13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Ustaz Ku Wie Han: Banyak Tantangan Dakwah Muslim Tionghoa

Ustaz Ku Wie Han: Banyak Tantangan Dakwah Muslim Tionghoa

Fiqhislam.com - Cukup banyak etnis Tionghoa yang telah memeluk agama Islam namun masih banyak yang menyembunyikan diri sebagai Muslim. Hal ini terjadi karena Muslim masih dipandang negatif di mata sebagian etnis Tionghoa.

Ketua Umum Yayasan Pondok Mualaf Indonesia, Ustadz Ku Wie Han menyampaikan, Muslim Tionghoa adalah minoritas di atas minoritas. Artinya suku bangsa Tionghoa minoritas di Indonesia, Muslim Tionghoa lebih minoritas lagi. Sementara, agama Islam di mata orang Tionghoa dipandang masih belum begitu bagus.

"Sebenarnya sudah banyak yang masuk Islam dari kalangan etnis Tionghoa, tapi banyak yang tidak mau menonjolkan diri," kata Ustadz Ku Wie Han kepada Republika, Jumat (12/2).

Ia mengatakan, alasan mereka tidak mau menonjolkan diri salah satunya karena takut dikucilkan oleh saudara-saudaranya. Mereka tidak berani untuk menunjukan dirinya sebagai Muslim, apalagi berdakwah pada saudara-saudaranya.

Menurutnya, mereka memandang negatif Islam karena banyak hal. Di antaranya berita miring tentang Islam serta masih ada ustadz yang suka menyinggung tata cara ritual, dan melarang ikut Imlek. Hal-hal seperti ini di mata etnis Tionghoa seperti melihat Muslim yang tidak menerima budaya China.

"Kesannya begitu, akhirnya hubungannya kurang bagus, padahal yang baik itu kalau Islam ingin dikenal orang-orang China, lewat budaya yang paling gampang, karena budaya itu masalah etika, akhlak dan sopan santun," ujarnya.

Menurut Ustadz Ku Wie Han, sekarang banyak Muslim dakwah berbau politik, sehingga kurang disenangi etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa juga kurang tertarik dengan politik Islam dan khilafah.

"Orang China itu yang penting hidup damai di dunia ini, bisa hubungan bagus, bisnis lancar, sehat, kalau sudah berbau konflik, ia (orang China) pasti menjauh," ujarnya.

Ia mengatakan, kalau dakwah yang disampaikan Muslim tentang akhlak, budaya dan tenggang rasa pasti nyambung dengan etnis Tionghoa.

Ustadz Ku Wie Han mengatakan, padahal dulu hubungan antara Muslim dan orang Tionghoa di Jalur Sutra erat sekali. Di jalur perdaggangan itu terjadi interaksi antara orang Arab dan China, sehingga banyak orang China memeluk agama Islam.

Menurutnya, kalau zaman sekarang tidak terjadi hubungan erat dalam dunia dagang. Karena Muslim banyak yang tidak menjadi pedagang kecuali orang Padang.

Kontribusi Dakwah Muslim Tionghoa

Mengenai kontribusi Muslim Tionghoa dalam dakwah, Ustadz Ku Wie Han mengatakan, kalau bicara tentang kontribusi artinya harus ada sumbangan. Menurutnya masih minim sumbangan dari Muslim Tionghoa dalam bidang dakwah.

Ia mengatakan, hanya beberapa tokoh Muslim Tionghoa yang telah memberikan kontribusi atau sumbangan. Di antaranya Jusuf Hamka, Ketua Lautze di Jakarta dan lain-lain.

"Kalau generasi muda Muslim Tionghoa belum nampak, paling yang menjadi ustaz nampak telah memberikan kontribusi dalam dakwah, seperti Ustadz Felix Siauw dan Dr. Muhammad Syafii Antonio. Jadi kalau secara keseluruhan belum begitu besar, hanya diwakili oleh beberapa individu (Muslim Tionghoa)," jelasnya.

Ustadz Ku Wie Han mengatakan, di Yayasan Pondok Mualaf Indonesia, tidak hanya mengislamkan etnis Tionghoa. Ada orang Batak, Ambon dan lain-lain yang memeluk Islam di yayasan ini.

"Kita tidak melihat etnis, walaupun kebanyak mualaf yang kita bina kebanyakan keturunan China, tapi misi dan visi bukan etnis tertentu, (tujuannya) mualaf saja pokoknya," kata Ustadz Ku Wie Han.

Ia menyampaikan, selama sepuluh tahun membina mualaf, telah mengislamkan sekitar 50 orang. Sementara yang dibina jumlahnya lebih dari 50 orang. "Pembinaan (mualaf) setiap minggu (dilaksanakan) pertemuan terbatas lewat zoom dan pertemuan langsung, jadi tidak semua yang kita bina kita yang mengislamkan," ujarnya. [yy/republika]