14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Syingith, Sentra Peradaban Islam

Syingith, Sentra Peradaban Islam

Fiqhislam.com - Kafilah-kafilah Arab juga aktif mengembangkan dakwah Islam di Awkar. Sejarawan dari Andalusia, al- Bakri (1014-1094), memuji para Ghana dalam karyanya, Kitabul Masalik wal Mamalik. Walaupun tak beragama Islam, mereka menjalin persahabatan dengan kaum Muslimin.

Penguasa berkulit hitam ini senang dengan kehadiran orang-orang Arab. Sebab, mereka memperkenalkan alat transpor tasi yang terbilang baru bagi masyarakat Teluk Guinea: unta. Seperti diketahui, unta sangat efisien untuk menjadi kendaraan di medan yang tandus.

Seiring dengan perluasan wilayah Muslim di Afrika utara pada abad ketujuh, Kera jaan Awkar makin makmur berkat perdagang an dengan bangsa Arab. Para Ghana me nerima budaya Arab dengan tangan terbuka.

Ibu kota mereka pun dinamakan sesuai dengan bahasa Arab, Kumbi Sholih (kini de kat perbatasan Mauritania-Mali). Belasan mas jid berdiri di sana. Bahkan, mereka meng gaji para imam, kadi, dan intelektual Mus lim yang bekerja atas nama negara. Awkar telah memberi ruang bagi tumbuh nya pusat-pusat keunggulan Islam di Afrika barat.

Dominasi Awkar yang kental dengan nuansa Islam terasa sampai ke Syingith. Beberapa sejarawan juga menyertakan kota ini ketika membahas kebudayaan Awkar. Satu hal yang pasti, pengaruh Kerajaan Awkar mulai melemah dan tergantikan Berber menjelang abad ke-11.

Anggota persekutuan Iznagen dari Sous (kini Maroko), Jazulah, diketahui sudah taat dalam Islam. Pemimpin Jazulah, Abdullah bin Yasin, kemudian mendirikan aliansi al- Murabithun bersama dengan suku-suku Berber lain di Afrika utara. Mereka mengem bangkan wilayah hingga Afrika barat.

Pada 1076, al-Murabithun berhasil menaklukkan Syingith dan sekitarnya. Sejak saat itu, Syingith tidak semata-mata kota transit di jalur perniagaan Gurun Sahara, melainkan juga sentra peradaban Islam. Dinasti al-Murabithun terus bertahan sampai datangnya serangan dari Dinasti al- Muwahhidun pada 1147. Sama seperti mereka, al-Muwahhidun memusatkan kekuasannya di Maroko dan sekitarnya.

Adapun dataran tinggi Adrar dibiarkan tanpa dominasi politik yang berarti. Dengan demikian, pada masa itu, Kota Syingith "terjepit" di antara kedaulatan al-Muwahid dun di utara dan Kerajaan Awkar di selatan. Bagaimanapun, peran penting kota ini belum luruh.

 

Syingith, Sentra Peradaban Islam

Fiqhislam.com - Kafilah-kafilah Arab juga aktif mengembangkan dakwah Islam di Awkar. Sejarawan dari Andalusia, al- Bakri (1014-1094), memuji para Ghana dalam karyanya, Kitabul Masalik wal Mamalik. Walaupun tak beragama Islam, mereka menjalin persahabatan dengan kaum Muslimin.

Penguasa berkulit hitam ini senang dengan kehadiran orang-orang Arab. Sebab, mereka memperkenalkan alat transpor tasi yang terbilang baru bagi masyarakat Teluk Guinea: unta. Seperti diketahui, unta sangat efisien untuk menjadi kendaraan di medan yang tandus.

Seiring dengan perluasan wilayah Muslim di Afrika utara pada abad ketujuh, Kera jaan Awkar makin makmur berkat perdagang an dengan bangsa Arab. Para Ghana me nerima budaya Arab dengan tangan terbuka.

Ibu kota mereka pun dinamakan sesuai dengan bahasa Arab, Kumbi Sholih (kini de kat perbatasan Mauritania-Mali). Belasan mas jid berdiri di sana. Bahkan, mereka meng gaji para imam, kadi, dan intelektual Mus lim yang bekerja atas nama negara. Awkar telah memberi ruang bagi tumbuh nya pusat-pusat keunggulan Islam di Afrika barat.

Dominasi Awkar yang kental dengan nuansa Islam terasa sampai ke Syingith. Beberapa sejarawan juga menyertakan kota ini ketika membahas kebudayaan Awkar. Satu hal yang pasti, pengaruh Kerajaan Awkar mulai melemah dan tergantikan Berber menjelang abad ke-11.

Anggota persekutuan Iznagen dari Sous (kini Maroko), Jazulah, diketahui sudah taat dalam Islam. Pemimpin Jazulah, Abdullah bin Yasin, kemudian mendirikan aliansi al- Murabithun bersama dengan suku-suku Berber lain di Afrika utara. Mereka mengem bangkan wilayah hingga Afrika barat.

Pada 1076, al-Murabithun berhasil menaklukkan Syingith dan sekitarnya. Sejak saat itu, Syingith tidak semata-mata kota transit di jalur perniagaan Gurun Sahara, melainkan juga sentra peradaban Islam. Dinasti al-Murabithun terus bertahan sampai datangnya serangan dari Dinasti al- Muwahhidun pada 1147. Sama seperti mereka, al-Muwahhidun memusatkan kekuasannya di Maroko dan sekitarnya.

Adapun dataran tinggi Adrar dibiarkan tanpa dominasi politik yang berarti. Dengan demikian, pada masa itu, Kota Syingith "terjepit" di antara kedaulatan al-Muwahid dun di utara dan Kerajaan Awkar di selatan. Bagaimanapun, peran penting kota ini belum luruh.

 

Syingith yang Mulai Terlupakan

Syingith yang Mulai Terlupakan


Syingith yang Mulai Terlupakan


Fiqhislam.com - Pazzanita (1996) menyebutkan, sepinya rute Trans-Sahara pada abad ke-19 berdampak bagi kotakota transit di Afrika barat, termasuk Syingith. Seiring dengan itu, Benua Hitam mulai menjadi ajang rebutan negara-negara Eropa.

Mauritania masuk ke dalam wilayah okupasi Prancis sejak permulaan kurun ini. Namun, penjajahan ternyata tidak mudah memasuki dataran tinggi Adrar. Salah seorang pejuang yang gigih mengusir kolonialisme adalah Muhammad Musthofa asy-Syingithi (1831-1910).

Dia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya sebagai guru (murabith) di Kesultanan Maroko. Saat berusia 56 tahun, Sultan Maroko menunjuknya sebagai kadi. Sementara itu, ekspansi Prancis makin gencar di Afrika utara.

Pada 1906, sultan Maroko menandatangani Perjanjian Algeciras, yang berarti menyerahkan sebagian wilayah di selatan Maroko ke pada Prancis. Sejak saat itu, Musthofa asy-Syingithi memimpin ribuan pasukannya untuk menahan ekspansi kolonial. Namun, serangannya dapat dipatahkan musuh-musuhnya.

Pada 1910, putra sufi Qadiriyyah Muhammad Fadhil Ma min ini wafat. Sepuluh tahun kemudian, Prancis menguasai sebagian besar Afrika barat, termasuk Mauritania. Inilah awal masa kelam bagi Kota Syingith. Kebesaran kota ini memudar, tidak mampu lagi mempertahankan status pusat peradaban Islam di kawasan Gurun Saha ra.

Benteng-benteng Prancis berdiri, mempertegas dominasi penjajahan di atas komunitas Muslim. Memasuki akhir abad ke-20, desertifikasi menjadi masalah baru bagi kota ini. Menurut Pazzanita, gejala alam ini sangat mengancam eksistensi ribuan manuskrip kuno yang tersimpan di beberapa rumah pribadi orang-orang Syingith.

Masyarakat setempat hanya bi sa menjaga koleksi yang amat berharga itu dengan perawatan seadanya. Pembangunan infra struk tur belum bisa diandalkan, sejak Mauritania merdeka pada 1960 sampai hari ini. [yy/republika]