fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Pengaruh Jawa di Masjid Sultan Singapura

Pengaruh Jawa di Masjid Sultan Singapura

 

Fiqhislam.com - Sebelum berdiri megah seperti sekarang ini, masjid yang mampu menampung 5.000 jamah ini memiliki arsitektur Jawa dengan bentuk atap limas bersusun tiga. Faktor inilah yang membuat masjid yang struktur awalnya dibangun oleh masyarakat pedagang Muslim Jawa pada 1826 memiliki sejarah kuat dengan Indonesia.

Meski telah direnovasi dan menjadi destinasi wisata unik Singapura, nama-nama klasik di sekitar masjid masih dipertahankan, seperti Jalan Kandahar, Baghdad, Arab, dan Bussorah Street yang diabadikan sebagai bagian sejarah Singapura.

Kendati diapit oleh bangunan raksasa dan modern, seperti seperti Parkview Square, Golden Landmark Hotel, Raffles Hospital, Bugis Junction, dan Hotel Inter-Continental, masjid ini tetap mampu mempertahankan auranya sebagai salah satu pusat Islam.

Masjid Sultan Singpaura mendapatkan pengakuan Pemerintah Republik Singapura pada 14 Maret 1975 sebagai aset nasional. Status dan pengelolaannya dipegang oleh MUIS.

Masjid Sultan Singapura memiliki beragam kegiatan. Baik kegiatan rutin, hingga kegiatan-kegiatan tertentu sesuai dengan momen. Masjid ini menyelenggarakan kegiatan harian, tidak sekadar shalat lima waktu, tetapi juga kajian harian serta menerima kunjungan dari pihak manapun, termasuk kunjungan wisata.

Pengurus masjid menyediakan pemandu wisata gratis untuk para wisatawan yang berkunjung ke masjid ini. Hal tersebut sebagai bagian dari usaha pengurus untuk memberikan pemahaman kepada para pengunjung tentang sejarah masjid serta tentang Islam.

Banyaknya pengunjung dari berbagai bangsa, termasuk dari Jepang, pengurus masjid sudah mendapatkan tenaga sukarela untuk menjadi pemandu di masjid ini, Muslimah Jepang yang menikah dengan Muslim Singapura dan bersedia membantu masjid untuk menjadi pemandu bagi turis Jepang di masjid ini.

Ada pengajian khusus untuk pekerja Indonesia di Singapura yang diselenggarakan oleh takmir masjid ini. Pengajian tersebut diselenggarakan setiap Ahad pekan kedua dan keempat setiap bulannya.

Masjid Kedua Republik Singapura

Masjid Sultan Singapura Kampung Glam, Singapura, menjadi masjid kedua yang dibangun di Republik Singapura dengan desain yang megah dan mewah. Keindahan arsitekturnya membuat masjid ini pada tahun lalu mendapatkan penghargaan dari Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) atas keberhasilannya menarik wisatawan mancanegara. 

Penghargaan itu tak berlebihan. Ini bila melihat desainnya, masjid yang dibangun empat tahun setelah berdirinya Masjid Omar Kampung Malaka, 1924, kaya dengan seni arsitektur. Di tangan sang arsitek Denis Santry, masjid  ini disulap menjadi bangunan menawan dengan gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia. Ada banyak menara terpasang di Masjid Sultan ini.

Jika dilihat dari posisinya, selain sebagai hiasan utama pada bagian eksterior masjid, menara-menara dengan berbagai ukuran ini menjadi penguat sebuah bangunan. Hal itu terlihat dari badan menaranya yang tembus dan menyatu dengan badan bangunan utama masjid. Menara utama yang lebih besar ukurannya di tempatkan dibagian paling pinggir, sementara ukuran menara yang dua kali lebih kecil ditempatkan dengan posisi memagari badan masjid.

Untuk mempercantik tampilan menara yang berfungsi sebagai paku bumi ini, ujungnya dilancipkan dan pinggirannya diberi anak pagar dengan bentuk kepingan. Untuk menyempurnakan tampilannya, menara-menara ini diberi tiga corak warna. Warna cokelat muda, merah bata, dan hitam.
 
Warna cokelat hampir menutupi setiap badan menara sementara warna merah bata atau jingga dan hitam digunakan pada bagian-bagian kecil yang terdapat pada eksterior masjid. Selain pada bagian eksterior masjid yang mengadopasi gaya Mughal, bagian interior pun menampilkan hal yang sama.

Pilar-pilar setengah lingkaran tertanam di ruang utama masjid yang membentuk sekat ruangan utama dengan luas sekitar 2.000 meter persegi ini. Meski demikian, tiang-tiang penyangga yang bentuknya saling menyambung ini tidak membuat ruangan utama sempit karena total luas keseluruhan masjid ini sekitar 4.109 meter persegi.

Dari sekian banyak warna yang terdapat pada bagian dalam masjid, warna yang paling berkesan ada pada mihrabnya yang berbalut warna hijau muda dengan aksen warna emas di bagian-bagian ornamen. [yy/republika]