15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Ali bin Abi Thalib Seorang Sastrawan Terbaik

Ali bin Abi Thalib Seorang Sastrawan Terbaik

Fiqhislam.com - Ali bin Abi Thalib adalah sepupu yang juga menjadi menantu Rasulullah SAW. Dia juga dikenal sebagai sastrawan terbaik dari sisi kaidah maupun kedalaman pesan yang terkandung di dalam syairnya.

Mengutip buku Biografi Ali bin Abi Thalib karya Prof Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ali bin Abi Thalib (Abdu Manaf) bin Abdul Muthalib adalah anak paman Rasulullah SAW. Nasabnya bertemu dengan beliau pada kakeknya yang pertama, Abdul Muthalib bin Hasyim, yang memiliki anak bernama Abu Thalib, saudara laki-laki kandung Abdullah, bapak Nabi Muhammad SAW.

Ali memiliki nama lahir Asad (singa). Nama tersebut merupakan pemberian dari sang ibu sebagai kenangan dari bapaknya yang bernama Asad bin Hasyim. Hal ini turut diceritakan melalui syair yang dilantunkan Ali saat peristiwa Perang Khaibar.

Ali bersenandung, "Saya adalah manusia yang oleh ibuku dinamai Haidarah (Singa). Sebagaimana sosok singa hutan yang berjalan dan ditakuti penuh karisma."

Ali bin Abi Thalib memiliki beberapa julukan. Di antaranya Abdul Hasan yang dinasabkan kepada anak sulungnya, Hasan, dari keturunan istrinya bernama Fatimah, putri Rasulullah SAW, kemudian Abu Turab, Abul Hasan wal Husain, Abul Qashim Al-Hasyimi, dan Abu As-Sabthaini.

Gambaran Fisik Ali bin Abi Thalib

Abdul Syukur al-Azizi dalam bukunya Ali bin Abi Thalib RA. mengatakan, sifat fisik Ali bin Abi Thalib digambarkan sebagai seorang laki-laki dengan perawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Namun, cenderung lebih sedikit pendek.

Ia memiliki tubuh yang kokoh, kuat, dan terlihat agak gemuk. Lehernya proporsional dengan pundak yang lebar layaknya tipikal laki-laki perkasa pada umumnya.

Ali bin Abi Thalib dideskripsikan memiliki wajah tampan dengan kulit sawo matang. Sebagai keturunan Bani Hasyim, ketampanan ini merupakan hal wajar karena memang rata-rata fisik mereka seperti ini.

Dididik Akhlak oleh Rasulullah

Ali bin Abi Thalib mendapat didikan langsung dari Rasulullah SAW. Diceritakan dalam buku Ali bin Abi Thalib: Serial Lelaki yang Dijamin Masuk Surga karya Sayyid Sulaiman Nadwi, dia hidup dengan mengikuti kaidah agama dan menghindari segala yang dilarang agama sejak kecil.

Ia merupakan orang yang mengajarkan agama dan dapat dipercaya. Kemuliaan akhlaknya patut diteladani oleh umat manusia.

"Sayyidina Ali yang hidup bersama Rasulullah SAW selama dua puluh lima tahun merupakan seorang teladan yang ketakwaannya patut diikuti," demikian kata Sayyid Sulaiman Nadwi dalam bukunya.

Khulafaur Rasyidin Terakhir

Ali bin Abi Thalib menyandang gelar Amirul Mukminin dan Khulafaur Rasyidin yang keempat. Kehidupannya sebelum dan setelah menjadi khalifah sama. Ia telah mulai beribadah sejak kecil ketika bersama Rasulullah SAW dan melanjutkan ibadah di sepanjang umurnya.

Dalam suatu riwayat, Aisyah membahas tentang Sayyidina Ali. Ia mengatakan bahwa Ali adalah orang yang sangat banyak berpuasa dan beribadah. Zubair bin Said berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang dalam Bani Hasyim beribadah sebanyak dirinya."

Sosok Ali bin Abi Thalib sebagai Sastrawan

Menantu Rasulullah SAW ini dinilai sebagai sastrawan terbaik dalam sejarah. Menurut Mahmud Bustani dalam Tarikh al-Adab al-Arabu fi Dhaw'i al-Manhaj al Islami: Adab al-Imam Ali as, para ahli sastra menilai kebaikan karya Ali bin Abi Thalib tersebut dilihat dari sisi kaidah, kedalaman dan pesan-pesan yang terkandung dalam syairnya.

Sebelum wafat, Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada putranya, Hasan untuk menjaga empat perkara. Mengutip buku Wasiat-wasiat Akhir Hayat dari Rasulullah karya Zuhair Mahmud Al-Hawari, Hasan kala itu tidak mampu membendung air matanya melihat ayahnya terluka di pembaringan.

Sayyidina Ali kemudian berpesan, "Anakku, pesanku, jagalah empat perkara, dan empat perkara yang lain!". Hasan kemudian bertanya, "Apa perkara-perkara itu wahai ayahanda?"

Sayyidina Ali menjawab, "Kekayaan yang tiada taranya adalah akal, kemiskinan yang paling buruk adalah kebodohan, kesepian yang paling baik adalah ujub, dan kemurahan yang teramat mulia ialah budi pekerti."

"Apa empat perkara yang lain?" tanya Hasan lagi.

"Pertama, jangan sekali-sekali engkau berteman dengan orang yang tolol karena jika ia ingin menguntungkanmu, ternyata ia malah mencelakakanmu. Kedua, jangan bersahabat dengan penipu karena ia akan mendekatkan padamu sesuatu yang sebenarnya harus engkau jauhi, dan menjauhkan yang seharusnya engkau dekati. Ketiga, jangan bergaul dengan si kikir karena ia akan menahan apa yang sangat kau butuhkan. Terakhir, jangan jadikan orang durhaka sebagai rekanmu karena ia akan menjualmu dengan harga yang sangat rendah!" ucap Sayyidina Ali.

Selain itu, Ali bin Abi Thalib juga mewasiatkan kepada anaknya-anaknya dan siapa saja yang membawa suratnya untuk bertakwa kepada Allah, berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai berai. [yy/kristina/detik]