fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Syawal 1442  |  Kamis 13 Mei 2021

Masjid Al-Aqsha Bertahan Melintasi Berbagai Masa

Masjid Al-Aqsha Bertahan Melintasi Berbagai Masa

Fiqhislam.com - Tegak berdiri di bumi Palestina, Masjid al-Aqsa merupakan satu dari tiga situs suci umat Islam. Posisinya di Yerusalem membuat al-Aqsa berada di jantung konflik tiga agama besar. Islam, Kristen, dan Yahudi bersama-sama mengajukan klaim kepemilikan. Situs bersejarah ini telah berulang kali menyaksikan konflik dan perebutan kekuasaan.

Firas Alkhateeb dalam The Al Aqsha Mosque Through The Ages merunut, cikal bakal al-Aqsa sudah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu. Hadis Rasulullah dari Abu Dzar al-Ghifari menyebutkan, al-Aqsha adalah masjid tertua di dunia setelah Masjidil Haram.

Hadits ini mengisyaratkan, Masjid al-Aqsa sudah ada sejak anak turun pertama Ibrahim. Ibnu Qayyim al-Jauzy menerangkan, Nabi Yaqub dan Dawud diketahui pernah membangun ulang masjid tersebut. Kemudian, Sulaiman merenovasinya pada tahun 960 SM.

Sejak awal, situs ini berstatus masjid, bukan kuil atau sinagoge. Ketika Islam diturunkan di jazirah Arab, agama ini melanjutkan ajaran tauhid dari nabi-nabi sebelumnya. Kuil Sulaiman yang dibangun di Yerusalem pada zaman kuno otomatis menjadi bagian dari sejarah Islam.

Masjid al-Aqsa, disebut juga Bait al-Maqdis, berarti "masjid yang jauh". Masjid ini berlokasi di sebuah area persegi empat yang disebut al-Haram asy-Syarif. Luas kompleks itu sekitar 133.950 meter persegi. Berbentuk persegi empat, al-Aqsa hanya memiliki satu kubah. Orang sering salah mempersepsikan masjid ini dengan situs di sebelahnya, Dome of The Rock atau Kubah Batu yang memiliki kubah keemasan menjulang.

Masjid al-Aqsha telah bertahan melintasi berbagai masa. Yerusalem—Masjid al-Aqsa—kembali ke tangan Muslim semasa Umar bin Khattab pada 638 M. Sejumlah literatur mencatat peristiwa penaklukkan bersejarah ini. Mulai dari al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore, hingga Karen Armstrong dalam Jerusalem Satu Kota Tiga Iman

Semua sejarawan mencatat, pembebasan Yerusalem oleh Umar bin Khattab berlangsung aman dan damai. Dengan penuh kesederhanaan, Amirul Mukminin datang langsung dari Madinah menerima penyerahan kota suci ini. Pemimpin umat Kristiani di Yerusalem, Sophronicus, menyambut kedatangan Umar untuk menyerahkan kunci-kunci Yerusalem. Umar memutuskan membersihkan lokasi itu dan membangun ulang Masjid al-Aqsa. Pada masa Umar, Masjid al-Aqsa memiliki kapasitas 3.000 orang. Amirul Mukminin juga bermusyawarah dengan Ka'ab mengenai lokasi pembangunan masjid. 

Selama beberapa dekade, struktur bangunan sederhana yang dibangun Umar tetap menjadi bangunan utama di al-Haram asy-Syarif. Dinasti Umayyah, pemegang tampuk kekuasaan Islam berikutnya, memiliki perhatian besar terhadap Yerusalem.

Pada 690 M, Khalifah Abdul Malik dari Dinasti Umayyah membangun kembali Masjid al-Aqsa yang jauh lebih besar dan lebih kukuh. Sejak itu, renovasi terus dilakukan tanpa mengubah bentuk dasar bangunan. Al-Aqsa berkubah biru yang tampak sekarang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abd Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah.

Kendati begitu, Masjid al-Aqsa bukan pencapaian terbesar Khalifah Marwan. Prestasi terbesar Marwan adalah sebuah bangunan yang ia bangun sekitar 200 meter di sebelah utara al-Aqsa: Dome of the Rock (Kubah Batu). 

Setelah kejatuhan Bani Umayyah pada 750M, Yerusalem berada di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Perhatian Abbasiyah terhadap Yerusalem tidak sebesar Dinasti Umayyah. Kekhalifahan yang baru ini menempatkan ibu kota pemerintahan di Baghdad, Irak. Kendati begitu, Yerusalem terus menjadi tempat ziarah yang penting. Masjid al-Aqsa tetap menjadi pusat keagamaan di sana sampai 900-an Masehi.

Serentetan gempa bumi sempat merusak sebagian besar bangunan Masjid al-Aqsa pada masa Abbasiyah. Pada gempa bumi tahun 746 M, Masjid al-Aqsa nyaris hancur total. Khalifah al-Mansur merekonstruksi kembali Masjid al-Aqsa, yang dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-Mahdi.

Masa Kelam Masjidil Al-Aqsha

Masjid al-Aqsa tidak lepas dari sejarah perebutan kekuasaan di Yerusalem. Penguasa demi penguasa silih berganti memperebutkan otoritas di kota suci ini. Pada 1095, Kaisar Bizantium meminta bantuan Paus Urbanus II di Roma untuk melawan tentara Seljuk di Semenanjung Anatolia. Di hadapan para pembesar dan umat Kristiani di Clermont, Paus Urbanus menjawab dengan seruan Perang Salib. Tidak saja untuk melawan Seljuk, melainkan untuk menaklukkan Yerusalem dari kaum Muslim.

Kendati berada di jantung dunia Muslim, Yerusalem rentan jatuh ke tangan tentara Salib. Stabilitas politik di dunia Muslim masa itu sudah kurang menguntungkan. Konflik terus-menerus antara Seljuk dan Fatimiyah membuat posisi pertahanan Yerusalem rentan. Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada 1099 saat kota itu baru saja direbut Fatimiyah dari Bani Seljuk. Pada 15 Juli 1099, tentara Salib berhasil menguasai kota itu.

Penaklukan tentara Salib mencatatkan tragedi paling mengerikan yang pernah disaksikan Masjid al-Aqsa. Sebagian besar penduduk Muslim melarikan diri ke masjid untuk mencari keselamatan. Tak peduli situs suci atau tidak, tentara Salib masuk dan membantai semua penduduk Muslim di sana. Pembantaian itu menewaskan ribuan Muslim, seperti disebut Karen Arsmtrong, "darah menggenang sampai lutut". "Di mana-mana tercecer potongan-potongan tubuh manusia, badan tanpa kepala dan bagian-bagian tubuh yang dimutilasi, terserak-serak di segala penjuru," tambah Montefiore.

Penguasa Yerusalem, Godfrey, menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat tinggal. Interior masjid direnovasi menjadi sebuah istana dengan dinding baru, kebun, dan kamar-kamar. Semua simbol keislaman ditutup. Dome of the Rock yang terletak beberapa ratus meter mengalami nasib serupa. Bangunan dari Dinasti Umayyah itu diubah menjadi gereja. Muslim dilarang memasuki kota. Al-Aqsa sunyi dari lantunan ayat dan kumandang azan.

Upaya umat merebut kembali Yerusalem dari cengkeraman Pasukan Salib dilakukan berulang kali. Tapi, selalu gagal. Majid Irsan Al Kilani mengulas fenomena kegagalan ini dalam Hakadza Zhahara li Shalahiddin wa Hakadza Mat al-Quds. Kesimpulannya, umat Islam memang pantas kalah. Masjid al-Aqsa baru kembali ke tangan Muslim di bawah komando Shalahuddin al-Ayyubi pada 1187.

Menaklukkan Yerusalem, Shalahuddin masuk ke gerbang kota dengan damai. Tak ada pembantaian warga sipil. Sultan Ayyubiyah ini menjamin keselamatan dan kebebasan beribadah semua pemeluk agama. Terkecuali, pasukan Salib yang dia minta keluar dari kota. Hal pertama yang dilakukan Shalahuddin saat memasuki Yerusalem adalah mencopot tiang salib dari atas Kubah Batu.

Carole Hillenbrand dalam The Crusade: Islamic Perspective mengisahkan, sebuah salib besar dipancangkan di atas kubah batu pada masa penaklukkan Yerusalem oleh kaum Frank. Mereka menghiasi al-Aqsa dengan patung, altar, dan gambar Bunda Maria. "Ketika kaum Muslim memasuki kota itu, pada hari Jumat, sekelompok orang naik ke puncak kubah untuk menurunkan salib itu. Ketika mereka telah tiba di puncak kubah, semua orang berteriak bersama-sama," kenang Hillenbrand.

Tentara Salib berulang kali mencoba merebut kembali Yerusalem dari tangan Shalahuddin, tetapi selalu teratasi. Hingga kematian Shalahuddin pada 1193, Dinasti Ayyubiyah masih menguasai Yerusalem. Pada masa Kesultanan Mamluk, semangat Perang Salib mulai mereda. Mamluk melakukan beberapa renovasi di kompleks al-Haram asy-Syarif.

Sekolah-sekolah fikih dibangun. Muslim dari Afrika Utara, Persia, bahkan India berbondong-bondong ke Yerusalem. Seorang ulama masyur, Ibnu Taimiyah, menulis sebuah risalah singkat tentang keutamaan mengunjungi Masjid al-Aqsa lengkap beserta adab dan doa-doanya.

Masa Ottoman al-Aqsa terus menjadi magnet dari masa ke masa. Memasuki awal abad ke-16, kekuatan baru muncul di belahan timur dunia Islam. Ialah Kekaisaran Ottoman yang beribu kota di Istanbul. Pada 1513, Sultan Selim I dari Kekaisaran Ottoman mulai merebut beberapa wilayah kekuasaan Mamluk. Tiga tahun kemudian, Yerusalem dikuasai oleh Ottoman lewat penyerahan secara damai.

Pada masa ini, Yerusalem mengalami kebangkitan baru. Ottoman mengirim gubernur, tentara, dan administrator untuk mengelola kota. Masjid Al-Aqsha mengalami rekonstruksi dan perbaikan. Selama pemerintahan putra Selim I, Sulaiman al-Qanuni, Kubah Batu benar-benar direnovasi menjadi sangat megah. Sisa-sisa peninggalan itu masih dapat dilihat hingga hari ini.

Israel Ingin Al-Aqsha Dihancurkan Diganti Kuil Yahudi

Kelompok sayap kanan Yahudi mendorong agar kehadiran Israel di kompleks masjid Al Aqsa meningkat. Pemimpin politik dan kelompok kanan menyerukan Isael untuk melakukan kendali terhadap kompleks masjid tersebut.

Sementara pemerintah Israel mengambil langkah-langkah keras untuk memadamkan kerusuhan Palestina yang sedang berlangsung.

Returning to the Mount, sebuah organisasi Zionis sayap kanan garis keras pekan ini mengumumkan bahwa mereka akan membayar dua ribu shekel atau 516 dolar AS untuk Yahudi-Israel yang bertahan sambil berdoa di kompleks Masjid Al-Aqsa, tempat suci ketiga bagi umat Islam. Meski secara resmi dilarang berdoa di sana, aktivis Israel menikmati pengawalan polisi ketika mereka menjelajah kompleks.

Kepala Returning to the Mount, Raphael Morris menuduh pemerintah Israel memaksakan pembatasan kejam terhadap Israel Yahudi."Kami tidak siap (untuk membiarkan) situasi memburuk," katanya dilansir Al Jazirah, Kamis (29/10).

Untuk itu, ia mengaku pihaknya harus bertindak untuk penambahan hak bagi orang Yahudi di sana, terutama untuk berdoa.

Kelompok Facebook penuh dengan unggahan seruan kepada Israel untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan membangun sebuah kuil Yahudi di tempat tersebut.

Anggota Partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Likuid Ultra Nasionalis, Deputi Menteri Israel Tzipi Hotovely menyebut kompleks Masjid Al-Aqsa sebagai pusat kedaulatan Israel. "Ini adalah mimpi saya untuk melihat bendera Israel terbang di atas Al-Aqsa," katanya.

Hal ini muncul pada saat protes warga Palestina yang melawan pendudukan Israel sedang berlangsung dan meningkatnya frekuensi kekerasan masyarakat Palestina di Israel, Tepi Barat dan Gaza.

Bulan lalu, Temple Mount and Eretz Yisrael Faithful Movement, sebuah organisasi Israel garis keras yang menganjurkan penghancuran Masjid Al-Aqsa menyelenggarakan demo dan membuat ketegangan melonjak. Bahkan, organisasi itu menjamin polisi Israel akan memberikan perlindungan pada demonstran.

Kelompak ini menerbitkan sebuah pernyataan yang menyerukan orang-orang Yahudi untuk melindungi Temple Mount. "Kami akan menghentikan Islamisasi Temple Mount dan pembangunan masjid," tulis pernyataan tersebut.

Menurut Al-Shabaka, sebuah kelompok riset Kebijakan Palestina mengatakan, para pemimpin Israel sengaja untuk menggambarkan kerusuhan sebagai konflik agama. Hal itu dilakukan untuk membenarkan kekerasan terhadap protes anti-pendudukan dan untuk menangkis kritik terhadap kebijakan yang keras.

"Framing Israel ke konflik garis agama merupakan upaya untuk dekonteksulise bentrokan yang telah terjadi antara Palestina dan penduduk Israel," kata anggota Al-Shababka, Nur Arafeh.

Ia mengatakan, perlawanan masyarakat Palestina terhadap kolonial yang berulang lagi dan lagi menyimpang dengan semangat keagamaan. Sementara,ia melanjutkan Benyamin Netanyahu tidak berniat mengubah status quo.

"Pemukim Israel memiliki ikatan yang kuat untuk semakin dalam (ke Palestina) dengan pemerintah Israel yang telah mebantu mereka dengan keuangan, politik, hukum dan asuransi," lanjut Arafeh.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan keamanan telah memberlakukan pembatasan ketat masuk ke daerah Al-Aqsa di Palestina. Mereka sering memberi batasan umur dan sewenang-wenang pada jamaah laki-laki. Awal bulan ini Netanyahu melarang semua anggota Knesset untuk mengunjungi situs suci, termasuk legislator Palestina di parlemen Israel.

Ia bahkan mengecam legislator Palestina yang menentang perintahnya. Baru-baru ini, seorang legislator di Knesset dan anggota partai politik Balad menentang larangan tersebut. Ia mengunjungi masjid guna menunjukkan solidaritas dengan jamaah.

Ghattas diketahui adalah seorang Kristen, Netanyahu menuduhnya berusaha memprovokasi eskalasi dan memperburuk situasi.

Setiap hari kekerasan terjadi. Sedikitnya 58 warga Palestina tewas oleh tembakan Israel sejak pertengahan September. Sementara 11 warga Israel tewas dalam serangan Palestina yang sebagian besar karena penusukan.

Israel mengatakan, masyarakat Palestina yang tewas hampir semuanya membawa pisau untuk menyerang. Namun kelompok-kelompok hak asasi menentang hal itu. Mereka mengatakan beberapa masyarakat Palestina tidak mengancam kehidupan prajurit. [yy/republika]

 

Tags: Aqsha | yahudi | Zionis