12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Mujahidah: Ummu Waraqah, Kisah Sang Syahidah

Mujahidah: Ummu Waraqah, Kisah Sang Syahidah

Fiqhislam.com - Asy-Syahidah. Begitulah Rasulullah SAW menjuluki Ummu Waraqah. Sejarah Islam mencatatnya sebagai salah seorang Muslimah mulia dan yang paling mulia pada zamannya. Nabi Muhammad SAW pun sempat mengunjunginya beberapa kali.

Sejatinya, ia bernama lengkap Ummu Waraqah binti Abdullah atau dikenal dengan Ummu Waraqah binti Naufal. Sang Mujahidah adalah putri dari Abdullah bin Al- Haris bin Uwaimar bin Naufal Al-Anshariyah, dinisbahkan kepada kakeknya.

Hidupnya didedikasikan untuk kemajuan agama Allah SWT. Tak heran jika ia memiliki semangat yang begitu tinggi untuk menegakkan agama Islam. Bahkan, ia selalu bermimpi dan bercita-cita untuk mati syahid di jalan Sang Khalik. Ummu Waraqah pun tak pernah gentar dan takut selama berjuang di jalan kebenaran.

Ia rela membertaruhkan nyawanya untuk membela agama Allah SWT. Ketika pasukan tentara Muslim hendak bertempur dalam Perang Badar, Ummu waraqah langsung terpanggil.

Ia lalu berkata kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, izinkanlah aku berangkat bersamamu, sehingga aku dapat mengobati orang-orang yang terluka di antara kalian, merawat orang yang sakit di antara kalian, dan agar Allah mengaruniai diriku mati syahid."

Mendengar permintaan itu, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah akan mengaruniai dirimu syahadah, tapi tinggallah kamu di rumahmu, karena sesungguhnya engkau adalah syahidah (orang yang akan mati syahid)."

Ummu Waraqah pun mendedikasikan hidupnya untuk agama Islam. Ia turut mengumpulkan Alquran Al-Karim. Ia  adalah seorang wanita yang ahli dalam membaca Alquran. Karena itu, Nabi SAW memerintahkannya agar menjadi imam bagi para wanita di daerahnya. Rasulullah SAW pun menyiapkan seorang muadzin baginya.

Dalam Al-Musnad dan As-Sunan dari hadits Abdurrahman bin Khalad dari Ummu Waraqah, bahwa Rasulullah SAW mengunjunginya, kemudian memberikan seorang muadzin untuknya. Abdurrahman berkata, "Aku melihat muadzin tersebut seorang laki-laki yang sudah tua."

Ummu Waraqah menjadikan kediamannya sebagai rumah Allah. Di tempat itu, ia menegakkan shalat lima waktu. Alangkah terhormatnya seorang wanita yang menduduki posisi sebagaimana seorang wanita mukminah seperti Ummu Waraqah.

Ummu Waraqah senantiasa istiqamah dengan keadaannya, yaitu menjaga syariat-syariat Allah.  Ia mengisi kehidupannya dengan menegakkan syiar Islam. Sungguh mulia akhlak Ummu Waraqah. Ia  telah menjadikan rumahnya sebagai masjid. Menghiasinya dengan ibadah. Seluruh waktunya diisi dengan sangat amanah. Tiada waktu dilalui tanpa Kitabullah. Seorang mukminah shalihah.

Ummu Waraqah termasuk salah seorang penduduk Kota Madinah yang sangat bersyukur dan berbahagia dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW.

Kebahagian itu merasuk ke relung-relung hatinya. Karena kepribadian Rasulullah SAW sudah lama didengar, dan risalahnya telah lama diimani.

Ummu Waraqah tidak hanya pandai membacanya, melainkan juga memahami dan menghafalnya dengan baik. Ia juga turut berjasa menghimpun dan menuliskan ayat-ayat Alquran pada tulang, kulit, pelepah kurma dan lain-lain. Ia berhasil menghimpun ayat-ayat Allah di rumahnya.

Setelah Rasulullah SAW wafat, dan Abu Bakar RA berencana menghimpun Alquran, Ummu Waraqah ditunjuk Khalifah untuk menjadi salah seorang rujukan penting bagi Zaid bin Tsabit sebagai pelaksana proyek. Hingga pada suatu hari, budak laki-laki dan perempuannya yang telah dijanjikan akan dimerdekakan setelah ia wafat ternyata membunuhnya.

Tatkala pagi, Umar bin Khathab berkata, "Demi Allah, aku tidak mendengar suara bacaan Alquran dari bibiku (Ummu Waraqah) semalam." Kemudian Umar memasuki rumahnya, namun tidak melihat suatu apa pun. Kemudian Umar memasuki kamarnya, ternyata Ummu Waraqah telah terbungkus dengan kain di samping rumah (yakni telah wafat).

Umar lalu berkata, "Alangkah benar sabda Rasulullah SAW ketika bersabda, "Marilah pergi bersama kami untuk mengunjungi wanita yang syahid."

Lalu Umar naik mimbar dan menyampaikan berita tersebut lantas berkata, "Hadapkanlah dua budak tersebut kepadaku!"

Maka, datanglah dua orang budak tersebut dan ia menanyai keduanya. Mereka mengakui telah membunuh Ummu Waraqah. Umar Lalu memerintahkan agar kedua orang budak tersebut disalib, dan mereka berdualah orang yang pertama kali disalib di Madinah. Seluruh penduduk Madinah  pun berduka atas meninggalnya sang mujahidah.

republika.co.id