15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Menjadi Mualaf Bukan Berarti Meninggalkan Keluarga

Menjadi Mualaf Bukan Berarti Meninggalkan Keluarga

Fiqhislam.com - Perbedaan keyakinan dengan keluarga kadang membuat kekhawatiran bagi Muslim baru (mualaf). Mereka takut dikucilkan bahkan dibuang dari keluarga.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Theresa Corbin. Sebagai seorang mualaf ia takut keluarganya tidak menerima agama barunya sebagai seorang Muslim.

"Terlepas dari perasaan saya, saya memiliki cukup kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa mendekati topik seperti itu perlu dilakukan dengan hati-hati," kata Theresa, dilansir dari About Islam, Jumat (3/9).

Corbin merupakan keturunan Prancis-Amerika. Ia memeluk Islam pada 2001. Ia merupakan seorang penulis yang fokus pada isu keislaman.

Ia pernah mengajukan pertanyaan kepada ayahnya mengenai Islam dengan sudut pandang akademis saat makan malam bersama. Ayahnya berpandangan keras terhadap Islam

Keinginan memberitahu bahwa dirinya telah memeluk Islam pun seketika diurungkan. Ia akan mencari waktu yang pas untuk melunakkan hati ayahnya.

Sayangnya kesempatan itu tidak pernah datang. Ayahnya meninggal dua bulan setelah makan malam itu.

Sebagai seorang mualaf, hal terberat adalah memberitahu keluarga mereka. Ini adalah tugas yang menakutkan karena takut akan ditolak.

Jika ada yang mengalami hal serupa, maka kamu bukan satu-satunya yang mengalami nasib seperti itu. Karena Nabi Ibrahim pun ditolak oleh kaumnya bahkan dilempar ke dalam api, lalu Nabi Isa dijatuhi hukuman mati oleh kaumnya sendiri, dan Nabi Muhammad dihina dan diancam oleh sukunya.

Ditolak oleh orang yang dicintai adalah pengalaman yang sangat menyakitkan. Para Nabi, para sahabat Nabi, dan banyak orang saleh telah mengalami hal yang sama yang dihadapi banyak mualaf baru hari ini. Dan orang-orang mulia ini memegang teguh iman mereka meskipun ada tekanan kuat.

"Kita dapat mengambil pelajaran dari mereka yang datang sebelum kita yang ditolak dan tergoda untuk berbalik dari iman mereka," ujar Theresa.

Ada sebuah cerita dari tanah Makkah, yakni ketika Mus'ab ibn Umair, salah satu sahabat Nabi yang kaya raya, selalu berpakaian bagus, dan dicintai hingga ia memeluk Islam. Ketika keluarganya mengetahui dia adalah seorang Muslim, ibunya mengikatnya dan menyiksanya. Ketika Mus'ab tidak mau melepaskan imannya, ibunya mengambil pakaian dan kekayaannya dan mengusirnya. Mus'ab kemudian menjadi duta besar Islam pertama di Madinah.

Kemungkinan besar tidak ada di antara kita yang akan menderita siksaan yang dialami oleh Mus'ab dan banyak sahabat Nabi Muhammad. Tetapi beberapa akan menghadapi penolakan yang sama. Dan itu dapat membantu mengetahui banyak yang telah melalui jauh lebih banyak daripada yang akan kita hadapi dan tetap teguh dalam iman mereka.

"Kita harus ingat pada akhirnya, setiap orang harus menjalani hidupnya sendiri. Tekanan keluarga harus dilihat sebagaimana para Nabi dan para sahabat melihatnya sebagai sebuah ujian," ujarnya.

Theresa menyarankan dekati keluarga dengan pengertian dan kesabaran. "Anda harus sangat jelas dalam memberitahu keluarga Anda bahwa keputusan masuk Islam sama sekali bukan penolakan terhadap mereka atau pendidikan Anda. Anda harus membantu keluarga melihat Anda adalah orang tua yang sama yang mereka kenal dan cintai," katanya.

Tetapi pada saat yang sama, Anda harus menegaskan kepada keluarga Anda tidak tertarik kembali menjadi non-Muslim. Bantulah keluarga untuk melihat Anda memiliki keyakinan dan tradisi baru dan beberapa praktik dan tradisi keluarga bertentangan dengan keyakinan Anda.

"Berbelas kasihlah kepada mereka saat keluarga Anda menyesuaikan diri. Tapi tegas dan jelas bahwa Anda adalah seorang Muslim dan itu tidak akan berubah," ujarnya. [yy/republika]