18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Media Sosial Bantu Mualaf Belajar Banyak Tentang Islam

Media Sosial Bantu Mualaf Belajar Banyak Tentang Islam

Fiqhislam.com - Pandemi Covid-19 membuat banyak mualaf kesulitan bergabung dan berkumpul dengan komunitas Muslim. Sehingga banyak dari mereka kemudian memanfaatkan aplikasi TikTok, YouTube, dan Discord untuk membantu mengakses lebih banyak informasi tentang ajaran Islam, termasuk panduan shalat bagi para mualaf.

Issa Al Kurtass mendirikan ruang obrolan itu melalui aplikasi Discord. Al Kurtass membimbing mualaf baru, seperti Shyti melalui puasa pertama mereka.

Keduanya login ke server Iftar Together Discord. Al-Kurtass yang berada di Riyadh, memulainya usai makan sahur sedangkan Shyti yang berada di New York City, memulainya ketika waktu berbuka puasa.

"Ini tempat yang ramah dan aman bagi orang-orang yang baru mengenal agama atau sendirian, untuk mengisi kekosongan yang disebabkan pandemi," kata Al Kurtass, dilansir dari The National News, Rabu (28/4).

Pembatasan selama pandemi membuat banyak masjid ditutup atau dibatasi kapasitasnya, sehingga mualaf baru menggunakan internet untuk layanan spiritual. Salah satunya Shyti yang mengatakan, semua perjalanan spiritualnya dalam mendalami Islam dilakukan sepenuhnya secara online.

Mahasiswi ilmu komputer berusia 18 tahun itu masuk Islam tepat dua pekan sebelum Ramadhan. Sebelumnya, ia bertahun-tahun mempelajari Islam tetapi merasa terlalu sulit bergabung langsung dengan komunitas.

“Itu benar-benar membantu saya pindah agama, mempercepat perjalanan saya," ungkap Shyti.

Shyti belajar shalat melalui tutorial di YouTube, kemudian menyempurnakan shalatnya dengan bergabung dalam shalat Tarawih virtual. Shalat Tarawih virtual ini disiarkan langsung sebuah masjid di kota kecil Minnesota, Al Amaan Center.“Pergi ke masjid, agak mengintimidasi,” ungkap Shyti.

Ia mengaku ketika harus bertemu atau menghadiri langsung komunitas Muslim dan bergabung, membuatnya merasa terisolasi. Mempelajari Islam secara online membuatnya jauh lebih nyaman.

Pusat Al Amaan Minnesota mulai menyiarakan langsung shalat secara virtual untuk komunitas lokal yang dipisahkan oleh pembatasan Covid-19. Tetapi kemudian, pesertanya bukan hanya dari penduduk lokal saja, melainkan jauh melampaui kota kecil Eden Prairie, dan menjangkau internasional.

“Kami mendapat banyak tanggapan, tidak hanya dari Minnesota, tetapi dari seluruh dunia, bahwa ini sangat membantu,” kata Marium Saroj Dhungel, seorang sukarelawan di masjid tersebut.

Menurut Dhungel, saat ini menjadi prioritas masjid untuk terus menawarkan layanan spiritual online selamanya, tidak hanya di masa pandemi. Siaran langsung tersebut menjadi tanggung jawab oleh sebuah tim yang terdiri dari 10 orang. Mereka mengurus siaran langsung shalat Tarawih selama Ramadhan, setiap malam di masjid Al Amaan melalui Facebook, YouTube, dan Zoom.

“Mengetahui berapa banyak orang yang mendapat manfaat dari ini, rencana kami adalah untuk terus menyediakan layanan ini,” kata Dhungel.

Shytia juga mencari panduan tentang perjalanan spiritualnya dari blogger Muslim, YouTuber, dan TikTok. “Islam memang memiliki ruang di era modern baru ini, dan ia mengambil ruang itu dengan sukarela,” katanya.

Di antara video favorit Shyti adalah dari 'Ninja Mommy', seorang influencer dengan hampir satu juta pengikut di TikTok. Videonya memberikan jawaban atas pertanyaan umum dari orang yang baru menjadi Muslim, seperti mengapa wanita tidak bisa berpuasa saat menstruasi.

Dengan tidak adanya komunitas fisik, lebih banyak Muslim yang bertemu secara online, dan mualaf baru seperti Shyti lebih berani dalam perjalanan spiritual mereka, mencari sumber daya dan jawaban yang mereka butuhkan. “Karena ini virtual, kami bisa merasa lebih terbuka satu sama lain,” kata Wafa Ben-Hassine, pengacara hak asasi manusia Tunisia-Amerika dan advokat hak digital.

“Itu hanya sifat dari internet, bukan? Ini semacam menghilangkan selubung ketakutan atau ego ini atau apapun itu," tambahnya.

Milenial merupakan mayoritas dari populasi Muslim AS, dengan 52 persen Muslim Amerika lahir antara 1981 dan 1999, menurut sebuah studi 2017 dari Pew Research Center. Demografi Muslim muda ini telah menciptakan komunitas online yang berkembang yang menghilangkan hambatan bagi mualaf baru, terutama bagi mereka yang belum tumbuh dengan praktik Islam.

Studi Pew yang sama menemukan Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia. “Menurut saya penting membuat ini menyenangkan, jika kita tidak ingin tradisi kita mati atau layu dalam sejarah, menurut saya penting untuk menciptakan budaya dan menciptakan aktivitas menyenangkan di sekitar apa yang kita lakukan,” kata Ben-Hassine. [yy/republika]