21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Diplomasi Ottoman-Muslim China

Diplomasi Ottoman-Muslim China

Fiqhislam.com - Turki Usmani (Ottoman) adalah kesultanan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Pengaruh Ottoman tidak hanya sampai pada Eropa, tapi juga Asia Timur.

Dengan wilayah kekuasaan yang luas, Ottoman memerlukan dukungan dari umat Islam seluruh dunia untuk menghadapi negara-negara Barat.

Sebagai strateginya membangun kekuatan dan dukungan di Asia, Ottoman yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdulhamid II mencoba men jalin hubungan dengan Muslim di Cina. Menteri Pertahanan Turki Ismail Enver Pasha (1881-1922) diutus ke Cina pada 28 April 1901. Enver bersama istrinya seorang Austria, dua juru tulis, dua cendekiawan, dua tentara, dan seorang pelayan berangkat dari Istanbul melewati Izmir, Alexandria, dan Laut Merah menuju Cina dengan menggunakan kapal uap Austria.

Setelah perjalanan panjang dan sulit, pada Mei 1901, rombongan Enver Pasha tiba di Pelabuhan Shanghai. Kabar keberangkatan Enver Pasha menuju Cina membuat perwa kila Barat di Cina bertanya-tanya apa sebenarnya motif misi diplomatik Ottoman itu. Mereka menganggap, kunjungan Enver merupakan manuver untuk memperkuat kekuasaannya dengan cara membuat Muslim Cina masuk dalam pengaruhnya.

Setibanya di Cina, dengan bahasa Prancis yang lancar dan gayanya yang bisa memengaruhi siapa saja, Enver Pasha berkata pada masyarakat Muslim dan perwakilan negara Barat bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan pesan perdamaian dari Sultan Abdul Hamid II dan mendeklarasikan Sultan Abdul Hamid II sebagai “Pemimpin Umat Islam”.

Perwakilan negara-negara Barat yang saat itu berkuasa di berbagai pelabuhan Cina menilai tujuan uta ma utusan Istanbul itu adalah untuk meraih simpati 50 juta-70 juta Muslim Cina, sebuah kelompok masya ra kat yang cukup besar saat po pulasi Cina kala itu mencapai 500 juta.

Seperti surat duta besar Prancis untuk Beijing ke Paris yang isinya bernada kekhawatiran bahwa kehadiran utusan Ottoman akan membangkitkan pergerakan Islam di daerah padat Muslim, seperti Guang xi, Guang zhou, dan Yunan, untuk melawan kekuasaan Barat. [yy/republika]

Diplomasi Ottoman-Muslim China

Fiqhislam.com - Turki Usmani (Ottoman) adalah kesultanan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Pengaruh Ottoman tidak hanya sampai pada Eropa, tapi juga Asia Timur.

Dengan wilayah kekuasaan yang luas, Ottoman memerlukan dukungan dari umat Islam seluruh dunia untuk menghadapi negara-negara Barat.

Sebagai strateginya membangun kekuatan dan dukungan di Asia, Ottoman yang saat itu dipimpin oleh Sultan Abdulhamid II mencoba men jalin hubungan dengan Muslim di Cina. Menteri Pertahanan Turki Ismail Enver Pasha (1881-1922) diutus ke Cina pada 28 April 1901. Enver bersama istrinya seorang Austria, dua juru tulis, dua cendekiawan, dua tentara, dan seorang pelayan berangkat dari Istanbul melewati Izmir, Alexandria, dan Laut Merah menuju Cina dengan menggunakan kapal uap Austria.

Setelah perjalanan panjang dan sulit, pada Mei 1901, rombongan Enver Pasha tiba di Pelabuhan Shanghai. Kabar keberangkatan Enver Pasha menuju Cina membuat perwa kila Barat di Cina bertanya-tanya apa sebenarnya motif misi diplomatik Ottoman itu. Mereka menganggap, kunjungan Enver merupakan manuver untuk memperkuat kekuasaannya dengan cara membuat Muslim Cina masuk dalam pengaruhnya.

Setibanya di Cina, dengan bahasa Prancis yang lancar dan gayanya yang bisa memengaruhi siapa saja, Enver Pasha berkata pada masyarakat Muslim dan perwakilan negara Barat bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan pesan perdamaian dari Sultan Abdul Hamid II dan mendeklarasikan Sultan Abdul Hamid II sebagai “Pemimpin Umat Islam”.

Perwakilan negara-negara Barat yang saat itu berkuasa di berbagai pelabuhan Cina menilai tujuan uta ma utusan Istanbul itu adalah untuk meraih simpati 50 juta-70 juta Muslim Cina, sebuah kelompok masya ra kat yang cukup besar saat po pulasi Cina kala itu mencapai 500 juta.

Seperti surat duta besar Prancis untuk Beijing ke Paris yang isinya bernada kekhawatiran bahwa kehadiran utusan Ottoman akan membangkitkan pergerakan Islam di daerah padat Muslim, seperti Guang xi, Guang zhou, dan Yunan, untuk melawan kekuasaan Barat. [yy/republika]

Cara Ottoman Dekati Muslim Cina

Cara Ottoman Dekati Muslim Cina


Fiqhislam.com - Rombongan Menteri Pertahanan Ottoman Enver Pasha menetap di Cina selama empat bulan. Enver tidak hanya menemui kelompok Muslim Cina di Shanghai, tapi juga mengunjungi Muslim di kotakota lainnya. Rombongan Enver juga berpartisipasi dalam shalat Jumat bersama Muslim setempat dan membacakan khotbah atas nama Sultan Abdul Hamid II. 

Setelah lebih dari empat bulan tinggal di Cina, rombongan Enver mulai kekurangan dana. Rusia memanfaatkan keadaan itu dengan memberikan bantuan. Tidak lama kemudian, Tsar Rusia Nicholas II mengundang Enver Pasha ke Rusia. Atas izin Istanbul, Enver Pasha meninggalkan Cina menuju Rusia untuk memenuhi undangan Tsar Rusia. Walaupun terbilang singkat, kedatangan Enver Pasha telah membuka hubungan antara Kesultanan Turki Usmani dan Muslim Cina.

Ottoman terus menjalin hubungan dengan Muslim Cina lewat pengiriman utusan berikut nya, Muhammad Ali. Diplomat yang fasih berbahasa Arab dan Inggris itu mencoba memikat hati masyarakat Muslim Cina dengan memberikan bantuan keuangan dan kesempatan belajar agama ke Turki.

Ali juga sempat menemui Imam Wang Haoren (1849-1919), salah satu cendekiawan Muslim Cina terkemuka dan pelopor modernisasi madrasah-madrasah di Cina. Dialah orang pertama yang membuat kebudayaan dan bahasa Cina masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah-sekolah Muslim yang sebelumnya hanya menawarkan pendidikan dalam bahasa Arab. Dalam sejarah Cina, ia dikenang sebagai “jembatan pemersatu”. 

Kepada Imam Wang, Ali menyampaikan maksud kedatangannya bahwa Kesultanan Turki Usmani berencana akan memodernisasikan pendidikan untuk kemajuan dunia Islam. Imam Wang pun sepakat dengan ide modernisasi pendidikan. [yy/republika]

Kisah Dua Imperium di Ujung Tanduk

Kisah Dua Imperium di Ujung Tanduk


Fiqhislam.com - Awal abad ke-20, imperium Cina dan Ottoman sedang dalam masa-masa krisis akibat kepungan kekuatan Barat yang sedang dalam masa-masa puncak kolonialis dan imperialismenya berkat industrialisasi pada abad ke-19. Sementara, Ottoman dan Cina sedang menghadapi masalah di berbagai bidang. Wilayah kekuasaan Ottoman digerogoti dan lepas satu per satu menjadi negara merdeka, seperti Serbia, Bulgaria, Romania, Yunani, Mesir, dan Tunisia. 

Dengan melemahnya kekuatan pasukan elite Janissary, ketinggalan teknologi dari Barat, beban utang yang menumpuk, serta banyaknya jalur perdagangan yang dikuasai Barat, membuat Ottoman menjadi negara pesakitan di ujung Eropa. Ottoman tak pernah tunduk langsung di bawah kekuasaan Eropa, tapi wilayah kekuasaannya jatuh satu per satu ke tangan Rusia, Inggris, Austria, dan Prancis. Pasukan Napoleon dengan leluasa memasuki Mesir pada 1798 tanpa perlawanan.

Nasib Cina juga tak jauh berbeda. Dua kali dipermalukan Inggris dalam Perang Candu (1856-1860), Cina juga kehilangan banyak kota pelabuhan yang dikontrol enam negara Barat dan Jepang, termasuk kehilangan Hong Kong ke tangan Inggris dan Vietnam direbut Prancis. Selama abad ke-19, Cina juga kerepotan terhadap berbagai kerusuhan di dalam negeri sepanjang abad ke-19, seperti pemberontakan Taiping (1850-1864) dan pemberontakan Boxer (1898-1901). 

Kondisi Ottoman dan Cina menyebabkan ketidakpuasan di masing-masing komunitas muda yang mendesakkan agenda reformasi. Para Turki Muda yang terdiri atas birokrat, tentara, seniman, maupun jurnalis yang mendapatkan didikan Barat memiliki agenda pendirian negara yang lebih sekuler yang mendapatkan penentangan dari kalangan agamis. Tetapi, gerakan ini tak sempat menimbulkan kerusuhan massa seperti halnya di Cina yang diwarnai berbagai pemberontakan. 

Dinasti Qing (Ching) yang berkuasa di Cina sejak pertengahan abad ke-17 sempat menjalankan agenda reformasi pada pertengahan abad ke-19, seperti mengganti sistem rekrutmen pegawai pemerintah dan pembangunan infrastruktur publik, seperti jalan dan bendungan.

Tetapi, langkah itu ternyata sedikit terlambat. Para tuan tanah merasa terancam dengan program reformasi dengan langkah-langkah industrialisasi yang menyebabkan arus urbanisasi penduduk dari desa ke kota. Tetapi, industri di Cina lebih banyak dikuasai pihak asing yang lebih loyal kepada penguasa lokal dibandingkan kepada kaisar. 

Kekuasaan Dinasti Turki Usmani yang berkuasa sejak abad ke-14 akhirnya kolaps setelah Perang Dunia II. Ottoman digantikan oleh Republik Turki yang didirikan para kaum nasionalis pimpinan Mustafa Kemal Pasha.

Di Cina, Revolusi Xinhai yang digerakkan Dokter Sun yat Sen berhasil menggulingkan Dinasti Qing pada 1912. Kekuasaan kekaisaran Cina yang sudah berlangsung selama 2.000 tahun digantikan oleh sebuah republik nasionalis yang berumur pendek, yang kemudian berebut kekuasaan dengan golongan komunis. [yy/republika]