5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Berkat Orang Jawa, Islam Berkembang di Kaledonia Baru

Berkat Orang Jawa, Islam Berkembang di Kaledonia Baru

Fiqhislam.com - Siapa yang tak pernah mendengar Suriname, tapi bagaimana dengan Kaledonia Baru.

Nama yang disebut terakhir boleh jadi masih asing bagi sebagian orang Indonesia. Padahal, seperti halnya Suriname, Kaledonia Baru juga cukup banyak dihuni oleh orangorang berdarah Jawa. Tak aneh pula bila populasi Muslim di kepulauan elok yang berada di Samudra Pasifik bagian selatan ini cukup berkembang. 

Meski demikian, bukan orang Jawa yang pertama kali membawa Islam ke Kaledonia Baru, melainkan orang Arab. Hal ini terjadi sekitar 100 tahun lalu pada masa penjajahan Prancis.

Hingga saat inipun, Kaledonia Baru masih dimiliki Prancis. Dalam bahasa Prancis, Kaledonia Baru disebut Nouvelle-Caledonie. Ada pula yang menamainya Kanaki yang diambil dari nama penduduk asli kepulauan itu. 

Lantas, bagaimana orang Jawa bisa tiba di sini?

Dulu, mereka tiba di Kaledonia Baru untuk menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan yang lebih baik di negeri asing. Ketika kontrak kerja habis, kebanyakan di antara mereka pulang ke Jawa, terutama pada rentang 1930 dan 1935 setelah terjadi malaise ekonomi pada 1929. Kondisi yang sama kembali terulang antara 1948 dan 1955 dengan jumlah yang lebih besar. 

Berkat Orang Jawa, Islam Berkembang di Kaledonia Baru

Nyatanya, tak semua orang Jawa itu pulang ke kampung halaman. Sebagian memilih tetap tinggal di Kaledonia Baru dan kemudian beranak pinak. “Para pekerja Indonesia dan keturunannya saat ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat setempat dan juga telah memberikan sum­bangsihnya terhadap pembangunan Kaledonia Baru,” kata Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Kaledonia Baru Ade Sukendar. Mereka membangun komunitas Jawa dengan menjadi warga negara Kaledonia Baru. 

Kini, jumlah orang Jawa ditaksir 7.000 orang dengan 2.000 orang di antaranya tetap berstatus warga negara Indonesia (WNI). Sementara, jumlah penduduk Kaledonia Baru kini mencapai sekitar 240 ribu jiwa. Sebanyak 25 ribu di antaranya atau lima persen dari populasi adalah Muslim. Mayoritas penduduk, yakni 75 persen, masih memeluk agama Katolik Roma, sementara penganut Protestan 15 persen dan animisme lima persen. 

Selain dari Jawa, umat Islam di Kaledonia Baru juga berasal dari negara-negara Mus lim, seperti Aljazair, Somalia, negara-negara Arab, dan Maroko. Muslim asal Aljazair dahulunya adalah tahanan politik yang dikirim ke Kaledonia Baru pada 1872. Umat Islam kebanyakan tinggal di bagian utara Kaledonia Baru.

 

Berkat Orang Jawa, Islam Berkembang di Kaledonia Baru

Fiqhislam.com - Siapa yang tak pernah mendengar Suriname, tapi bagaimana dengan Kaledonia Baru.

Nama yang disebut terakhir boleh jadi masih asing bagi sebagian orang Indonesia. Padahal, seperti halnya Suriname, Kaledonia Baru juga cukup banyak dihuni oleh orangorang berdarah Jawa. Tak aneh pula bila populasi Muslim di kepulauan elok yang berada di Samudra Pasifik bagian selatan ini cukup berkembang. 

Meski demikian, bukan orang Jawa yang pertama kali membawa Islam ke Kaledonia Baru, melainkan orang Arab. Hal ini terjadi sekitar 100 tahun lalu pada masa penjajahan Prancis.

Hingga saat inipun, Kaledonia Baru masih dimiliki Prancis. Dalam bahasa Prancis, Kaledonia Baru disebut Nouvelle-Caledonie. Ada pula yang menamainya Kanaki yang diambil dari nama penduduk asli kepulauan itu. 

Lantas, bagaimana orang Jawa bisa tiba di sini?

Dulu, mereka tiba di Kaledonia Baru untuk menjadi kuli kontrak atau mencari kehidupan yang lebih baik di negeri asing. Ketika kontrak kerja habis, kebanyakan di antara mereka pulang ke Jawa, terutama pada rentang 1930 dan 1935 setelah terjadi malaise ekonomi pada 1929. Kondisi yang sama kembali terulang antara 1948 dan 1955 dengan jumlah yang lebih besar. 

Berkat Orang Jawa, Islam Berkembang di Kaledonia Baru

Nyatanya, tak semua orang Jawa itu pulang ke kampung halaman. Sebagian memilih tetap tinggal di Kaledonia Baru dan kemudian beranak pinak. “Para pekerja Indonesia dan keturunannya saat ini telah diterima dengan baik oleh masyarakat setempat dan juga telah memberikan sum­bangsihnya terhadap pembangunan Kaledonia Baru,” kata Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Kaledonia Baru Ade Sukendar. Mereka membangun komunitas Jawa dengan menjadi warga negara Kaledonia Baru. 

Kini, jumlah orang Jawa ditaksir 7.000 orang dengan 2.000 orang di antaranya tetap berstatus warga negara Indonesia (WNI). Sementara, jumlah penduduk Kaledonia Baru kini mencapai sekitar 240 ribu jiwa. Sebanyak 25 ribu di antaranya atau lima persen dari populasi adalah Muslim. Mayoritas penduduk, yakni 75 persen, masih memeluk agama Katolik Roma, sementara penganut Protestan 15 persen dan animisme lima persen. 

Selain dari Jawa, umat Islam di Kaledonia Baru juga berasal dari negara-negara Mus lim, seperti Aljazair, Somalia, negara-negara Arab, dan Maroko. Muslim asal Aljazair dahulunya adalah tahanan politik yang dikirim ke Kaledonia Baru pada 1872. Umat Islam kebanyakan tinggal di bagian utara Kaledonia Baru.

 

Geliat Dakwah Islam di Kaledonia Baru

Geliat Dakwah Islam di Kaledonia Baru


Geliat Dakwah Islam di Kaledonia Baru


Fiqhislam.com - Tanpa perlu gembar-gembor, Kaledonia Baru rupanya tak pernah sepi dari kegiatan dakwah Islam. Upaya untuk mengokohkan dan mengembangkan Islam itu dilakukan oleh sejumlah organisasi Islam, utamanya dari negara-negara Arab dan Malaysia. Mereka sangat aktif melakukan promosi Islam ke wilayah ini.

Dari upaya yang mereka lakukan, Muslim di Kaledonia Baru kini tak hanya berasal dari kaum imigran, tetapi juga dari masyarakat lokal. Banyaknya masyarakat lokal yang beralih keyakinan menjadi Muslim salah satunya disebabkan oleh mudahnya proses perpindahan agama menjadi Islam. Tak dikenakan bayaran ataupun diminta melakukan ibadah tertentu yang tidak masuk akal.

Muslim di Kaledonia Ba ru diwadahi oleh New Cale donia Muslim Association (Asso ciation des Musulmans de Nouvelle Caledonie). Lembaga ini dibangun pada 1975 dan merupakan lembaga Muslim pertama yang dibangun di wila yah ini. Umat Islam di Kaledonia Baru juga termasuk dalam komunitas Muslim di wilayah Pasifik bersama Kepulauan Fiji, Papua Nugini, Solomon, Vanuatu, dan Pulau Palau.

Organisasi-organisasi Islam dunia juga secara aktif menyumbangkan dana untuk penyebaran Islam di Kaledonia Baru meskipun sebenarnya wilayah itu tidak miskin. Perekonomian Kaledonia Ba ru mengandalkan tam bang ni kel, bantuan dari Pemerintah Prancis, serta industri pari wi sata yang menjadikan pen ­dapatan per ka pita wilayah ini sebesar 35 ribu dolar AS pada 2008 atau masuk dalam perekonomian maju di daerah Samudra Pasifik.

Jamaah Tabligh dari Aus tralia juga aktif berdak wah ke kepulauan ini. Saat ini, Ja maah Tabligh Aus tralia me mang tak hanya meng arah kan sasaran dakwahnya ke Mel bourne, Sydney, Perth, Darwin, dan kota-kota lain di Australia, tapi juga meluas ke kepulauan Pasifik Selatan, seperti Vanuatu, Samoa, Fiji, Kaledonia Baru, bahkan juga ke Cina, Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara. Kebanyakan aktivis Tabligh di Australia adalah keturunan kaum imigran. Dan, mereka akan menjadi pasukan dakwah yang ‘kuat’ secara psikologis bila dikirimkan ke negeri nenek moyangnya.

Kebanyakan pendakwah asal Australia menggunakan bahasa Inggris sebagai peng antar utama. Hal ini sebenarnya sangat baik karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Sayangnya, fakta ini malah menjadi kelemahan tersendiri dalam penyampaian dakwah di Kaledonia Baru. Sebab, kebanyakan orang Kale donia Baru berbahasa Prancis, Arab, ataupun Indonesia. Ken dala bahasa ini membuat ko munitas Muslim di negeri tetangga, seperti Australia dan Fiji, kesulitan mentransfer ajaran Islam kepada saudara-saudara seiman mereka di Kaledonia Baru.

***

Sebuah pusat kegiatan keislaman (Islamic centre) telah dibangun di Noumea, ibu kota Kaledonia Baru, dan rencananya akan dibangun Islamic centre yang lain.

Pusat Islam Noumea merupakan tempat utama penyelenggaraan ibadah Islam di Kaledonia Baru. Lembaga ini menye leng garakan perayaan harihari besar Islam, seperti Idul Fitri, Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan lainnya. Lembaga ini dan Konsulat Jenderal RI juga selalu menghidupkan malam-malam pada Ramadhan dengan menggelar shalat tarawih dan tausiah agama.

Ketua Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru (PMIK) Djintar Tambunan menyatakan, khusus bagi penduduk yang berasal dari Jawa, aktivitas ke agamaan dan adat masih terus dilaksanakan meski pun jauh dari kampung halaman.

“Masih ada sunatan, pernikahan, atau upacara kematian yang tetap dilakukan hing ga saat ini, termasuk yang dila kukan di Wisma Indonesia untuk memperkenalkan dan meneruskan kebudayaan Indonesia,” kata Djintar.

Pusat Islam di Noumea juga menyediakan informasi tentang kebutuhan makanan halal bagi Muslim. Sebenarnya, tak sulit menemukan restoran halal di Kaledonia Baru. Sebab, sejumlah Muslim asal Jawa dan Arab membuka restoran halal, kebanyakan di sekitar Islamic centre. [yy/republika]