<
pustaka.png
basmalah.png

Ummu Humaid, Perempuan Masa Nabi yang Menjadi Periwayat Hadits

Ummu Humaid, Perempuan Masa Nabi yang Menjadi Periwayat Hadits

Fiqhislam.com - Pada masa Rasulullah SAW, kaum perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk belajar, mengungkapkan pendapat, maupun bertanya secara langsung pada Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan tersebut meliputi berbagai hal, mulai dari pembelajaran tentang Islam, relasi dalam rumah tangga dan kehidupan sosial, bahkan Nabi juga menerima curhat kaum perempuan dan keluhan-keluhan yang menganggu kenyamanan mereka.

Rasulullah SAW selalu terbuka dan menyambut kaum perempuan dengan ramah dan baik. Sikap Nabi yang demikian menunjukkan bahwa Islam memuliakan kaum perempuan dan memberikan kesempatan yang sama seperti laki-laki untuk belajar dan mendalami ajaran Islam.

Salah seorang sahabat perempuan yang sering disebut, karena kegigihannya melaksanakan anjuran Nabi adalah Ummu Humaid al-Anshariyah, istri Abu Humaid al-Sa’idi.



Suatu hari Ummu Humaid datang kepada Nabi, ia mengadu tentang keinginannya untuk shalat bersama Nabi namun dilarang oleh suaminya.

“Wahai Rasulullah suami kami melarang kami untuk shalat bersamamu, padahal kami sangat senang shalat berjemaah denganmu,” ungkap Ummu Humaid pada Nabi.

Nabi menjawabnya dengan lembut “Ummu Humaid, aku tau engkau senang dan menginginkan shalat berjemaah bersamaku, tetapi shalat yang kamu lakukan di rumah itu lebih baik dari pada shalat bersamaku”.

Mendengar penjelasan Nabi, Ummu Humaid dengan tanggap dan penuh keyakinan melaksanakan anjuran terbaik yang ditawarkan Nabi. Perempuan dari kaum Anshar ini kemudian membangun masjid (tempat shalat) di dalam rumahnya, posisinya terletak di bagian ujung dan tampak sangat gelap. Istri Abu Humaid ini senantiasa beribadah di tempat tersebut sampai ia wafat.

Demikianlah kepribadian sahabat perempuan pada saat itu. Akhlak mereka begitu mulia dan selalu taat menjalani anjuran Nabi. Hal ini merupakan bukti dari puncak cinta Ummu Humaid terhadap Rasulullah SAW, meskipun ia sangat senang dan menginginkan shalat bersama Nabi, tetapi Ummu Humaid memilih untuk melakukan anjuran beliau SAW dengan melaksanakan shalat di rumah.

Para ulama dalam memahami hadits perempuan lebih baik shalat di rumah adalah lebih pada faktor keamanan perempuan saat itu. Perempuan saat itu rawan sekali untuk mendapatkan pelecehan. Sehingga mencegah terjadinya sesuatu yang membahayakan bagi mereka lebih baik dari pada shalat di masjid.

Permintaan Ummu Humaid untuk bisa melakukan shalat bersama Nabi bukan semata-semata karna ingin shalat bersama Nabi saja, lebih dari itu Ummu Humaid mendambakan bisa belajar dengan Nabi, karena setiap selesai shalat Nabi Muhammad SAW biasa memberikan pembelajaran tentang Islam. Ummu Humaid selain menginginkan shalat berjemaah juga memiliki semangat yang tinggi untuk bisa belajar dengan Nabi.

Atas dasar ini maka Ummu Humaid memberanikan diri mengadu pada Nabi tentang suaminya yang melarangnya melakukan shalat berjemaah bersama Nabi. Apa yang dilakukan oleh Ummu Humaid ini menjadi bukti bahwa pada masa Nabi suara perempuan didengar dan diberi kesempatan untuk belajar dan bertanya secara langsung pada Nabi. Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan sebuah hadits, bahwa pada masa Nabi, para perempuan memiliki waktu husus untuk belajar dengan Nabi.

Dalam beberapa literatur biografi sahabat Nabi, Ummu Humaid selain terkenal sebagai seorang sahabat yang ahli ibadah juga terkenal sebagai seorang pengajar yang menyampaikan riwayat dari Rasulullah SAW.

Pernyataan Nabi terhadap Ummu Humaid di atas bisa jadi bermakna khusus, sebab Rasulullah SAW dalam memberikan solusi kepada masing-masing sahabat sering kali berbeda, misalkan sahabat A bertanya tentang amal yang paling baik, nabi menjawab “amal yang paling baik adalah shalat di awal waktu”, di sisi lain ketika Nabi ditanya hal yang sama oleh sahabat B, Nabi menjawab “amal yang baik adalah berbakti kepada kedua orangtua”. Demikianlah jawaban Nabi menyesuaikan terhadap orang yang bertanya dan Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang paling mengetahui terhadap solusi dari pertanyaan-pertanyaan para sahabatnya.

Dalam kisah di atas jika dikaitkan dengan masa sekarang akan berbeda, Nabi menganjurkan Ummu Humaid untuk shalat di rumah, karena pada saat itu tidak aman bagi perempuan untuk keluar rumah sendirian, di samping itu masjid pada masa itu tidak seperti masjid yang ada pada masa sekarang. Masjid masa sekarang telah disediakan ruangan husus baik bagi laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak ada kehawatiran akan ikhtilath.

Selain itu dalam hadits riwayat Sahih Bukhari nabi bersabda “janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk shalat di masjid”. Dengan kata lain hadits Ummu Humaid di atas tidak dapat dijadikan dalih untuk melarang kaum perempuan melakukan shalat di masjid. Wallahua’alam. [yy/islamico]

Nurul Iffatiz Zahroh
Alumni Darus Sunnah International Institute For Hadith Sciences

 

top