10 Rajab 1444  |  Rabu 01 Februari 2023

basmalah.png

Mariano Mencari Keimanan dari Kitab-Kitab Kuno

Mariano Mencari Keimanan dari Kitab-Kitab Kuno

Fiqhislam.com - Mariano Ricardo Calle yang berasal dari Buenos Aires, Argentina terlahir sebagai seorang Katolik Apostolik Roma. Sejak kecil, ia sudah mengenal agama tersebut di bawah bimbingan ibu dan neneknya. Ia membaca Alkitab sejak berusia tujuh tahun dan sangat mengidolakan sosok kenabian David, Nuh, dan Ayub.

Pada masa remaja, ia mengalami masa krisis mental sampai usia 21 tahun. Ia  selalu mencari kebenaran. Beberapa tahun lalu, Calle mempelajari naskah kuno Maya, Atlantis, piramida Kufu, dan pada saat yang sama belajar bahasa Arab hanya sekadar untuk mengetahui arti lirik lagu Arab.

Dalam dua minggu, ia sudah bisa melakukan percakapan sederhana. Ketika ia melakukan tes di perguruan tinggi,ia  langsung diterima di level kedua.

Suatu hari, ibu Calle mengambil dua buku kecil tentang Islam yang dibagikan gratis dalam sebuah pameran buku.

“Saya membaca tentang Nabi Muhammad. Saya merasa sosok itu adalah model bagi saya,” terangnya dilamsir Onislam.net.

Setelah itu, ia memutuskan untuk tidak merokok dan minum alkohol lagi. Ia lantas berpikir untuk membeli Alquran agar saya dapat membaca dalam bahasa Arab.

Seorang guru Mariano Ricardo calle menyarankan agar mendapatkan Alquran secara gratis di Masjid Palermo, Buenos Aires. Sampai di masjid, ia bertanya-tanya bagaimana tempat yang bagus itu bisa begitu kosong.

Hari itu di masjid, seorang Muslim bernama Ibrahim memberinya petunjuk link Alquran yang bisa diunggah dari internet.

“Saya telah membaca seluruh Alkitab dua kali, kitab Bhagawad Gita dari India juga dua kali, dan sekarang saya punya Alquran untuk dibaca. Keinginan pertama saya adalah untuk belajar bahasa Arab, tetapi jiwa saya terbangun ketika mulai membaca Alquran,” tegas Calle.

Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan dalam Alquran adalah bagian yang hilang dalam Alkitab. Alquran adalah kitab yang sempurna. Semakin ia membaca Alquran, semakin ia menyadari kitab itu adalah wahyu dari Allah.

Sejak itu, ia mulai pergi ke masjid karena merasakannya penuh kedamaian.

“Saya berdoa dengan orang-orang Muslim di sana, sementara aku bukan Muslim, tapi saya ingin tahu bagaimana rasanya bersujud di hadapan Tuhan,” katanya pada Onislam.net.

Dua minggu kemudian, Calle mengucapkan syahadat di hadapan Syekh Nasir dari Arab Saudi.  Ia mulai mempelajari akidah, tauhid, dan menyelesaikan membaca Alquran dalam bahasa Spanyol.

“Saya mengatakan kepada ibu dan ayah jika sekarang saya adalah seorang Muslim. Ibu saya agak takut, tapi ia menghargai dan tidak memasak daging ham babi. Saudara-saudara saya tidak mengatakan apa-apa, hanya beberapa lelucon saja,” tegas Calle.

Di tengah-tengah pekerjaan dan kuliahnya, Calle masih rajin ke masjid dan membaca buku-buku. Teman-teman non Muslim Calle memiliki banyak pertanyaan tentang Islam.

“Saya berusaha menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan. Saya berdoa agar Tuhan membantu saya menjadi perantara agamanya, untuk membimbing orang tua dan teman-teman saya,” ujarnya. [yy/republika]