20 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 26 Oktober 2021

basmalah.png

Anita Nayyar Mengalami Diskriminasi hingga Shalat Ditempat Parkir

Anita Nayyar Mengalami Diskriminasi hingga Shalat Ditempat Parkir

Fiqhislam.com - Psikolog yang juga aktivis kesetaraan gender, Anita Nayyar, berkisah tentang awal-mula hingga akhirnya dia memutuskan masuk Islam. Anita adalah seorang Anglo-India dengan kakek-nenek Hindu yang hidup melalui pemisahan India dan Pakistan. Bahkan dia melihat keluarganya ditembak oleh kelompok Muslim.

"Saya dibesarkan dengan pandangan yang agak redup tentang apa artinya menjadi Muslim. Saya adalah seorang Kristen yang sangat religius, terlibat dalam gereja, dan ingin menjadi pendeta," kata dia dilansir dari laman The Guardian, Senin (21/6).

Pada usia 16, Anita memilih perguruan tinggi sekuler dan berteman dengan kalangan Muslim. Dia pun terkejut dengan betapa normalnya mereka, dan betapa ia menyukai mereka.

"Saya pun memulai perdebatan, awalnya untuk memberi tahu mereka betapa buruknya agama yang mereka ikuti, dan saya mulai belajar bahwa itu tidak terlalu berbeda dengan Kekristenan. Bahkan, tampaknya lebih masuk akal," ujarnya.

Butuh waktu satu setengah tahun bagi Anita sebelum sampai pada titik untuk masuk Islam. "Dan saya menjadi seorang Muslim pada tahun 2000, berusia 18 tahun. Ibu saya kecewa dan ayah saya diam-diam menerima. Anggota keluarga saya yang lain merasa dikhianati," ungkapnya.

Anita dulu memakai syal di kepalanya yang bisa berarti banyak hal. Ini bisa menjadi penanda iman seseorang, yang berguna ketika Anda tidak ingin diceramahi atau diajak minum alkohol. Hal ini juga dapat menarik perhatian negatif dari orang-orang yang menstereotipkan perempuan Muslim yang terlihat sebagai tertindas atau teroris.

"Namun hal ini juga bisa mendapatkan reaksi positif dari masyarakat muslim. Tetapi orang-orang mengharapkan perilaku tertentu dari seorang wanita berjilbab, dan saya mulai bertanya-tanya apakah saya melakukannya untuk Tuhan atau untuk memenuhi peran wanita saleh," ucapnya.

Pada akhirnya, Anita mengenakan jilbab sebagai wujud kedekatan hubungan dirinya dengan Allah SWT. Meski begitu, dia mengakui, salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah larangan perempuan ke masjid. Dia merasa sedih ketika ia pergi ke suatu tempat untuk beribadah kepada Allah SWT tetapi kemudian diusur karena larangan ke masjid bagi perempuan.

"Dulu, saya pernah sholat di tempat parkir, koridor kantor saya, dan di warung ayam goreng. Ironisnya, ketika tempat kerja saya bersikap diskriminatif dengan melarang saya shalat, beberapa masjid tidak," jelasnya. [yy/republika]