14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Zaragoza, Kota Kejayaan Islam yang Tinggal Kenangan

Zaragoza, Kota Kejayaan Islam yang Tinggal Kenangan


Fiqhislam.com - Zaragoza atau Saragossa (bahasa Inggris) dan Caesaraugusta (bahasa latin) adalah ibu kota Provinsi Aragon, Spanyol Selatan. Dikenal sebagai kota kebudayaan arsitektur dan pusat ilmiah. Zaragoza dimasa silam diperintah oleh banyak kekuatan besar, salah satunya Islam.

Dikutip dari buku 'Khazanah Peradaban Islam' karya Tata Septayuda Purnama, ketika masa kekuasaan Roma, kota ini dikenal dengan nama Caesaraugusta. Di kota ini bangsa Romawi tidak hanya memerintah, tetapi memupuk peradaban dan menjadikan Zaragoza sebagai kebanggaan. Tahun 410 M, Visigoth mengguncang kota Roma, sebuah peristiwa yang saat ini sebanding dengan bencana WTC di tahun 2001 dalam hal dampak guncangannya terhadap masyarakat. Namun ketika kaum Visigoth, nisbat bagi Raja Spanyol mengambil alih kota itu, tidak banyak perubahan terjadi.

“Perubahan baru terjadi saat Islam tiba pada 714 M. Nama Caesaraugusta diubah dengan nama Arab menjadi Saraqusta dan kota itu pun mencapai kemegahannya di tangan kekuasaan Islam,” tutur Tata dalam buku tersebut.

Zaragoza yang terletak di pinggir Sungai Ebro memiliki sebuah lembah besar dengan background yang bervariasi, mulai dari Gurun (Los Monegros), hutan yang lebat, padang rumput, hingga gunung. Kota ini juga berada di persimpangan antara Madrid, Barcelona, Valencia, dan Bilbao. Berada pada Ketinggian 199 meter di atas permukaan laut dan dihuni sekitar 641.581 jiwa sebagai kota terpadat keenam di Spanyol, dengan 50 persen populasi adalah orang-orang Aragon (salah satu wilayah otonomi Spanyol).

Benteng Ayub adalah salah satu benteng pertama yang dibangun kaum muslimin di kota tersebut. Benteng ini terletak di puncak bukit di desa Katala Ayub yang dibangun pada 860 M saat masa pemerintahan Bani Umayyah, Andalusia.

Awalnya, benteng ini adalah pos pertahanan Bani Ayub, keturunan muslim pertama di kota itu. Namun sejak abad ke-10, Dinasti Bani Umayyah mulai mengalami kemunduran sehingga kerajaan Islam Di Zaragoza juga terkena imbasnya. Setelah kehancuran Dinasti Bani Umayyah dan Andalusia dipecah menjadi beberapa wilayah kekuasaan (dikenal dengan Muluk Ath-Thawa’if), kaum Muslimin di kota itu pun mulai mendapat kekuatan kembali.

Palacio Al-Jafaria, sebuah istana megah di Zaragoza merupakan peninggalan terbaik Islam di kota tersebut. Istana ini dibangun pada abad pertengahan, terletak di area berbentuk segitiga dan memiliki 24 pos pengawas guna memebri peringatan dan mengantisipasi serangan musuh. Di belakang istana, terdapat sebuah sudut dari kayu yang dulunya merupakan pusat istana dan memiliki ruang kecil yang indah khusus sebagai ruang ibadah. Arsitektur ruangannya sama dengan Masjid Kordoba.

Hingga kini sebagian dari hiasan kaligrafi dan dekorasi di ruangan tersebut masih utuh, walaupun beberapa bagian lain telah mengalami banyak perubahan. Di sini dapat ditemukan mihrab, tempat yang biasa dipakai amir (sang penguasa) memimpin shalat berjamaah. Palacio Al-Jafaria menjadi tempat tujuan utama wisata di kota eksotik tersebut yang dibuka setiap hari mulai pukul 10:00-18:30, tetapi tidak semua area terbuka untuk umum.

“Abu Ja’Far Al-Muqtadir adalah orang yang bertaggung jawab atas pembangunannya sehingga istana-istana ini dikenal dengan Palacio Al-Jafaria.”

Dialah penguasa yang berdiri sendiri atau lebih dikenal sebagai ‘raja golongan’. Abu Ja’far memisahkan diri dari pemerintahan Andalusia yang berpusat di Kordoba. Ia mendirikan pemerintahan kecil (tha’ifah) di Spanyol yang berkuasa setelah jatuhnya Bani Umayyah pada awal abad ke-19 M. Kala itu beberapa pemerintahan kecil, khususnya di wilayah selatan mencari bantuan dari kaum Barbar (Al-Murabbithun)di Afrika Utara untuk melindungi mereka dari gempuran kaum Kristen, tetapi penguasa Zaragoza tidak melakukannya.

Mereka memilih menjadi muslim pertama yang harus membayar upeti kepada kaum Kristen. Alasan menolak bantuan dari kaum Barbar karena biasanya mereka kerap membantu untuk kemudian mengambil alih pemerintah kecil secara perlahan. Pada 1086 M pemimpin Barbar (Al-Murabbithun) di Maroko, Yusuf  bin Tasyfin diundang oleh bangsawan Muslim di Spanyol untuk mempertahankan diri dari gempuran Alfonso  VI (Raja Kastilia dan Leon).

Pada tahun itu juga Yusuf menyeberangi Selat Gibraltar menuju Algeciras dan mengalahkan kaum Kristen dengan telak dalam pertempuran Zallaqah. Pada tahun 1094 M, ia menghapuskan kekuasaan semua penguasa-penguasa kecil Islam di Iberia (daratan Spanyol) dan mengambil alih semua daerah mereka, kecuali Zaragoza.

Tahun 1112 Masehi, kekuasaan Yusuf  bina Tasyfin berhasil menerobos masuk ke jantung utara Spanyol dan merencanakan untuk merebut Zaragoza. Namun, kekusaan kaum Al-Murabbithun itu, tidak berjalan lama. Enam tahun kemudian (1118 M) Alfonso berhasil menaklukkan Zaragoza, tetapi ia berinisiatif mempertahankan arsitektur Palacio Al-Jafaria yang sangat bagus dan memilihnya menjadikan tempat tinggal.

Sejak itu, istana ini menjadi tempat kediaman para penguasa Aragon, sampai dinyatakan sebagai pusaka nasional pada tahun 1931.  Maka, untuk menjaga keasliannya, saat ini, bangunan indah tersebut dirawat oleh arsitek berpengalaman dan para ahli sejarah. Istana ini pernah menjadi tempat berbagai kegiatan penting, salah satunya adalah pertemuan parlemen Aragon pada tahun 1985. [yy/republika]