebanyakan berasal dari Arab, mereka juga melakukan dakwah dan menyebarkan agama Islam di tempat-tempat yang mereka singgahi seperti ini.

Para pedagang Muslim ini mau singgah ketika sang raja telah mendeklarasikan ia masuk Islam dan Kerajaan Malaka yang dipimpinnya adalah kerajaan Islam. Keputusan sang raja masuk Islam ini membuat Malaka menjadi semakin ramai karena para saudagar yang Muslim berkenan singgah. Malaka menjadi semakin besar dan menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Malaka menjadi sebuah tempat transit yang bisa menyebarkan dan mengembangkan Islam dengan cepatnya. Selain para pedagang dari Arab, para ulama dari Demak dan Aceh juga bertemu dan menjadi satu di Malaka ini.

Islam disebarkan dengan berbagai media. Tak ada satu pun yang melalui jalur kekerasan. Kebanyakan adalah melalui dakwah dan menggunakan media majalah dan buku-buku yang berasal dari Arab langsung.

Pada masa itu, para ulama juga menggunakan budaya sebagai media dakwah. Salah satunya adalah melalui wayang, sama dengan yang dilakukan juga oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di Jawa. Inilah mengapa di Malaysia ada wayang dan mereka ngotot mengakui wayang adalah budaya miliknya.

Islam mudah diterima oleh orang Melayu yang kala itu menghuni daerah Malaka ini karena nilai-nilai keislaman yang diajarkan oleh para pedagang ini, mirip dengan budaya asli mereka. “Misalnya, sopan dalam perilaku, santun berbahasa, menghormati orang tua, saling silaturahim, gotong royong, dan nilai baik lainnya,” ujarnya. [yy/republika]

Malaka dan Penyebaran Islam di Tanah Melayu

Malaka dan Penyebaran Islam di Tanah Melayu


Fiqhislam.com - Kerajaan Malaka memiliki peranan yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Indonesia. Lewat jalur perdagangan, Islam disebarkan ke berbagai wilayah. Hadirnya Islam merupakan dampak positif dari ramainya transaksi dagang di Selat Malaka.

Gerbang utama

Melihat dari sejarahnya, Malaka merupakan gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari Semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian menyebar ke seluruh kawasan Asia Tenggara.

Dalam versi lain disebutkan, Islam lebih dahulu dikenal di Samudra Pasai, Aceh, sebelum sampai ke Malaka. Keberadaan Islam di Samudra Pasai merupakan dampak perkembangan penyebaran Islam dari Kerajaan Perlak. Bermula dari Kerajaan Perlak, penyebaran Islam mengalami perkembangan pesat, termasuk di Malaka.

Sangat Strategis

Malaka merupakan selat yang letaknya sangat strategis dalam sejarah perdagangan dunia. Beragam transaksi jual-beli dari berbagai belahan dunia dilakukan di kawasan perairan ini. Kerajaan-kerajaan yang berada di dekat kawasan strategis itu pun memetik banyak keuntungan.

Selain keuntungan ekonomi, mengenal Islam juga merupakan salah satu dampak positif dari ramainya hubungan dagang dengan para saudagar mancanegara. Menurut hikayat Sejarah Melayu dan catatan orang Cina pada 1409, orang Malaka telah memeluk agama Islam.

Parameswara

Beberapa sumber sejarah menyebutkan, Islamnya Malaka berangkat dari Kerajaan Samudra Pasai. Parameswara, raja pertama Kerajaan Malaka (1384-1414), beristrikan putri dari Kerajaan Pasai.

Setelah menjalin hubungan dengan Pasai, Parameswara memeluk agama Islam. Dengan berislamnya sang sultan, diislamkanlah seluruh kerajaan dan rakyatnya. Islam pun menjadi agama resmi Kerajaan Malaka.

Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam disebutkan, para pedagang, mubalig, serta guru sufi kemudian datang berbondong-bondong dari Timur Tengah ke bandar Kerajaan Malaka dan Pasai. Dari dua kerajaan tersebut, tersebarlah ajaran Islam ke Pattani (Thailand) serta kawasan semenanjung, seperti Johor, Pahang, dan Perak.

Keruntuhan

Kerajaan Malaka runtuh pada Agustus 1511 ketika wilayahnya diserang penjajah Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque. Saat itu, Malaka diperintah Sultan Mahmud Syah. Tapi, runtuhnya Malaka bukan berarti lenyapnya Islam di tanah Melayu. Keruntuhan tersebut justru mendorong penyebaran Islam yang lebih luas.

Para keturunan Sultan Mahmud Shah masih terus berjuang mempertahankan diri, hingga kemudian tersebar ke beberapa wilayah. Riau, Lingga, Johor, dan Pahang menjadi empat negeri utama kelanjutan sejarah kerajaan Islam Melayu. [yy/republika]

Hang Tuah, Laksamana Hebat dari Malaka

Hang Tuah, Laksamana Hebat dari Malaka


Fiqhislam.com - Dalam masa kejayaan Kesultanan Malaka, tersebutlah nama seorang tokoh terkenal di dalamnya selain sultannya, yaitu Hang Tuah. Hang Tuah dikenal sebagai laksamana terhebat kala itu.

Hang Tuah ini bukan hanya sebuah mitos. Pengamat budaya Melayu, Mahyudin Al Yudra, membenarkan nama Hang Tuah ini benar adanya. “Dia adalah seorang panglima yang hebat di Kesultanan Malaka,” ujarnya.

Namun, ia menggarisbawahi Hang Tuah ini, meski hebat dan banyak prestasinya, ia tetaplah manusia biasa. Karena banyak cerita dan hikayat Melayu yang menurutnya terlalu berlebihan menggambarkan kesaktiannya.

Hang Tuah dikenal sebagai laksamana, panglima tertinggi yang memimpin pasukan di lautan. Seperti Gadjah Mada yang terkenal di Majapahit, Hang Tuah yang cerdas dalam kepemimpinan pasukan di atas laut juga banyak menuturkan kata-kata bijak. Di antaranya, “Esa hilang, dua terbilang”.

Berdasarkan Sulalatus Salatin atau naskah babad raja-raja yang ditulis menggunakan bahasa Arab Melayu, Hang Tuah lahir di Kampung Sungai Duyong, Malaka, sekitar 1444. Ayahnya bernama Hang Mahmud dan ibunya Dang Merdu.

Saat muda, Hang Tuah menguasai bidang pelayaran. Ia bersama empat kawannya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu, merantau dan berlayar bersama.

Suatu hari, mereka bertemu dengan tiga perahu yang berisikan pasukan dari Majapahit yang ingin memperluas daerah kekuasaan. Hang Tuah dan kawan-kawannya berhasil menundukkan rombongan perahu tersebut. Kemudian, karena prestasinya, bendahara (setingkat perdana menteri) mengangkatnya menjadi laksamana di Malaka.

Dalam Hikayat Hang Tuah, tergambar sifat kesatria dan kesetiaan seorang Hang Tuah. Ia dan kawannya yang lahir dari kalangan rakyat jelata bisa berhasil menjadi orang penting dan namanya termasyhur hingga kini.

Akhir kisah Hang Tuah ini mengharukan karena kisah persahabatan ini akhirnya tercerai-berai. Awalnya, Hang Tuah difitnah melakukan perzinaan dan kemudian diasingkan. Tak terima dengan hukuman yang diberikan pada sahabatnya, Hang Jebat pun memberontak dan memorak-porandakan istana raja.

Saat itu, Hang Tuah dipanggil kembali oleh raja untuk menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh sahabatnya sendiri. Karena kesetiannya pada raja, Hang Tuah berhasil menumpas pemberontakan tersebut dan menghunuskan kerisnya ke tubuh sahabatnya, Hang Jebat. Ia tak tahu bahwa Hang Jebat melakukan pemberontakan tersebut demi membelanya.

Melihat semua kilas peristiwa yang terjadi, hatinya pun gamang, dengan nanar Hang Tuah pun kemudian meninggalkan kerajaan. Ia tak pernah lagi kembali ke posisi tingginya sebagai laksamana di Kesultanan Malaka. [yy/republika]