18 Muharram 1444  |  Selasa 16 Agustus 2022

basmalah.png

Akar Kuat Sejarah Islam di Swedia

Akar Kuat Sejarah Islam di Swedia

Fiqhislam.com - Sejarah Islam di Swedia memiliki akar yang cukup kuat. Eksistensi risalah samawi di negara monarki tersebut berawal pada abad ke-18. Ketika itu, negara yang berbatasan dengan Norwegia di sebelah barat itu bersekutu dengan Kekhalifahan Ottoman.

Persekutuan ini nembuat Raja Swedia Carl XII berada di bawah bayang-bayang perlindungan Dinasti Ottoman. Faktor kedekatan itulah yang menjadi modal mendasar, mengapa negara yang ibu kotanya berada di Stockholm itu memberikan kebebasan beragama kepada umat Islam meski Muslim adalah minoritas.

Puncaknya pada 1970, ketika Swedia membuka pintu untuk para imigran, banyak Muslim berbondong-bondong datang ke negara yang bergabung dengan Uni Eropa pada 1995 itu. Swedia yang termasuk negara maju menampung imigran dari Timur Tengah, terutama Iran dan Irak.

Selain para imigran dari Timur Tengah, kelompok Muslim terbesar kedua yang datang ke negara yang pernah didaulat menjadi salah satu wilayah termiskin di Eropa pada abad ke-19, terdiri dari imigran Yugoslavia yang didominasi oleh para pengungsi. Dari sebagian mereka terdapat pula orang-orang Bosnia.

Gejolak kedatangan imigran Muslim itu mendorong pertumbuhan jumlah Muslim yang sangat signifikan di negara padat penduduk itu. Menempati urutan ke-155 dalam jajaran negara yang mempunyai kepadatan penduduk di dunia, Islam berkembang di Swedia. Sebuah sensus menunjukkan, pada 2000, Muslim Swedia berjumlah 300 ribu atau 3,5 persen dari populasi penduduk yang berjumlah sembilan juta jiwa.

Sekitar 100 ribu dari jumlah Muslim merupakan peranakan yang lahir di negara yang mempunyai luas wilayah 440 ribu km persegi itu. Umat Islam tidak hanya didominasi oleh para imigran Muslim, banyak warga asli Swedia yang memeluk Islam.

Tercatat, pada 2009 jumlah Muslim menjadi 500 ribu jiwa atau sekitar lima persen dari total jumlah penduduk. Sebanyak 5.000 di antaranya orang Swedia asli. Bahkan, nama “Muhammad” menjadi sangat merakyat, banyak berdiri sekolah-sekolah Muslim. [yy/republika]

 

Akar Kuat Sejarah Islam di Swedia

Fiqhislam.com - Sejarah Islam di Swedia memiliki akar yang cukup kuat. Eksistensi risalah samawi di negara monarki tersebut berawal pada abad ke-18. Ketika itu, negara yang berbatasan dengan Norwegia di sebelah barat itu bersekutu dengan Kekhalifahan Ottoman.

Persekutuan ini nembuat Raja Swedia Carl XII berada di bawah bayang-bayang perlindungan Dinasti Ottoman. Faktor kedekatan itulah yang menjadi modal mendasar, mengapa negara yang ibu kotanya berada di Stockholm itu memberikan kebebasan beragama kepada umat Islam meski Muslim adalah minoritas.

Puncaknya pada 1970, ketika Swedia membuka pintu untuk para imigran, banyak Muslim berbondong-bondong datang ke negara yang bergabung dengan Uni Eropa pada 1995 itu. Swedia yang termasuk negara maju menampung imigran dari Timur Tengah, terutama Iran dan Irak.

Selain para imigran dari Timur Tengah, kelompok Muslim terbesar kedua yang datang ke negara yang pernah didaulat menjadi salah satu wilayah termiskin di Eropa pada abad ke-19, terdiri dari imigran Yugoslavia yang didominasi oleh para pengungsi. Dari sebagian mereka terdapat pula orang-orang Bosnia.

Gejolak kedatangan imigran Muslim itu mendorong pertumbuhan jumlah Muslim yang sangat signifikan di negara padat penduduk itu. Menempati urutan ke-155 dalam jajaran negara yang mempunyai kepadatan penduduk di dunia, Islam berkembang di Swedia. Sebuah sensus menunjukkan, pada 2000, Muslim Swedia berjumlah 300 ribu atau 3,5 persen dari populasi penduduk yang berjumlah sembilan juta jiwa.

Sekitar 100 ribu dari jumlah Muslim merupakan peranakan yang lahir di negara yang mempunyai luas wilayah 440 ribu km persegi itu. Umat Islam tidak hanya didominasi oleh para imigran Muslim, banyak warga asli Swedia yang memeluk Islam.

Tercatat, pada 2009 jumlah Muslim menjadi 500 ribu jiwa atau sekitar lima persen dari total jumlah penduduk. Sebanyak 5.000 di antaranya orang Swedia asli. Bahkan, nama “Muhammad” menjadi sangat merakyat, banyak berdiri sekolah-sekolah Muslim. [yy/republika]

 

Swedia Izinkan Azan Berkumandang dengan Pengeras Suara

Swedia Izinkan Azan Berkumandang dengan Pengeras Suara


Umat Islam membangun masjid pertama pada 1976 di negara yang mempunyai aset alam terkenal, seperti kayu dan bijih besi ini. Saat itu, untuk ukuran negara-negara di Eropa, pembangunan tempat ibadah ini merupakan sesuatu yang luar biasa.

Masjid pertama di negara penghasil mobil Volvo itu adalah Masjid Nasir Ahmadiyah di Gothenburg. Kemudian dibangun Masjid Malmö (1984) dan Masjid Uppsala (1995). Lalu di era 2000-an berdiri Masjid Stockholm (2000), Masjid Umeå (2006), dan Masjid Fittja (2007).

Hingga pada 26 April 2013 tercatat sebuah peristiwa bersejarah untuk Muslim Swedia. Untuk kali pertama, Pemerintah Swedia memperbolehkan pengumandangan azan melalui pengeras suara. Peristiwa itu merupakan satu momentum yang paling berkesan.

Masjid Fittja merupakan satu-satunya yang mendapat izin mengumandangkan azan dengan pengeras suara. Ketua Islamic Cener Botkyrka, Ismail Okur, menjelaskan, peristiwa ini adalah buah dari perjuangan panjang komunitas Muslim Swedia. Detik-detik tersebut juga berarti, Islam dan Muslim diakui Pemerintah Swedia.

 

Muslim Swedia Lawan Islamofobia

Muslim Swedia Lawan Islamofobia


Kehidupan Muslim di Swedia cukup dinamis. Pemandangan praktik keagamaan mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari. Ini, antara lain, terlihat dari animo warga Swedia yang mulai beralih mengonsumsi makanan halal.

Apalagi pada 2009, Muslim Swedia membentuk Dewan Fatwa, Svenska Fatwaraadet. Lembaga ini akan membantu Muslim Swedia tentang bagaimana hidup sesuai ajaran Islam. Termasuk menentukan fatwa halal atau haram perkara tertentu, pernikahan dan perceraian, serta permasalahan ekonomi dan lain-lain.

Sayangnya, tidak semua pihak berkenan dengan pertumbuhan Muslim di Swedia. Kalangan nasionalis banyak yang masih mendiskreditkan Islam, terutama melalui media massa. Tak sedikit pula di antara mereka yang membuat propaganda-propaganda anti-Islam dan anti-Muslim.

Bahkan, kebencian oknum terhadap Islam dan Muslim itu diperlihatkan secara nyata. Seperti insiden pelemparan Masjid Fittja pada 20 November 2013, tak lama setelah masjid ini mengantongi izin mengumandangkan azan, kepolisian setempat menyimpulkan insiden ini merupakan serangan Islamofobia yang berbentuk aksi vandalisme.

Meski demikian, perjuangan Muslim Swedia tak bisa berhenti begitu saja. Mereka masih harus bekerja keras untuk meluruskan kesalahpahaman tentang Islam dan Muslim.

Serangan bom bunuh diri yang pernah terjadi di Stockholm pada Desember 2010, itu satu dari sekian peristiwa yang turut mencoreng citra Islam. Berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan citra positif Islam dan Muslim.

Kepala Asosiasi Islam Swedia (Islamiska förbundet i Sverige, IfiS), Omar Mustafa, pernah menyampaikan khutbah saat shalat Jumat di Masjid Södermalm, di Stockholm. Salah satu kutipan pernyataannya berbunyi demikian, "Swedia adalah negara kami, apa yang membuat Swedia bahagia, akan membahagiakan kami. Apa yang melukai Swedia, akan melukai kami pula."

Faktanya, Islamofobia merupakan persoalan yang harus segera dituntaskan bersama oleh umat Muslim. Meningkatnya eskalasi serangan Islamofobia terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Tentu, ini jadi satu pekerjaaan rumah yang harus segera diselesaikan Muslim Swedia.  [yy/republika]