5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Pemerintahan Ottoman Tegakkan Islam di Albania

Pemerintahan Ottoman Tegakkan Islam di Albania


Fiqhislam.com - Islam ditegakkan di Albania di bawah pemerintahan Ottoman yang berlangsung lebih dari 400 tahun, dari akhir abad ke-15 hingga 1912, ketika Albania menyatakan kemerdekaannya.

Menurut buku Denyut Islam di Eropa, kematian Skanderberg mendorong Islamisasi secara menyeluruh di Albania. Untuk menjamin kelangsungan masyarakatnya, Ottoman menerapkan hukum Islam di seluruh Albania dan Balkan.

Khusus pada periode ini, sejarawan H Abiva dalam artikel Albania: Freedom Unconsidered menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti kuat Ottoman melakukan konversi paksa terhadap penduduk taklukannya.

Ini diperkuat oleh sejumlah teks sejarah yang dianalisis sejarawan Barat, TW Arnold. Menurut Abiva, konversi terjadi secara alamiah karena Islam dianggap menawarkan praktik ritual yang tidak pelik dan rumit. Islam menempatkan pemeluknya sebagai individu yang bisa memohon kepada Allah secara langsung, atau tanpa melalui perantara petinggi agama.

Perang Balkan (1912-1913) memaksa Ottoman mundur dari semua wilayah jajahannya di daratan Eropa, kecuali Thracia Barat, Yunani. Albania tertinggal sendirian dengan statusnya sebagai satu-satunya negara Islam di pinggir peradaban Eropa. Dalam situasi kritis, pemimpin Albania saat itu, Ismail Kemal Bey, meminta kekuatan-kekuatan besar Eropa Barat menjamin integritas wilayah Albania.

Harga yang harus dibayar masyarakat Islam Albania cukup mahal. William of Wied, pangeran katolik didaulat sebagai Raja Albania Selepas Perang Balkan, Perang Dunia I melenyapkan harapan Albania untuk menjadi negara stabil di bawah prinsip-prinsip Islam.

Ahmet Bey Zogoli menggulingkan Uskup Ortodox yang ditempatkan sekutu untuk memerintah Albania. Ia memproklamirkan diri menjadi raja. King Zog menanggalkan hukum Islam dan menggantinya dengan hukum lokal (swiss civil code).

Sekularisme Zog tidak hanya disambut baik masyarakat Katolik, Ortodoks, dan Bektashi, tapi menjadi lahan subur tumbuhnya komunisme. Perlahan tapi pasti, masyarakat Islam yang kehilangan keistimewaan warisan Ottoman mulai terserap ke dalam komunisme. Ulama kehilangan pengaruh dan gagal mengorganisasi dirinya. [yy/republika]

Pemerintahan Ottoman Tegakkan Islam di Albania


Fiqhislam.com - Islam ditegakkan di Albania di bawah pemerintahan Ottoman yang berlangsung lebih dari 400 tahun, dari akhir abad ke-15 hingga 1912, ketika Albania menyatakan kemerdekaannya.

Menurut buku Denyut Islam di Eropa, kematian Skanderberg mendorong Islamisasi secara menyeluruh di Albania. Untuk menjamin kelangsungan masyarakatnya, Ottoman menerapkan hukum Islam di seluruh Albania dan Balkan.

Khusus pada periode ini, sejarawan H Abiva dalam artikel Albania: Freedom Unconsidered menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti kuat Ottoman melakukan konversi paksa terhadap penduduk taklukannya.

Ini diperkuat oleh sejumlah teks sejarah yang dianalisis sejarawan Barat, TW Arnold. Menurut Abiva, konversi terjadi secara alamiah karena Islam dianggap menawarkan praktik ritual yang tidak pelik dan rumit. Islam menempatkan pemeluknya sebagai individu yang bisa memohon kepada Allah secara langsung, atau tanpa melalui perantara petinggi agama.

Perang Balkan (1912-1913) memaksa Ottoman mundur dari semua wilayah jajahannya di daratan Eropa, kecuali Thracia Barat, Yunani. Albania tertinggal sendirian dengan statusnya sebagai satu-satunya negara Islam di pinggir peradaban Eropa. Dalam situasi kritis, pemimpin Albania saat itu, Ismail Kemal Bey, meminta kekuatan-kekuatan besar Eropa Barat menjamin integritas wilayah Albania.

Harga yang harus dibayar masyarakat Islam Albania cukup mahal. William of Wied, pangeran katolik didaulat sebagai Raja Albania Selepas Perang Balkan, Perang Dunia I melenyapkan harapan Albania untuk menjadi negara stabil di bawah prinsip-prinsip Islam.

Ahmet Bey Zogoli menggulingkan Uskup Ortodox yang ditempatkan sekutu untuk memerintah Albania. Ia memproklamirkan diri menjadi raja. King Zog menanggalkan hukum Islam dan menggantinya dengan hukum lokal (swiss civil code).

Sekularisme Zog tidak hanya disambut baik masyarakat Katolik, Ortodoks, dan Bektashi, tapi menjadi lahan subur tumbuhnya komunisme. Perlahan tapi pasti, masyarakat Islam yang kehilangan keistimewaan warisan Ottoman mulai terserap ke dalam komunisme. Ulama kehilangan pengaruh dan gagal mengorganisasi dirinya. [yy/republika]

Muslim Albania di Era Komunis

Muslim Albania di Era Komunis


Muslim Albania di Era Komunis


Fiqhislam.com - Albania, negara republik di Semenanjung Balkan bagian tenggara benua Eropa ini, mencatatkan sejarah panjang dalam toleransi beragama.

Tiga agama besar hidup dan berkembang dengan harmonis secara berdampingan di negara yang berbatasan dengan Montenegro di bagian utara, dengan Serbia (Kosovo) di bagian timur laut ini.

Islam adalah agama mayoritas di negara dengan populasi yang berjumlah 3,5 juta ini. Agama Albania Ortodoks dan Katolik Roma masing-masing menempati tempat kedua dan ketiga.

Mayoritas Muslim di Albania bermazhab Suni dan Bektashi, warisan dari pemerintahan Ottoman. Setelah runtuhnya rezim komunis di Albania, identitas nasional Albania dibangun sebagai negara beragama dan berdasarkan kebangsaan serta kesatuan.

Pada paruh abad ke-20, Albania sempat dikuasi komunis di bawah Rezim Stalinis. Sehingga, negara tersebut pernah menjadi ateis. Ketika komunisme runtuh, badan amal Islam datang dari luar negeri, seperti Semenanjung Arab dan Afrika utara-timur. Mereka datang untuk membantu komunitas Muslim.

Enver Hoxha, pemimpin komunis garis keras yang memerintah Albania memberlakukan larangan agama. Dan pada 1976, Albania sebagai negara ateis pertama yang dideklarasikan di dunia.

Semua bentuk ibadah dilarang. Beberapa orang mempraktikkan agama mereka secara rahasia. Larangan agama dicabut pada 1990 ketika komunisme runtuh.

Menurut Amila Buturovic dalam European Islam pada 1990 gereja Katolik dan masjid di Shkoder menjadi bangunan keagamaan pertama yang dibuka kembali. Daerah yang dikenal dengan kantong komunitas Muslim pun mulai memperlihatkan kembali identitas keagamannya.

Muslim Albania juga menunjukkan dukungan yang kuat terhadap demokrasi dan lembaga-lembaganya, termasuk organisasi keagamaan resmi. Dalam konteks ini, Muslim Albania juga telah mendukung sistem sekuler yang diterapkan negara.

Pada 1990-an, Muslim Albania fokus kepada pemulihan lembaga, bangunan keagamaan, dan Islam sebagai agama di Albania yang secara keseluruhan telah hancur oleh komunis.

Sebagian besar Muslim di Albania adalah etnis Albania. Namun, juga terdapat etnis kecil yang bukan Albania. Salah satunya masyarakat Romani. Muslim dari masyarakat Romani diperkirakan berjumlah 50 ribu hingga 95 ribu di seluruh Albania Mereka tinggal di kota-kota besar membentuk populasi minoritas yang signifikan.

Masyarakat Romani sering kurang beruntung secara ekonomi dan sering menghadapi diskriminasi sosial-politik. Dalam komunitas Romani ada dua kelompok utama, yaitu Romani yang berbicara bahasa Romani dan orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai orang Mesir, yang menganggap mereka terpisah dari Romani, berbicara Albania dan agak terintegrasi di Albania.

Komunitas Suni Albania (the Alba niaan Sunni Community) adalah salah satu komunitas Muslim yang terus menjalin komunikasi dengan Muslim Albania. Hubungan ini secara lokal menguntungkan karena mereka telah memobilisasi sumber pendanaan dari beberapa organisasi Muslim internasional seperti OKI. [yy/republika]

 

Tags: albania | ottoman