15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Tirza Yo Zandra, Hati Tergugah Al-Quran

Tirza Yo Zandra, Hati Tergugah Al-Quran

Fiqhislam.com - Dalam kehidupan manusia, selalu ada ujian atau bahkan musibah. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu optimistis menatap masa depan. Sebab, di balik kesukaran akan muncul kelapangan.

Begitulah janji Allah SWT, seperti terlukiskan dalam Alquran surah al-Insyirah ayat 5 dan 6, yang artinya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Bukti nyata dialami seorang mualaf dari Malang, Jawa Timur. Tirza Yo Zandra, demikian namanya, pernah merasakan pahitnya hidup. Kedua orang tuanya berpisah. Kondisi psikisnya pun hampir menjurus depresi. Akan tetapi, pelbagai ujian hidup itu menjadi awal baginya untuk mendapatkan hidayah Ilahi.

Perempuan yang kini berusia 23 tahun itu merupakan seorang anak dari pasangan yang beda agama. Ibunya adalah seorang Muslim. Namun, sejak lahir Zandra diarahkan untuk mengikuti kepercayaan yang dipeluk ayahnya.

Zandra kecil pun ditempa untuk menjadi pribadi yang taat beribadah. Dia tidak pernah absen mengikuti ritual agama sang ayah. Malahan, sempat terpikirkan olehnya untuk menempuh sekolah khusus demi menekuni agama non-Islam tersebut.

Jalan hidup sering kali tak bisa diduga. Saat Zandra berusia remaja, keluarganya dilanda keretakan. Kedua orang tuanya tidak lagi bisa menjaga keutuhan. Akhirnya, ayah dan bundanya itu memutuskan untuk bercerai.

Keputusan itu sangat berat dirasakan Zandra sebagai anak tunggal. Sesudah bapak dan ibunya berpisah, ia tinggal bersama ayahnya. Tak menunggu waktu lama bagi perempuan tersebut, kehidupan sehari-hari menjadi sangat berbeda. Ia lalu merasa tertekan, baik secara mental maupun spiritual.

Saat mengalami masalah batin, fisiknya ikut menjadi sakit. Kira-kira, dua bulan lamanya kesulitan itu dialaminya. Karena merasa tidak punya siapa-siapa sebagai tempat bercerita, ia menjadi kesepian. Untungnya, momen itu seperti membuka jalan baginya untuk lebih religius. Ia kian sering berdoa dan beribadah.

Harapannya, hati dan pikirannya akan semakin tenang dengan terus giat mengamalkan ritual-ritual agama. Nyatanya, saat itu ia merasa ibadah-ibadah yang dijalaninya tidak menenteramkan diri. Batinnya dari hari ke hari kian terasa kosong.

“Saya waktu itu (sebelum memeluk Islam –Red) merasa kosong di hati. Ini terjadi selama dua bulan dan menyebabkan saya jatuh sakit,” tutur dia kepada Republika beberapa waktu lalu.

Ia kala itu lebih sering tinggal seorang diri di dalam rumah. Ayahnya acap kali bekerja di luar. Untuk mendapatkan bantuan ke dokter, misalnya, Zandra cenderung mengandalkan saudara sepupu dari pihak ibunya.

Menenteramkan hati

Saudaranya itu adalah seorang Muslim. Salah satu hobinya adalah membaca Alquran. Waktu itu, Zandra tidak begitu paham apa yang dibacakan sepupunya itu. Bagaimanapun, suara lantunan ayat-ayat suci terdengar syahdu. Bahkan, hatinya menjadi tenteram ketika menyadari, sumber suara merdu itu berasal dari saudaranya yang sedang mengaji.

“Saya baru pertama kali mendengar suara orang mengaji di dalam rumah. Sebelum-sebelumnya, memang banyak suara pengajian dari masjid sekitar, misalnya. Tapi saat itu terasa berbeda, begitu menenangkan hati,” tuturnya.

Pada malam harinya, Zandra tertidur pulas dan bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia menjumpai sosok kakeknya yang telah wafat. Sang kakek semasa masih hidup bekerja sebagai seorang pendeta. Kepada sang cucu, kakek ini berpesan bahwa apa pun keputusan Zandra, itu harus dijalani dengan sepenuh hati; jangan setengah-setengah.

“’Papi dukung apa pun keputusan kamu,’ begitu kata terakhir beliau di mimpi saya. Saya memanggil kakek saya dengan sebutan 'papi',” jelas dia.

Beberapa hari telah berlalu. Uniknya, setiap malam Zandra sering memimpikan pertemuan yang sama. Bahkan, kakeknya itu juga menyampaikan pesan yang sama.

Zandra tidak memahami maksud perkataan sang kakek. Bagaimanapun, mimpi berikutnya membuatnya sedikit merenung. Dalam mimpinya tersebut, ia seperti berada di sebuah tempat ibadah, tetapi bukan khas agama non-Islam yang sedang dianutnya saat itu. Beberapa malam kemudian, ia bermimpi sedang berdiri di tepian sungai yang mengalir.

Untuk menenangkan hatinya, Zandra kian meningkatkan intensitas ibadah dan amalan-amalan kebaikan. Menjelang tidur, ia semakin rutin berdoa, memohon petunjuk kepada Tuhan. Akan tetapi, pikirannya justru tak lepas dari bayangan tentang Islam.

Sempat terpikir pertanyaan dalam dirinya, siapa yang akan membimbingnya kepada Islam. Kalaupun meminta ibunya, permintaan itu mungkin disanggupi. Namun, bukan ritual harian Muslim saja yang diinginkannya, tetapi juga sampai mendalami ajaran agama ini.

Terlebih lagi, ada kekhawatiran bila ayahnya—beserta keluarga besar—akan merespons negatif. Dengan segala pertimbangan itu, Zandra pun belum berani untuk secara terbuka memeluk Islam.

Yang dilakukannya hingga saat itu sekadar yang bisa diperbuatnya seorang diri. Sebagai contoh, mencoba-coba berbusana Muslimah. Ia pun belajar memakai jilbab. Khawatir ayahnya akan mengetahui, ia pun diam-diam mengenakan kain penutup kepala itu.

“Saat hendak pergi ke lokasi-lokasi dekat rumah, saya tidak mengenakan jilbab. Tapi, waktu pergi ke (tempat yang) agak jauh, barulah saya memakai jilbab yang saya bawa dalam tas,” ujarnya mengenang.

Memeluk Islam

Zandra mengaku, saat itu walaupun belum resmi berislam sangat senang berjilbab. Ia merasa aman dan hatinya pun tenteram ketika memakai kain busana khas Muslimah itu. Hingga saat itu, kebiasaannya berhijab dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, akhirnya ayahnya mengetahui hal itu.

Meskipun dimarahi bapaknya, Zandra tak bergeming. Tekadnya sudah bulat untuk memeluk Islam. Ia lalu mengunjungi ibunya untuk mendiskusikan niatnya menjadi seorang Muslimah. Hari itu tepat pada 6 Juli 2018.

“Mama kaget, dikiranya saya hamil dan memiliki pacar seorang Muslim sehingga ‘terpaksa’ memeluk Islam. Padahal, tidak begitu. Saya tahu batasan-batasan dalam pergaulan sebelum menikah. Saya juga bisa menjaga diri,” kata dia.

Setelah mengetahui duduk perkara, ibunya mengucapkan syukur. Kepada putrinya itu, dijelaskan bahwa menjadi seorang Muslimah tidaklah mudah. Apalagi, ayah Zandra belum mengetahui hal tersebut. Bisa jadi, konflik nanti menjadi tidak terhindarkan.

Zandra hanya berpikir, saat ini yang terpenting baginya adalah resmi berislam terlebih dahulu. Kalaupun ada masalah di kemudian hari, itu bisa dipikirkan belakangan. “’Aku sudah besar, aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri,’ saya mengatakan itu. Mama lalu hanya diam saja, tak lagi berkomentar,” tutur dia.

Akhirnya, disepakatilah bahwa Zandra akan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan seorang ustaz. Kebetulan, masjid di dekat rumah ibunya beberapa kali menjadi saksi islamnya sejumlah mualaf. Kemudian, Zandra dipertemukan dengan Ustaz Mujib. Di depan tokoh agama Islam tersebut, perempuan ini lalu bersyahadat.

Beberapa hari sesudah momen tersebut, kabar menyeruak ke mana-mana. Akhirnya, ayahnya mengetahui bahwa kini Zandra telah berislam. Anak perempuan itu lalu diusir dari rumah.

Zandra tahu hal ini akan terjadi. Ia pun memilih pergi, untuk kemudian tinggal bersama ibunya. Tak ingin larut dalam kesedihan, ia lebih fokus untuk belajar Islam.

Zandra mulai melancarkan ibadah, semisal menghafalkan gerakan shalat dan bacaannya. Kini, surat-surat pendek telah dihafalkannya dengan baik. Saat berpuasa Ramadhan, ia pun tidak mengalami kesulitan. Memang, di agama lamanya dahulu, dirinya terbiasa berpuasa hingga 40 hari. Alhasil, Ramadhan pun mampu dijalaninya tuntas selama 30 hari.

Pada Agustus 2019, ia menikah dengan seorang pemuda Muslim yang datang untuk melamarnya. Prosesi lamaran itu berlangsung di rumah ibunya. Sayangnya, saat akad dan resepsi ayahnya tidak berkenan hadir.

Zandra dan suaminya memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah sewaan. Waktu terus berlalu, dan pasangan ini dikaruniai buah hati. Ternyata, dengan hadirnya anak itu Allah membukakan jalan perbaikan hubungan antara Zandra dan ayahnya.

“Waktu usia anak kami lima bulan, Ayah datang ke rumah. Katanya, ingin menengok cucu. Alhamdulillah, sejak itu, silaturahim kami menjadi kembali harmonis. Ayah bahkan sering mendoakan saya dan suami agar hidup rukun dan harmonis,” jelasnya.

Zandra pun terus mendalami Islam dengan bimbingan suaminya. Untuk siraman rohani, ia senang sekali menyimak ceramah secara daring yang dibawakan pelbagai ustaz, semisal Gus Miftah atau Prof M Quraish Shihab.

Rasa syukur terus dipanjatkannya kepada Allah Ta’ala. Terlebih lagi, ia kemudian mendapatkan kabar, beberapa saudara sepupu dari pihak ayahnya memutuskan untuk berislam. [yy/Hasanul Rizqa/republika]

Oleh Ratna Ajeng Tejomukti