19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Ketika Jenghis Khan Mengunjungi Kota Bukhara

Ketika Jenghis Khan Mengunjungi Kota Bukhara


Fiqhislam.com - Bukti awal mengenai keberadaan umat Islam di Mongolia diungkapkan oleh misionaris Kristen, William dari Rubruck, lewat catatan yang ia buat pada 1254. Di catatan itu dia menyebutkan bahwa di Karakorum (ibu kota kekaisaran Mongol) ketika itu terdapat sembilan buah bangunan ibadah.

Tujuh di antaranya berupa kuil (kemungkinan kuil Budha, Hindu, dan Taois), sedangkan dua sisanya adalah masjid.

Sementara, menurut catatan lainnya, Jengis Khan (yang hidup antara 1162-1227) disebut-sebut mempunyai ketertarikan terhadap Islam, meskipun dia sendiri tidak pernah memeluk agama samawi tersebut hingga akhir hayatnya.

Setelah berhasil menaklukkan Afghanistan, penguasa Mongol itu sempat mengunjungi Kota Bukhara di Transoksiana pada 1222. Di sana, Jengis Khan menggali lebih banyak informasi tentang ajaran Islam dari penduduk Muslim kota itu.

“Oleh karenanya, kalangan sejarawan memperkirakan kedatangan Islam di Mongolia terjadi antara 1222 dan 1254,” tulis Dr Sajid Khakwani dalam artikelnya “Mongolia” yang dipublikasikan oleh laman Chitral Times.

Pada masa selanjutnya, cucu Jengis Khan, Berke Khan (1209 - 1266), tercatat sebagai salah satu penguasa Mongol pertama yang masuk Islam. Ia resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menerima dakwah dari Syaifuddin Darwis, seorang ulama sufi dari Khawarizm.

“Langkah Berke Khan tersebut kemudian juga diikuti oleh pemimpin-pemimpin Mongol yang lain. Mereka masuk Islam setelah menikahi perempuan Muslimah,” tulis sejarawan asal Inggris, Thomas Walker Arnold, dalam buku The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith.

Sepanjang 1330-an, tiga dari empat kekhanan utama Mongol bertransformasi menjadi kesultanan Muslim. Tiga kekhanan itu adalah Horde Emas (Ulus Jochi), Ulus Hulagu, dan Ulus Chagatai.

Jejak Islam di Negeri Penakluk

Berabad-abad yang lampau, orang-orang Mongol dikenal sebagai bangsa penakluk yang paling ditakuti. Hampir seperempat daratan di dunia berhasil mereka tundukkan dalam waktu relatif singkat. Namun, seiring perjalanan sejarah, mereka kini hanya mendiami sebuah kawasan Asia Tengah yang disebut sebagai Republik Mongolia.

Secara geografis, Mongolia berbatasan langsung dengan Rusia di utara, serta Cina di sebelah selatan, barat, dan timur. Sekira 80 persen dari wilayah negeri itu terdiri dari tanah tandus yang kebanyakan berupa padang rumput (stepa). Sementara, dari bagian tengah hingga selatannya membentang Gurun Gobi.

Penduduk yang mendiami Mongolia hari ini diperkirakan hanya sebanyak tiga juta jiwa. Mayoritas dari mereka adalah penganut Budha. Meski demikian, ada juga sejumlah kecil penduduk Mongolia yang memeluk Islam.

Menurut Pew Research Center, jumlah Muslim di Mongolia saat ini diperkirakan mencapai lima persen dari total populasi negara itu. Sebagian besar dari mereka berasal dari etnis Kazakh yang umumnya tersebar di Bayan-Ölgii dan Khovd, dua provinsi yang terletak di bagian barat Mongolia.

Muslim etnis Kazakh mulai menetap di Mongolia sejak akhir abad ke-19 silam. Kedatangan mereka di Mongolia pada waktu itu untuk melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan Tsar Rusia.

Ketika Bogdo Khan memerintah Mongolia pada 29 Desember 1911, umat Muslim Kazakh di daerah Xinjian dan Altai diberi perlindungan dan hak untuk menetap di wilayah barat Kobdo, Mongolia.

Pada masa pemerintahan rezim komunis antara 1956-1989, populasi Muslim di Mongolia sempat mengalami peningkatan. Namun, antara 1990 - 1993, jumlah Muslim di negeri itu menyusut drastis lantaran adanya gelombang besar repatriasi (gerakan pulang kembali ke tanah leluhur—Red) etnis Kazakh ke Kazakhstan, menyusul runtuhnya Uni Soviet. [yy/republika]