pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Mengunjungi 'Kota Hantu' Kaum Tsamud di Al-'Ula

Mengunjungi 'Kota Hantu' Kaum Tsamud di Al-'Ula


Fiqhislam.com - Berkendara dari Madinah menuju utara ke wilayah Al-'Ula adalah makanan sedap untuk mata. Lanskap-lanskap berganti dengan dramatis. Mulai dari gedung-gedung modern yang perlahan digantikan rumah-rumah tua, kemudian padang tandus yang dibatasi jejeran bukit kerikil dan batu cadas.

Sesekali oasis dan kebun-kebun kurma dan anggur serta delima memberi jeda warna hijau pada bentangan alam yang gersang tanpa penghuni. Kian ke utara waktu seperti berjalan kian mundur. Tak ada lagi bangunan dan manusia di bentangan alam yang mengapit jalan raya.

Bebatuan kuno yang menjulang tinggi seperti muncul tiba-tiba dari padang pasir. Merah bata dengan tepian-tepian tegak lurus dan halus seperti dipahat waktu. Garis-garis lapisan di sisinya memberi petunjuk soal usia bebatuan raksasa yang sudah ada saat bumi masih muda usia. Badai pasir tak jarang terjadi di sepanjang jalur tersebut.

Pada 630 Masehi, tahun ke-9 setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah diriwayatkan memimpin sekira 30.000 pasukan perang melintasi jalur tersebut. Pasukan sedemikian besar dengan 10 ribu pasukan penunggang dan 20 ribu berjalan kaki disiapkan guna menghadang pasukan Romawi Bizantium yang kabarnya bakal menyerang Arabia ternasuk komunitas Muslim di Madinah.

Tujuan saat itu adalah Tabuk, kota di bagian barat laut wilayah Arab Saudi saat ini yang berbatasan dengan Suriah. Meski jumlahnya melimpah, pasukan yang berangkat saat itu tergolong penuh kesukaran karena paceklik di Madinah dan kekurangan logistik.

 

Setelah berjalan sekitar tiga hari, pasukan Muslim Madinah dan sekutu mereka tiba di wilayah kuno di utara sekitar 380 kilometer dari Madinah. Kehausan dan kelelahan, mereka langsung menuju sumur-sumur di wilayah tersebut. Kendati demikian, terlepas dari kondisi pasukan, Rasulullah mengeluarkan larangannya.

 

Tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah meminta air yang sudah dikumpulkan pasukan Muslim ditumpahkan kembali. Gandum-gandum yang sempat mereka kumpulkan di wilayah itu juga diperintahkan untuk langsung diberikan pada unta-unta pasukan tersebut. Apa alasannya?

Wilayah tersebut tercatat sudah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam. Di daerah yang kini disebut al-'Ula tersebut, sekitar dua ribu tahun silam, sempat berdiam suku kuno Arab, Lihyan, yang diperintah Dinasti Nabatean dari pusat kerajaan di wilayah Yordania saat ini. Selain pemukiman, mereka juga membangun kuburan-kuburan massif dengan memahat gunung-gunung batu di wilayah al-Hijr (Bebatuan) yang kini disebut Madain Saleh sekira 22 kilometer dari pemukiman.

Saat-saat itu pula, menurut riwayat, diutus Nabi Saleh di antara mereka yang disebut Alquran dengan nama Kaum Tsamud. Kaum tersebut mendurhakai Nabi Saleh sehingga akhirnya ditimpakan hukuman kehancuran oleh Allah SWT.

Sehubungan kisah tragis Kaum Tsamud yang berdiam di al-'Ula dan sekitarnya itulah Rasulullah melarang para pasukan minum dari sumur-sumur di wilayah itu kecuali satu yang disebut pernah dipakai minum unta betina bukti mukzizat Nabi Saleh yang disangkal dan dibunuh Kaum Tsamud.

Dikisahkan dalam Alquran, unta betina tersebut muncul secara ajaib dari salah satu gunung batu di al-Hijr. Menengok rekahan-rekahan di gunung-gunung batu raksasa di al-Hijr sukar tak membayangkan tiba-tiba ada unta betina ajaib muncul dari sana.

Jejak arkeologis mencatat, kediaman-kediaman Kaum Tsamud dan Kaum 'Ad ditinggal penghuninya sejak sebelum masa Rasulullah. Kendati demikian, batu-batu bekas rumah suku tersebut kembali digunakan warga yang tinggal di situ belakangan.

Pada abad ke-13, kompleks hunian di al-'Ula kian padat seiring kian ramainya al-'Ula sebagai jalur perdagangan rempah-rempah. Pengelana mahsyur Ibn Battuta sempat melintasi juga wilayah itu pada abad ke-14 atau tepatnya pada 1326. Saat itu, Ibn Battuta mencatat bahwa anggota rombongan karavan yang ia sertai juga enggan berhenti untuk minum di daerah tersebut meski kehausan.

Saat Republika.co.id mengunjungi lokasi itu pada Selasa (11/9), ia layaknya kota hantu. Sekitar 500 rumah-rumah berbentuk kubus yang didirikan dari bebatuan dan dilapisi lumpur tersebut kebanyakan sudah roboh sebagian tanpa penghuni sama sekali. Reruntuhan menutupi setapak sempit yang memisahkan masing-masing rumah. Masih ada sisa-sisa atap dari pelepah kurma di sebagian rumah.

Kompleks Kuno Aldeerah itu disebut mulai dihuni manusia sejak 5.000 tahun silam. Penduduknya sempat pindah ke wilayah yang lebih dekat pekuburan masal Madain Saleh pada 200 tahun setelah Masehi.

Akhirnya, hunian tersebut terakhir kali ditinggali manusia pada 1983, saat penduduknya bergeser pindah ke bangunan-bangunan lebih baru di kota al-'Ula. Ia kini nampak janggal dilingkari bangunan-bangunan dan jalan raya modern.

Khaled Abdullah (65 tahun), seorang warga tempatan mengiyakan, lokasi itu dulu ditempati kaum Tsamud. “Tapi sekarang sudah tidak ada sama sekali keturunannya di sini,” kata pria tersebut saat ditemui di tepian kota al-'Ula.

Kaum Tsamud saat ini sudah digantikan dengan penduduk dari wilayah Hijaz lainnya seperti Khaled. Sehubungan tanah yang subur dan persediaan air tanah yang lancar sejak ribuan tahun lalu, kebanyakan mereka berprofesi sebagai petani. Khaled, misalnya, saat ini memiliki sekira 7.000 meter persegi area kebun yang ditanami kurma, jeruk, anggur, dan delima.

Ia juga menyinggung kisah soal Rasulullah yang enggan singgah dan minum di lokasi tersebut. Bersama lokasi Madain Saleh, menurutnya kompleks Kota Tua al-Deerah di al-'Ula tengah dalam pemugaran oleh Kementerian Pariwisata Kerajaan Arab Saudi dan baru bisa dikunjungi wisatawan pada 2020 nanti. [yy/ihram]

Oleh: Fitriyan Zamzami dari Makkah

 

Tags: Tsamud | Nabi Saleh