fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Khadijah Laine, Mensyukuri Nikmat Iman dan Islam

Khadijah Laine, Mensyukuri Nikmat Iman dan Islam

Fiqhislam.com - Hidayah datang kepada siapa saja yang dikehendaki Allah SWT. Itulah yang dirasakan oleh seorang mualaf, Khadijah Laine. Perempuan yang berasal dari Filipina tersebut memeluk Islam sejak tahun 2017. Waktu itu, dirinya sedang tinggal di Indonesia untuk semata-mata urusan bisnis.

Pada mulanya, kesehariannya di Bali tampak berlangsung baik-baik saja. Semua berjalan seperti rencana. Bahkan, bisnisnya mulai memperoleh omzet yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Akan tetapi, wanita ini kemudian ditipu seorang rekanan kerja. Padahal, sudah cukup banyak dana diamanahkan kepada mitranya tersebut.

Kejadian itu sangat membuatnya syok. Malahan, ia sempat jatuh dalam situasi psikologis depresi. “Saat itu, saya merasa depresi, tertekan. Apalagi, karena saya sendirian di sini (Indonesia), tanpa ada keluarga. Rekan bisnis yang tadinya saya percayai justru meninggalkan dan menipu saya,” tutur Khadijah saat berbincang dengan Republika melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.sendirian di sini (Indonesia), tanpa ada keluarga.

Sebelum melakukan aksinya, Khadijah tiba-tiba didatangi seekor kucing. Dengan jinaknya, hewan itu menghampiri dan bersandar pada kakinya. Seakan-akan, makhluk berkaki empat itu sedang mengingatkan dirinya: dalam hidup, selalu ada harapan. Khadijah pun kembali ke flatnya. Kucing tadi turut dibawanya pulang sebagai hewan peliharaan.

“Ketika saya sudah (memeluk) Islam, baru saya tahu bahwa kucing itu hewan kesayangan Nabi SAW. Saya membaca kisah bagaimana Nabi membiarkan kucing yang sedang tertidur di (kain) pakaiannya, beliau tidak pernah mengganggunya,” ujar wanita 40 tahun itu.

Beberapa pekan kemudian, pikirannya mulai tenang. Saat itu, ia bertekad untuk bangkit dari keterpurukan. Mungkin sebagian besar uangnya sudah ludes, tetapi selama semangat masih ada, itu sudah menjadi modal yang sangat berharga. Ia memutuskan untuk terus berjuang. Karena itu, dirinya tetap bertahan di Indonesia, tidak kembali ke Filipina.

Khadijah mengenang, periode tersebut merupakan masa yang cukup sulit baginya. Karena itu, kebaikan yang diperoleh dari orang-orang sekitarnya, termasuk mereka yang tak dikenal, menjadi begitu berkesan. Apalagi, dirinya tinggal jauh dari keluarga di tanah airnya.

Suatu hari, ketika sedang menunggu bus di Denpasar, seseorang yang tak dikenalnya menyapa ramah. Keduanya lalu bertegur sapa, dan lanjut dengan mengobrol. Sampai akhirnya perempuan kenalan barunya ini menceritakan, bisnis di Bali memang kurang begitu prospektif kecuali yang menyasar sektor pariwisata.

Khadijah pun disarankan untuk pergi ke Jakarta bila ingin mendapatkan peluang lebih dari bisnis yang ditekuninya itu. Sebelum berpisah, orang ini sempat memberikan uang sebesar Rp 500 ribu kepadanya.

Mengenal Islam

Bagi Khadijah, pertemuan yang tak disangka-sangka itu adalah bagian dari rencana Allah. Sebab, belakangan baru diketahuinya bahwa inilah jalan untuk menggapai hidayah Ilahi.

Singkat cerita, setelah bertemu orang tersebut, dirinya pun tertarik untuk pergi ke Jakarta. Di Ibu Kota, pikirannya terus menerawang, mengira-ngira peluang bisnis yang paling baik dan bisa dilakukannya.

Akhirnya, ia pun bergabung dengan sebuah perusahaan yang cukup menjanjikan. Bisnis yang dijalankannya ialah multi level marketing. Dengan bertahap, Khadijah menekuni profesi barunya. Ia banyak belajar kepada rekan-rekannya yang lebih senior. Malahan, perempuan ini kemudian memiliki keluarga angkat.

Dari mereka-lah untuk pertama kalinya Khadijah mengenal Islam. Tentu saja, wanita Filipina ini sudah mengetahui adanya agama bernama Islam. Namun, pengetahuannya hingga saat itu masih bersumber dari kabar-kabar yang marak berseliweran di media massa atau sosial. Termasuk di antaranya stigma-stigma bahwa agama ini mengajarkan kekerasan atau mendukung ekstremisme dan terorisme. Tatkala masih di negerinya pun, pemberitaan sering kali menghubungkan Islam dengan paham pemberontak.

Selama tinggal dengan keluarga angkatnya di Jakarta, ia pun mendapatkan perspektif yang lebih luas tentang Islam. Ia sering menyaksikan bagaimana seisi rumah—kecuali dirinya—rajin melaksanakan shalat lima waktu.

Sebagian mereka pergi ke masjid setiap subuh dan maghrib. Lebih khusus lagi, ketika hari Jumat tiba. Berbondong-bondong para pria, termasuk anak-anak, berangkat ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah.

Di lingkungan tempat kerjanya, Khadijah pun mulai memiliki banyak kawan yang Muslim. Sebagiannya malah tampak begitu saleh. Mereka mengenakan hijab dan tidak pernah terlihat berjalan berduaan dengan lawan jenis.

Sewaktu masih menetap di Filipina, Khadijah sesungguhnya dibesarkan oleh ayah dan ibu yang religius. Tiap akhir pekan, seluruh anggota keluarga pergi ke tempat ibadah. Doa dan kebaktian pun menjadi rutinitas yang harus dilaksanakan. Maka selama berada di negeri orang, dirinya mulai menyadari adanya kesamaan antara agama keluarga kandungnya dan mayoritas penduduk Indonesia.

Sebagai contoh, Islam pun mengakui ketokohan Nabi Isa (Yesus) dan ibundanya, Maryam (Maria). Bahkan, ada sebuah surah yang dinamakan “Maryam”. Cerita ini didapatnya saat mengobrol dengan seorang saudari angkatnya.

Saat itu, hidupnya tidak langsung berubah. Khadijah waktu itu tetaplah seorang perempuan karier yang gemar berbagai hal duniawi. Baginya, tiada hari tanpa bekerja keras untuk menghasilkan uang. Mimpinya adalah menjadi wanita sukses nan kaya raya. Sementara itu, untuk menghibur diri dari lelahnya bekerja, nyaris setiap malam dirinya mendatangi bar, mengonsumsi minuman keras.

Kesannya terhadap Islam masih belum membekas. Dalam pandangannya saat itu, Islam adalah agama yang sulit. Untuk menjalankan satu ritual shalat saja, seseorang harus banyak menggumamkan doa dan melakukan gerakan-gerakan tertentu. Namun, persepsi demikian berganti menjadi simpati sejak dirinya mengalami sebuah mimpi.

Bermimpi rukuk

Suatu malam, ia baru saja pulang dari kantornya. Karena lelah, Khadijah langsung merebahkan diri di atas kasur, dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi fenomena yang tidak biasa. Ia merasa sedang berada di tengah lautan manusia.

Semuanya mengenakan pakaian serba putih. Di hadapannya, tampak sebuah bangunan hitam berbentuk kubus. Meskipun tampak begitu sederhana, entah mengapa bangunan tersebut seperti memancarkan kedamaian.

“Saya bermimpi sedang rukuk di tengah manusia, semuanya berbaju putih. Ketika saya ceritakan mimpi itu kepada teman, saya disebutnya sedang berhaji di Makkah,” katanya mengenang.

Sejak hari itu, Khadijah mulai serius mempelajari Islam. Kawannya mengajaknya untuk mengunjungi pusat mualaf di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Walaupun pada awalnya agak canggung, ia menuruti ajakan tersebut.

Ternyata, nuansa tempat ibadah kaum Muslimin tidak seperti yang disangkanya. Jamaah tidak mengusirnya karena perbedaan agama. Justru, mereka menerimanya dengan ramah.

Di masjid tersebut, ia berbicara dengan seorang pengurus takmir yang juga seorang mualaf. Penjelasannya tentang Islam membuat Khadijah kian tertarik mendalami agama ini. Sepulangnya ke apartemen, ia membaca banyak buku yang diberikan oleh pihak takmir tersebut.

Dari hari ke hari, hubungannya semakin akrab dengan kawan-kawan organisasi mualaf di Masjid Sunda Kelapa. Tak terasa, bulan suci Ramadhan tiba. Masjid ini kian semarak oleh berbagai program kajian keagamaan.

Khadijah saat itu belum memeluk Islam, tetapi ingin menghadiri pengajian di sana. Panitia tidak berkeberatan sama sekali, dan malah senang menyambutnya. Secara bertahap, ia mulai belajar lebih detail lagi tentang aspek-aspek Islam, seperti ibadah shalat, puasa, dan lain-lain.

Berbagai momen yang dijalaninya selama Ramadhan di masjid itu sangat mengesankannya. Hatinya seperti terpanggil oleh kerinduan untuk menerima agama ini seutuhnya. Tepat pada 6 Juli 2017, Khadijah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya: memeluk Islam.

Ikrar syahadat diucapkannya di Masjid Sunda Kelapa. Pada malam Jumat itu, dengan bimbingan seorang kiai akhirnya dirinya resmi menjadi Muslimah. Sungguh malam yang syahdu dan mengharukan. Air mata seperti tak henti membasahi pipinya. Prosesi ini disaksikan para pengurus takmir, jamaah, dan juga kawan-kawannya.

“Saya jadi terkenang mimpi saya malam itu (naik haji –Red),” ujarnya.

Setelah menjadi Muslim, Khadijah memahami bahwa hidupnya kini lebih terarah. Dia memahami tujuan dan untuk apa dirinya hidup. Dahulu, ia mengaku sangat emosional, egosentris, terlalu yakin pada kemampuan sendiri.

Padahal, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang dapat dilakukan manusia adalah berikhtiar dan mengharapkan kebaikan dari rencana-Nya.

“Mengenal Islam membuat saya lebih kuat. Saya selalu bersyukur bahwa kini saya menjadi (pemeluk) Islam,” kata wanita yang kini bekerja sebagai guru les bahasa Inggris itu.

Setelah menjadi Muslim, ia memilih nama baru: Khadijah. Itu dipilihnya karena merujuk pada istri pertama Nabi SAW, Khadijah binti Khuwailid. Selain itu, diputuskannya untuk tetap tinggal di Indonesia.

Tak lama setelah berislam, ia pun memutuskan untuk konsisten berhijab. Diakuinya, pakaian yang menutup aurat membuatnya semakin tenang. Tidak ada lagi pria-pria usil yang melecehkannya secara verbal, semisal, ketika sedang berjalan di gedung perkantoran. “Doakan saya, saya saat ini sedang belajar memakai cadar, meski belum rutin,” ujarnya. [yy/republika]

Oleh Ratna Ajeng Tejomukti