21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Michael Wolfe: Bagi Saya Islam Agama yang Sempurna

Michael Wolfe: Bagi Saya Islam Agama yang Sempurna

Fiqhislam.com - Seorang penyair, penulis Amerika Serikat (AS), dan Presiden dan Produser Co-Executive dari Unity Productions Foundation, Michael B Wolfe, menjadi mualaf dalam usia 40 tahun. Seorang Amerika sekuler lahir di Cincinnati, Ohio, dari ibu Kristen dan ayah Yahudi.

Wolfe telah sering menjadi dosen tentang masalah Islam di universitas di seluruh Amerika Serikat, termasuk Harvard, Georgetown, Stanford, SUNY Buffalo, dan Princeton. Dia memegang gelar dalam bidang klasik dari Universitas Wesleyan.

"Saya tidak memiliki argumen atau perbedaan dengan orang Kristen, Yahudi, atau orang dari agama lain, tapi bagi saya Islam itu sempurna. Itu berbicara kepada saya. Itu membantu saya menjadi orang yang lebih baik," kata Wolfe dilansir dari laman International Quran News Agency (IQNA) pada Kamis (15/4).

Wolfe juga telah menulis sebuah buku tentang haji dari sudut pandang Amerika. Dia mengatakan, melakukan ibadah haji dengan tiga juta orang dari seluruh dunia, di satu tempat pada satu waktu, berdoa bersama, makan bersama, melakukan ritual bersama, memiliki kekuatan integratif yang kuat bagi dirinya.

Menurut Wolfe, momen itu menyatukan semua elemen menjadi seorang Muslim, secara pribadi dan komunal. Wolfe mengibaratkan dirinya seperti kue yang belum dipanggang, dan Makkah seperti oven yang mencampurkan semua bahan menjadi satu.

Sementara itu, pandangan Wolfe terkait sebagian Muslim yang bergabung dengan ISIS, dia mengatakan, kebanyakan orang bergabung dengan kelompok ekstremis karena kekecewaan pribadi. Hal ini karena mereka merasa tidak berdaya dan kehilangan haknya. Pada kondisi saat itu, maka akan sangat mudah disesatkan oleh perekrut ekstremis.

Di sisi lain, Wolfe mengungkapkan, pada umumnya Muslim dapat menjalani hidupnya sesuka mereka, dan banyak agama yang berbeda telah berkembang di Amerika selama ratusan tahun.

"Orang sudah terbiasa dengan ide itu. Sebagian besar orang Amerika yang saya kenal, meskipun mereka mungkin tidak memahami Islam dengan baik, adalah tetangga yang baik. Saya tidak menjadi seorang Muslim untuk meyakinkan orang lain bahwa Islam lebih baik dari agama lain. Saya menjadi seorang Muslim untuk membantu jiwa saya," ucapnya.

Dia mengatakan, Islam sudah cukup sukses di Amerika. Ada ribuan masjid, 10 persen dokter Amerika atau 50 ribu orang beragama Islam. Dengan berusaha, menurut dia, ada banyak kesempatan untuk meningkatkan hidup di Amerika.

Wolfe juga tengah menulis buku nonfiksi tentang imigrasi, My Mother’s People. Buku itu sebagian tentang sejarah keluarga dia. Kakek buyutnya yang kedelapan datang ke Amerika empat ratus tahun yang lalu, pada 1635, dari Inggris.

Ini terjadi 150 tahun sebelum dimulainya Amerika Serikat. Dia datang ke sini melarikan diri dari depresi dan penganiayaan agama. Beberapa tahun kemudian, Inggris mengalami perang saudara yang mengerikan.

"Dia, pada saat dia tiba di sini, adalah seorang tukang kayu berusia lima puluh tahun dari kelas menengah ke bawah dengan seorang istri dan enam anak. Karena ada depresi ekonomi di Inggris, dia kesulitan mendapatkan bayaran untuk pekerjaannya di sana. Selain itu, Raja Inggris menghukum dan memenjarakan orang-orang yang agamanya sedikit berbeda dengan agama yang disetujui oleh negara kerajaan. Kakek saya datang ke Amerika untuk kehidupan yang lebih baik," ujar Wolfe.

Wolfe ingin menceritakan kisah ini dengan latar belakang imigrasi ke Amerika saat ini, di dunia di mana puluhan juta orang, sebagian besar keluarga, melarikan diri dari penganiayaan, perang saudara, perang geng, kartel narkoba, dan kekacauan negara-negara yang gagal.

Menurutnya, Amerika adalah negara yang unik dalam dua hal, pertama, populasinya sebagian besar terdiri atas orang-orang dari tempat lain di seluruh dunia. Kedua, hukum negara seharusnya berpihak pada para imigran dan orang-orang yang sudah tinggal di sini, dan terutama kelas menengah.

"Doakan saya kesehatan yang baik dan waktu untuk menulis buku ini, insya Allah! Saya menulis dengan sangat lambat, saya bukan anak muda lagi, dan saya harus melakukan banyak penelitian untuk mendapatkan cerita yang benar," ujar Wolfe. [yy/republika]