21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Cristian Gentile, Mekanik Warga Negara Italia Masuk Islam di Madiun

Cristian Gentile, Mekanik Warga Negara Italia Masuk Islam di Madiun

Fiqhislam.com - Bagi Chritian Gentile (33 tahun) seorang mekanik warga negera Italia,  agama Islam  merupakan agama yang tidak asing dan bukan pula agama yang baru dikenal. Karena, di tempat kerjanya di sebuah perusahaan otomotif di kota Milan ---ibukota Italia, sangat sering bersinggungan bahkan sering pula terjadi dialog dengan sejumlah rekan kerjanya,  sesama mekanik,  yang berasal dari negara-negara timur tengah, pemeluk Islam yang taat.

Persinggungan, interaksi dalam dialog dan bahkan melihat teman-temannya melakukan shalat juga tetap puasa saat bekerja,  demikian rutin di hampir setiap hari. Diakui kemudian telah memicu keinginan Gentile untuk  mempelajari Islam dengan lebih mendalam. Muncul keinginan dan niat dari pribadi Gentile, teman-teman di tempat kerjanya, sangat membantu. Mereka, memberikan berbagai buku tentang Islam serta senantiasa menyediakan waktu untuk  kesempatan berdiskusi.

Perkenalannya dengan Dia-Yudi, gadis Indonesia warga  Kota Madiun melalui sarana sosial media (Face Book, Whats App dan BlackBerry Massager (BBM), dan chatting selama sekitar 11 bulan), semakin memicu ketertarikan Gentile terhadap Islam,  hingga akhirnya bulat tekatnya meninggalkan agama yang sejak lahir dipeluknya dan mu’alaf---masuk Islam dengan segera.

“Kerap melihat teman menunaikan shalat. Mereka—layaknya saudara yang selalu akrab. Akhirnya sangat tertarik mempelajari Islam, dan segera menjadi Muslim. Dia-Yudi mendorong untuk berkunjung ke Indonesia. Dia sebut, di Kota tempat tinggalnya ini, ada pemuka yang dapat membimbing lebih detail,” tutur Gentile.

Benar juga. Ketika akhir tahun 2014 lalu ---tepatnya Minggu (29 Desember 2014) tiba di Madiun, mendesak untuk segera dipertemukan dengan pemuka yang dikhabarkan dapat memberi bimbingan tentang Islam dengan lebih detail. “Lalu, saya diberi informasi untuk berkunjung dan minta bimbingan di kediaman Doktor Sutoyo,” katanya dengan menunjuk Dr. KH. M. Sutoyo, Mag., ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Madiun.

Dua pekan, intensif mendapat bimbingan tentang  Islam, dan Jumat (16 Januari) lalu bertempat di Mushala di rumah Dr.KH. M. Sutoyo.Mag., di Jalan Dr. Cipto Kota Madiun, Gentile melafaltkan dua kalimat Syahadat, sebagai tanda beriman (masuk) Islam dan menjadi mu’alaf.

Sejumlah jamaah menyaksikan pelaksanaan ikrar masuk Islam, dengan melafaltkan dua kalimat Syahadat Tauhid. Setelah itu Ketua MUI. Kota Madiun,  Dr.KH. M.Sutoyo, Mag., mengingatkan mengikrarkan masuk Islam dengan melafaltkan dua kalimat Syahadat, tidak sulit, gratis dan pula tidak berat. Namun  setelah itu yang berat, harus segera mengamalkan segala perintah Islam dan menjauhi atau tidak lagi melaksanakan segala apa yang dilarang oleh Islam.
Memeluk Agama Islam, tidaklah cukup hanya melafaltkan dua kalimat Syahadat.  Melainkan segera menunaikan shalat, dan segala kewajiban-kewajiban rutin yang lain. Dua kalimat Syahadat, layaknya hanya sebuah pintu masuk ketauhidan terhadap Islam. Setelah melewati pintu masuk itu, resmi memeluk Islam dan dituntut keharusan melaksanakan berbagai konsekwensi sebagai pemeluk Islam.     

Seperti pernah diberitakan Suara Islam Online, di tempat sama sebelum ini, Keith Harshbarger,  seorang Warga Negara Amerika, asal Kota New York kini tengah berdinas sebagai  Teknisi di Lanud Iswahyudi  Madiun (Maospati – Magetan)  juga menyatakan Masuk Islam.

Sebelum ikrar dengan melafaltkan dua kalimat Syahadat,  Dr. KH. M. Sutoyo, Mag.,  memandu Keith untuk bersuci.  Disaksikan  beberapa orang jamaah, Keith mengikuti KH. Dr. Sutoyo melafaltkan dua kalimat Syahadat;  Prosesi masuk Islam yang berlangsung  sederhana.

 “Masuk Islam syaratnya memang cukup dengan membaca (ikrar) dua kalimat syahadat  dan itu gratis---tidak ada biaya apapun. Kendati tampaknya sesederhana itu, namun yang perlu diketahui;  mengajak satu orang masuk Islam, itu lebih baik daripada membunuh seribu orang kafir, ” ungkap KH. Dr. M. Sutoyo ketika itu.

Setelah prosesi masuk Islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, Dr. KH. M. Sutoyo dalam nasihatnya menyebutkan,  untuk menyempurnakan keislaman tahapan berikutnya Keith Harshbarger,  harus segera  melakukan khitan.

Pada kesempatan itu,  Dr.KH. M. Sutoyo juga  memastikan siap membimbing untuk memperdalam Islam, agar  Keith Harshbarger segera  dapat melaksanakan berbagai kewajiban lain sebagai seorang Muslim--- terutama salat lima waktu, serta puasa, membayar zakat dan membimbingnya terus jika kemudian berniat melengkapi keislaman dengan menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Meminang dan Nikah

Sementara itu, Gentile ketika ditanya tentang rencana selanjutnya setelah resmi memeluk Islam dan ketika masih berada di Kota Madiun,  Gentile menjawab; segera melengkapi keislaman dengan melaksanakan khitan dan belajar shalat. Rencana  lain, mewujudkan keinginan segera meminang Dia-Yudi.

Terpisah, Dia-Yudi membenarkan. “Memutuskan datang ke Madiun, untuk masuk Islam dan melamar saya. Semula saya pikir hanya bercanda. Tetapi, setelah saya meminta untuk mengurus segala kelengkapan administrasinya, ternyata tidak main-main, dan semua dipenuhi. Kemudian datang ke Madiun, mewujudjan niatnya,” ungkapnya dengan wajah tersipu.
Pernikahan Gentile dengan Dia-Yudi segera terwujud. Keluarga Dia-Yudi merestui. Akad nikah akan berlangsung Ahad (25 Januari) di rumah Dia-Yudi di Jalan Mawar Kota Madiun. “Sedang resepsinya, direncanakan pertengahan Februari mendatang,” tambah Dia-Yudi.

Di samping terus meminta bimbingan Dr.KH. M. Sutoyo, menurut Dia-Yudi setelah pernikahan berlangsung,  segenap keluarganya akan membimbingnya mempelajari  Islam dengan lebih mendalam. “Ayah saya, juga akan membimbing dan mengajarinya untuk melaksanakan shalat,” ungkap Dia-Yudi dengan mata berbinar. [yy/suara-islam]