18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Masjid Badshahi, Warisan Peradaban Islam di Pakistan

Masjid Badshahi, Warisan Peradaban Islam di PakistanFiqhislam.com - Bila berkunjung ke Pakistan, kurang lengkap bila tidak berkunjung ke Kota Lahore. Lahore merupakan salah satu kota terbesar di Pakistan yang mempunyai sejarah penting bagi negara tersebut.

Terdapat beberapa situs sejarah kebesaran Islam yang bahkan sudah masuk dalam UNESCO World Heritage site. Salah satu tempat bersejarah di Lahore yang tidak boleh dilewatkan adalah Masjid Badshahi.

Masjid Badshahi yang memiliki arti Masjid Raja ini merupakan masjid terbesar kedua di Pakistan dan di Asia Selatan dan merupakan masjid ke tujuh terbesar di dunia.

Selama kurun waktu 313 tahun (1673-1986), Masjid Badshahi merupakan masjid terbesar di wilayah Pakistan, sebelum akhirnya dikalahkan dalam ukuran oleh Masjid Shah Faisal di Islamabad.

Mampu menampung 10 ribu jamaah di ruang shalat utama dan 100 ribu jamaah di halaman dan serambi, Masjid Badshahi dibangun pada 1673 oleh raja keenam Dinasti Mughal Aurangzeb Alamgir, putra dari Shah Jahan pendiri Taj Mahal.

Bangunan masjid ini menjadi landmark Kota Lahore serta tempat wisata utama yang sarat akan keindahan, hasrat, dan keagungan era Mughal.

Pekerjaan konstruksi Masjid Badshahi dilakukan di bawah pengawasan saudara angkat Aurangzeb, Muzaffar Hussain, yang ditunjuk menjadi Gubernur Lahore dan memerintah dari tahun 1671 hingga 1675. Masjid ini dibangun tidak jauh dari Benteng Lahore, yang juga menjadi simbol kejayaan Dinasti Mughal.

Masjid Badshahi merupakan masjid dengan halaman terluas di dunia. Untuk menilai ukuran besarnya, keempat menara masjid yang lebih tinggi 4,2 meter dari Taj Mahal dan podium utama Taj Mahal bisa muat di halaman masjid tersebut. Arsitektur dan desain Masjid Badshahi sangat menyerupai dengan Masjid Jami' Delhi, India, yang dibangun pada 1648 oleh Shah Jahan.

Seperti gelar Alamgir yang berarti 'Penakluk Dunia' yang tersemat pada diri Raja Aurangzeb, bangunan Masjid Badshahi memiliki karakter berani, luas, dan megah dalam berekspresi. Desainnya terinspirasi oleh arsitektur Islam, Persia, Asia Tengah, dan sedikit pengaruh India.

Tampak dari luar bangunan masjid ini didominasi oleh warna merah bata. Selain megah, masjid di lahan seluas sembilan hektare ini amat indah, bertabur ukiran dan ornamen cantik di setiap sisi tembok. Tiga kubah besar berwarna putih tampak agung. Delapan menara setinggi 60 meter terlihat gagah di berbagai sudut kompleks masjid ini.

--

Masjid Badshahi, Warisan Peradaban Islam di PakistanBangunan Masjid Badshahi dikelilingi oleh tembok yang berfungsi juga sebagai pagar pembatas antara bagian depan dengan bagian dalam kompleks masjid. Pagar tembok bagian utara masjid dibangun berdekatan dengan tepi Sungai Ravi.

Sementara pagar tembok bagian selatan dibuat simetris dengan tembok bagian utara. Keseluruhan pagar tembok ini terbuat dari material batu kapur yang memiliki lapisan pasir dari batu merah.

Di bagian depan kompleks masjid terdapat taman yang asri. Di tengahnya ada makam penyair Islam terkemuka, Allamah Muhammad Iqbal, yang tidak pernah sepi dari para peziarah.

Iqbal inilah yang mencetuskan ide pembentukan negara Islam Pakistan. Sebagai penghargaan, makamnya diukir dengan gaya arsitektur Afghan dan Moor yang dibangun dengan batu merah khusus.

Pada bagian dalam kompleks masjid, terdapat halaman yang luas. Pada awal dibangun, bagian lantai halaman masjid dihiasi dengan batu bata berukuran kecil yang disusun membentuk pola Mussalah. Pada saat renovasi besar-besaran tahun 1939-1960, batu bata tersebut diganti dengan batu merah.

Pemberi Inspirasi
Seperti lazimnya masjid di Lahore, Masjid Badshahi tidak mempunyai tempat shalat khusus untuk wanita. Memang di wilayah Lahore dan banyak tempat lainnya di Pakistan masih berlaku larangan bagi wanita untuk melakukan berbagai kegiatan di luar rumah, termasuk ke masjid.

Anak-anak tangga yang menuju ke ruang shalat utama dihiasi oleh beraneka ragam marmer. Ketika memasuki ruang shalat utama, pengunjung akan dihadapkan pada sebuah ruangan yang seakan-akan terlihat dibagi menjadi tujuh bagian dengan cara membuat lengkungan-lengkungan tembok yang dilapisi dengan kertas perak.

Keberadaan tiga lengkungan tembok pertama untuk menyanggah kubah ganda bermarmer putih. Sedang empat lainnya untuk menyanggah kubah-kubah datar.

Interior ruang shalat utama ini kaya akan dekorasi bahan plesteran, lukisan dinding, dan hiasan marmer. Sedang bagian eksteriornya dihiasi dengan ukiran dari batu marmer, serta tatahan batu pasir merah. Seluruh hiasan yang terdapat pada ruang shalat utama ini banyak mengadopsi desain arsitektur Yunani, Asia Tengah, dan India, baik dalam hal teknik dan motif.

--

Masjid Badshahi, Warisan Peradaban Islam di PakistanBagian kaki langit masjid dihiasi dengan ornamen merlon bertatahkan marmer. Sementara berbagai fitur arsitektur, seperti halaman dengan bentuk persegi, lorong-lorong, empat menara pojok, arah kiblat pada ruang shalat dan pintu gerbang yang megah, memperlihatkan kepada kita kekayaan khazanah arsitektur Islam selama ribuan tahun lalu sebelum masjid ini dibangun.

Karenanya, tak mengherankan jika bangunan Masjid Badshahi ini juga menginspirasi sejumlah bangunan masjid di berbagai tempat di dunia. Di antaranya adalah Masjid Syekh Zayed di Abu Dhabi; Masjid Sir Syed di kompleks Aligarh Muslim University, Uttar Pradesh, India; dan Taj-Ul Masajid di Bhopal, India, yang merupakan salah satu masjid terbesar di Asia.

Di dalam kompleks bangunan Masjid Badshahi juga terdapat sebuah museum kecil. Museum ini memajang berbagai benda-benda peninggalan Nabi Muhammad SAW, Khalifah Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah Az-Zahra.

Dari bangunan istal hingga gudang mesiu
Lahore merupakan kota kedua terbesar di Pakistan. Ibukota Provinsi Punjab ini juga dikenal sebagai kota budaya sejak ribuan tahun lampau.

Konon, Lahore berperan sebagai pusat budaya India bagian utara yang membentang dari Kota Peshawar di barat hingga New Delhi di timur. Kota ini juga sempat menjadi salah satu titik perdagangan jalur sutra di masa lalu.

Setelah Islam masuk ke kawasan Asia Selatan, Lahore berkembang menjadi kota tujuan bagi para penuntut ilmu untuk belajar agama. Kota ini juga menjadi saksi dari sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Mughal.

Kerajaan Mughal yang mencapai puncak kejayaan antara tahun 1524 hingga 1752, menjadikan Kota Lahore begitu cantik dengan taman, istana, dan masjid-masjid yang memiliki arsitektur khas. Sebut saja salah satunya Masjid Badshahi yang dibangun pada 1673 dan hingga kini masih berdiri megah.

Setelah Islam tidak lagi berkuasa, yang ditandai dengan berakhirnya kekuasaan Dinasti Mughal, beberapa bangunan masjid yang pernah dibangun pada masa Pemerintahan Dinasti Mughal mengalami alih fungsi menjadi gereja, pura, ataupun bangunan lainnya. Termasuk di antaranya adalah Masjid Badshahi.

--

Masjid Badshahi, Warisan Peradaban Islam di PakistanPada masa Pemerintahan Maharaja Ranjit Singh, penguasa Sikh di Punjab, bangunan Masjid Badshahi mengalami kerusakan dan alih fungsi.

Keempat kubah di atas empat menara masjid tersebut oleh orang-orang Sikh dihancurkan dan digunakan sebagai tempat untuk meluncurkan meriam.

Sementara, bangunan masjidnya dijadikan sebagai tempat untuk menaruh kuda-kuda pasukan Ranjit Singh dan juga digunakan sebagai gudang penyimpanan mesiu dan persenjataan.

Ketika Inggris menguasai India, mereka menggunakan Masjid Badshahi dan Benteng Lahore sebagai pangkalan militer. Kebencian kolonial Inggris terhadap Muslim India juga mendorong mereka untuk menghancurkan sebagian besar dinding masjid sehingga umat Islam tidak bisa menggunakan bangunan masjid ini sebagai 'benteng' anti Inggris.

Namun, dalam perkembangan berikutnya pemerintah kolonial Inggris menyerahkan bangunan Masjid Badshahi kepada masyarakat Muslim Lahore. Pihak otoritas Masjid Badshahi kemudian mengembalikan fungsi bangunan masjid tersebut sebagai tempat ibadah umat Islam.

Sejak 1852, pihak otoritas Masjid Badshahi melakukan perbaikan secara bertahap terhadap sejumlah kerusakan yang terdapat pada bangunan masjid. Perbaikan secara menyeluruh untuk mengembalikan kondisi masjid ke bentuk aslinya baru dilakukan pada 1939 hingga 1960.

Untuk keperluan perbaikan ini, otoritas Masjid Badshahi menyiapkan cetak biru (blue print) yang dibuat oleh arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur. Pengerjaan perbaikan tersebut menelan biaya sekitar 4,8 juta rupee.
 
Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam kedua yang berlangsung di Lahore pada 22 Februari 1974, Masjid Badshahi menjadi tempat diselenggarakannya shalat Jumat bagi 39 kepala negara peserta KTT Islam. Mawlana Abdul Abdul Qadir Azad, imam Masjid Badshahi, ditunjuk sebagai khatib shalat Jumat.

Pada 2000, kembali dilakukan renovasi terhadap bangunan Masjid Badshahi. Perbaikan kali ini untuk mengganti potongan keramik pada bagian utama kubah. Pada 2008 lalu, kembali dilakukan pekerjaan penggantian ubin pada bagian halaman masjid dengan menggunakan material batu merah yang diimpor langsung dari sumber aslinya di Rajasthan, India.

republika.co.id