11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Awal Mula Kesultanan Malaka

Awal Mula Kesultanan Malaka

Fiqhislam.com - Jajat Burhanudin yang menulis buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia (2017) menjelaskan, terdapat sedikit kontroversi seputar sosok pendiri Kesultanan Malaka. Kitab Sulatus Salatin dari abad ke-15 mencatat Iskandar Shah sebagai raja pertamanya.

Akan tetapi, catatan pengelana Portugis Tome Pires dari abad ke-16 menyebutkan raja pertama Malaka adalah Parameswara. Orientalis Inggris, RO Winstedt, cenderung menyintesiskan dua pandangan itu. Menurutnya, baik Parameswara maupun Iskandar Shah merupakan tokoh yang sama. Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa Iskandar Shah merupakan nama baru Parameswara setelah dia memeluk Islam. Penggantian nama seorang penguasa memang jamak terjadi di alam negeri Melayu setelah menerima agama ini.

Merujuk pada Suma Oriental karya Tome Pires, Parameswara merupakan putra mahkota Kerajaan Palembang yang menyelamatkan diri ke Temasek (Singapura) akibat serangan dari Jawa. Namun, pulau tersebut kemudian diserbu Kerajaan Siam. Parameswara pun lari ke Malaka bersama dengan para pengikutnya.

Di kota pesisir Semenanjung Malaya ini, dia mendirikan kerajaan pada 1403 dengan bantuan orang-orang Melayu asal Palembang serta kaum perompak. Parameswara membangun kekuatan maritim agar kapal-kapal yang melewati Selat Malaka singgah di pelabuhannya. Dengan begitu, kerajaan baru ini memeroleh pemasukan dari pajak dan surat jalan.

Pada masa itu, ancaman terbesar untuk Malaka adalah Majapahit dari selatan dan Siam dari utara. Untuk mengatasinya, Parameswara bekerja sama dengan Dinasti Ming yang gencar menjalankan ekspansi pengaruh di Nusantara sejak permulaan abad ke-15. Berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa yang datang kemudian di kepulauan ini, wangsa Cina tersebut tidak bertujuan menjajah. Raja-raja di Nusantara mendapatkan perlindungan militer dan politik dari kaisar Cina. Sementara itu, Dinasti Ming juga diuntungkan karena dapat mengamankan rute perdagangannya dari Laut Cina Selatan hingga India yang sebelumnya kerap diganggu bajak laut.

Duta terpenting Dinasti Ming untuk Nusantara adalah Cheng Ho. Laksamana yang beragama Islam ini pada 1409 dan 1414 mengirimkan bantuan balatentara ke Malaka. Dengan demikian, Parameswara dapat dengan cepat mengembangkan kedaulatan maritim di Selat Malaka. Apalagi, Majapahit saat itu mulai dilanda Perang Paregreg yang memecah-belah kalangan elite di Jawa. Ketika pada 1435 Wangsa Ming mengurangi keterlibatannya di Nusantara, kejayaan Malaka tinggal menunggu waktu saja.

Menurut Burhanudin, pada masa inilah perpindahan agama terjadi pada raja-raja Malaka sehingga menjadi Muslim. Terkait Islamisasi elite kerajaan ini, ada dua pendapat. Tome Pires mencatat bahwa Parameswara, yang sudah berusia 72 tahun, memeluk Islam ketika menikah dengan putri raja Samudra Pasai.

Adapun keterangan versi Sulatus Salatin menyebutkan, Islamisasi baru terjadi setelah Malaka diperintah raja kedua, Sri Maharaja, yang berkenalan dengan mubaligh asal Jiddah, Sayyid Abdul Aziz. Setelah menerima Islam, penguasa tersebut berganti nama menjadi Sultan Muhammad Syah. Atas dasar inilah beberapa sejarawan menganggap tokoh tersebut, bukan Parameswara, sebagai pendiri Kesultanan Malaka.

Demikianlah, kerajaan tersebut kini memegang kendali penuh atas Selat Malaka, seperti yang pernah dinikmati Sriwijaya dan Samudra Pasai pada masa-masa silam. [yy/republika]

Awal Mula Kesultanan Malaka

Fiqhislam.com - Jajat Burhanudin yang menulis buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia (2017) menjelaskan, terdapat sedikit kontroversi seputar sosok pendiri Kesultanan Malaka. Kitab Sulatus Salatin dari abad ke-15 mencatat Iskandar Shah sebagai raja pertamanya.

Akan tetapi, catatan pengelana Portugis Tome Pires dari abad ke-16 menyebutkan raja pertama Malaka adalah Parameswara. Orientalis Inggris, RO Winstedt, cenderung menyintesiskan dua pandangan itu. Menurutnya, baik Parameswara maupun Iskandar Shah merupakan tokoh yang sama. Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa Iskandar Shah merupakan nama baru Parameswara setelah dia memeluk Islam. Penggantian nama seorang penguasa memang jamak terjadi di alam negeri Melayu setelah menerima agama ini.

Merujuk pada Suma Oriental karya Tome Pires, Parameswara merupakan putra mahkota Kerajaan Palembang yang menyelamatkan diri ke Temasek (Singapura) akibat serangan dari Jawa. Namun, pulau tersebut kemudian diserbu Kerajaan Siam. Parameswara pun lari ke Malaka bersama dengan para pengikutnya.

Di kota pesisir Semenanjung Malaya ini, dia mendirikan kerajaan pada 1403 dengan bantuan orang-orang Melayu asal Palembang serta kaum perompak. Parameswara membangun kekuatan maritim agar kapal-kapal yang melewati Selat Malaka singgah di pelabuhannya. Dengan begitu, kerajaan baru ini memeroleh pemasukan dari pajak dan surat jalan.

Pada masa itu, ancaman terbesar untuk Malaka adalah Majapahit dari selatan dan Siam dari utara. Untuk mengatasinya, Parameswara bekerja sama dengan Dinasti Ming yang gencar menjalankan ekspansi pengaruh di Nusantara sejak permulaan abad ke-15. Berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa yang datang kemudian di kepulauan ini, wangsa Cina tersebut tidak bertujuan menjajah. Raja-raja di Nusantara mendapatkan perlindungan militer dan politik dari kaisar Cina. Sementara itu, Dinasti Ming juga diuntungkan karena dapat mengamankan rute perdagangannya dari Laut Cina Selatan hingga India yang sebelumnya kerap diganggu bajak laut.

Duta terpenting Dinasti Ming untuk Nusantara adalah Cheng Ho. Laksamana yang beragama Islam ini pada 1409 dan 1414 mengirimkan bantuan balatentara ke Malaka. Dengan demikian, Parameswara dapat dengan cepat mengembangkan kedaulatan maritim di Selat Malaka. Apalagi, Majapahit saat itu mulai dilanda Perang Paregreg yang memecah-belah kalangan elite di Jawa. Ketika pada 1435 Wangsa Ming mengurangi keterlibatannya di Nusantara, kejayaan Malaka tinggal menunggu waktu saja.

Menurut Burhanudin, pada masa inilah perpindahan agama terjadi pada raja-raja Malaka sehingga menjadi Muslim. Terkait Islamisasi elite kerajaan ini, ada dua pendapat. Tome Pires mencatat bahwa Parameswara, yang sudah berusia 72 tahun, memeluk Islam ketika menikah dengan putri raja Samudra Pasai.

Adapun keterangan versi Sulatus Salatin menyebutkan, Islamisasi baru terjadi setelah Malaka diperintah raja kedua, Sri Maharaja, yang berkenalan dengan mubaligh asal Jiddah, Sayyid Abdul Aziz. Setelah menerima Islam, penguasa tersebut berganti nama menjadi Sultan Muhammad Syah. Atas dasar inilah beberapa sejarawan menganggap tokoh tersebut, bukan Parameswara, sebagai pendiri Kesultanan Malaka.

Demikianlah, kerajaan tersebut kini memegang kendali penuh atas Selat Malaka, seperti yang pernah dinikmati Sriwijaya dan Samudra Pasai pada masa-masa silam. [yy/republika]

Puncak Kejayaan Kesultanan Malaka

Puncak Kejayaan Kesultanan Malaka


Fiqhislam.com - Sebagai jalur penghubung antara Asia Barat dan Asia Timur, Selat Malaka mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar kepada raja-raja Malaka. Mereka pun berupaya memberikan jaminan keamanan bagi kelangsungan perdagangan di sana.

Penerimaan para penguasa itu terhadap Islam juga berimplikasi positif pada keutuhan negeri. Mengutip Wolters (1970), Burhanudin--penulis buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia (2017)--mencatat, beralihnya raja-raja Malaka menjadi Muslim merupakan cara yang efektif. Sebab, dengan begitu, kerajaan ini dapat terhindar dari isolasi internasional pasca-surutnya keterlibatan Cina di Nusantara. Bahkan, kejayaan Malaka melampaui apa yang pernah dicapai Samudra Pasai.

Kejayaan Malaka

Kesultanan Malaka mencapai masa keemasan sejak berada di bawah pemerintahan Sultan Muzaffar Syah (1445-1459). Pada zaman itu, kerajaan tersebut mengeluarkan mata uang sendiri sebagai respons atas perkembangan signifikan Pelabuhan Malaka. Bandar internasional ini menjadi sangat ramai oleh para pedagang dari mancanegara. Pada gilirannya, ekonomi kesultanan terdongkrak sehingga mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Sultan Muzaffar Syah merupakan raja kelima yang memerintah Malaka. Ekspansi kesultanan ini bergeliat pesat pada masanya. Dia berhasil menaklukkan antara lain Manjong, Selangor, Batu Pahat, Kampar dan Indragiri. Dia juga dapat menghadapi serbuan Kerajaan Siam pada 1445 dan 1456. Keberhasilan ini ditunjang oleh kekuatan armada maritim Malaka serta dukungan orang-orang pesisir yang bersimpati terhadap sang sultan.

Hingga pengujung abad ke-15, Kesultanan Malaka sudah menguasai wilayah yang sekarang adalah Malaysia dan Riau, serta sebagian besar pesisir timur Sumatra. Artinya, kerajaan ini mengapit dua sisi jalur maritim internasional yang tidak pernah sepi di Asia Tenggara. Tidak mengherankan bila nama perairan selat yang dikuasainya itu sampai hari ini disebut sebagai Malaka.

Kebesaran Malaka terjadi pada sektor ekonomi. Pelabuhan Malaka menjadi pusat pengumpulan rempah-rempah dari Maluku, untuk kemudian diperdagangkan dengan para pelaut mancanegara. Demikian pula barang-barang mewah yang merupakan impor dari India atau Cina, semisal kain sutra atau porselen. Di luar itu, penguasa Malaka juga diuntungkan dengan pajak jalan yang ditarik dari kapal-kapal besar yang melewati perairan ini.

Raja-raja Malaka berupaya menjadikan Selat Malaka sebagai jalur yang selalu aman dan ramai dikunjungi para pedagang. Selain itu, kerajaan ini juga mengadakan hubungan diplomatik yang langgeng dengan negeri-negeri di pusat Dunia Islam. Istana Malaka kerap menyelanggarakan acara-acara penyambutan yang megah ketika para duta asing tiba dari kesultanan-kesultanan yang jauh, semisal Aden, Hormuz, Cambay, atau Bengal.

Malaka lantas berkembang menjadi sentra dakwah Islam di Sumatra selama abad ke-15. Raja-raja Malaka selalu mendukung penyebaran Islam di seluruh wilayahnya dan Asia Tenggara pada umumnya. Selain itu, mereka juga memiliki ketertarikan pada sufisme. Seperti diungkapkan Barbara W Andaya dalam Historic Cities of the Islamic World (2007), sejak semula kaum salik diterima dengan penghormatan oleh masyarakat Melayu. Kecenderungan ini juga terjadi pada kalangan elite setempat.

Kitab Sulatus Salatin, misalnya, memuat beberapa pujian terhadap hujjatul Islam Imam Ghazali, seorang pakar tasawuf dari Persia. Selain itu, disebutkan bahwa Sultan Mansur pernah berguru pada seorang salik asal Mekkah. Suatu kali, pengganti Sultan Muzaffar Syah ini mengutus guru tersebut ke Pasai untuk meminta penjelasan kitab tasawuf Durr Manzum.

Di lain waktu, Sultan Mansur juga mengunjungi seorang kadi Pasai untuk mendapatkan jawaban tentang ajaran Abdul Karim Al-Jili terkait surga dan neraka. Tampak bahwa penguasa Kesultanan Malaka sudah mengenal kitab-kitab tasawuf yang sedang berkembang pada abad ke-15 di Asia Barat. [yy/republika]

Peran Malaka dalam Dakwah Islam di Nusantara

Peran Malaka dalam Dakwah Islam di Nusantara


Fiqhislam.com - Kesultanan Malaka dipengaruhi tradisi kepemimpinan Persia Muslim yang memandang tinggi kedudukan raja. Hal ini ditandai dengan penyematan gelar-gelar yang menyanjung raja-raja Malaka. Gelar demikian, umpamanya, tampak pada koin mata uang setempat. Di antaranya adalah sebutan Nashir al-Dunya wa al-Din atau Zhil Allah fi al-‘Alam. Hal itu dijelaskan Barbara W Andaya dalam buku Historic Cities of the Islamic World (2007).

Pada masa Sultan Mansur, persebaran Islam digiatkan antara lain melalui lembaga pernikahan. Dia menganjurkan agar pria Muslim menikahi para perempuan tempatan yang masih beragama non-Islam. Dengan begitu, kaum yang belum menerima Islam diharapkan akan lebih bertoleransi atau bahkan ikut memeluk agama ini. Sang sultan juga mengimbau seluruh rakyatnya agar menjalankan shalat berjamaah secara tepat waktu.

Penerapan hukum syariat berjalan efektif pada era ini. Walaupun condong pada Islam, tata pemerintahan di Malaka masih memberi ruang bagi orang-orang non-Muslim yang piawai khusus pada jabatan selain imam, kadi, khatib, mufti, atau mubaligh.

Sultan Mansur juga berupaya mendirikan masjid negeri. Cita-citanya yang tidak kesampaian adalah menunaikan ibadah haji karena ajal lebih dahulu menjemputnya. Penggantinya merupakan anaknya sendiri, Sultan Alauddin Riayat Syah, yang dikenal sebagai sosok yang saleh dan adil. Seperti ayahnya, dia juga berkeinginan untuk berangkat ke Tanah Suci.

Namun, dalam usia 30 tahun dia wafat diduga lantaran diracun pihak-pihak yang membencinya. Andaya mengungkapkan, hingga akhir abad ke-19, tidak ada satu pun raja-raja Melayu yang dapat mewujudkan niat pergi haji.

Pada umumnya, Kesultanan Malaka menjalankan aturan hukum tertulis secara baik. Dalam Undang-Undang Malaka, Alquran dan Sunnah diposisikan sebagai pedoman utama dalam menata masyarakat. Pihak kerajaan menggaji para ahli syariat sehingga dapat menjatuhkan putusan seadil-adilnya dalam setiap perkara.

Di negeri ini, para pelaku bisa dihukum tidak hanya berdasarkan aturan syariat, melainkan juga adat. Selama paruh kedua abad ke-15, Kesultanan Malaka telah bertransformasi menjadi salah satu pusat pendidikan Islam kelas dunia. Pihak kerajaan mendukung penuh para ulama setempat maupun yang datang ke negeri ini, baik secara politik, keamanan, maupun finansial.

Banyak mubaligh asal Malaka yang kemudian mengajarkan agama Islam ke masyarakat di Filipina Selatan, Kalimantan, dan Jawa, khususnya pada lingkungan keraton. 

Kesultanan Malaka diuntungkan dengan fakta bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) di Nusantara. Para pedagang dari timur, misalnya Jawa, Kalimantan, atau Maluku, tidak sedikit dibekali dengan pengetahuan akan Islam selama kapal-kapalnya bersandar di Malaka.

Sultan Malaka juga secara aktif mengirimkan utusan kepada daerah-daerah pesisir di Jawa agar masyarakat setempat memeluk Islam. Sampai sekarang, kerajaan ini dikenang atas jasa-jasanya mengembangkan identitas yang memadukan etnis dan agama, yakni bahwa menjadi Melayu adalah menjadi Islam. [yy/republika]

Bagaimana Dinamika Eropa Memengaruhi Kesultanan Malaka

Bagaimana Dinamika Eropa Memengaruhi Kesultanan Malaka


Fiqhislam.com - Sultan Mahmud Syah menjadi raja terakhir yang memerintah Malaka. Pengganti Sultan Alauddin Riayat Syah itu dapat dikatakan berhasil meneruskan ekspansi kerajaan ini hingga mencapai Kelantan, Ligor, dan Patani yang sebelumnya dikuasai Siam. Sebagai balasannya, kerajaan Buddha itu menyerang Malaka pada 1500 tetapi berujung pada kegagalan.

Kesultanan Malaka memiliki armada tempur yang kuat di seantero Asia Tenggara pada saat itu. Namun, ancaman yang lebih besar justru datang dari negeri yang jauh. Memasuki abad ke-16, perubahan geopolitik Asia Barat dan Eropa menimbulkan efek yang dahsyat kepada Asia Tenggara sebagai basis produksi rempah-rempah dunia.

Dinamika ini memang tidak lepas dari persoalan ekonomi. Selat Malaka merupakan jalur maritim yang sangat strategis dalam menghubungkan perdagangan rempah-rempah dari Maluku ke India, Arab, dan akhirnya Eropa. Di pasaran Benua Biru, komoditas tersebut selalu laku, meskipun harganya selangit.

Sebagai gambaran, pada masa itu ada istilah dari bahasa Belanda, peperduur, yang secara harfiah berarti ‘semahal lada.’ Ungkapan ini menandakan bahwa masyarakat Belanda dan Eropa umumnya memandang lada sama berharganya dengan emas.

Pada 1453, Konstantinopel (kini Istanbul) berhasil direbut Kesultanan Utsmaniyah. Imperium yang berpusat di Turki itu kemudian memblokir akses bagi pelaut-pelaut Eropa di Laut Tengah, Afrika Utara, dan Laut Merah. Keadaan ini jelas merugikan para pedagang Eropa yang terbiasa mendapatkan rempah-rempah dari pelabuhan-pelabuhan di pesisir Laut Tengah.

Oleh karena itu, para pebisnis Eropa terpaksa memutar otak demi menjaga pasokan rempah-rempah dari Asia. Maka, lahirlah gagasan untuk membeli komoditas itu langsung dari tempat asalnya. Sejak akhir abad ke-15, para pelaut Portugis merintis upaya untuk mencapai India dan Maluku. Mereka memanfaatkan pengetahuan navigasi yang dikembangkan para pelaut Muslim untuk dapat mengarungi samudra.

Usaha Portugis ini kemudian diikuti Spanyol, Belanda, dan Inggris. Lembar baru dalam sejarah dunia yakni Zaman Penjelajahan (The Age of Discovery) pun dimulai.

Pada 1503, Afonso de Albuquerque telah bertolak dari negerinya untuk melintasi Samudra Hindia.

Tujuh tahun berikutnya, laksamana Portugis ini dapat menaklukkan Goa, India. Daerah tersebut dijadikan basisnya untuk menyusun kekuatan lebih lanjut. Sebab, target terbesarnya adalah menguasai Pelabuhan Malaka, sebagaimana dimaklumkan Raja Manuel I. Pada 1509, penguasa Portugis itu mengutus seorang pengikutnya, Diogo Lopes de Sequeira, untuk menyelidiki keadaan masyarakat Malaka dan sejauh mana kekuatan raja Islam di sana.

Sultan Mahmud Syah sebenarnya mengetahui gelagat buruk Portugis sejak kejatuhan Goa. Hal ini antara lain berkat keterangan utusan Muslim Goa yang mengadu kepadanya. Sultan bahkan telah menyusun suatu rencana untuk membunuh de Sequeira, meskipun tidak sempat terwujud karena kapal-kapal Portugis dapat melarikan diri dari Selat Malaka. Kelak, sejarah membuktikan, kekhawatiran sang sultan menjadi nyata. [yy/republika]