12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Kezuhudan Said bin Amir Al-jumahi

Kezuhudan Said bin Amir Al-jumahi

Fiqhislam.com - Dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi Muhammad SAW merupakan generasi terbaik. Mereka mengikuti suri teladan Rasulullah SAW dengan sangat patuh. Karena itu, ada banyak kisah inspiratif yang datang dari kelompok tersebut.

Salah satunya adalah cerita kezuhudan Said bin Amir al-Jumahi. Generasi tabiin berkata tentangnya, “Ia adalah orang yang membeli akhirat dengan dunia, dan ia lebih mementingkan Allah dan Rasul-Nya atas selain-Nya.”

Mulanya, Said seperti kebanyakan orang Makkah saat masa jahiliyah. Bahkan, ia termasuk yang menonton eksekusi mati atas seorang syuhada pada zaman Nabi SAW, yakni Khubaib bin Adiy. Sang martir wafat setelah disiksa pelan-pelan oleh para pembesar Quraisy.

Bagi kebanyakan orang kafir, gugurnya Khubaib adalah hal biasa. Namun, tidak sekali pun bayangan wajah sang syuhada lepas dari pikiran Said kala itu. Hingga akhirnya, pemuda tersebut menyatakan diri masuk Islam.

Segera setelah itu, ia berupaya keluar dari Makkah, untuk mengikuti Rasul SAW yang telah hijrah ke Madinah. Di Kota Nabi, itulah awal kehidupan barunya sebagai seorang Mukmin.

Belasan tahun lelaki itu dengan setia mendampingi perjuangan al-Musthafa. Ketika Nabi SAW wafat, amat sangat berdukalah hatinya. Sama seperti seluruh penduduk Madinah dan Muslimin semua kala itu, kesedihan yang amat dalam dirasakannya karena beliau telah kembali kepada Sang Pencipta.

Sesudah Rasul SAW berpulang, umat Islam dipimpin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sahabat senior itu memimpin dengan penuh ketegasan dan berpihak pada keadilan. Di ujung usianya, mertua Nabi SAW itu menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya.

Pada masa Umar, wilayah Islam semakin meluas. Bukan hanya Jazirah Arab, seluruh Imperium Persia bahkan takluk di bawah kilatan pedang Muslimin. Nasib yang nyaris serupa dialami pula Imperium Romawi Timur atau Bizantium. Kekaisaran ini kehilangan daerah Syam dan Mesir.

Sebagai amirul mukminin, Umar sangat ketat dalam memilih gubernur-gubernur yang akan memimpin tiap daerah. Waktu itu, sahabat yang berjulukan al-Faruq ini cukup lama memikirkan, siapa sosok yang pantas menjadi wali di Syam.

Daerah tersebut agak berbeda dengan yang lain-lain. Sebab, masyarakat setempat memiliki watak yang kritis. Beberapa abad sebelum kedatangan Islam, Syam telah menikmati hasil peradaban yang tinggi dan lebih dinamis ketimbang Jazirah Arab.

Dalam pandangan al-Faruq, pemimpin Syam haruslah pribadi yang bijaksana, saleh, dan zuhud. Pilihannya pun jatuh pada Said bin Amir al-Jumahi.

Sesungguhnya, Said sempat menolak. Namun, dengan nada keras Umar berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu menolak. Apakah kalian suruh aku untuk memikul amanah sebagai khilafah ini kemudian kalian tinggalkan aku begitu saja seorang diri!?”

Akhirnya, Said mengalah. Ia bersedia menjadi wali negeri Syam.

Kira-kira setahun kemudian, Umar ingin meninjau kondisi provinsi tersebut di bawah kepemimpinan sang sahabat Nabi SAW yang zuhud. Sesampainya di Syam, ia mengumpulkan beberapa tokoh masyarakat lokal.

Mereka semua kompak mengatakan, kepemimpinan Said bin Amir al-Jumahi baik. Mendengar itu, sang amirul mukminin tersenyum lega.

“Wahai khalifah! Kami tidak mempermasalahkan sosok gubernur kami, kecuali pada empat hal,” kata seorang perwakilan.

Senyum yang tadi sempat ada di wajah Umar, seketika lenyap.

“Apa saja itu?” tanya sahabat Rasul SAW yang terkenal berwatak keras tersebut.

“Pertama, Said selalu datang untuk bekerja tidak sejak pagi hari. Kedua, pada malam hari dirinya tidak pernah mau menerima tamu. Ketiga, satu hari dalam sebulan selalu dirinya tidak menemui masyarakat. Terakhir, kadang kala ia jatuh pingsan,” jelas si tokoh Syam.

Setelah pamit dari forum itu, Umar tidak langsung pulang ke Madinah. Ia sangat penasaran dengan kebenaran atau klarifikasi Said atas informasi tersebut. Maka, ia pun mendatangi rumah sang gubernur Syam.

Setibanya di tujuan, Umar disambut hangat oleh Said. Keduanya lalu saling berucap dan membalas salam, lalu menanyakan kabar. Lantas, sang tamu menanyakan perihal yang ingin diketahuinya.

“Benarkah apa yang dikatakan tokoh lokal itu tentangmu?” tanya Umar.

Said menjawab tentang alasannya, tidak dapat melayani warga pada pagi hari. Sebab, dirinya tidak memiliki pembantu. Jadi, semua pekerjaan rumah harus dikerjakannya terlebih dahulu.

Untuk perkara kedua, ia mengatakan, hal itu dilakukan semata-mata untuk membagi waktu. Pagi hingga sore dirinya alokasikan guna melayani aduan masyarakat. Adapun malam hari dijadikannya momen beribadah bagi dirinya.

“Kemudian, mengapa engkau mengkhususkan satu hari dalam sebulan tidak mau ditemui warga?” selidik Umar.

“Ya amirul mukminin, itulah waktu untukku sebulan sekali mencuci baju yang lekat di badan ini,” jawabnya.

Dan untuk jawaban terakhir, ternyata pingsan yang dialaminya akibat kerap teringat atas kematian Khubaib bin Adiy. Said masih saja merasa bersalah karena saat itu dirinya tidak berbuat apa pun terhadap kejahatan kaum musyrikin Quraisy. [yy/republika]

Oleh Hasanul Rizqa