5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Masuknya Islam ke Bima

Masuknya Islam ke Bima


Fiqhislam.com - Ada beberapa versi tentang masuk Islamnya raja Bima.Tawalinuddin Haris dalam artikelnya, Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa (2006) menjelaskan, fase Islamisasi itu bermula ketika silsilah raja Bima sampai generasi ke-38.Penguasa Bima ke- 37, Sawo, merupakan raja terakhir yang belum bersyahadat. Adapun sultan Bima yang pertama bernama Abdul Galir (baca: Abdul Kahir).

Pendapat versi pertama menegaskan, Islam di Bima berasal dari Pulau Jawa.Haris mengutip catatan perjalanan Heinrich Zollinger, pakar botani yang sempat mengunjungi Sumbawa sekitar 1840-an.Ilmuwan Swiss itu mengungkapkan, Islam di Bima pertama kali datang dari Jawa periode 1450-1540.

Haris juga menyebutkan hasil riset Syamsuddin (1980), yakni Islamisasi di Bima tidak lepas dari penaklukan Melaka oleh Portugis pada 1511.Sejak jatuhnya Melaka, tidak sedikit saudagar Muslim dari Jawa yang singgah ke Bima sebelum mencapai Maluku, bandar utama rempah-rempah.

Kesimpulan ini dapat merujuk pada catatan penjelajah Portugis, Tome Pires (meninggal 1540).

Penulis Suma Oriental itu membenarkan bahwa Jawa dan Bima telah menjadi titik transit pemburu rempah dari Melaka menuju Maluku.

Lebih rinci lagi, dakwah Islam di Bima disebut-sebut bersumber dari Jawa Timur.Sumber pendapat ini adalah Babad Lombok, yang menuturkan peran Sunan Prapen dari Giri dalam menyebarkan Islam di Lombok.

Dari pulau itu, keturunan seorang wali songo itu melanjutkan dakwah ke Sumbawa, termasuk Bima.Pendapat lainnya menyebutkan Jawa Barat sebagai salah satu titik keberangkatan masuknya Islam.Roufaer, misalnya, meyakini bahwa Islam di Bima dibawa dari Cirebon, Aceh, dan Melayu.

Peneliti Belanda ini juga menyoroti tingginya penghormatan atas orang-orang Melayu di Bima.

Lihat, misalnya, pada riwayat Kadhi(bahasa Arab menyebutnya qadhi yang berarti hakim/pemberi putusan hukum) Jamaluddin.Reputasi sosok berdarah Melayu ini begitu besar, sampai-sampai jasadnya dikebumikan di samping makam Sultan Abdul Galir.

Menurut Roufaer, di masa hidupnya Sultan Abdul Galir pernah berpesan kepada para penerus dan rakyatnya: hormatilah bangsa Melayu melebihi kaum pedagang asal Bugis dan Gowa.Sebab, mereka diakui sebagai guru para sultan dan penduduk Bima seluruhnya dalam mempelajari Islam.

Mereka juga dinilai berjasa lantaran ikut menumpas lanun di perairan Sumbawa.Selama di Bima, sang sultan pun membebaskan mereka dari pungutan pajak.Untuk diketahui, sekitar pelabuhan Bima menjadi tempat permukiman Kampo Malayu.

Adapun versi kedua berpendapat, Islam di Bima tidak terutama datang dari Jawa, melainkan Sulawesi Selatan. Pendapat ini merujuk pada hegemoni Kerajaan Gowa- Tallo di kepulauan Nusa Tenggara.

Tokoh-tokoh dakwah Islam yang be r angkat dari Sulawesi Selatan adalah Datuk Diban dang dan Datuk Ditiro.Meskipun berperan sebagai utusan Sultan Gowa kepada raja Bima, keduanya merupakan orang Melayu.

Datuk Dibandang, misalnya, diketahui merupakan ningrat Kerajaan Pagaruyung.Dia diduga tiba di Sulawesi Selatan sekitar tahun 1600, untuk kemudian bertolak ke Bima.Sementara itu, Datuk Ditiro berasal dari Aceh.

Mereka mendakwahkan Islam kepada Sultan Abdul Galir pada 1609 atau 1640.Pada 1645, Sultan Gowa meminta Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro kembali ke Sulawesi Selatan.Tugas dakwah Islam pun diteruskan putra mereka masing-masing, yakni Encik Naradireja dan Encik Jayaindra.

Masih terkait kedatangan Islam di Bima dari Sulawesi Selatan, ada pula perspektif yang cenderung berbeda.Dalam hal ini, dakwah Islam di Bima tidak semata-mata melalui diplomasi Gowa-Tallo, melainkan juga ekspansi militer.

Karaeng Matoaya, patih kerajaan tersebut, telah dapat menaklukkan Bima, Dompo, dan Sumbawa.Sejak saat itu, Bima berada di bawah dominasi kesultanan yang berpusat di Sulawesi Selatan.

Namun, bibit pergolakan mulai muncul di Bima.Pada periode 1632-1633, konflik pecah di Kesultanan Bima.Sejarawan menduga penyebabnya adalah protes orang Bima kepada raja mereka yang dianggap lemah menghadapi kekuasaan Gowa-Tallo.

Asumsi lainnya adalah soal perebutan takhta.Salah satu faksi di istana diduga telah meminta bantuan Gowa-Tallo untuk mengalahkan saudaranya sendiri.Pada 1691, Raja Gowa telah mengirimkan ekspedisi militer ke Kerajaan Bima.

Berikutnya, Sultan Abdul Galir menjadi Muslim pada 15 Rabiul Awal 1030 Hijrah atau 7 Februari 1621.Sejak saat itu, Bima menjadi daerah taklukan Gowa-Tallo hingga tahun 1640.Macam-macam hasil bumi, seperti kain, kayu, dan kuda, dikirimkan dari Bima ke Gowa sebagai upeti.

Atas dasar itu, sejumlah sejarawan meng anggap pernikahan Sultan Abdul Galir dengan Karaeng Sikontu lebih bersifat politis.Sikontu merupakan adik ipar Sultan Goa, Alauddin.

Apalagi, beberapa raja Bima setelah Abdul Galir juga memperistri ningrat Goa- Tallo.Pada pertengahan abad ke-17, Kerajaan Goa-Tallo terlibat pertempuran dengan Kom peni Belanda (VOC) dan akhirnya kalah.Dengan pengesahan Perjanjian Bongaya pada 1667, VOC mulai berkuasa atas wilayah Goa-Tallo, termasuk Kesultanan Bima. [yy/republika]

Masuknya Islam ke Bima


Fiqhislam.com - Ada beberapa versi tentang masuk Islamnya raja Bima.Tawalinuddin Haris dalam artikelnya, Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa (2006) menjelaskan, fase Islamisasi itu bermula ketika silsilah raja Bima sampai generasi ke-38.Penguasa Bima ke- 37, Sawo, merupakan raja terakhir yang belum bersyahadat. Adapun sultan Bima yang pertama bernama Abdul Galir (baca: Abdul Kahir).

Pendapat versi pertama menegaskan, Islam di Bima berasal dari Pulau Jawa.Haris mengutip catatan perjalanan Heinrich Zollinger, pakar botani yang sempat mengunjungi Sumbawa sekitar 1840-an.Ilmuwan Swiss itu mengungkapkan, Islam di Bima pertama kali datang dari Jawa periode 1450-1540.

Haris juga menyebutkan hasil riset Syamsuddin (1980), yakni Islamisasi di Bima tidak lepas dari penaklukan Melaka oleh Portugis pada 1511.Sejak jatuhnya Melaka, tidak sedikit saudagar Muslim dari Jawa yang singgah ke Bima sebelum mencapai Maluku, bandar utama rempah-rempah.

Kesimpulan ini dapat merujuk pada catatan penjelajah Portugis, Tome Pires (meninggal 1540).

Penulis Suma Oriental itu membenarkan bahwa Jawa dan Bima telah menjadi titik transit pemburu rempah dari Melaka menuju Maluku.

Lebih rinci lagi, dakwah Islam di Bima disebut-sebut bersumber dari Jawa Timur.Sumber pendapat ini adalah Babad Lombok, yang menuturkan peran Sunan Prapen dari Giri dalam menyebarkan Islam di Lombok.

Dari pulau itu, keturunan seorang wali songo itu melanjutkan dakwah ke Sumbawa, termasuk Bima.Pendapat lainnya menyebutkan Jawa Barat sebagai salah satu titik keberangkatan masuknya Islam.Roufaer, misalnya, meyakini bahwa Islam di Bima dibawa dari Cirebon, Aceh, dan Melayu.

Peneliti Belanda ini juga menyoroti tingginya penghormatan atas orang-orang Melayu di Bima.

Lihat, misalnya, pada riwayat Kadhi(bahasa Arab menyebutnya qadhi yang berarti hakim/pemberi putusan hukum) Jamaluddin.Reputasi sosok berdarah Melayu ini begitu besar, sampai-sampai jasadnya dikebumikan di samping makam Sultan Abdul Galir.

Menurut Roufaer, di masa hidupnya Sultan Abdul Galir pernah berpesan kepada para penerus dan rakyatnya: hormatilah bangsa Melayu melebihi kaum pedagang asal Bugis dan Gowa.Sebab, mereka diakui sebagai guru para sultan dan penduduk Bima seluruhnya dalam mempelajari Islam.

Mereka juga dinilai berjasa lantaran ikut menumpas lanun di perairan Sumbawa.Selama di Bima, sang sultan pun membebaskan mereka dari pungutan pajak.Untuk diketahui, sekitar pelabuhan Bima menjadi tempat permukiman Kampo Malayu.

Adapun versi kedua berpendapat, Islam di Bima tidak terutama datang dari Jawa, melainkan Sulawesi Selatan. Pendapat ini merujuk pada hegemoni Kerajaan Gowa- Tallo di kepulauan Nusa Tenggara.

Tokoh-tokoh dakwah Islam yang be r angkat dari Sulawesi Selatan adalah Datuk Diban dang dan Datuk Ditiro.Meskipun berperan sebagai utusan Sultan Gowa kepada raja Bima, keduanya merupakan orang Melayu.

Datuk Dibandang, misalnya, diketahui merupakan ningrat Kerajaan Pagaruyung.Dia diduga tiba di Sulawesi Selatan sekitar tahun 1600, untuk kemudian bertolak ke Bima.Sementara itu, Datuk Ditiro berasal dari Aceh.

Mereka mendakwahkan Islam kepada Sultan Abdul Galir pada 1609 atau 1640.Pada 1645, Sultan Gowa meminta Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro kembali ke Sulawesi Selatan.Tugas dakwah Islam pun diteruskan putra mereka masing-masing, yakni Encik Naradireja dan Encik Jayaindra.

Masih terkait kedatangan Islam di Bima dari Sulawesi Selatan, ada pula perspektif yang cenderung berbeda.Dalam hal ini, dakwah Islam di Bima tidak semata-mata melalui diplomasi Gowa-Tallo, melainkan juga ekspansi militer.

Karaeng Matoaya, patih kerajaan tersebut, telah dapat menaklukkan Bima, Dompo, dan Sumbawa.Sejak saat itu, Bima berada di bawah dominasi kesultanan yang berpusat di Sulawesi Selatan.

Namun, bibit pergolakan mulai muncul di Bima.Pada periode 1632-1633, konflik pecah di Kesultanan Bima.Sejarawan menduga penyebabnya adalah protes orang Bima kepada raja mereka yang dianggap lemah menghadapi kekuasaan Gowa-Tallo.

Asumsi lainnya adalah soal perebutan takhta.Salah satu faksi di istana diduga telah meminta bantuan Gowa-Tallo untuk mengalahkan saudaranya sendiri.Pada 1691, Raja Gowa telah mengirimkan ekspedisi militer ke Kerajaan Bima.

Berikutnya, Sultan Abdul Galir menjadi Muslim pada 15 Rabiul Awal 1030 Hijrah atau 7 Februari 1621.Sejak saat itu, Bima menjadi daerah taklukan Gowa-Tallo hingga tahun 1640.Macam-macam hasil bumi, seperti kain, kayu, dan kuda, dikirimkan dari Bima ke Gowa sebagai upeti.

Atas dasar itu, sejumlah sejarawan meng anggap pernikahan Sultan Abdul Galir dengan Karaeng Sikontu lebih bersifat politis.Sikontu merupakan adik ipar Sultan Goa, Alauddin.

Apalagi, beberapa raja Bima setelah Abdul Galir juga memperistri ningrat Goa- Tallo.Pada pertengahan abad ke-17, Kerajaan Goa-Tallo terlibat pertempuran dengan Kom peni Belanda (VOC) dan akhirnya kalah.Dengan pengesahan Perjanjian Bongaya pada 1667, VOC mulai berkuasa atas wilayah Goa-Tallo, termasuk Kesultanan Bima. [yy/republika]

Kesultanan Bima di Masa Penjajahan Belanda

Kesultanan Bima di Masa Penjajahan Belanda


Kesultanan Bima di Masa Penjajahan Belanda


Fiqhislam.com - Secara administratif, Kompeni memasukkan Kesultanan Bima ke dalam residensi Celebes (Sulawesi).Walaupun begitu, para sultan Bima dibiarkan untuk menjalankan pemerintahan sendiri (zelfbestuur).

Menurut Tawalinuddin Haris dan Edhie Wuryantoro dalam laporan penelitiannya yang diterbitkan Universitas Indonesia (1995).

Sultan Bima dalam menyelenggarakan pemerintahan didampingi dewan yang disebut wazir al-muazam dan dewan syariat Islam.Tugas wazirmirip perdana menteri, menyampaikan kehendak sultan kepada rakyatnya.

Adapun dewan syariat, yang bernama Sara Dana Mbojo, terdiri atas beberapa ja batan, semisal khalif, imam, khatib, lebe, bilal, dan rabo.Sultan Bima berkonsultasi kepada mereka mengenai penerapan hukum Islam.

Segenap jabatan tersebut tidak harus diisi orang Bima, melainkan terbuka bagi tokoh-tokoh dai siapa saja yang mumpuni.Pada era Sultan Nurudin, misalnya, banyak mu baligh datang ke Bima dari Melaka, Sumatra, Banten, Sulawesi, dan bahkan Arab.

Sebagian di antara mereka menjadi pejabat Kesultanan Bima dalam urusan syariat. Salah satunya adalah Syekh Umar al-Bantani, ulama asal Banten yang masih berdarah Arab. Tugas sang syekh antara lain mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada anak-anak sultan Bima. [yy/republika]

Jatuhnya Majapahit, Islam Menyebar Luas di Bima

Jatuhnya Majapahit, Islam Menyebar Luas di Bima


Jatuhnya Majapahit, Islam Menyebar Luas di Bima


Fiqhislam.com - Bima saat ini merujuk pada nama kota dan kabupaten yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, berbilang abad sebelumnya daerah yang berlokasi di Pulau Sumbawa ini merupakan sebuah kerajaan yang berusia ratusan tahun. Sepanjang sejarahnya, kebudayaan animisme, Hindu-Buddha, dan akhirnya Melayu-Islam berturut-turut mendominasi wilayah ini.

Di Pulau Sumbawa, telah berkembang suatu tatanan politik sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha. I Wayan Sumerata dalam artikelnya untuk jurnal Forum Arkeologi (November 2014) menjelaskan, sistem pemerintahan tersebut dinamakan sebagai ncuhi.

Naskah lokal, Bo (buku) Sangaji Kai, mengungkapkan adanya lima ncuhi yang dominan, yakni Huu, Daha, Saneo, Nowa, dan Tonda.Pada waktu itu, masyarakat di ke lima wilayah tersebut umumnya menganut animisme. Selain teks dari abad ke-14 ini, bukti-bukti lainnya berupa artefak dari zaman megalitikum. Misalnya, situs-situs di lereng Bukit Doromanto dan Gunung Doro Peti, Kecamatan Pekat, Dompu.

Pengaruh animisme memudar seiring dengan masuknya ajaran Hindu-Buddha ke Pulau Sumbawa sekitar abad ketujuh atau ke delapan.Agama ini dibawa dari Jawa atau Bali melalui kontak dengan para pedagang atau kekuatan politik kerajaan besar, semisal Majapahit. Demikian keterangan Tawalinuddin Haris dan Edhie Wuryantoro dalam laporan penelitiannya yang diterbitkan Universitas Indonesia (1995).

Pada pertengahan abad ke-14, Majapahit mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.Negaraker taga mamenyebutkan wilayah kerajaan ini meliputi antara lain Pulau Sumbawa. Patih Gajah Mada mengubah sistem ncuhidi tengah penduduk setempat menjadi sangaji (harfiah: raja, kerajaan) sehingga mendorong penyebaran agama Hindu-Buddha. Sejak saat itu, situs-situs pemujaan yang sarat pengaruh arsitektur Majapahit berdiri.Misalnya, kompleks Waru Kali, Sambi Tangga, dan Dorobata di Dompu.

Jatuhnya Imperium Majapahit pada awal abad ke-15 memungkinkan pemulihan pengaruh politik para penguasa lokal di Bima.Selanjutnya, dakwah Islam menyebar lebih luas di Pulau Sumbawa. [yy/republika]