12 Safar 1443  |  Senin 20 September 2021

basmalah.png

Tunisia: Kairouan, Tanah Kosong Berpasir yang Jadi Pusat Peradaban

Tunisia: Kairouan, Tanah Kosong Berpasir yang Jadi Pusat Peradaban


Fiqhislam.com - Bermula dari tanah kosong berpasir. Kairouan kemudian mewujud menjadi sebuah wilayah berperadaban. Bahkan, bersinar menjadi pusat pendidikan yang sarat ilmu pengetahuan dan cendekiawan cemerlang. Demikian kesaksian seorang ahli geografi, Al-Idrisi.

Menurut Al-Idrisi, Kairouan bukan hanya merupakan sebuah ibu kota pemerintahan Islam, melainkan juga menjadi wilayah dinamis bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Yang kemudian, memberikan pengaruh besar terhadap Afrika Utara dan Mediterania Barat.

 

Kesaksian Al-Idrisi pun berlanjut. Ia menganggap, Kairouan sebagai ibu dari kota-kota lainnya. Kairouan merupakan kota yang paling banyak dihuni, makmur, dan dipenuhi oleh beragam bangunan megah. Peradaban telah membalut kota ini.

 

Al-Idrisi pun menyingkap kemunduran yang akhirnya mendera Kairouan. Ia berujar, tak seperti kota-kota lainnya di wilayah tersebut, misalnya Fes di Maroko, kemakmuran di Kairouan berangsur lenyap mulai abad ke-11 .

Kairouan muncul sebagai sebuah entitas pada 670 Masehi. Kota ini didirikan oleh seorang jenderal Arab yang berhasil menaklukkan Afrika Utara, yaitu Uqba ibn Nafi. Penaklukan ini terjadi saat pemerintahan kekhalifahan Bani Umayyah.

Kemunduran Menerpa Kairouan

Kegemilangan Kairouan pada akhirnya pupus pula. Sebuah ekspedisi yang dilakukan Bani Hilal pada abad ke-11 menjadi penyebab utamanya. Bani Hilal ini merupakan konfederasi suku-suku Badui yang bermigrasi dari Mesir hulu menuju Afrika Utara.

Sejarawan Muslim ternama, Ibnu Khaldun, menyatakan bahwa ekspedisi yang dilakukan Bani Hilal merupakan ekspedisi yang sangat merusak. Dia mencatat, tanah-tanah hancur karena serbuan Bani Hilal. Bahkan, tanah pun berubah menjadi gersang dan padang pasir.

Bahkan, Ibnu Khaldun mengungkapkan, penghancuran yang dilakukan Bani Hilal sama seperti penghancuran yang dilakukan Bangsa Mongol di Asia Barat. Ia menggunakan bukti arkeologi berupa reruntuhan yang menutupi wilayah tersebut untuk menggambarkan kerusakan itu.

Menurut Ibnu Khaldun, bukti arkeologi itu menunjukkan bahwa wilayah Kairouan memiliki penduduk yang padat dan tanah-tanah subur sebelum Bani Hilal menyerang. Laman Muslimheritage mengungkapkan, serangan Bani Hilal didorong oleh Dinasti Fatimiyah.

Bani Hilal dijanjikan sejumlah kekayaan bagi mereka dan memberikan imbalan kepada setiap prajurit yang bersedia menyeberang ke wilayah Kairouan. Bahkan, para prajurit juga membawa serta anggota keluarga mereka saat melakukan penyerangan.

Bani Hilal juga menyapu Cyrenaica dan Tripolitania ke selatan Tunisia. Akibat serangan ini, kondisi seluruh Ifriqya, termasuk Kairouan, menjadi memprihatinkan. Yang tadinya makmur dan sejahtera berubah menjadi kosong dan kering.

Menurut Ibnu Khaldun, mereka menghancurkan semua keindahan dan semua kemegahan monumental yang ada di Kairouan. Para penduduknya kemudian pergi meninggalkan kota yang mereka cintai dan menyebar ke segala penjuru. Ada yang ke Mesir, Sisilia, Spanyol, dan juga Fes.

Setelah hancur, Kairouan tak pernah pulih. Menurut Leo Africanus, yang pernah mengunjungi Kairouan pada tahun 1516, penduduk Kairouan setelah kehancuran itu hanya berprofesi sebagai pengrajin yang miskin.

Ada pula, ujar Leo, penduduk yang menyamak kulit domba dan kambing, lalu dijual ke Numadia. Mereka tak memiliki penghasilan yang layak. Mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan dan berada dalam kemiskinan yang sangat parah.

Tradisi Intelektual Kairouan

Malik, seorang cendekiawan yang meninggal pada 795 Masehi, memandang Kairouan bersama Kufa dan Madinah, merupakan tiga ibu kota Muslim bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Sebab, ia melihat tradisi intelektual berkembang pesat di sana.

Paling tidak, terbukti dengan munculnya sederet nama cendekiawan yang berkiprah dalam pengembangan intelektual di Kairouan. Misalnya, Yahia Ibn Salam al-Basri (745-815), yang menulis dan mengajar tafsir.

Ada pula, Asad ibn al-Furat (759-828), yang juga merupakan pengajar ternama di Kairouan. Kota ini juga menjadi pusat pendidikan salah satu mazhab fikih, yaitu Maliki. Selain Asad yang mengajar fikih juga ada Ibn Rashid dan Sahnun.

Namun sekali lagi, di bawah Dinasti Aghlabid, pada awal abad ke-9, Kairouan menjadi salah satu pusat utama kebudayaan di dunia Islam. Melajunya kehidupan intelektual dan budaya yang pesat ini, menarik minat para pelajar dari seluruh dunia, termasuk Spanyol Islam.

Bahkan, pada akhir abad ke-9, dinasti ini juga mendirikan sebuah Bayt al-Hikmah. Pendirian ini meniru Bayt al-Hikmah di Baghdad yang menjadi pusat kajian ilmu pengobatan, astronomi, teknik, dan penerjemahan.

Tak hanya itu, perdebatan dan kajian mengenai ilmu pengetahuan juga berkembang di Kairouan. Termasuk, kajian dalam soal keagamaan dan isu-isu hukum. Secara umum, pendidikan di kota itu berkembang dengan pesat. Banyak perpustakaan berdiri juga di masjid-masjid.

Dan, perempuan memiliki peran aktif di dalam kehidupan intelektual di kota tersebut. Pendidikan tentang kedokteran juga berkembang pesat, salah satunya dikembangkan oleh cendekiawan bernama Ziad ibn Khalfun, Ishaq Imran, dan Ishaq ibn Sulayman.

Selain mampu mengembangkan Kairouan sebagai kota perdagangan dan pendidikan, Dinasti Aghlabid juga melakukan perluasan ke wilayah Mediterania, khususnya ke Sisilia. Langkah ini dilakukan oleh Ziyadat Allah I.

Pada 827 Masehi, sebuah ekspedisi telah mampu menancapkan kekuasaan Kairouan di Sisilia. Berturut-turut, pasukan Kairouan mampu menguasai Palermo pada 831, Messina pada 843, dan Enna pada 859. Ekspedisi ini melibatkan orang-orang Arab, Berber, Spanyol, dan Sudan. [yy/republika]