10 Jumadil-Awwal 1444  |  Minggu 04 Desember 2022

basmalah.png

Christina: Al-Quran yang Saya Cari

Christina: Al-Quran yang Saya Cari

Fiqhislam.com - Pada 25 Desember 2002, Christina memutuskan menjadi Muslim. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam usia 47 tahun.

"Awalnya, aku ragu akan menjadi penganut Katolik yang baik, tapi aku selalu pergi ke gereja dan berdoa kepada Tuhan," kata dia seperti dikutip onislam.net, Jumat (4/1).

Keraguan Christina terjadi saat ia begitu berat berdoa kepada Yesus. Padahal ia membutuhkan Tuhan.

"Aku memang tidak datang dari keluarga religius. Nenekku sesekali membawaku ke gereja. Anda tahulah, itupun hanya di hari besar saja," kata dia.

Meski tidak berasal dari keluarga religius, Christina begitu antusias mendalami ajaran Kristen. Ia percaya, kehidupan yang dijalaninya berasal dari kebenaran. Untuk menuju kebenaran itu ia membutuhkan tuntunan agama.

Sebabnya, pada usia tujuh tahun, Christina mulai belajar mengenal Tuhan dengan rutin mengunjungi gereja. Setahun kemudian, ia mulai mempelajari Injil.

Memasuki usia 47 tahun, Christina bertemu dengan seseorang Muslim.

Ia sendiri belum pernah bertemu muslim dan tidak tahu-menahu tentang ajaran Islam. Pertemuan itu terjadi setelah tragedi 9/11. Sejak itu ia mulai membaca Alquran. "Jujur, inilah yang aku cari," kata dia.

Bersyahadat di Dekat Pohon Natal

Christina mengaku Alquran adalah kitab suci yang selama ini dicarinya. Selama 3-4 bulan membaca Alquran, Christina merasa telah menemukan kebenaran yang ia cari.

Saat perayaan Natal, ia bersyahadat.

"Apa kebenaran yang dimaksud, ya, kebenaran adanya satu Tuhan. Sosok yang bisa dimintai pertolongan," kata dia seperti dikutip onislam.net, Jumat (4/1).

Tak lama bagi Christina untuk menjalani ajaran Islam, termasuk ibadah puasa. Sewaktu menjadi pemeluk Katolik, ia pernah menjalani puasa. Yang membuatnya merasakan perbedaan, berpuasa di bulan Ramadhan begitu kental ritual pengabdian kepada Tuhan.

"Sangat menarik, itulah yang aku rasakan. Anda tentu tahu, banyak yang berkata padaku sulit untuk berpuasa pada musim panas, jadi, sungguh menarik," ucap dia mengakhiri.

Christina Terbangun Setiap Malam untuk Berdoa

Setiap malam, Christina selalu terbangun. Spontan, ia berdoa. Ia lupakan sejenak keraguannya terhadap konsep trinitas.

Ia ingin berdoa kepada Tuhan sesungguhnya. "Anda tahu, hal favoritku ketika berkunjung ke gereja adalah aku bisa berdoa dengan meminta kepada-Nya, berkati ibu dan anjing saya. Aku selalu merasa terhubung dengan hal yang Maha Kuasa," kenang dia seperti dikutip onislam.net, Senin (7/1).

Keluarga Christina sejak lama meninggalkan Gereja Katolik setelah mengetahui skandal pastor dengan seorang laki-laki. Saat itulah, ia dikenalkan seorang temannya yang beragama Islam.

Memasuki jenjang kuliah, Christina ambil bagian dalam organisasi Asosiasi Mahasiswa Muslim (MSA). Di sana, ia mengikuti rutinitas seperti berpuasa dan mencari Lailatul Qadar.

"Aku pergi ke sebuah ruangan yang cukup gelap. Aku lihat banyak muslim menangis. Terdengar suara Allahuakbar," kenang dia.

Malam Lailatul Qadar Buat Christina Masuk Islam

Mencari malam Lailatul Qadar membawa Christina pada satu titik, dimana ia berniat mendalami ajaran Islam.

Ia baca dan dengarkan kuliah tentang Islam karya Imam Zaid Shakir. Selama itu, ia mendapati banyak kesalahpahaman.

Misalnya tentang Usama Bin Laden. "Itulah yang kemudian membuatku mengatakan ya, aku menjadi muslim," kata dia mantap, seperti dinukil onislam.net.

Proses pengucapan syahadat Christina begitu lancar. Namun, ia menyadari identitas barunya memiliki konsekuensi.

Orang tuanya diawal tidak suka dengan keputusannya itu. Namun, sikap itu perlahan berubah.

Konsekuensi lain, pihak perguruan tinggi tidak begitu senang dengan keputusannya.

"Alhamdulillah, aku bisa melalui itu, " kata dia mengakhiri.

Islam Membawa Kedamaian

Setelah menjadi pemeluk Islam, Christina mengaku sangat bahagia.

Penerimaan dari orang tua dan perguruan tinggi tempatnya menimba ilmu akan keputusannya memeluk Islam, membuatnya bisa menjalani ibadah puasa dengan sempurna.

"Aku sangat senang bisa berpuasa di bulan Ramadhan," kata Christina, seperti disadur dari onislam.net.

"Aku," lanjut Christina, "melaksanakan tarawih, aku jaga waktu makan, dan luar biasa."

Christina pun berpesan kepada mereka yang belum menemukan Tuhan untuk tak berhenti mencari pertanyaan.

Dari pertanyaan itu akan menggiring seseorang menuju kedamaian.

"Jangan pernah berpikir, kita yang mengendalikan semuanya. Karena, ada satu sosok yang mengendalikan itu. Sosok yang mampu mengubah kehidupan orang. Sosok itu adalah Allah SWT," tutup dia. [yy/republika]