5 Dzulhijjah 1443  |  Selasa 05 Juli 2022

basmalah.png

Sejarah Panjang Islam di Liberia

Sejarah Panjang Islam di Liberia

Fiqhislam.com - Untuk sampai pada kondisi yang cukup baik saat ini, Islam di Liberia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Islam pertama kali hadir di Liberia dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan Islam di negara-negara Afrika Barat lain seperti Guinea, Guinea-Bissau, Sierra Leone, dan Pantai Gading.

Di abad ke-10, banyak Muslimin bergerak menuju Sahara dari Maroko. Perjalanan mereka murni ditujukan untuk mendakwahkan Islam kepada masyarakat pagan. Salah seorang dari mereka yang terkenal adalah Syekh Andullah Ibnu Yassin. Kala itu, ia berhasil mengenalkan Islam kepada Raja Senegal. Kerajaan-kerajaan sekitarnya yang dipimpin Mandingo, Fullani, dan Soninki pun kemudian mengikuti jalan hidayah Raja Senegal, yakni memeluk agama Islam.

Suku-suku Mandingo tersebar luas di Afrika Barat. Pergerakan mereka bahkan hingga ke kawasan selatan. Wilayah yang menjadi kekuasaan mereka mencakup Guinea, Guinea-Bissau, Sierra Leone, Liberia dan Mali. Di masa lalu, para pedagang Mandingo dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Mereka bahkan mendirikan pusat-pusat Islam di dataran tinggi Fouta Djallon, kawasan utara Liberia, hingga menyebarkan Islam ke Ghana.

Selain Mandingo, suku Fullani pun membuat koloni Muslim di dataran tinggi Sjallon, dekat Liberia. Di sana mereka mengajarkan Alquran dan menyebarkan ajaran Islam. Berkat mereka, kerajaan-kerajaan Islam pun sempat berdiri di selatan Guinea dan bagian utara Liberia.

Sejarah panjang Islam ini mulai goyah ketika era kolonial muncul. Pada tahun 1822, Amerika Serikat (AS) memulangkan budak kulit hitam ke Liberia. Para budak inilah yang mendeklarasikan pendirian negara Liberia pada 1847. Disokong oleh kekuatan Amerika, para bekas budak ini memperluas kekuasaan mereka dengan mengalahkan suku-suku di Liberia, baik suku pagan maupun suku Mandingo Muslim. Hingga kemudian, mereka berhasil mendirikan Negara Liberia dengan gaya demokrasi AS. Agama Kristen pun ambil bagian dalam proses kemerdekaan tersebut. Bahkan, hingga tahun 1980, seluruh presiden Liberia merupakan seorang uskup. Tak mengherankan jika agama Kristen lebih mendominasi Liberia ketimbang Islam.

Sejak itu, kondisi Muslim Liberia terus terdesak. Barulah di era pemerintahan Presiden William Tubman (1941-1971) dibuat kebijakan baru untuk Muslim. Untuk pertama kalinya, Muslimin mendapat hak suara dalam pemilihan umum serta punya hak untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Pada 1960, berdirilah Kongres Muslim Liberia. Kondisi Muslim di negeri ini pun berangsur baik.

 

Sejarah Panjang Islam di Liberia

Fiqhislam.com - Untuk sampai pada kondisi yang cukup baik saat ini, Islam di Liberia telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Islam pertama kali hadir di Liberia dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan Islam di negara-negara Afrika Barat lain seperti Guinea, Guinea-Bissau, Sierra Leone, dan Pantai Gading.

Di abad ke-10, banyak Muslimin bergerak menuju Sahara dari Maroko. Perjalanan mereka murni ditujukan untuk mendakwahkan Islam kepada masyarakat pagan. Salah seorang dari mereka yang terkenal adalah Syekh Andullah Ibnu Yassin. Kala itu, ia berhasil mengenalkan Islam kepada Raja Senegal. Kerajaan-kerajaan sekitarnya yang dipimpin Mandingo, Fullani, dan Soninki pun kemudian mengikuti jalan hidayah Raja Senegal, yakni memeluk agama Islam.

Suku-suku Mandingo tersebar luas di Afrika Barat. Pergerakan mereka bahkan hingga ke kawasan selatan. Wilayah yang menjadi kekuasaan mereka mencakup Guinea, Guinea-Bissau, Sierra Leone, Liberia dan Mali. Di masa lalu, para pedagang Mandingo dikenal sebagai penganut Islam yang taat. Mereka bahkan mendirikan pusat-pusat Islam di dataran tinggi Fouta Djallon, kawasan utara Liberia, hingga menyebarkan Islam ke Ghana.

Selain Mandingo, suku Fullani pun membuat koloni Muslim di dataran tinggi Sjallon, dekat Liberia. Di sana mereka mengajarkan Alquran dan menyebarkan ajaran Islam. Berkat mereka, kerajaan-kerajaan Islam pun sempat berdiri di selatan Guinea dan bagian utara Liberia.

Sejarah panjang Islam ini mulai goyah ketika era kolonial muncul. Pada tahun 1822, Amerika Serikat (AS) memulangkan budak kulit hitam ke Liberia. Para budak inilah yang mendeklarasikan pendirian negara Liberia pada 1847. Disokong oleh kekuatan Amerika, para bekas budak ini memperluas kekuasaan mereka dengan mengalahkan suku-suku di Liberia, baik suku pagan maupun suku Mandingo Muslim. Hingga kemudian, mereka berhasil mendirikan Negara Liberia dengan gaya demokrasi AS. Agama Kristen pun ambil bagian dalam proses kemerdekaan tersebut. Bahkan, hingga tahun 1980, seluruh presiden Liberia merupakan seorang uskup. Tak mengherankan jika agama Kristen lebih mendominasi Liberia ketimbang Islam.

Sejak itu, kondisi Muslim Liberia terus terdesak. Barulah di era pemerintahan Presiden William Tubman (1941-1971) dibuat kebijakan baru untuk Muslim. Untuk pertama kalinya, Muslimin mendapat hak suara dalam pemilihan umum serta punya hak untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Pada 1960, berdirilah Kongres Muslim Liberia. Kondisi Muslim di negeri ini pun berangsur baik.

 

Islam Tumbuh Subur di Republik Liberia

Islam Tumbuh Subur di Republik Liberia


Islam Tumbuh Subur di Republik Liberia


Fiqhislam.com - Liberia, sebuah negara di subsahara Afrika, dihuni beragam etnis yang hidup damai berdampingan. Meski perang saudara pernah melanda, negara di pesisir barat Benua Afrika tersebut mampu berdiri dan berbenah menjadi negara modern. Umat Islam pun menjadi bagian dari negara kaya budaya tersebut.

Saat ini, jumlah Muslimin memang minoritas. Namun, Islam tumbuh subur di Republik Liberia. Secara kuantitas, jumlah penganut Islam berada di peringkat ketiga setelah agama tradisional dan Kristen. Berdasarkan kajian lembaga riset Pew Forum on Religion and Public Life, jumlah Muslimin Liberia sekitar 483 ribu atau sekitar 12,2 persen dari total populasi. Namun, menurut International Religious Freedom Report USA, jumlah Muslimin mencapai 20 persen dari total penduduk 3,5 juta jiwa.

Penganut Islam di Liberia pun amat beragam. Tak hanya Muslim Sunni, ada juga penganut Syiah dan Ahmadiyah. Etnis Liberia yang banyak memeluk agama Islam di antaranya etnis Vai, Mandingo, Gbandi, dan Kpelle. Keragaman Islam di Liberia amat tergantung dari wilayah tempat tinggal.

Sebagaimana di Indonesia, warga pedesaan cenderung menerapkan Islam konservatif. Sedangkan, di kawasan perkotaan yang modern, Muslim cenderung sekuler. Islam di Liberia pun dipengaruhi keberadaan Islam di negara-negara tetangga seperti Mali, Senegal, Gambia, dan lain sebagainya.

Meski berada dalam posisi minoritas, Muslim Liberia dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan bebas tanpa hambatan. Tak hanya masjid yang mereka miliki, fasilitas lain juga mereka peroleh seperti sekolah dan universitas Islam.

 

Muslim Liberia Rayakan Hari Raya dengan Leluasa

Muslim Liberia Rayakan Hari Raya dengan Leluasa


Muslim Liberia Rayakan Hari Raya dengan Leluasa


Fiqhislam.com - Setiap tahunnya, tak sedikit Muslim Liberia yang pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Patut dicatat, banyak bantuan dari negara-negara Islam untuk warga Muslim Liberia agar mereka dapat menunaikan Rukun kelima Islam. Di jaringan televisi nasional pun, program-program keislaman mendapat hak untuk disiarkan.

Muslim Liberia juga dapat merayakan hari raya dengan leluasa dan gembira. Terlebih, pemerintah menetapkan hari raya umat Islam sebagai hari libur nasional. Khusus untuk hari raya, Muslim Liberia memiliki keunikan sendiri: Hari al-Tabaski, demikian sebutan untuk perayaan hari besar Islam, baik Idul Fitri, Ramadhan, dan Idul Adha. Selama bulan Ramadhan, Muslimin Liberia umumnya enggan mendengarkan musik-musik modern.

Mereka berpendapat, mendengarkan musik di bulan suci merupakan kegiatan yang menyimpang dari ruh keberkahan bulan Ramadhan. Karena itu, setiap Ramadhan tiba, mereka beralih ke tembang-tembang religi seperti nasyid yang berisi puji-pujian kepada Allah. Alat musik yang dimainkan pun terbuat dari kayu.

Seiring dengan kehidupan Muslim Liberia yang damai, jumlah masjid pun bisa dibilang cukup banyak. Masjid-masjid itu beberapa di antaranya tergolong megah, tersebar di berbagai penjuru negeri. Arsitektur khas Liberia berpadu dengan gaya Arab membuat masjid-masjid di sana begitu memesona. Sayangnya, beberapa masjid rusak parah saat perang saudara mengoyak negara ini. Beruntung, upaya perbaikan segera digalakkan setelah perang usai.

Saat ini, belum terdapat wakil Islam yang duduk di kursi pemerintahan. Namun, upaya ke arah itu sedang dilakukan mengingat Islam merupakan salah satu agama besar di negara yang pernah menjadi sekutu Libya tersebut. Hanya saja, ketegangan antarumat beragama masih sering terjadi dan memicu konflik sosial. [yy/republika]