14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Novan Christianto, Kumandang Adzan Getarkan Hati

Novan Christianto, Kumandang Adzan Getarkan Hati

Fiqhislam.com - Dalam sehari, minimal lima kali azan berkumandang dari masjid-masjid di seluruh dunia. Bagi masyarakat Indonesia, suara panggilan shalat itu biasa terdengar. Malahan, lantunan azan rutin disiarkan, baik melalui televisi maupun radio, khususnya tiap masuk waktu subuh dan maghrib.

Dahulu, Novan Christianto membenci suara azan. Sebelum memeluk Islam, dia kerap merasa terganggu dengan gema panggilan shalat yang dikhususkan bagi Muslimin itu. Baginya, kumandang yang berasal dari menara masjid dekat tempat tinggalnya sangat berisik. Itulah yang menjadi alasannya untuk lebih lanjut “mencerca” Allah SWT.

“Astaghfirullah, dahulu saya sempat mengumpat kepada Allah. Saya bilang (tiap azan bergema –Red), ‘Apa Tuhannya orang Islam itu tuli karena harus menggunakan pengeras suara? Suara azan membuat bising, menurut saya waktu itu,” kata Novan saat menuturkan pengalamannya kepada Republika baru-baru ini.

Lelaki yang kini berusia 21 tahun itu tumbuh besar dalam agama lamanya. Ia mengaku, dia saat itu dan keluarganya termasuk taat dalam beribadah. Malahan, kakek dari ibunya merupakan seorang panatua di lingkungan setempat.

Ia mengenang, kebenciannya saat itu terhadap Islam tidak semata-mata disebabkan opininya tentang kumandang azan. Pada waktu dia masih anak-anak, Novan kerap mendapati berita-berita yang cenderung membingkai negatif citra Islam. Pria asal Malang, Jawa Timur, itu juga terbawa pelbagai asumsi yang mendiskreditkan agama ini.

Karena itu, tak tebersit niat ataupun keinginan untuk bersimpati pada Islam, apalagi sampai memeluk agama ini. Novan tetap merasa terusik tiap mendengar suara azan yang berkumandang siang, sore, maupun petang. Ketidaksukaan terhadap Islam ternyata tidak bertahan lama dalam dirinya.

Bermula saat Novan baru saja naik ke kelas III SMK. Ia menjadi remaja yang rentan sakit. Tiap kali pulih, ada saja penyakit lain yang menjangkitinya. Puncaknya, pemuda itu merasakan sakit usus buntu. Alhasil, ia pun mesti menjalani operasi medis.

Sehabis dioperasi, para perawat membawanya ke ruang pemulihan. Novan menuturkan, saat itu dirinya masih dalam kondisi terbaring lemah. Dokter pun belum mengizinkannya pulang lantaran keadaannya tak memungkinkan. Proses penyembuhan yang mesti diikutinya berlangsung agak lama.

Suatu ketika, di kamar tempatnya menjalani rawat inap Novan terkejut. Sebab, ia merasa telinga kanannya menangkap suara azan. Padahal, saat itu mungkin belum masuk waktu shalat. Kumandang azan itu diikuti suara lain yang membisikkannya kata-kata.

“Kalau ingin sembuh, maka ikuti suara (azan),” ujar Novan menirukan perkataan yang sayup-sayup didengarnya kala itu.

“Sebelumnya, yang saya tahu azan itu pengingat orang (Islam) untuk shalat,” sambungnya.

Pada mulanya, ia berpikir bahwa suara yang didengarnya itu hanyalah halusinasi. Mungkin, pikirannya masih belum pulih dari efek bius sesudah operasi. Akan tetapi, suara yang sama kemudian terus muncul.

“Yang saya yakini, suara itu menjadi penuntun buat saya mendapatkan hidayah, memeluk Islam,” ucapnya.

Akhirnya, Novan dapat berjalan seperti sedia kala sehingga diperbolehkan pergi dari rumah sakit. Sesampainya di rumah, aktivitas yang dijalaninya mulai berubah.

Ia tak lagi beribadah dengan ajaran agama lamanya. Justru, dalam hatinya mulai tumbuh antusiasme untuk mencari tahu tentang Islam. Bagaimanapun, ketertarikannya itu belum ditunjukkan secara terang-terangan.

Kira-kira setahun kemudian, ia lulus dari SMK. Selanjutnya, Novan diterima sebagai mahasiswa Jurusan Perawatan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keputusannya untuk melanjutkan studi pendidikan tinggi sebenarnya agak bertolak belakang dengan cita-citanya dahulu saat masih kecil, yakni menjadi seorang pendeta.

Sebagai sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah, UMM tentunya sarat akan kegiatan keislaman. Sering kali, dari ruang kelasnya terdengar kumandang azan. Berbeda dengan dahulu, kini suara tersebut disimaknya baik-baik dengan tenang. Tidak ada lagi rasa gusar atau benci begitu mendengar suara azan.

Di sela-sela waktu belajar, ia banyak membaca berbagai literatur tentang Islam. Semakin lama, kian kuat rasa simpatinya terhadap agama ini. Kuat pula keinginannya untuk memeluk Islam.

Novan kemudian mengutarakan keinginannya kepada orang tua. Niat untuk menjadi mualaf ditentang oleh keduanya dan keluarga besar. Sejak itu, ia sempat mengurungkan kehendaknya beralih iman.

Namun, Novan menjadi mudah tak bersemangat. Itu berimbas pada pencapaian akademiknya di universitas. Karena hilang kemauan untuk kuliah, nilai-nilai studinya pun memburuk. Apalagi, dia sering absen dari kelas. Ujung-ujungnya, dia dikeluarkan (drop out) dari UMM.

Setelah drop out, Novan kembali meminta izin untuk kuliah di universitas yang berbeda. Sebenarnya, permintaan izin itu juga menjadi upayanya agar proses menuju mualaf kian mudah.

Sebuah universitas Islam swasta pun dipilihnya. Jauh di dalam batinnya, lelaki ini berharap, dirinya lebih leluasa dalam mempelajari Islam—atau malahan langsung menjadi Muslim—saat berkuliah di sana.

Awalnya, keinginan Novan untuk belajar di kampus swasta itu lagi-lagi mendapat penolakan. Akan tetapi, kedua orang tuanya tak lantas menolak. Dalam pandangan mereka, universitas itu memiliki akreditasi yang baik. Alhasil, peluang mendapatkan pekerjaan pun luas.

Maka terdaftarlah Novan sebagai mahasiswa di sana. Beberapa waktu kemudian, ia membulatkan tekad untuk bersyahadat. Tepat pada 16 Februari 2018, sosok yang dahulu membenci kumandang azan ini mendatangi kantor wilayah Kementerian Agama di Malang. Disaksikan langsung dengan kanwil Kemenag setempat, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Resmi sudah dia menjadi seorang Muslim.

Setelah bersyahadat, Novan langsung belajar shalat baik bacaan dan gerakannya. Dia melakukan secara diam-diam karena khawatir keluarganya tak terima. Saat di luar rumah, Novan mencari masjid yang berjarak agak jauh dari kompleks tempat tinggalnya.

Bagaimanapun keadaannya, ia pantang meninggalkan shalat. Misal, ketika di rumah, Novan tetap berwudhu, tetapi air yang membasahi muka dan lengannya dibiarkan kering terlebih dahulu. Barulah kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.

Awalnya, Novan ingin bersabar menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu keislamannya kepada keluarga. Namun, pada suatu malam, dia kedapatan melakukan shalat tahajud.

Ia mengira, seluruh anggota keluarga sudah tertidur pulas. Kalau begitu, tidak masalah jika kamarnya tidak dikunci. Ternyata, saat ia sedang shalat, kedua orang tuanya lewat di depan kamar. Mereka memergokinya sedang melakukan ibadah khas Islam.

Saat itu juga, Novan diusir dari rumah. Ia lantas menghubungi mantan guru lesnya. Hanya tiga hari berselang, ia menginap di sana. Delapan bulan lamanya Novan terpaksa tinggal jauh dari rumah sendiri.

Bagaimanapun, masa-masa renggang dengan keluarga kini sudah lewat. Bahkan, ayahnya sempat mengucapkan dua kalimat syahadat atas pilihan sendiri. Mengenang itu, Novan hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT.

“Kata Ayah, ia melihat saya lebih tenang dan damai setelah jadi Muslim. Lalu, Ayah mulai belajar Islam. Tahun 2019, beliau masuk Islam, tetapi belum satu tahun berjalan, Ayah wafat,” tuturnya.

Saat ini, Novan terus aktif di berbagai komunitas kajian Islam, termasuk Mualaf Center Indonesia (MCI) cabang Malang, Jawa Timur. Bahkan, beberapa ustaz kemudian memintanya untuk menjadi juru azan. Kini, ia didaulat sebagai muazin di Masjid Bandara Abdurachman Saleh, Malang.

Kalau bisa kembali ke masa lalu, mungkin dia tak akan percaya. Dahulu sempat memaki-maki suara azan, Novan justru sekarang rutin mengumandangkan panggilan shalat dari masjid. Mengingat ini, ia bersyukur lantaran Allah menganugerahkan hidayah kepadanya.

Di MCI Malang, Novan aktif sebagai relawan untuk mualaf. Untuk penghasilan sehari-hari, Novan membuka usaha katering. Harapannya, usaha tersebut berlangsung terus sukses dan berkah sehingga dapat menyediakan lapangan pekerjaan, khususnya bagi sesama mualaf dari kalangan ekonomi terbatas.

Sebab, ia merasa, banyak mualaf yang sebenarnya membutuhkan pendampingan tak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga materi. “Mereka masih rentan sehingga masih butuh banyak dukungan,” katanya. [yy/republika]

Oleh Ratna Ajeng Tejomukti