11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Islam Masuk ke Turkmenistan di Masa Khulafaur Rasyidin

Islam Masuk ke Turkmenistan di Masa Khulafaur Rasyidin

Fiqhislam.com - Islam diperkenalkan di Turkmenistan selama periode penaklukan Islam oleh Khulafaur Rasyidin. Yakni, pada masa Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.

Larry Clark, Michael Thurman, dan David Tyson dalam "Turkmenistan: A Country Study menjelaskan, pada masa tersebut warga Turkmenistan terintegrasi dalam struktur suku yang suci.

Suku tersebut disebut ovlat. Ahli etnografi mempertimbangkan, ovlat merupakan sebuah suku yang terdapat unsur tasawuf. Menurut keturunan mereka, masing-masing suku turun dari Nabi Muhammad melalui salah satu dari empat khalifah.

Pada abad 18 hingga 19, suku ovlat tersebar di beberapa kelompok di Turkmenistan. Mereka hadir dan memberikan berkat pada semua peristiwa komunal dan siklus hidup yang penting dan bertindak sebagai mediator antara klan dan suku.

Banyak Turkmen yang dihormati karena kekuatan spiritual mereka menelusuri garis keturunan mereka ke övlat dan tidak jarang, terutama di daerah pedesaan, bagi individu tersebut untuk hadir pada siklus hidup dan perayaan komunal lainnya.

Pada era Soviet, semua keyakinan agama diserang oleh penguasa komunis sebagai takhayul dan sisa-sisa masa lalu. Kebanyakan sekolah agama dilarang dan sebagian besar masjid ditutup.

Dewan Muslim Asia Tengah dengan kantor pusat di Tashkent didirikan selama Perang Dunia II untuk mengawasi Islam di Asia Tengah. Sebagian besar Dewan Muslim difungsikan sebagai alat propaganda.

Indoktrinasi ateis menahan perkembangan agama dan berkontribusi terhadap isolasi Muslim Turkmen dari komunitas Muslim internasional. Beberapa kebiasaan agama, seperti pemakaman Muslim dan sunat laki-laki, terus dipraktikkan selama periode Soviet, tetapi kebanyakan agama keyakinan, pengetahuan, dan adat istiadat tidak disetujui oleh direktorat spiritual yang dikelola negara. [yy/republika]

Islam Masuk ke Turkmenistan di Masa Khulafaur Rasyidin

Fiqhislam.com - Islam diperkenalkan di Turkmenistan selama periode penaklukan Islam oleh Khulafaur Rasyidin. Yakni, pada masa Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.

Larry Clark, Michael Thurman, dan David Tyson dalam "Turkmenistan: A Country Study menjelaskan, pada masa tersebut warga Turkmenistan terintegrasi dalam struktur suku yang suci.

Suku tersebut disebut ovlat. Ahli etnografi mempertimbangkan, ovlat merupakan sebuah suku yang terdapat unsur tasawuf. Menurut keturunan mereka, masing-masing suku turun dari Nabi Muhammad melalui salah satu dari empat khalifah.

Pada abad 18 hingga 19, suku ovlat tersebar di beberapa kelompok di Turkmenistan. Mereka hadir dan memberikan berkat pada semua peristiwa komunal dan siklus hidup yang penting dan bertindak sebagai mediator antara klan dan suku.

Banyak Turkmen yang dihormati karena kekuatan spiritual mereka menelusuri garis keturunan mereka ke övlat dan tidak jarang, terutama di daerah pedesaan, bagi individu tersebut untuk hadir pada siklus hidup dan perayaan komunal lainnya.

Pada era Soviet, semua keyakinan agama diserang oleh penguasa komunis sebagai takhayul dan sisa-sisa masa lalu. Kebanyakan sekolah agama dilarang dan sebagian besar masjid ditutup.

Dewan Muslim Asia Tengah dengan kantor pusat di Tashkent didirikan selama Perang Dunia II untuk mengawasi Islam di Asia Tengah. Sebagian besar Dewan Muslim difungsikan sebagai alat propaganda.

Indoktrinasi ateis menahan perkembangan agama dan berkontribusi terhadap isolasi Muslim Turkmen dari komunitas Muslim internasional. Beberapa kebiasaan agama, seperti pemakaman Muslim dan sunat laki-laki, terus dipraktikkan selama periode Soviet, tetapi kebanyakan agama keyakinan, pengetahuan, dan adat istiadat tidak disetujui oleh direktorat spiritual yang dikelola negara. [yy/republika]

Muslim Turkmenistan Berupaya Tingkatkan Peran Islam

Muslim Turkmenistan Berupaya Tingkatkan Peran Islam


Fiqhislam.com - Beberapa pemimpin Muslim menentang konsep sekuler pemerintah. Hal ini disebabkan pemerintah dikendalikan mantan komunis.

Beberapa pemimpin resmi dan guru yang bekerja di luar struktur resmi telah bersumpah meningkatkan pengetahuan penduduk tentang Islam, meningkatkan peran Islam dalam masyarakat, dan memperluas kepatuhan terhadap prinsipnya.

Khawatir aktivitas tersebut dapat mengasingkan ortodoks Slavia, pemerintah menyusun rencana mengangkat Dewan Urusan Agama dengan status pelayanan dalam upaya untuk mengatur kegiatan keagamaan lebih erat.

Pemerintah memastikan bahwa Islam yang ada di Turkmenistan merupakan Islam yang ramah terhadap warisan lokal. Untuk itu, pemerintah melakukan upaya agar paham esktremis tidak masuk ke Turkmenistan.

Pemerintah melarang segala bentuk golongan yang mengatasnamakan Islam, tetapi melakukan tindakan kekerasan. Karena, hal itu tidak sesuai dengan prinsip Islam dan masyarakat Turkmenistan.

Fakultas teologi di Departemen Sejarah Universitas Turkmenistan di Ashgabat adalah satu-satunya universitas yang diizinkan menyediakan pendidikan tinggi Islam. Laporan menunjukkan bahwa calon mahasiswa potensial harus diperiksa oleh Departemen Keamanan Nasional sebelum masuk ke fakultas ini. Perempuan dilarang berkuliah di fakultas ini. [yy/republika]

Turkmenistan Berjuang Bangkit dari Keterpurukan

Turkmenistan Berjuang Bangkit dari Keterpurukan


Fiqhislam.com - Islam merupakan agama mayoritas di Turkmenistan. Menurut laporan Pew Research Center pada 2009, 93,1 persen penduduk Turkmenistan adalah Muslim dan didominasi Islam Suni, seperti negeri jiran mereka, Uzbekistan dan Afghanistan.

Muslim Syiah tidak banyak di Turkmenistan. Sebagian besar Turkmen mudah mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim dan mengakui Islam sebagai bagian integral dari warisan budaya mereka, tetapi beberapa mendukung kebangkitan status agama, terutama sebagai unsur kebangkitan nasional.

Setelah merdeka, pemerintah mulai melakukan pengawasan terhadap organisasi Islam yang diwarisi oleh Soviet. Dewan Keagamaan Islam Turkmenistan, bersama-sama dengan Uzbekistan, menjadi Dewan Agama Muslim Mavarannahr.

Mavarannahr berbasis di Tashkent dan memiliki pengaruh cukup besar di antara para pemimpin agama di Turkmenistan. Badan Hakim Islam (Kaziat) terdaftar dengan Departemen Kehakiman Turkmenistan dan Dewan Urusan Sgama di bawah kabinet menteri yang memonitor kegiatan ulama. Individu yang ingin menjadi anggota resmi ulama harus menghadiri lembaga keagamaan resmi.

Sejak 1990, beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk mendapatkan kembali beberapa warisan budaya yang hilang di bawah pemerintahan Soviet. Presiden Saparmurat Niyazov telah memerintahkan bahwa prinsip-prinsip dasar Islam diajarkan kembali di sekolah-sekolah umum.

Lembaga keagamaan, termasuk sekolah-sekolah agama dan masjid, bermunculan. Pembangunan sekolah dan masjid banyak memperoleh dukungan dari Arab Saudi, Kuwait, dan Turki.  Kelas agama diadakan di sekolah dan masjid, dengan instruksi dalam bahasa Arab, Alquran dan hadis, serta sejarah Islam.

Turkmenistan memberlakukan sekularisme dan mendukung kebebasan beragama. Hal ini sebagaimana termaktub dalam UU Tahun 1991 tentang Kebebasan Hati Nurani dan Organisasi Keagamaan di Republik Sosialis Turkmen dan dilembagakan secara konstitusi pada 1992

Aturan ini mengatur dokumen yang menjamin pemisahan gereja dan negara. Pemerintah juga menghapus dasar hukum Islam untuk memainkan peran dalam kehidupan politik dengan melarang dakwah dan penyebaran agama secara tidak resmi. Pemerintah juga meminta tidak ada diskriminasi berdasarkan agama dan melarang pembentukan partai politik keagamaan.

Selain itu, pemerintah berhak mengangkat dan memberhentikan siapa pun yang mengajarkan hal-hal agama atau yang merupakan anggota dari ulama. Sejak kemerdekaan, kepemimpinan Islam di Turkmenistan lebih tegas, tetapi sebagian besar masih menganggap kontrol pemerintah terlalu berlebihan. [yy/republika]