5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Harta Firaun Tutankhamun dan Kehidupan Setelah Kematian

Harta Firaun Tutankhamun dan Kehidupan Setelah Kematian

Fiqhislam.com - Pada 1922, arkeolog Inggris, Howard Carter menemukan mumi Tutankhamun dan harta bendanya di Valley of the Kings, Mesir. Media masih menyebutnya sebagai salah satu kisah penemuan harta karun terbesar di dunia. Fir'aun Tutankhamun kini dapat disebut sebagai tokoh simbol Mesir Kuno.

Banyaknya temuan membuat Carter mesti mencatat dan memotret selama tiga tahun. Setelah semua temuan dipindahkan akhirnya ia menemukan mumi Tutankhamun!

Raja ini masih muda ketika bertahta tahun 1333 Sebelum Masehi. Ia memerintah selama 10 tahun. Penyebab kematiannya masih menjadi misteri.

Tutankhamun meninggal pada usia sekitar 18 tahun. Jasadnya diteliti berkali-kali misalnya dengan tes DNA. Penelitian arkeolog Mesir, Zahi Hawass tahun 2005 menggunakan CT Scan mengungkap hal-hal penting.

Tutankhamun hidup sehat dengan makanan bergizi. Tengkoraknya utuh dan tidak ada benturan di kepala yang dapat menyebabkannya meninggal. Namun, CT Scan tidak dapat mengungkap apakah Tutankhamun mati karena diracun.

Harta Firaun Tutankhamun dan Kehidupan Setelah Kematian

Topeng wajah dan kepala sampai ke dada untuk pemakaman Tutankhamun merupakan salah satu temuan terpenting dan mencengangkan dunia. Topeng emas ini menunjukkan kekayaan, kejayaan, dan pencapaian peradaban saat itu. Bentuknya yang dapat dikatakan sempurna juga menunjukkan kemajuan teknologi dan daya artistik yang tiada duanya.

Topeng dibuat untuk menunjukkan wajah figur yang dimakamkan (funerary mask). Jasad diawetkan yang disebut dengan mumi (mummified body). Harta benda disertakan karena dipercaya akan berguna dalam kehidupan setelah kematian (grave goods). Benda-benda terkait dewa-dewi yang dipuja juga disertakan. Semua upaya itu agar jiwa si mati pada kehidupan berikutnya dapat mengenali dan kembali lagi ke tubuhnya untuk dapat hidup di alam kematian (The After-life concept).

Hampir semua penemuan Carter itu kini tersaji di Egyptian Museum Kairo. Tata pamernya lebih menekankan upaya menampilkan keseluruhan temuan atau bukan menekankan suatu alur cerita. Namun, bagi pengunjung yang mengetahui The After-life concept, ruangan di museum seakan seperti ruang kehidupan setelah kematian.

Pengunjung seperti dapat membayangkan jiwa si mati kembali lagi mengenali dan masuk ke tubuh si mati. Si mati lalu hidup lagi dan menggunakan semua atribut posisi, pangkat, gelar, kedudukan, dan pencapaiannya saat di dunia. Selanjutnya, si mati dapat menggunakan lagi semua harta benda seperti perhiasan, lemari, kursi, kereta kuda, makanan, dan lainnya.

Salah satu bekal kubur Tutankhamun yang menarik adalah mainan. Bentuknya kotak dengan sisi bagian atas menjadi papan permainan. Kotak gading itu memiliki laci yang ketika ditarik terdapat sejumlah pion atau bidak. Pada sisi kotak bagian samping terdapat ukiran berupa huruf hieroglif. Pada sisi lainnya terdapat ukiran figur Tutankhamun dan istrinya, Ankhesenamun. Tampaknya mainan itu dimaksudkan untuk digunakan lagi oleh pasangan tersebut di kehidupan setelah kematian.

Bagaimana Islam memandang kehidupan? Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika meninggal, harta benda tidak dibawa serta. Manusia akan dibangkitkan dan amal ibadahnya di dunia menjadi bekal berharga untuk kehidupan di akhirat. Sementara itu, kehidupan di dunia berpotensi menjadi tempat permainan yang membuat kita terlena.

Al-Ĥadīd (57):20 - Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Semoga kita dapat menjadikan kehidupan sebagai dunia peribadatan dan bukan dunia permainan. Wallahu a'lam

Oleh Ali Akbar
Doktor Arkeologi lulusan Universitas Indonesia