18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Masjid Karakol Kirgistan, Mirip Kuil di Tibet

Masjid Karakol Kirgistan, Mirip Kuil di Tibet


Fiqhislam.com - Sebuah bangunan masjid mirip kuil Buddha masih berdiri tegak di salah satu sudut Kota Karakol, Kirgistan. Masjid Karakol merupakan satu dari banyak masjid di kawasan perbatasan Asia Tengah dan Cina yang mengadopsi struktur bangunan masjid yang berbeda daripada model bangunan masjid umumnya.

Secara sekilas, bangunan masjid ini memang sangat mirip dengan kuil Buddha di Tibet atau gaya bangunan tradisional lain di dataran Cina.

Layaknya masjid di wilayah Xinjiang dan kawasan etnis Muslim Hui di Tiongkok, masjid ini tidak memiliki kubah dan minaret yang menjulang tinggi. Namun, bila diperhatikan dari dalam, terlihat jelas fungsional sebuah bangunan masjid dari hamparan permadani dan sajadah yang menghadap arah kiblat serta gantungan lafaz Allah SWT dan Muhammad SAW.

Keberadaan Masjid Karakol tidak lepas dari peran kelompok etnis Dungan yang tinggal di Kota Karakol. Sebuah kota kurang lebih 398 kilometer arah timur Kota Bishkek, ibu kota Kirgistan.

Istilah Dungan merupakan sebutan yang dialamatkan kepada keturunan Muslim Hui yang tinggal di kawasan bekas negara Uni Soviet. Sebagian Muslim Hui memilih untuk bermigrasi pada 1820-1880 karena persaingan etnis dengan mayoritas Han di Cina.

Mereka akhirnya memilih menetap di negara-negara Asia Tengah yang dulu menjadi bagian dari Uni Soviet. Percampuran etnis asal Cina dan Asia Tengah itulah yang kini menjadi identitas Muslim Dungan, dengan bahasa dan tulisan tidak lagi hanya Mandarin, namun juga menggunakan alfabet silirik khas Russia.

Ciri Khas Masjid Karakol


Ciri Khas Masjid Karakol


Masjid Karakol didirikan pada 1907 dan diresmikan pada 10 Mei 1910. Masjid ini dirancang oleh seorang arsitek asal Cina bernama Chou Seu. Ia melibatkan lebih dari 30 pengrajin kayu dan batu untuk menyempurnakan struktur dan dekorasi masjid.

Luas keseluruhan masjid 24 x 15 meter, dengan ketinggian bangunan 4,15 meter. Garis etnis yang masih mengakar dengan Muslim Hui menjadikan gaya masjid ini sangat kental dengan arsitektur Cina. Secara keseluruhan, pembangunan masjid membutuhkan waktu selama tiga tahun.

Struktur masjid sebagian besar terbuat dari kayu, terutama pada bagian atap dan pilar/kolom-kolomnya. Uniknya pengikat antarstruktur kayu itu tidak menggunakan paku sama sekali. Sedangkan pada bagian dinding, sepenuhnya menggunakan batu bata merah yang dibakar.

Salah satu yang cukup mengagumkan dari sisi arsitektur pada bangunan masjid ini adalah bagian dari ukiran kayu pada langit-langit dan persilangan kolomnya. Pada awalnya semua bagian utama dari struktur dipilih dari berbagai kayu terbaik, mulai dari cemara, poplar, elm, dan spesies asli lain kayu disiapkan.

Sedangkan pada bagian ukiran menggunakan kayu pohon kenari. Dekorasi pada ukiran langit-langit masjid ini dikerjakan sangat detail dan halus. Dari struktur ukiran kayunya yang dihias dengan berbagai warna, mencitrakan campuran ekletik bukti akulturasi masa lalu Buddha pra-Islam di dalamnya. Ini terlihat dari adanya simbol khas Buddha, seperti buah delima, roda api, dan beberapa pola ukir bahkan seperti gambaran hewan mitologi, seperti burung poenix dan naga.

Ciri khas masjid ini adalah jumlah kolomnya yang cukup banyak, setidaknya total terdapat 42 kolom yang terdiri dari 30 kolom sebagai penyangga pada bagian luar masjid dan 12 kolom pada bagian dalam masjid. Warna tradisional merah, hijau, dan kuning memberikan kecerahan ke bentuk asli bangunan. Walaupun tidak memiliki minaret seperti masjid pada umumnya, masjid ini memiliki sebuah pagoda kecil dari kayu yang menggantikan fungsi minaret sebagai tempat pengumandang azan.

Dimasa Uni Soviet, Masjid Karakol Jadi Gudang Penyimpanan


Seperti banyak bangunan keagamaan di era Uni Soviet, Masjid Karakol atau Masjid Dungan merupakan satu dari banyak masjid di Asia Tengah yang mengalami penutupan. Pada era komunis Uni Soviet saat itu masa kelam juga dirasakan Muslim Dungan.

Masjid ini dipaksa ditutup oleh gerakan Bolshevik dari 1929 sampai 1943. Berbeda dengan beberapa masjid lain yang dibiarkan hingga mengalami rusak parah, sejak 1943 Masjid Karakol ini pun dialihfungsikan sebagai gudang penyimpanan.

Hal ini membuat masjid terhindar dari kehancuran di era gerakan Bolshevik Soviet. Walau demikian, masjid ini pernah mengalami kerusakan pada struktur atapnya hingga diperbaiki kembali. Pada 1947, bangunan Masjid Karakol ini diserahkan kembali kepada komunitas Muslim Dungan.

Sejak saat itu masjid kembali difungsikan sebagai tempat ibadah hingga hari ini. Kini setiap hari bukan hanya etnis Dungan yang menggunakan masjid ini, melainkan juga hampir seluruh masyarakat Muslim Kirgis di Kota Karakol.

Bahkan, Pemerintah Kota Karakol kini menjadikan Masjid Dungan sebagai salah satu tujuan objek wisata. Masjid ini dapat dikunjungi oleh berbagai kalangan Muslim dan non-Muslim pada waktu tertentu. Kini masjid ini juga terdaftar sebagai monumen sejarah penting bagi negara Kirgistan dan telah dilindungi oleh undang-undang Kirgistan. [yy/republika]

 

Tags: karakol | kirgistan