14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Ketika Islam Menyebar di Kutai, Kalimantan Timur

Ketika Islam Menyebar di Kutai, Kalimantan Timur

Fiqhislam.com - Bukti-bukti arkeologis menunjukkan, salah satu peradaban tertua se-Nusantara muncul di Kalimantan Timur. Sejauh ini, para peneliti telah menemukan tujuh yupa, yakni sejenis tiang batu yang fungsinya untuk menautkan hewan kurban.

Pada ketujuh benda tersebut, terdapat teks berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa dari permulaan abad kelima. Isinya menggambarkan puji-pujian dari para brahmana atas sikap dermawan Raja Mulawarman yang telah menyumbangkan 20 ribu ekor lembu untuk suatu perayaan besar.

Mulawarman merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Kutai Martadipura, Kudungga. Sejak 350, kakeknya itu berkuasa tetapi belum banyak dipengaruhi kebudayaan Hindu (India). Pengaruh India mulai masuk di zaman pemerintahan ayah Mulawarman, Aswawarman. Ketika Mulawarman menjadi penguasa, Kutai Martadipura mengalami masa kejayaan sebagai kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Kutai Martadipura berpusat di Muara Kaman, daerah yang kini kecamatan sebelah barat laut Samarinda. Tidak jauh dari sana, muara Sungai Mahakam juga menjadi pusat Kutai Kertanegara. Kerajaan ini didirikan pada 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dia kemudian menikah dengan Putri Meneluh sehingga menurunkan silsilah raja-raja Kutai Kertanegara.

Etnolog Belanda Pieter Johannes Veth berpendapat, dua kerajaan Kutai tersebut merupakan bagian dari kekuasaan Majapahit yang berekspansi pada abad ke-14. Kitab Nagarakretagama menyebut kerajaan ini sebagai Tanjung Kute yang telah direbut Mahapatih Gajah Mada.

Majapahit Surut, Banjarmasin Menguat

Pada abad ke-15, pengaruh Majapahit mulai memudar di seluruh Nusantara. Setelah itu, Kutai Kertanegara berada di bawah pengaruh Kerajaan Banjarmasin yang dipimpin Pangeran Samudra, raja pertama Banjarmasin yang memeluk Islam. Namun, pemerintahan tetap dipegang para raja Kutai Kertanegara yang mengirimkan upeti kepada Banjarmasin. Dapat dikatakan, mulanya pengaruh Islam di Kutai terjadi sejak ekspansi Kerajaan Banjarmasin tersebut.

Pada abad ke-16, Kutai Kertanegara yang dipimpin Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Maharaja Dharma Setia, penguasa Kutai Martadipura. Raja ke-13 Kutai Kertanegara itu kemudian menyatukan dua kerajaan tersebut. Jadilah kerajaan utuh bernama, Kutai Kertanegara ing Martadipura. [yy/republika]

Ketika Islam Menyebar di Kutai, Kalimantan Timur

Fiqhislam.com - Bukti-bukti arkeologis menunjukkan, salah satu peradaban tertua se-Nusantara muncul di Kalimantan Timur. Sejauh ini, para peneliti telah menemukan tujuh yupa, yakni sejenis tiang batu yang fungsinya untuk menautkan hewan kurban.

Pada ketujuh benda tersebut, terdapat teks berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa dari permulaan abad kelima. Isinya menggambarkan puji-pujian dari para brahmana atas sikap dermawan Raja Mulawarman yang telah menyumbangkan 20 ribu ekor lembu untuk suatu perayaan besar.

Mulawarman merupakan cucu dari pendiri Kerajaan Kutai Martadipura, Kudungga. Sejak 350, kakeknya itu berkuasa tetapi belum banyak dipengaruhi kebudayaan Hindu (India). Pengaruh India mulai masuk di zaman pemerintahan ayah Mulawarman, Aswawarman. Ketika Mulawarman menjadi penguasa, Kutai Martadipura mengalami masa kejayaan sebagai kerajaan Hindu tertua di Nusantara.

Kutai Martadipura berpusat di Muara Kaman, daerah yang kini kecamatan sebelah barat laut Samarinda. Tidak jauh dari sana, muara Sungai Mahakam juga menjadi pusat Kutai Kertanegara. Kerajaan ini didirikan pada 1300 oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dia kemudian menikah dengan Putri Meneluh sehingga menurunkan silsilah raja-raja Kutai Kertanegara.

Etnolog Belanda Pieter Johannes Veth berpendapat, dua kerajaan Kutai tersebut merupakan bagian dari kekuasaan Majapahit yang berekspansi pada abad ke-14. Kitab Nagarakretagama menyebut kerajaan ini sebagai Tanjung Kute yang telah direbut Mahapatih Gajah Mada.

Majapahit Surut, Banjarmasin Menguat

Pada abad ke-15, pengaruh Majapahit mulai memudar di seluruh Nusantara. Setelah itu, Kutai Kertanegara berada di bawah pengaruh Kerajaan Banjarmasin yang dipimpin Pangeran Samudra, raja pertama Banjarmasin yang memeluk Islam. Namun, pemerintahan tetap dipegang para raja Kutai Kertanegara yang mengirimkan upeti kepada Banjarmasin. Dapat dikatakan, mulanya pengaruh Islam di Kutai terjadi sejak ekspansi Kerajaan Banjarmasin tersebut.

Pada abad ke-16, Kutai Kertanegara yang dipimpin Anum Panji Mendapa berhasil menaklukkan Maharaja Dharma Setia, penguasa Kutai Martadipura. Raja ke-13 Kutai Kertanegara itu kemudian menyatukan dua kerajaan tersebut. Jadilah kerajaan utuh bernama, Kutai Kertanegara ing Martadipura. [yy/republika]

Kesultanan Kutai di antara Perseteruan Dua Pengaruh

Kesultanan Kutai di antara Perseteruan Dua Pengaruh


Fiqhislam.com - Pada masa itu--jauh sebelum kolonialisme Belanda di Nusantara--Banjar dan Makassar menjadi dua kerajaan yang saling memperebutkan pengaruh atas Kutai. Keduanya memang secara resmi memeluk Islam. Maka dari itu, wajar bila perkembangan dakwah Islam di Kutai tidak begitu terkendala perseteruan dua negeri tersebut.

Pada masa Raja Aji Muhammad Idris (1735-1778), seluruh wilayah Kutai Kertanegara atau Kalimantan Timur umumnya telah menerima Islam. Keberpihakannya pada Islam tidak tanggung-tanggung. Dia merupakan penguasa Kutai Kertanegara pertama yang memakai gelar sultan. Sultan Muhammad Idris kemudian membentuk jajaran khusus yang bertugas semacam kadi, yakni menangani persoalan agama di seluruh Kutai Kertanegara.

Sementara itu, Banjar mulai meredup karena dominasi Kompeni yang mulai merasuk ke lingkungan elitenya. Pada 1787, Sultan Banjar Nata Alam mengadakan perjanjian dengan Kompeni. Dampaknya, beberapa daerah kekuasaan Banjar di Kalimantan menjadi milik korporasi asal Belanda itu. Menghadapi bahaya Kompeni, Sultan Muhammad Idris lebih suka bersekutu dengan orang-orang Makassar, terutama kalangan Wajo.

Selat Makassar yang memisahkan Pulau Kalimantan dengan Sulawesi berada di bawah kekuasaaan armada La Maddukkelleng. Raja Wajo ini terus berupaya melawan dominasi Kompeni di Kalimantan sehingga kerap dituding sebagai bajak laut. Salah seorang keturunannya menikah dengan Sultan Muhammad Idris. Aliansi Kutai-Wajo begitu kuat.

Terbukti, Sultan Muhammad Idris pernah berangkat ke Tanah Wajo, Sulawesi Selatan, untuk ikut bertempur melawan pasukan Kompeni di sana. Sayangnya, dia turut gugur dalam pertempuran ini pada 1739.

Perebutan takhta pun tak terhindarkan di tingkat elite Kutai Kertanegara, yakni antara Aji Kado dan Aji Imbut yang merupakan putra mahkota kerajaan. Namun, Aji Imbut kalah saing sehingga melarikan diri ke Tanah Wajo. Selanjutnya, Aji Kado mendeklarasikan diri sebagai sultan baru yang bergelar Muhammad Aliyuddin.

Bertahun-tahun kemudian, Aji Imbut ingin merebut kekuasaan dari saingannya itu. Orang-orang Wajo yang masih setia pada ayahnya, Muhammad Idris, memberikan dukungan. Aji Imbut pun diangkat sebagai sultan Kutai Kertanegara dengan gelar Muhammad Muslihuddin.

Dualisme kepemimpinan ini berujung pada konflik. Dalam keadaan terdesak, pada 1778 Aji Kado alias Sultan Muhammad Aliyuddin meminta bantuan Kompeni. Namun, permintaan ini ditolak. Sementara itu, kubu Aji Imbut alias Sultan Muslihuddin semakin menguasai perairan Selat Makassar. Mereka memboikot kapal-kapal niaga yang hendak bersandar di muara Sungai Mahakam.

Dua tahun kemudian, pasukan Aji Imbut berhasil merebut kembali takhta Kutai Kertanegara. Aji Kado pun dijatuhi hukuman mati. Jasadnya dikebumikan di Pulau Jembayan (kini Kecamatan Loa Kulu).

Pada 1782, Sultan Muslihuddin memindahkan ibu kota Kutai Kertanegara ke Tepian Pandan. Daerah ini kemudian berubah nama menjadi Tenggarong, yang berasal dari istilah “Tangga Arung”, artinya ‘Rumah Raja’. Pemerintahan sang sultan terus bertahan hingga lebih dari setengah abad secara relatif tenteram.

Kompeni tidak lagi menjadi ancaman yang berarti sejak 1747, tahun terakhir perusahaan Belanda itu mengirimkan misi perniagaan ke Kutai. Setelah wafat, Sultan Muslihuddin digantikan putranya yang bergelar Sultan Aji Muhammad Salihuddin. [yy/republika]

Awal Mula Inggris Menyerang Kesultanan Kutai

Awal Mula Inggris Menyerang Kesultanan Kutai


Fiqhislam.com - Pada 1799, Kompeni bangkrut sehingga pengaruhnya di Nusantara beralih ke tangan Kerajaan Belanda melalui perantaraan seorang gubernur jenderal. Menurut buku Sejarah Kota Samarinda (1986), sampai permulaan abad ke-19, Belanda belum mengadakan kontak dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Kalimantan.

Selanjutnya, Inggris mulai menguasai Nusantara setelah menggempur basis Belanda di Batavia (Jakarta) serta melalui perjanjian Tuntang 1811. Meskipun hanya bertahan singkat, Inggris merintis reformasi administrasi kolonial di Nusantara. Jawa menjadi dibagi atas belasan wilayah keresidenan. Sistem ini kemudian diteruskan Belanda ketika pada akhirnya berhasil merebut Nusantara dari Inggris melalui Konvensi London 1814.

Sejak 19 Agustus 1816, Belanda memantapkan jajahannya di seluruh Nusantara, termasuk Kalimantan Timur. Pada 1825, gubernur jenderal mengirim utusannya, George Muller, untuk mengadakan persekutuan dengan Kerajaan Kutai Kertanegara yang dipimpin Sultan Salihuddin.

Namun, Muller kemudian tewas dalam sebuah perampokan di sekitar Marakaman. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan ke Pontianak melalui Sungai Mahakam. Pihak Belanda menuding orang-orang Kutai sebagai dalang pembunuhan ini tetapi tuduhan ini ditampik Sultan Salihuddin.

Bagaimanapun, Belanda dengan kekuatan militernya yang serba terbatas tidak bisa berbuat banyak. Sebab, di saat yang sama Belanda sedang menghadapi perlawanan di Bonjol (Sumatra Barat) dan Ponorogo (Jawa). 

Meskipun secara de jure telah kehilangan kekuasaan, Inggris masih mencari celah untuk menguasai Kalimantan. Pada 1844, ekspedisi berbendera Inggris mencapai wilayah pesisir Kalimantan Timur. Pelayaran ini terdiri atas dua unit kapal, yakni kapal utama Young Queen dan kapal perusak Anna, masing-masing dipimpin Kapten Hart dan Kapten Lewis.

Seluruh ekspedisi ini dikomandoi James Erskine Murray dengan tujuan mendominasi Kerajaan Kutai Kertanegara. Dia dipandu seorang penerjemah berkebangsaan Benggala.

James Murray merupakan putra seorang bangsawan Skotlandia, Alexander Murray yang bergelar Lord Elibank VII. Di Inggris, dia lebih dikenal sebagai seorang advokat. Kedatangannya ke Kalimantan disertai obsesi untuk mengikuti jejak James Brooke. Pada 1842, Brooke berhasil mendekati Sultan Brunei sehingga menjadikannya penguasa Sarawak.

Sesampainya di Samarinda, James Murray menyuruh orang-orang untuk memanggilnya dengan gelar “Tuan Besar.” Saat itu, dia mengabaikan kekuasaan Sultan Kutai. Dia pun mencapai Tenggarong dengan menyusuri Sungai Mahakam. Tujuannya untuk menemui langsung Sultan Kutai agar bersedia memberikan kepadanya wilayah di Tenggarong.

Nantinya, daerah tersebut akan dipakai sebagai basis perniagaan Inggris dan dirinya pribadi. Berkat taktik diplomasi yang ulung, James Murray diizinkan Sultan Salihuddin untuk mendirikan perwakilan dagang di Samarinda dengan alasan kota ini memang sebuah pusat perniagaan yang terbuka.

Namun, permintaan petualang Inggris ini semakin menjadi-jadi. Setelah izin tersebut diperolehnya, James Murray masih berambisi untuk masuk ke pedalaman Kutai. Dia pun mengirimkan surat kepada penguasa setempat.

Isinya mendesak Sultan Kutai agar mengirimkan kepadanya pangeran dan adipati Kutai sebagai pendampingnya selama perjalanan ke sana. Bila lewat dari setengah jam usai surat tersebut dikirim belum ada jawaban, Murray mengancam akan menyerang kerajaan Muslim itu.

Benar saja. James Murray nekat menembak istana Kutai Kertanegara dengan meriam. Pertempuran pun pecah. Pasukan Murray pun kocar-kacir dan kekalahan. Murray sendiri terjun ke laut lepas untuk melarikan diri sebelum pada akhirnya ikut tewas.

Berita tewasnya seorang keturunan bangsawan Inggris sampai ke Singapura. Pihak Inggris ingin membalas kekalahan ini tetapi terbentur dominasi Belanda di Nusantara. Kepada Inggris, gubernur jenderal Hindia Belanda berjanji untuk menyelesaikan persoalan ini. Tidak lama kemudian, Belanda mengirimkan armada tempurnya ke Tenggarong. Serangan ini menyebabkan istana Kutai Kertanegara porak-poranda. Sultan Salihuddin bahkan harus mengungsi ke luar Tenggarong bersama dengan para pengikutnya. [yy/republika]