14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Shadab dari Benci Hingga Mencintai Islam

Shadab dari Benci Hingga Mencintai Islam

Fiqhislam.com - Shadab seorang yang taat beragama. Terlahir dari keluarga Hindu, setiap harinya Shadab berdoa di kuil setiap Selasa dan Sabtu.

Pada usia 19 tahun, Shadab mulai mempertanyakan ritual yang rutin dijalaninya itu.

"Setiap kali saya bertanya soal pentingnya perayaan Deepawali, mereka selalu menjawab tradisi namun mereka tidak pernah memberikan penjelasan yang logis,"kenang Shadab yang berasal dari kasta Ksatria, seperti dilansir thewire, Senin (5/4)

Ditanya apa yang membawanya tertarik pada Islam, Shadab mengaku awalnya begitu membenci Islam. Hal tersebut diakui lantaran tak banyak yang diketahuinya soal Islam dan Muslim.

“Saya membenci Muslim hampir sepanjang hidup saya,” kata Shidab, yang memeluk Islam pada 2012 lalu.

Seiring perjalannya waktu, Shadab mengetahui kesetaraan dalam Islam yang begitu menginspirasinya. Dalam Islam, kata dia, baik pengemis ataupun bankir berdiri dalam barisan yang sama untuk Shalat. Semua individu sama di mata Islam.

"Anda tidak harus kaya atau dilahirkan dalam kategori sosial tertentu untuk bisa dekat dengan Allah,"kenangnya.

Sebaliknya, lanjut dia, Islam menganjurkan kesetaraan di antara semua manusia. Islam juga menyerukan rasa hormat yang sama tanpa memandang warna kulit, ras, status sosial, dan status keuangan.

Membaca Alquran

Dari pengetahuannya itu, Shadab mencoba menggali lebih dalam soal Islam melalui kitab sucinya. Ia baca Alquran, dan semakin kuatlah ketertarikannya terhadap Islam.

"Disebutkan dalam Alquran, ketika Anda melangkah untuk mengenal Allah SWT maka Dia akan menyambutmu. Saya berjalan merangkak tapi Allah memberikan kemudahan kepada saya untuk memahami inti dari ajaran Islam,"kata dia.

Di saat kecintaan Shadab pada Islam meningkat, masalahnya di rumah berlipat ganda. Dia diam-diam mulai melaksanaakan shalat dan berpuasa di bulan suci Ramadhan.

Perubahan yang dialami Shadab rupanya diketahui keluarganya. Shadab mulai diawasi keluarganya, bahkan pada satu kesempatan kamarnya digeledah. Keluarganya mencari hal-hal yang berbau Islam. Hasilnya, keluarganya menemukan, tasbih, kopiah, dan Alquran.

Perubahan Shadab tak hanya diketahui keluarganya tetapi juga anggota masyarakat di tempat tinggalnya. Mereka mengawasi Shadab dan keluarga. Salah seorang dari mereka bahkan pernah melihat secara langsung, Shadab memasuki sebuah masjid. Pada 2016, Shadab diusir keluarganya saat berusia 23 tahun.

Terusir dari keluarganya, Shadab hidup di jalanan. Namun, Shadab tak mengeluh. Selanjutnya, Shadab pun akhirnya memutuskan bersyahadat di sebuah masjid tak jauh dari tempat tinggalnya.

"Saya diusir bukan karena meninggalkan Hindu tetapi karena saya menerima Islam,"katanya.

Beruntung, salah seorang kawannya yang Muslim menampung dan melindunginya. Di sinilah, Shadab mulai mengetahui diskriminasi yang dialami sebagai seorang Muslim. Karenanya, untuk alasan bertahan hidup, ia coba menutup identitasnya sebagai Muslim. Di kantor, ia sembunyi-sembunyi untuk melaksanakan shalat. Pada akhirnya, upaya Shibad tak bisa lagi menutupi identitasnya.

Dia pun secara aktif ambil bagian dalam menyuarakan hak umat Uslam. Dia sadar, tidak mudah memperjuangkan hak ditengah kerasnya diskriminasi sebagai Muslim India. Namun, Shadab tak menyerah. [yy/republika]