14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Kisah James Yee, Imam Pertama di Kamp Tahanan Teluk Guantanamo

Kisah James Yee, Imam Pertama di Kamp Tahanan Teluk Guantanamo

Fiqhislam.com - James Yee adalah salah satu imam Muslim pertama di militer Amerika Serikat. Yee dahulunya seorang pendeta yang melayani dan melindungi hak personel militer AS untuk menjalankan agamanya.

"Ini berarti memberikan dukungan agama, mengambil layanan dan menasihati komandan dalam agama, etika dan moral," kenang Yee seperti dilansir The Guardian, Jumat (4/6).

Yee dibesarkan di New Jersey sebagai seorang Lutheran dan masih menjadi seorang Kristen ketika lulus dari akademi militer di West Point. Namun, sebuah pertemuan membuka hatinya terhadap Islam lantaran adanya kesamaan dengan agama Ibrahim lainnya.

"Saya bersyahadat pada tahun 1991," kenang dia.

Lulus dari West Point, Yee memilih tinggal di Suriah dan belajar membaca Alquran dengan benar. Saat itu, militer AS tengah menjadi imam guna personel Muslim militer AS. "Jadi saya pertama kali ditempatkan di Fort Lewis, Washington," kata dia.

Beberapa tahun kemudian, Yee dipindahtugaskan ke Teluk Guantanamo. Istrinya berasal dari Suriah, namun dia tidak memiliki keluarga di AS. Yee memiliki memiliki seorang bayi perempuan.

"Kami baru saja menetap. Tapi tentara berkeras, saya tersanjung ditawari tantangan. Tepat setahun usai 9/11, saya dikirim ke Guantanamo untuk menjadi imam di sana," kata dia.

Yee tiba di Teluk Guantanamo pada November 2002. Yee bertugas di Camp Delta, kamp penahanan permanen dimana para tahanan ditahan secara individual di sel yang terbuat dari jaring baja.

"Hal itu adalah sesuatu yang tidak diketahui dunia luar pada saat itu. Saya bekerja dari matahari terbit hingga matahari terbenam dalam keadaan kacau, di mana para tahanan dianiaya dan dipermalukan setiap hari," kata dia.

Pada kunjungan harian, para tahanan sering memberitahu yee tentang apa yang dialamidalam sesi interogasi. Yee menyaksikan sendiri apa yang dialami para tahanan seperti beberapa gigi patah dan memar yang banyak muncul kembali.

Terlepas dari penganiayaan fisik, sebagian besar keluhan langsung yang diterimanya adalah tentang penganiayaan agama.

"Penjaga melecehkan Alquran dan membuat para tahanan tunduk di tengah lingkaran setan. Pihak militer secara resmi menyatakan bahwa penyiksaan tidak terjadi di Guantanamo. Sebagai orang dalam, saya tahu ini bohong. Beberapa penjaga bersikap baik, sementara yang lain kasar," ungkapnya.

"Saya tahu siapa yang mungkin bersikap kasar saat saya ke tempat kejadian, mereka akan memperingatkan penjaga lain dengan teriakan, "Ada imam di blok." Ada tiga tahanan yang ditahan di lokasi terpisah – Kamp Iguana – karena mereka baru berusia 12 hingga 14 tahun. Penjaga di sana sangat baik," ungkapnya.

Yee memimpin pelaksanaan sholat Jumat. Namun, hal tersebut memicu kecurigaan FBI. "Karenanya agen FBI selalu memantau kegiatan kami," ungkap dia.

Ketika Yee mulai mengirimkan laporan resmi tentang bagaimana para tahanan dianiaya, ia dituduh berpihak pada teroris. "Menjadi jelas bahwa petugas yang bertanggung jawab ingin saya keluar, saya terpinggirkan dan di bawah pengawasan," kata dia.

Menjelang akhir tugasnya, Yee mengambil cuti selama dua minggu, dengan maksud untuk kembali ke Fort Lewis untuk mengatur segalanya demi kepulangan istri dan anak perempuannya.

"Saya meninggalkan pangkalan dan naik pesawat ke stasiun angkatan laut Jacksonville di Florida. Ketika kami mendarat, saya dibawa ke sebuah ruangan dan diinterogasi oleh FBI. Saya didakwa dengan mata-mata, spionase, membantu musuh, pemberontakan dan hasutan," kenang dia.

Setelah ditahan di Florida selama enam hari, Yee dipindahkan ke Charleston, Carolina Selatan, di mana Yee menghabiskan 70 hari dalam di sel isolasi. "Dalam perjalanan ke sana, saya tidak bisa melihat apapun, seperti yang saya lihat di Guantanamo. Itu adalah cobaan yang mengerikan. Meskipun saya dibebaskan dari semua tuduhan dan kembali ke Fort Lewis, menjadi jelas bahwa saya tidak dipercaya," ucapnya.

Pemerintahan Bush, menurut Yee, mengecewakan Amerika dan dunia dengan cara yang paling menyedihkan. Mereka mendirikan penjara di Teluk Guantanamo dengan keyakinan bahwa itu sesuai hukum. Sejak awal, kata yee, Bush tahu sebagian besar tahanan tidak bersalah, tetapi mereka menahannya di sana karena melepaskan mereka akan terlihat buruk.

"Saya memiliki harapan besar untuk Barack Obama ketika dia mengatakan dia akan menutup kamp penjara, tetapi harapan itu sirna. Adalah kewajiban Joe Biden sekarang untuk memenuhi janji Obama. Hari ini, saya bekerja dengan para veteran, menggunakan seni untuk membantu mereka menghadapi dampak perang. Saya pergi agar saya bisa menceritakan kisah saya, untuk mengatakan kebenaran tentang Guantanamo. Saya sudah melakukan itu sejak saat itu," katanya. [yy/republika]