9 Jumadil-Awwal 1444  |  Sabtu 03 Desember 2022

basmalah.png

Petarekan, Naskah Tasawuf Tertua Cirebon yang Bertahan

Petarekan, Naskah Tasawuf Tertua Cirebon yang Bertahan

Fiqhislam.com - Cirebon yang namanya melekat dengan Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati banyak melahirkan kaum intelektual dan ulama.

Kemajuan Kesultanan Cirebon di berbagai bidang telah mendorong penduduknya ke level yang lebih atas. Karenanya, Cirebon banyak meninggalkan manuskrip-manuskrip keagamaan.

Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon, Nurhata, mengatakan jumlah naskah keagamaan begitu melimpah di Cirebon. Seperti naskah tauhid, fikih, tasawuf, Alquran, hadis, dan kitab tauhid. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu, dan Sunda.

"Naskah tersebut menggunakan aksara Jawa, Arab, Jawi dan Pegon, sementara alas tulis yang digunakan yaitu kertas eropa, daluwang, lontar, dan kertas bergaris. Tapi kebanyakan naskah ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara yang digunakan Pegon dan Jawa," kata Nurhata kepada Republika.co.id, beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, kegiatan penulisan naskah-naskah keagamaan bukan hanya berpusat di keraton Kesultanan Cirebon, melainkan penulisan juga dilakukan di berbagai tempat, menyebar di rumah-rumah penduduk dan pesantren.

Di sana dapat dijumpai berbagai naskah keagamaan meskipun tidak mudah untuk menemukannya. Namun kondisi naskah yang tersimpan di pesantren dan rumah penduduk memprihatinkan, tidak seperti naskah yang disimpan keluarga keraton. 

Berdasarkan hasil penelitiannya, Nurhata mengatakan naskah keagamaan paling tua yang ditemukan di Cirebon berjudul Petarekan. Terdiri dari 21 halaman, alas tulisnya menggunakan kertas eropa, ditulis dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Naskah disimpan di Keraton Kacirebonan.  

"Isinya ajaran-ajaran Tarekat Syatariyah ditulis pada 1118 Hijriyah atau sekitar 1630-1631 Masehi, kondisi naskah rapuh dan banyak halaman yang sukar dibaca," ujarnya.

Nurhata menyampaikan, sejumlah naskah keagamaan ada yang terjemahan langsung dari teks asli. Tapi ada pula yang sudah diubah untuk disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat setempat. Sehingga masyarakat awam dapat memahami kandungan isi naskahnya.

Kemudian hasil dari proses adaptasi itu menghasilkan suatu naskah yang sangat kental dengan nuansa lokalnya. "Oleh masyarakat awam, naskah semacam itu lebih dikenal dengan istilah Petarekan yang biasanya berisi ajaran tasawuf atau masalah ketauhidan," jelasnya.

Sementara peneliti manuskrip Nusantara, Mahrus meyakini sebenarnya ada juga naskah-naskah Cirebon yang ditulis pada abad ke-15 dan ke-16. Tapi kemungkinan besar bahan-bahannya tidak bisa bertahan sampai sekarang, jadi rusak dan hancur. Sehingga sekarang naskah tertua yang ditemukan hanya berasal dari abad ke-17.

"Mengenai konten naskah-naskah Cirebon, menurutnya tidak hanya naskah keagamaan tapi ada juga naskah tentang pangan dan ilmu pertanian, pengobatan, sejarah, dan perimbon," kata Mahrus.

Menurut temuannya, pada umumnya naskah-naskah Cirebon menggunakan bahasa Jawa Cirebon. Berbeda dengan bahasa Jawa yang sekarang dipakai masyarakat Jawa. Bahasa Jawa Cirebon sedikit mengandung bahasa Jawa kuno.

Pada umumnya naskah-naskah di Cirebon menggunakan aksara Jawa, Pegon, Jawi dan Arab. Tapi ada juga yang menggunakan aksara Jawa kuno, hampir mirip dengan aksara Sanskerta.

Mengenai bahan yang digunakan untuk menulis naskah kebanyakan dari daluang dan kertas eropa. "Usia naskah Cirebon yang saya temukan paling tua dari abad ke-17, naskah yang diidentifikasi tertua di Cirebon," jelas Mahrus. [yy/republika]

Petarekan, Naskah Tasawuf Tertua Cirebon yang Bertahan

Fiqhislam.com - Cirebon yang namanya melekat dengan Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati banyak melahirkan kaum intelektual dan ulama.

Kemajuan Kesultanan Cirebon di berbagai bidang telah mendorong penduduknya ke level yang lebih atas. Karenanya, Cirebon banyak meninggalkan manuskrip-manuskrip keagamaan.

Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon, Nurhata, mengatakan jumlah naskah keagamaan begitu melimpah di Cirebon. Seperti naskah tauhid, fikih, tasawuf, Alquran, hadis, dan kitab tauhid. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu, dan Sunda.

"Naskah tersebut menggunakan aksara Jawa, Arab, Jawi dan Pegon, sementara alas tulis yang digunakan yaitu kertas eropa, daluwang, lontar, dan kertas bergaris. Tapi kebanyakan naskah ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara yang digunakan Pegon dan Jawa," kata Nurhata kepada Republika.co.id, beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, kegiatan penulisan naskah-naskah keagamaan bukan hanya berpusat di keraton Kesultanan Cirebon, melainkan penulisan juga dilakukan di berbagai tempat, menyebar di rumah-rumah penduduk dan pesantren.

Di sana dapat dijumpai berbagai naskah keagamaan meskipun tidak mudah untuk menemukannya. Namun kondisi naskah yang tersimpan di pesantren dan rumah penduduk memprihatinkan, tidak seperti naskah yang disimpan keluarga keraton. 

Berdasarkan hasil penelitiannya, Nurhata mengatakan naskah keagamaan paling tua yang ditemukan di Cirebon berjudul Petarekan. Terdiri dari 21 halaman, alas tulisnya menggunakan kertas eropa, ditulis dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Naskah disimpan di Keraton Kacirebonan.  

"Isinya ajaran-ajaran Tarekat Syatariyah ditulis pada 1118 Hijriyah atau sekitar 1630-1631 Masehi, kondisi naskah rapuh dan banyak halaman yang sukar dibaca," ujarnya.

Nurhata menyampaikan, sejumlah naskah keagamaan ada yang terjemahan langsung dari teks asli. Tapi ada pula yang sudah diubah untuk disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat setempat. Sehingga masyarakat awam dapat memahami kandungan isi naskahnya.

Kemudian hasil dari proses adaptasi itu menghasilkan suatu naskah yang sangat kental dengan nuansa lokalnya. "Oleh masyarakat awam, naskah semacam itu lebih dikenal dengan istilah Petarekan yang biasanya berisi ajaran tasawuf atau masalah ketauhidan," jelasnya.

Sementara peneliti manuskrip Nusantara, Mahrus meyakini sebenarnya ada juga naskah-naskah Cirebon yang ditulis pada abad ke-15 dan ke-16. Tapi kemungkinan besar bahan-bahannya tidak bisa bertahan sampai sekarang, jadi rusak dan hancur. Sehingga sekarang naskah tertua yang ditemukan hanya berasal dari abad ke-17.

"Mengenai konten naskah-naskah Cirebon, menurutnya tidak hanya naskah keagamaan tapi ada juga naskah tentang pangan dan ilmu pertanian, pengobatan, sejarah, dan perimbon," kata Mahrus.

Menurut temuannya, pada umumnya naskah-naskah Cirebon menggunakan bahasa Jawa Cirebon. Berbeda dengan bahasa Jawa yang sekarang dipakai masyarakat Jawa. Bahasa Jawa Cirebon sedikit mengandung bahasa Jawa kuno.

Pada umumnya naskah-naskah di Cirebon menggunakan aksara Jawa, Pegon, Jawi dan Arab. Tapi ada juga yang menggunakan aksara Jawa kuno, hampir mirip dengan aksara Sanskerta.

Mengenai bahan yang digunakan untuk menulis naskah kebanyakan dari daluang dan kertas eropa. "Usia naskah Cirebon yang saya temukan paling tua dari abad ke-17, naskah yang diidentifikasi tertua di Cirebon," jelas Mahrus. [yy/republika]

Kerendahan Hati Para Ulama dalam Manuskrip Keagamaan Cirebon

Kerendahan Hati Para Ulama dalam Manuskrip Keagamaan Cirebon


Fiqhislam.com - Meski ada ribuan naskah keagamaan di Cirebon, sebagian besar naskah tidak menyebutkan nama penulis dan waktu penulisannya. Karena kerendahan hati para penulis naskah keagamaan, mereka tidak menganggap dirinya penting untuk diketahui publik.

"Nama diri sang penyalin atau penulis naskah pada umumnya tidak disebutkan dalam naskah, ini terkait semacam konsensus bahwa nama diri penulis tidak begitu urgen dalam suatu karya," kata Nurhata.

Kalaupun nama penulis disebutkan, menurut dia, biasanya ditulis dengan nada-nada merendah. Seperti menulis hamba orang fakir, bodoh, tidak mengerti sastra dan bahasa-bahasa merendah lainnya.  

Menurutnya, sikap tawadhu semacam itu tampaknya sudah menjadi bagian dari etika penulisan pada masa lalu. Seperti penulis naskah Kitab Merad (koleksi Keraton Kacirebonan), sang penulis mengaku dirinya sebagai orang yang tidak berakhlak. Kemudian penulis naskah Tarekat Syatariyah Muhammadiyah, mengaku dirinya orang bodoh dan miskin.

"Kerendahan hati seorang penulis karena suatu keniscayaan bahwa apa yang ditulisnya tidak lebih dari hasil menyalin atau mengubah dari suatu teks lain yang sudah tersedia, meskipun dalam praktiknya membutuhkan kemampuan besar serta ketelitian," kata Nurhata.

Menurut dia, para penulis naskah di masa lalu menyadari bahwa karyanya bukan lagi milik pribadi. Karena yang dilakukannya hanya mengadaptasi suatu teks atau kitab ke dalam rangkaian aksara dan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat setempat.

Dia juga menjelaskan bahwa naskah keagamaan yang ditemukan di Cirebon sebagian besar sudah diadaptasi untuk disesuaikan dengan konteks sosial yang ada. Para penulis atau penyalin naskah memahami betul konteks sosial budaya di Cirebon.

Naskah-naskah keagamaan yang pada mulanya beraksara Arab dan bahasa Arab, diberi terjemahan bahasa Jawa dengan aksara Jawa dan Pegon. Tapi kebanyakan naskah tidak memuat informasi penanggalan atau waktu penulisan. [yy/republika]

Cirebon Miliki Banyak Manuskrip Keagamaan

Cirebon Miliki Banyak Manuskrip Keagamaan


Fiqhislam.com - Cirebon yang namanya lekat dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati banyak melahirkan kaum intelektual dan ulama. Kemajuan Kesultanan Cirebon di berbagai bidang telah mendorong penduduknya ke level yang lebih atas. Karena itu, Cirebon banyak meninggalkan manuskrip-manuskrip keagamaan.

Sekretaris Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Cirebon, Nurhata, menyampaikan, jumlah naskah keagamaan begitu melimpah di Cirebon. Seperti naskah tauhid, fikih, tasawuf, Alquran, Hadis, dan kitab tauhid. Naskah-naskah tersebut ditulis dengan bahasa Arab, Jawa, Melayu, dan Sunda.

"Naskah tersebut menggunakan aksara Jawa, Arab, Jawi, dan Pegon, sementara alas tulis yang digunakan, yaitu kertas Eropa, daluwang, lontar, dan kertas bergaris. Tapi, kebanyakan naskah ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara yang digunakan Pegon dan Jawa," kata Nurhata kepada Republika di Bogor, belum lama ini.

Menurutnya, kegiatan penulisan naskah-naskah keagamaan bukan hanya berpusat di keraton Kesultanan Cirebon. Kegiatan penulisan juga dilakukan di berbagai tempat, menyebar di rumah-rumah penduduk dan pesantren.

Di sana dapat dijumpai berbagai naskah keagamaan meskipun tidak mudah untuk menemukannya. Namun, kondisi nas kah yang tersimpan di pesantren dan rumah penduduk memprihatinkan, tidak seperti naskah yang disimpan keluarga keraton.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Nurhata mengatakan, naskah keagamaan paling tua yang ditemukan di Cirebon berjudul Peta rekan. Terdiri atas 21 halaman, alas tulisnya menggunakan kertas Eropa, ditulis dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Naskah disimpan di Keraton Kacirebonan.

"Isinya ajaran-ajaran Tarekat Sayattariyah ditulis pada tahun 1118 Hijriyah atau sekitar tahun 1630-1631 M, kondisi naskah rapuh dan banyak halaman yang sukar dibaca," ujarnya.

Nurhata menyampaikan, sejumlah naskah keagamaan ada yang terjemahan langsung dari teks asli. Namun, ada pula yang sudah di ubah untuk disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat setempat. Sehingga, ma syarakat awam dapat memahami kandungan isi naskahnya.

Kemudian, hasil dari proses adaptasi itu menghasilkan suatu naskah yang sangat kental dengan nuansa lokalnya. "Oleh masyarakat awam, naskah semacam itu lebih dikenal dengan istilah petarekan yang biasanya berisi ajaran tasawuf atau masalah ketauhidan," jelasnya. [yy/republika]

Manuskrip di Cirebon Miliki Konten Beragam

Manuskrip di Cirebon Miliki Konten Beragam


Fiqhislam.com - Peneliti manuskrip Nusantara, Mahrus meyakini, sebenarnya ada juga naskah-naskah Cirebon yang ditulis pada abad ke-15 dan ke-16. Tapi, kemungkinan besar bahan-bahannya tidak bisa bertahan sampai sekarang, jadi rusak dan hancur. Sehingga, sekarang naskah tertua yang ditemukan hanya berasal dari abad ke-17.

"Mengenai konten naskah-naskah Cirebon, menurutnya tidak hanya naskah keagamaan, tapi ada juga naskah tentang pangan dan ilmu pertanian, pengobatan, sejarah, dan primbon," kata Mahrus.

Menurut temuannya, pada umumnya naskah-naskah Cirebon menggunakan bahasa Jawa Cirebon. Berbeda dengan bahasa Jawa yang sekarang dipakai masyarakat Jawa. Bahasa Jawa Cirebon sedikit mengandung bahasa Jawa kuno.

Pada umumnya naskah-naskah di Cirebon menggunakan aksara Jawa, Pegon, Jawi, dan Arab. Namun, ada juga yang menggunakan aksara Jawa kuno, hampir mirip dengan ak sara Sansekerta. Mengenai bahan yang digunakan untuk menulis naskah kebanyakan dari daluang dan kertas Eropa.

"Usia naskah Cirebon yang saya temukan paling tua dari abad ke-17,'' kata Mahrus. [yy/republika]